Sunday, 18 January 2009

Belajar di ’Lapangan’

Beberapa waktu lalu (persisnya 25 – 29 Desember 2008) 5 orang pemuda dari Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, belajar bertani di ’lapangan.’ Lapangannya ialah Kelompok Tani Lo-Rejo dan Bangun Rejo yang memroduksi pupuk dan tanaman organik serta Kelompok Tani Silir Agung yang memanfaatkan lahan pasir untuk areal pertanian dan memiliki lembaga pelelangan hasil pertanian. Semuanya ada di wilayah Yogyakarta.


Setelah kira-kira sepekan sekembali mereka ke kampung halaman, beberapa orang petani di desa diundang untuk mendiskusikan oleh-oleh dari Yogya tersebut. Mereka sangat antusias mendengarkan pemaparan dari kelima orang pembelajar itu.

’’Jadi, kalau misalnya lombok (cabe, Red) mereka diserang cabuk (hama tanaman berupa jamur, Red), mereka menyemprotnya dengan kencing sapi, tidak perlu beli obat di toko. Kalau pengin sapi mereka gemuk, mereka membuat sendiri obatnya dengan menaruh nasi di ruas rebung yang sudah tumbuh sekitar 2 meter. Kalau tanaman mereka diserang tikus, mereka cukup mencari daun bengle dan daun pucung, lalu ditumbuk untuk disebar di tempat yang biasanya didatangi rombongan tikus itu.’’ Demikian antara lain yang dipaparkan di dalam pertemuan yang berlangsung hingga tengah malam itu. Dan para petani yang hadir pun berjanji untuk segera mencoba resep-resep itu.

Memang harus ditunggu dua atau tiga bulan lagi, hasil nyata dari studi atau belajar di ’lapangan’ itu. Tetapi, harapan makin besar karena para petani maju yang didatangi di Yogyakarta itu menjamin dan siap untuk didatangkan ke Dusun Nglaran jika ujicoba yang kini sedang berlangsung itu nanti ternyata gagal.

Ada yang cukup mengharukan malahan, yakni ketika kelima pemuda itu bertanya bagaimana caranya mendapatkan bibit padi atau tanaman organik lainnya, menurut cerita mereka, jawabannya adalah, ’’Kita ini petani. Ciri-ciri petani sejati itu ialah hidup secara gotong-royong. Kalau sampeyan perlu bibit, mau berapa, kami pinjami. Nanti kalau sudah ditanam dan kemudian panen, baru sampeyan kembalikan.’’ Lho, apa itu ora hebat?

Dan jangan lupa, kita boleh memegang kata-kata bahwa ilmu itu mahal harganya. Tetapi, ternyata itu bukan dalam pengertian bahwa kita tidak bisa mendapatkannya secara gratis. Buktinya ya kelima pemuda dari Dusun Nglaran itu. Tidak seorang pun narasumber di Yogyakarta itu yang minta bayaran. Lha, malah ada yang kecewa karena kelima pemuda itu tidak bisa berlama-lama. ’’Lha, apa yang bisa sampeyan dapatkan kalau menginap pun tidak?’’ katanya seperti ditirukan salah seorang di antara kelima pemuda itu. Tetapi, buktinya oleh-olehnya cukup banyak.

Nah, ternyata orang-orang sederhana tetapi hebat yang selalu siap menjadi dermawan ilmu seperti itu tidak hanya ada di Yogyakarta, dan tidak hanya berasal dari praktisi pertanian. Mbak Misti, mantan BMI Singapura yang kini sukses jadi juragan bordir di Malang itu juga pernah menantang, kalau ada sekelompok (sekitar 5 orang), terutama sesama mantan BMI yang mau meguru mbordir di tempatnya, ia akan dengan senang hati menerimanya. ’’Kalau sekali datang jumlahnya lebih banyak dari itu saya masih kesulitan dalam hal penginapannya,’’ kata Mbak Misti.

Cara magang atau belajar langsung di ’lapangan’ seperti itu tampaknya jauh lebih efektif, misalnya, dibandingkan dengan cara-cara yang selama ini dilakukan Disnaker Jatim, yakni mengundang sekian mantan BMI ke suatu tempat untuk diceramahi oleh narasumber yang juga didatangkan. Apalagi, misalnya narasumbernya ada 5 orang, 2 atau 3 di antaranya pejabat atau birokrat. Lhadalah! Bisa-bisa malah Jaka Sembung klambi lorek, gak nyambung, rek!


untuk majalah peduli edisi februari 2009
piye?:

0 urun rembug: