Friday, 16 May 2008

Menyaksikan Anak Gagap yang Kini Jadi Motivator *)


Setelah jeda cukup lama karena kelahiran bayinya, Natasya Ensa Motivani (3 bulan), Eni Kusuma (31) kembali menjalani profesinya yang baru hitungan bulan ditekuni menyusul penerbitan bukunya, Anda Luar Biasa!!!. Kali ini Eni tampil di hadapan para guru di bawah naungan Diknas Kabupaten Bojonegoro (Gedung Serbaguna Kab. Bojonegoro, Minggu, 20 April 2008).

Luar biasa, bersama Dr Ismet Basuki dari Unesa, di hari yang panasnya lumayan menyengat itu Eni harus berbicara di hadapan sekitar 1.000 orang guru! Bisa begitu banyak yang datang, tampaknya, karena ada iming-iming sertifikat yang kini sedang populer bersamaan dengan digalakkannya program sertifikasi guru.

Akibat membludagnya peserta, selain cukup banyak yang tak kebagian kursi, pendaftaran ulang, mengisi daftar hadir, pun memerlukan waktu lama, sehingga acara yang semula dijadwal mulai pukul 08.30 itu baru sekitar pukul 10.00 dimulai.

Eni dapat giliran bicara pertama. Sebagai motivator, Eni bertutur bagaimana dia ketika menjadi pekerja rumah tangga di HK bisa menyisihkan waktu untuk membaca dan menulis hingga menghasilkan buku pertamanya yang laku keras itu. Eni menilai, banyak orang kepengin bisa menulis tetapi tak kunjung menghasilkan tulisan karena beberapa hal, di anataranya: takut dikritik, merasa tak layak, dihantui teknik menulis yang dianggap baik dan benar. ’’Untuk menulis topik ini kan banyak yang lebih berkompeten daripada saya yang hanya Sarjana 1, bukankah yang sarjana 2 atau strata 2 saja tidak berani menulisnya?’’ lebih-kurang demikian Eni menyuarakan pikiran orang-orang yang diduganya terlalu minder untuk memulai menulis itu.

Eni yang hingga lulus SMA mengaku sebagai anak gagap biacara itu (ia baru belajar menghilangkan kegagapannya bersamaan dengan belajar berbahasa Kantonis di HK: ’’Saya merasa, orang akan menganggap karena saya belum lancar berbahasa Kantonis sehingga kalimat saya selalu patah-patah, dan perasaan demikian membantu saya untuk terus belajar tanpa rasa malu karena sebenarnya gagap,’’ akunya) pun berbicara cukup lancar, dan panjang, sehingga moderator harus beberapa kali mengingatkannya bahwa waktunya sudah habis.

Saking bersemangatnya berbicara, Eni tampaknya lupa bahwa di belakangnya ada moderator yang bertugas, antara lain mengundang penanya/penanggap setelah ia selesai berbicara. Eni mengundang sendiri peserta untuk bertanya. Ada 3 orang penanya. Penanya pertama perempuan, penanya berikutnya 2 orang laki-laki. Dua penanya terakhir itu, kalau boleh saya sampaikan dengan bahasa saya, intinya adalah, mereka menilai bahwa Eni Kusuma dapat menghasilkan banyak tulisan karena Eni menulis dengan mengabaikan teknik-teknik penulisan. [Hebatnya, tanggapan/penilaian semacam itu dilontarkan dengan entengnya oleh guru yang sebelumnya secara tidak langsung mengaku belum membaca tulisan/buku Eni Kusuma. Sebelum memulai menyampaikan paparannya Eni bertanya kepada peserta, siapa gerangan yang telah membaca buku Anda Luar Biasa!!! dan tidak seorang pun mengaku telah membacanya].

Materi tanggapan/pertanyaan orang ketiga mirip dengan yang telah dilontarkan penanya kedua. Penanya ketiga itu sempat menyisipkan pertanyaan apakah tulisan-tulisan seperti yang ditulis oleh Eni Kusuma, yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah itu bisa dinilai sebagai penambah poin fortopolio untuk mengikuti program sertifikasi guru, mengingat seminar sehari itu digelar dalam rangka merangsang para guru untuk bisa menulis demi peningkatan profesionalitas mereka. Lalu, sempat pula dilontarkan, apakah Eni masih akan meneruskan karirnya sebagai pembicara/motivator.

Pertanyaan terakhir itu tidak sempat terjawab oleh Eni yang tampak terlalu bersemangat dan agak bertele-tele menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya (terasa Eni agak emosional) sehingga moderator harus beberapa kali mengingatkan bahwa waktunya sudah habis.

Tetapi, saya cenderung menilai, bisa saja keliru, bahwa pertanyaan, ’’Apakah Eni akan meneruskan karirnya sebagai motivator/pembicara publik?’’ itu didorong oleh kesangsian akan kualitas pembiacaraan Eni, baik esensi maupun cara penyampaiannya. Penanya tanpaknya ragu, dan saya kira di dalam benaknya tersimpan pula pertanyaan begini, ’’Kalau hanya begini-begini, siapa lagi yang akan mengundangnya untuk jadi pembicara?’’

Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah di hari yang terik itu Eni telah berbicara di tempat yang salah? Padahal, ketika berbicara di hadapan para profesional di bidang marketing di Jakarta, di forum yang di sana pernah berbicara pula orang-orang sekaliber Tung Dasem Waringin, Andre Wongso, dan Hermawan Kertajaya, Eni bisa tampil memukau, sehingga seorang peserta sempat menawarinya untuk berbicara dari kota ke kota di seluruh Indonesia.

Terasa bahwa para guru di Gedung Serbaguna itu lebih membutuhkan resep ces-pleng, resep jitu, untuk membuat naskah atau tulisan yang dituntut oleh program sertifikasi. Tentunya ini bukan tuntutan yang salah. Tetapi, orang hebat macam apakah yang bisa membuat para sarjana yang bukan penulis menjadi penulis yang andal hanya dalam sehari? Lihatlah jurusan-jurusan di berbagai perguruan tinggi yang menyekokkan ilmu menulis ratusan SKS kepada setiap mahasiswanya itu. Lalu, berapa gelintir mahasiswa yang lulus dan bisa menulis dengan baik? Budi Darma, dalam beberapa tulisannya, antara lain dalam Solilokui (Gramedia, 1982) dengan tajamnya mengritik para akademisi kita yang kebanyakan hanya bisa membuat mozaik, menjejer-jejerkan teori para pakar, mengutip-ngutip pendapat orang lain untuk tulisannya, dan sangat gagap ketika harus membuat simpulan, kedodoran ketika harus menganalisis. Lalu kita akan tahu pula duduk persoalannya, mengapa sedemikian njomplang perbandingan antara jumlah skripsi, tesis, dan bahkan disertasi yang dihasilkan oleh para akademisi kita dengan yang layak terbit sebagai buku.

Maka, paling tidak menurut penilaian saya, buku Anda Luar Biasa!!! yang ditulis Eni Kusuma itu lebih bernilai, lebih ilmiah, daripada skripsi ’mozaik’ yang dibuat oleh seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya.

Bagaimana HK?

Bermcam-macam reaksi BMI-HK atas karya tulisan (buku) yang dihasilkan oleh sesama (atau mantan) BMI-HK. Ada yang sertamerta menyambutnya dengan antusias, senang, salut, dan tertarik untuk membaca dan memiliki bukunya, ada yang dingin-dingin saja, tetapi ada pula yang kurang atau bahkan tidak menghargai alias menyepelekannya.

Sebagai contoh, ketika memoar Rini Widyawati Catatan Harian Seorang Pramuwisma, yang oleh Dr Nalini pun dipuji sebagai karya yang hebat, sempat dikomentari seorang BMI-HK seperti ini, ’’Memang seperti itulah gambarannya BMI-HK. Bahkan ada yang lebih seru daripada yang diceritakan Rini. Aku membaca buku itu, dan enggak sampai habis, karena ya itu tadi, biasa bangetlah!’’

Terhadap Eni Kusuma pun saya sempat mendengar beberapa komentar miring dari kalangan BMI-HK. Misalnya begini, kalau saya katakan lagi dengan kata-kata saya, ’’Siapa sih Eni Kusuma itu? Kayaknya dia tidak pernah nongol di organisasi kepenulisan di kalangan teman-teman di HK, kok tiba-tiba dia sebegitu dielu-elukannya?’’ Lalu, ada pula yang berkomentar bahwa Eni Kusuma itu orangnya sombong, mungkin karena merasa telah jadi penulis hebat….’’

Benarkah demikian? Eni pernah bercerita bahwa waktu bekerja di HK ia hanya diberi libur sehari dalam sebulan. Itu pun biasanya ia habiskan di perpustakaan untuk mengetik ulang dan mengirimkan tulisan-tulisannya ke www.pembelajar.com, di situlah kini Eni jadi salah seorang kolumnis tetap. Lalu, saya kadang berpikir, jika Eni mesti membalas semua email yang ia terima, ia bisa kehilangan waktu untuk menuliskan artikel-artikelnya. Kalau ia mesti membalasi semua SMS yang ia terima, bisa jadi ia akan kehilangan banyak royalty yang mestinya ia terima, padahal kini ia tidak punya sumber penghasilan lain, selain dari tulisan dan ceramah-ceramahnya.

Lalu, sekarang coba, apakah Anda masih akan bertanya, siapakah Etik Juwita itu? Yang ’tiba-tiba’ cerpen Bukan Yem-nya masuk dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008? Etik memang telah banyak menulis cerpen, dimuat di media cetak di Indonesia maupun di HK. Tetapi, dibandingkan dengan Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Indra Tranggono, Beni Setia, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lainnya itu, Etik masih boleh disebut pengarang atau cerpenis ’tiban’. Maksudnya, ia masih kencur kalau yang dinilai adalah ’’usia kepengarangannya.’’ Tetapi, untuk penilaian terhadap karya, jika jujur, justru harus sejauh-jauhnya dihindari pertimbangan ’siapa’ penciptanya, apakah orang baru ataukah orang lama.

Jika ada seorang BMI-HK yang kemudian jadi penulis hebat dan sertamerta juga menjadi congkak, sombong, dan sejenisnya, sebenarnya itu urusan lain. Kalau pun kita tidak menyukai kepribadiannya, cobalah kita berpikir ulang, apakah serta-merta kita harus pula membenci karyanya? Asal tahu saja, karya-karya mereka itu, diakui atau tidak, telah menanamkan andil yang sangat besar dalam mengubah pandangan orang (dari negatif ke positif), terutama masyarakat Indonesia terhadap BMI, khususnya BMI-HK. Nah!

Kita memang manusia. Omong kosong jika tidak memiliki rasa iri. Tetapi, kita bisa belajar untuk menekan rasa iri itu agar tidak tumbuh menjadi dengki. Masih banyak waktu dan arena tergelar sedemikian luasnya untuk berkompetisi. Marilah kita budayakan, meminjam kata-kata bijak orang saleh, ’’berlomba-lomba dalam kebaikan.’’ Membiarkan dengki tumbuh dan memupuk kebecian kepada orang-orang yang kepada mereka seharusnya kita belajar (atau setidaknya mengambil pelajaran dari mereka) hanya akan membuat kita jadi semakin kerdil. Percayalah! [Bonari Nabonenar]

*) dimuat di Majalah Peduli edisi Mei 2008, dalam versi lain dimuat di www.jawakini.com dengan judul Menggurui Guru sambil Membela Eni Kusuma.
piye?:

0 urun rembug: