Friday, 2 December 2011

MEMICU KREATIVITAS

Di dunia kesenian, orang memisahkan secara tegas antara kreasi (penciptaan) dengan inovasi (pembaruan) dan memberi derajat lebih tinggi pada hal yang pertama tadi: penciptaan. Tetapi, dalam pengertian sehari-hari, insan yang sering melakukan proses dan menghasilkan pembaruan-pembaruan dijuluki juga sebagai insan kreatif. Bicara soal kreativitas, Pemerintah kita, Republik Indonesia, tampaknya sedang memompakan semangat baru dengan menggeser urusan ekonomi kreatif ke Kementerian Pariwisata (dan Ekonomi Kreatif) serta mengembalikan urusan ”kebudayaan” ke Kementerian Pendidikan (dan Kebudayaan).

Sesungguhnya, bagaimanakah kreativitas itu bekerja pada satuan masyarakat yang lebih kecil (ambil contoh di sebuah desa) atau bahkan di tiap individu manusia? Pada tataran individu, kreativitas bekerja dengan cara yang unik, datang dengan cara yang sering tidak sama antara pada seseorang dengan orang lain. Ada yang pikiran dan perasaannya mencapai kesegaran optimal di waktu malam, di waktu pagi, dan ada pula orang yang mencapai puncak kondisi kreartif-nya pada waktu siang hari bolong. Ada orang yang bisa bekerja dengan baik ketika berada di antara banyak orang, bekerja secara gotong-royong, masuk dalam tim, melainkan ada orang yang baru bisa bekerja secara optimal jika dibiarkan sendirian. Dan seterusnya, dan seterusnya. Kreativitas, uniknya lagi, sering muncul jusru dalam/dari kesempitan. Karena itu, jika Anda sering mendengar kata-kata, ”Ambil kesempatan di dalam kesempitan,” kini gantilah kata-kata itu dengan, ”pacu kreativitas dalam kesempitan!”

Adalah Mariyatun, seorang pembuat kue pesanan di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Sekitar sebulan lalu, ia mendengar kabar bahwa desanya akan didatangi dan diinapi ratusan orang dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Para pendatang itu adalah para pengarang sastra Jawa, guru, dosen, Staf Ahli Kementerian Informasi dan Komunikasi, termasuk di antaranya: Arswendo Atmowiloto.

Mereka datang di desa Jono untuk mengikuti acara Konggres Sastra Jawa III. Sampai 3 hari sebelum Konggres, Mariyatun memeras otak. Merasa bahwa kesempatan begitu sungguh langka, maka Mariyatun terpacu untuk memanfaatkannya. Obsesinya hanya satu, berkaitan dengan dunia kuliner yang ditekuninya: bagaimana menciptakan sesuatu yang baru, yang belum ada di tempat lain, di waktu sebelumnya. Maka, lalu terciptalah ”kripik daun jati (muda)” yang walau agak sepet dan sedikit pahit, tetapi laris dijual sebagai oleh-oleh peserta Konggres.

Begitulah, kreativitas sering memang harus dipicu!

BONARI NABONENAR
--untuk editorial majalah peduli
piye?:

0 urun rembug: