Friday, 8 August 2008

Kemerdekaan Itu...

Ketika majalah ini sudah di tangan Anda, mestinya nuansa kemeriahan Peringatan Hari Kemerdekaan RI, di HK, makin terasa. Ada yang makin giat berlatih sebagai anggota pasukan pengibar bendera, berlatih baca puisi, atau menari, untuk tampil di Panggung Peringatan HUT-RI. Bahkan, mesti ada pula yang masih menikmati kebanggaan setelah memenangkan perlombaan.

Lalu, marilah kita ingat, namanya juga ’peringatan’—bahwa berbagai perlombaan, berbagai pementasan, karnaval, dan sebagainya itu hanyalah sarana. Adalah alat untuk mempertegas ingatan kita bahwa kemerdekaan itu sebegitu bernilai, bahkan lebih bernilai daripada hidup itu sendiri.

Tetapi, kemerdekaan itu tampaknya ada meterannya, ada timbangannya, ada ukurannya. Ehm. Belum lama ini penyair Heri Latief meluncurkan buku puisi 50% Merdeka. Nah, lho! Eh, konon ia juga akan datang ke HK juga untuk meluncurkan buku itu. Jadi kapan kita bisa menikmati kemerdekaan yang 100%?

Datanglah ke Jakarta, dan saksikan para pemilik mobil mewah itu masih juga hanya bisa bermimpi menikmati kemerdekaan (dari kemacetan jalan raya Jakarta). Dengarkanlah pula gerutuan orang, yang pada intinya mengabarkan bahwa mereka tidak merdeka untuk menyalakan lampu atau menghidupkan perangkat elektronik gara-gara pemadaman bergilir yang jadwalnya pun kadang diubah secara sepihak oleh pengelola aliran listrik negara. Televisi masih juga mengabarkan orang pingsan terinjak-injak saat ngantri BLT.

Persoalan kemerdekaan (hanya) sekian prosen ternyata bukan hanya monopoli orang kecil. Iya ta? Apalagi secara ekonomi. Kabar mutakhir bahwa WTO (World Trade Organization) gagal mencapai kesepakatan di Jenewa (Swis) karena kebijakan terkait pemasaran produk-produk pertanian yang didesakkan negara-negara kaya ditentang oleh kelompok negara berkembang seperti: India, China, dan Indonesia.

Semoga, terutama di bidang ekonomi, kita masih punya nyali untuk meneriakkan tuntuan kemerdekaan persen demi persen. Untuk itu diperlukan kesadaran bahwa kita sedang mengalami dan/atau dalam ancaman: penjajahan. [BONARI NABONENAR, untuk Peduli edisi Agustus 2008]
piye?:

0 urun rembug: