Saturday, 16 February 2008

Jawa Ngoko dan Etika Suroboyoan


"Saya cenderung melihat ide Hari Berbahasa Jawa sebagai komunikasi simbolik khas Jawa. Ide itu hanya ingin menanamkan etika sopan santun tapi dengan tersirat menekankan perlunya berbahasa Jawa."

TULISAN Bonari Nabonenar (Menggugat Hari Berbahasa Jawa, JP, 3/2/2008), mengapungkan dua hal. Di awal dan di akhir tulisan. Di ujung, Bonari menekankan perlunya mengubah kebiasaan berbahasa Jawa lisan ke berbahasa Jawa tulisan, dengan menggalakkan penulisan buku (sastra) berbahasa Jawa di satu sisi, dan melengkapi perpustakaan sekolah dengan buku (sastra) berbahasa Jawa di sisi lain, setelah banyak hadiah sastra serta anugerah pengabdian budaya (Jawa) diberikan oleh komunitas non-Jawa kepada sastrawan dan budayawan Jawa.

Itu gagasan menarik. Meski sebenarnya Bonari lebih penting untuk mempertimbangkan penekanan pada fakta: lokal Surabaya itu memiliki dan mengembangkan variasi subdialek bahasa Jawa yang amat khas, yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Terutama aspek fenomena egalitariannya, yang menyebabkan hilangnya kecenderungan menekankan dan mengutamakan senioritas usia, kepangkatan atau kebangsawanan. Yang menyebabkan bahasa Jawa Suroboyoan kelihatan sangat ngoko tanpa kehilangan rasa hormat dan kesantunan pada orang tua -seperti yang diperlihatkan faktor Emak dalam cerita Sarip Tambakoso.

[]

HAL itu jadi sangat penting saat dikaitkan dengan hal lain, hal kedua, yang dijadikan pilar tulisan Binari, yang diikutinya dari rilis Dispendik Surabaya di situs surabaya.go.id. Di sana dinyatakan dan dikutip Bonari bahwa (salah satu) sasaran Hari Berbahasa Jawa adalah "menanamkan etika sopan santun"bagi siswa". Kalau itu persoalannya, maka kita akan menemukan dua masalah dasar.

Pertama, tingkah laku khas Suroboyoan dari orang Surabaya yang menyertai komunikasi bahasa Jawa Suroboyoan dianggap ora Jawani, dan karenanya harus dilakukan semacam Jawanisasi dengan standar Kraton Mataraman. Mungkin ada pejabat yang bukan berasal dari Surabaya dan sekitarnya, yang berasal dari daerah kulonan (Mataraman) yang tak bisa beradaptasi dengan mengakomodasi budaya lokal Surabaya, tersinggung, terhina, karenanya perlu men-Jawa-kan wong Jawa Surabaya yang ora Jawani. Seperti reaksi wong Mataraman pada bahasa Jawa Suroboyoan JTV beberapa waktu lalu. Ora genah!

Bila itu persoalannya, maka yang substansial justru persoalan hilangnya etika sopan santun dan bukan penguasaan bahasa Jawa yang berkurang karena dominasi bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang egaliter. Karena itu, menurut saya, jalan keluarnya bukan dengan mencanangkan Hari Berbahasa Jawa -karena Hari Berbahasa Arab di pesantren melahirkan loyalitas dan kepatuhan kepada kiai sak anak-bojone-tapi dengan pelajaran budi pekerti dan etika pergaulan. Dan itu sebenarnya sudah termaktuib dalam acuan pembiasaan sesuai kurikulum 2004. Tapi, kenapa kesempatan itu tak dimanfaatkan?

Ada kemungkinan, guru tak berani mengajarkan materi yang tidak dikuasai, sekaligus malas mencari materi karena terbiasa dimanjakan oleh buku teks yang disediakan penerbit -bahkan dapat kesempatan menjual buku dan dapat komisi. Karena itu, guru resmi yang dijanjikan dapat tunjangan profesional, yang tak bisa kreatif dan aktif dirangsang oleh KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan), ketinggalan jauh dengan praktisi home schooling yang sudah terbiasa aktif mencari materi sesuai kompetensi dasar supaya siswanya tertarik dan aktif belajar.

[]

Namun, kalau salah satu tujuan Hari Berbahasa Jawa dengan pembiasaan berbahasa Jawa adalah etika sopan santun, maka yang terbayang justru kegagalan. Kenapa? Karena bagi si pendatang non-Jawa atau pasangan muda Jawa yang punya anak dan tinggal di Surabaya, sebagai orang tua mereka selalu lebih menganjurkan anaknya untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan orang Jawa. Karena bahasa Jawa selalu menekankan peranan: siapa yang berbicara dan siapa yang diajak bicara. Selain itu, rasa tahu diri dengan menempatkan lebih asor (merendah) sehingga wajib menghormat kepada yang lebih tua, lebih berpangkat, dan sebagainya, dengan melakukan pilihan kata yang cocok -padahal kosa kata mereka sangat terbatas dan cenderung ngoko. Dalam bahasa Indonesia kerumitan itu hilang sekaligus laknat ora Jawani tak terlontar di tengah masyarakat yang masih mriyayeni.

Kalau itu pokok persoalannya, saya cenderung melihat ide Hari Berbahasa Jawa sebagai komunikasi simbolik khas Jawa. Ide itu hanya ingin menanamkan etika sopan santun tapi dengan tersirat menekankan perlunya berbahasa Jawa. Kesannya jadi tak efektif. Mau pesan pisang goreng teman minum kopi, dengan berbicara panjang lebar tentang peran PPL (petugas penyuluh lapangan) dalam peningkatan produk tanaman pisang raja di halaman rumah, sebagai pendapatan sampingan dalam rangka peningkatan gizi rakyat. Aduh, mbulet-nya! (*)

Beni Setia, pengarang, tinggal di Caruban. E-mail: benisetia54@yahoo.com

Jawa Pos, Minggu, 17 Feb 2008
piye?:

0 urun rembug: