Thursday, 1 January 2009

Bukan Sulap Bukan Sihir: Tletong Sapi Jadi Listrik

Suatu saat Dian Lili Hartati, BMI-HK yang asal Banyuwangai (ditulis sesuai ucapan orang etnis Osing) bercerita bahwa ia punya beberapa ekor sapi di kampung halamannya. Ely Hambaulina yang asal Ponorogo juga begitu. Ia percayakan sapi-sapinya untuk dipelihara adiknya, di sebuah kampung di Kecamatan Sumoroto, Ponorogo. Bersama rombongan, Peduli bahkan sempat melihatnya, sampai-sampai tak bisa pulang sesuai jadwal yang direncanakan karena dirintangi hujan angin yang sangat lebat.

Ini cerita tentang beternak sapi dengan segala rentetannya. Sampai saat ini masih sangat banyak orang beternak sapi hanya karena kepincut daging (penggemukan), susu (perah), dan dari perkembangbiakannya. Hasil sampingan berupa kotoran yang bisa dijadikan pupuk pun oleh para peternak tradisional sering diabaikan, karena pupuk sapi dinilai kurang baik, atau tidak sebaik kotoran unggas, kambing, dan lain-lain.

Lalu, datanglah teknologi pembuatan biogas untuk skala rumah tangga (selengkapnya baca: 12 – 16) yang dapat dibangun dengan bahan baku kotoran ternak maupun kotoran manusia. Ada pondok pesantren di Jawa Timur yang telah mengembangkan teknologi ramah lingkungan ini. Juga, perorangan/keluarga yang semula tidak tertarik menjadi tertarik, begitu melihat tetangganya tak lagi pusing membeli minyak tanah atau gas, bahkan bisa ’’terus terang’’ (tidak pernah bergelap-gelap) walau ada pemadaman listrik, karena biogas bisa dipakai sebagai sumber energi untuk menyalakan lampu. Bukan sulap bukan sihir, tlethong (kotoran) sapi bisa jadi (biogas) sumber energi listrik, kompor, dan lain-lain.

Inilah saatnya para petani/peternak menekuni usaha peternakan bukan hanya berhenti di peternakannya itu, tetapi juga melakukan upaya agar hasil yang dicapai bisa lebih optimal, membuka peluang untuk memperkokoh perekonomian keluarga di tengah-tengah krisis global seperti sekarang ini. Ini benar-benar bukan sulap bukan sihir. Biar harga BBM naik, biar mitan dan elpiji susah di dapat, biar listrik byar-pet, asal sapi masih bisa nlethong (buang kotoran), kita tidak perlu nyengir, alias tetap bisa tersenyum.

Ketika sebuah keluarga memiliki dua ekor sapi, lalu butuh uang mendesak, biasanya dengan gampang salah seekor atau kedua ekor sapi itu dituntun ke pasar. Tetapi, ketika keberadaan mereka terkait dengan instalasi biogas, ada pertimbangan memberatkan, ini: kalau sapi dijual, apalagi semuanya, dan untuk memasak mesti beli minyak tanah atau gas, apakah tidak semakin susah? Apalagi minyak tanah dan gas itu sering menyerupai siluman, cat katon cat ilang alias sering menjadi barang langka.

Wahai para pemilik sapi. Menjadikan tlethong sapi sebagai bahan baku untuk sumber energi alternatif sangatlah tepat. Yang belum punya sapi? Beli dong! Atau, bisa juga membuat biogas dengan ngising sendiri! [dari majalah peduli]
piye?:

2 urun rembug:

haha...kalimat terakhirnya, mas. rak nguwati. volume tletong sapi nggak sama dengan 'tletong'e dewe, mas. lha coba bayangkan, untuk menyaingi 'hasil' 2 ekor sapi sehari, berapa lama kita harus ngedhen coba.

haha....cuma guyon, mas.
apa kabar ?