Friday, 8 February 2008

Kebijakan Basa-basi

SURABAYA, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa (PPSJ) Surabaya Bonari Nabonenar menilai, kebijakan sehari berbahasa Jawa yang digulirkan Dinas Pendidikan hanya sekadar basa-basi. Bonari yakin, program tersebut tidak efektif saat pelaksanaan di lapangan. Bahkan dipastikan akan menemui berbagai kendala. Baik dari siswa maupun guru. Terlebih bagi siswa dan guru non-Jawa.

’’Kalau programnya sih baik. Tapi masalahnya ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan dari pada sekadar basa-basi membuat kebijakan itu (sehari berbahasa Jawa, Red),’’ ujarnya kepada Surya, Jumat (25/1).

Menurut Bonar, selama ini terjadi sesuatu yang sangat rancu dalam pengajaran bahasa Jawa di sekolah. Ketika mengajarkan bahasa daerah ini, guru memakai bahasa Indonesia.
Malah banyak di antara guru pengajarnya sendiri yang tidak paham. ’’Mestinya kalau targetnya agar siswa paham dan bisa bahasa Jawa, dalam mengajar guru harus menggunakan bahasa Jawa. Dan si guru harus benar-benar paham, istilah dan hal-ihwal tentang bahasa Jawa,’’ jelas alumnus Universitas Negeri Surabaya ini.

Ini menurut Bonar, sama halnya dengan pengajaran bahasa Inggris. Agar siswa cepat paham, sejumlah sekolah memilih guru pengajar native speaker atau orang yang benar-benar paham dan setiap hari menggunakan bahasa Inggris.


Selain itu, Bonar meragukan tujuan program sehari berbahasa Jawa untuk mengangkat budaya Jawa dan menumbuhkan sikap etik dan sopan santun siswa. Karena saat ini praktis tidak ada bacaan berbahasa Jawa untuk siswa.

’’Dari mana siswa bisa belajar nilai dan sopan santun dalam menggunakan bahasa Jawa, kalau panduan dan bacaannya saja tak ada,’’ tandasnya.

Bonari menyarankan agar sebelum diterapkan program sehari berbahasa Jawa, Dinas Pendidikan membenahi hal-hal prinsip dalam pengajaran dan pemberian contoh bahasa Jawa. [Uji]


Surya Online
Saturday, 26 January 2008
http://www.surya.co.id/
piye?:

0 urun rembug: