Friday, 1 February 2008

Kontroveri Program Sehari Berbahasa Jawa, Bahasa Jawa Sebagai Lokal Genius

Seyogianya, generasi muda memahami benar budayanya (bahasa Jawa) sebagai warisan adiluhung. Seharusnya kita iri dengan Bali. Semua orang tahu, Bali adalah Eropanya Indonesia. Setiap hari mereka berinteraksi dengan orang asing lain budaya. Di tengah pergaulan itu, masyarakat Bali mampu mempertahankan budaya dan bahasanya. Ketahanan budayanya sangat kuat. Mereka hidup berdampingan dengan para wisatawan mancanegara tanpa tercerabut dari akar budayanya. Tidak ditemukan kesenjangan budaya di sana.

Pada bagian lain, program sehari berbahasa Jawa yang dituangkan dalam Surat bernomor 421.2/0123/436.5.6/2008 tertanggal 14 Januari 2008 justru malah memantik kontroversi. Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang pro, menganggap program ini merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Bahasa Jawa yang sudah mulai tergerus oleh budaya asing harus dilestarikan. Ingat, menurut catatan UNESCO, setiap tahun tidak kurang sepuluh bahasa daerah punah. Sementara yang kontra, menganggap program ini bertentangan dengan semangat zaman.

Di tengah derasnya arus globalisasi mutlak diperlukan “lokal genius”. Ini dipahami sebagai sebuah kekuatan seseorang (bangsa) dalam menyaring budaya asing yang masuk. Yang sesuai diadaptasi, dan yang tidak sesuai dilikuidasi. Dengan lokal genius akan mempersempit kesenjangan budaya (cultural lag)

Bahasa Jawa dapat difungsikan sebagai salah satu lokal genius. Pasalnya, etika, moral, filsafat, sejarah mitos, kosmologi, dan legenda terkandung di sana. Seyogianya, generasi muda memahami benar budayanya (bahasa Jawa) sebagai warisan adiluhung. Pemahaman yang baik dan benar atas budaya akan memberikan penyadaran manusia tentang konsep diri, penghargaan nilai-nilai local, dan semangat kebangsaan..

Semua komponen masyarakat suku Jawa dan atau di luar suku Jawa tetapi interest dengan bahasa Jawa diharapkan mendukung program ini. Pasalnya, menurut Suko Widodo, saat ini dibutuhkan alat komunikasi yang cepat, yanki bahasa yang egaliter. Mana mungkin bahasa Jawa menjadi bahasa yang egaliter kalau jarang dipakai. Bahasa Indonesia mampu menembus strata itu karena sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Program ini bukan berarti tanpa kendala. Bahkan banyak pihak menyangsikan efektivitas program ini. Masalahnya, seperti dikatakan Bonari Nabonenar (Surya, 26/1) buku bacaan bahasa Jawa di sekolah jumlahnya sangat terbatas. Bahkan, guru-gurunya pun banyak yang kurang paham.

Kolega saya di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mbisiki, “Satu kabupaten guru bahasa Jawa yang berasal dari disiplin ilmu Bahasa Jawa cuma dua.“ Artinya, Bahasa Jawa di-wulang guru dari disiplin ilmu lain.

Oleh karena itu, peran orang tua dalam program ini mutlak diperlukan. Di rumah sepatutnya orang tua menyibukkan diri mengajari anak membiasakan berbahasa Jawa. Ini agar kendala yang ada di lapangan dapat dieliminasi. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Apakah menunggu bahasa Jawa punah? Kasihan generasi mendatang. Iya, kan? Nah, selamat berbahasa Jawa. Mangga kula dherekaken.

Oleh Priyandono
Guru Bahasa Jawa SMPN 2 Balongpanggang, Gresik
priyandono_ku@yahoo.com

SURYA, SATURDAY, 02 FEBRUARY 2008
piye?:

0 urun rembug: