Friday, 1 February 2008

MANTAN TKW HONGKONG BAGI ILMU MENULIS CERPEN

oleh : Masuki M. Astro

Ponorogo, 17/1 (ANTARA) -Dua mantan TKW atau buruh migran Indonesia (BMI) asal Jawa Timur yang pernah bekerja di Hongkong, Tania Roos dan Mei Suwartini berbagi ilmu cara menulis cerpen dengan ratusan guru, siswa SMA dan mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, Rabu (16/1) malam.


Diskusi yang dipandu Ketua Jurusan Bahasa Indonesia STKIP Ponorogo, Drs Sutejo, MHum itu juga menghadirkan Eni Yuniar, seorang TKW Hongkong asal Ponorogo yang juga aktivis pembelaan buruh dan pernah tampil di forum PBB di New York penggerak sastra BMI, Bonari Nabonenar.

Mei yang sudah menghasilkan sekitar lima kumpulan cerpen dan kini membuka usaha warnet di Ponorogo bercerita, sejak menempuh pendidikan di STM Negeri Ponorogo sekitar tahun 1992, ia sudah hobi menulis cerpen.

"Cerpen saya tahun 1992 pernah dimuat di Kompas, termasuk juga cerpen yang dimuat untuk majalah remaja, Anita Cemerlang," kata perempuan berperawakan kecil yang mengaku tidak pandai berbicara di depan umum itu.

Ia mengemukakan, hobi menulisnya sempat putus karena ia menikah, namun kemudian terasah lagi ketika menjadi TKW di Hongkong. Saat itu ia terpacu dengan berbagai lomba menulis cerpen di negeri orang.

"Apalagi organisasi kepenulisan di Hongkong juga berkembang dan saya aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong. Saya juga mengikuti training-training kepenulisan sejak STM," katanya.

Tania yang berasal dari Kepanjen, Malang mengemukakan, dirinya menulis karena merasa "kesepian" saat bekerja sebagai TKW. Meskipun demikian, ia mengaku beruntung karena sering mendapatkan majikan yang baik.

"Pekerjaan saya itu hanya sekitar 2,5 jam sehari sudah selesai. Selebihnya, jujur saya kesepian. Mau apa, bingung? Akhirnya saya tumpahkan lewat tulisan-tulisan," kata ibu dua anak yang meninggalkan Hongkong akhir 2007 lalu.

Dari hasil tulisan yang menggunakan komputer majikannya itu, ia kemudian mengikutkan karyanya untuk lomba dan pernah dinyatakan sebagai pemenang pertama di KJRI Hongkong. Sejak itu, ia semakin terpacu untuk berkarya.

"Dengan menulis saya menjadi banyak teman. Meskipun saya hanya pembantu rumah tangga dengan senjata ulek-ulek dan pisau, saya akhirnya bisa pegang laptop dan bisa bergaul dengan banyak kalangan, termasuk wartawan dan sastrawan karena menulis," katanya.

Menurut dia, kalau pembantu rumah tangga yang berpendidikan hanya setingkat SLTA saja bisa menulis karya sastra, seharusnya mahasiswa dan guru, apalagi para dosen bisa menghasilkan karya yang tentunya dengan kualitas lebih baik.

"Kalau kami bisa, mengapa teman-teman tidak bisa," katanya.

Sementara itu sejumlah mahasiswa, guru dan siswa tampak antusias mendapatkan penjelasan dari para TKW itu. Hal itu wajar karena selama ini mereka mengenal lebel TKI/TKW itu hanya identik dengan pembantu.

"Ini memang ironi kehidupan. Kok bisa teman-teman BMI menghasilkan banyak karya? Kami yang bergelut dalam dunia akademis bahkan sama sekali tidak bisa menulis," kata Dwi Wahyu, mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia.

Sutejo yang juga kandidat doktor sastra di Unesa mengemukakan, dengan penampilan BMI di hadapan mahasiswa dan guru itu diharapkan dapat memacu mereka untuk juga bisa menghasilkan karya sastra.

"Dengan kegiatan semacam ini, mata dan hati mereka agar terbuka bahwa seharusnya mereka bisa menghasilkan karya yang lebih baik," kata penulis cerpen, puisi dan karya ilmiah itu. []


http://www.antarajatim.com
17 Jan 2008 15:01:57
piye?:

0 urun rembug: