Friday, 29 January 2010

Nduwe Gawe

Di desa-desa, kalau musim hajatan tiba, orang dewasa baik laki-laki maupun perempuannya mengisi hampir semua hari-hari dengan urusan pesta. Ada yang menyebutnya mbecek ada pula yang pakai istilah buwuh.

Hampir semua orang sekampung sibuk dalam kepanitiaan, membantu si empunya hajat, dari urusan mendirikan terob, menyembelih hewan bakal lauk, menanak nasi, menggoreng panganan, sampai urusan membantu menerima tamu. Sanak-saudara dan para sahabat dari kejauhan juga terlibat sebagai para buwuh, mbecek, nyumbang. Sumbangan bisa berupa tenaga, barang, uang.

Para tetangga dekat banyak yang menyumbangkan ketiga-tiganya. Kalau ada 4 orang dewasa dalam satu keluarga, ambillah batas tengah jumlah sumbangan per orang Rp 25 ribu (ini baru yang berupa uang), berapa anggaran mesti dikeluarkan? Bayangkan, kalau dalam sehari bisa ada 3 hingga 5 orang sanak punya hajat bareng.

Tradisi nduwe gawe (memeriahkan hajatan), setuju atau tidak setuju, adalah tradisi boros. Tetapi, karena namanya tradisi, orang desa banyak yang merasa belumlah lengkap hidupnya jika belum pernah menyelenggarakan hajat (dalam rangka khitanan, perikahan, atau bahkan belakangan muncul pula: hajat ulang tahun), atau yang lebih 'ndledek' lagi: nggaweni atau memeriahkan (baca: membiayai) hajat orang lain!

Pandangan bahwa nduwe gawe pesta adalah ''kelengkapan hidup'' itu bahkan sudah menjalar ke anak-anak. Ada yang mothah tidak mau meneruskan sekolahnya kalau khitanannya tidak ditanggapke tayub sehari semalam plus wayang kulit semalam suntuk. Ada yang minta ditanggapke dangdut. Ada pula yang minta band. Padahal, nanggap dangdut atau wayang kulit dengan dalang kaliber desa tarip terendahnya sudah Rp 5 juta. Kalau tayuban, minimal sekarang pakai 5 orang tandak, kali (tarip rata-rata) Rp 500 ribu plus rombongan pengrawit dan pramugarinya Rp 2 juta misalnya, ditambah sewa terob Rp 3 juta, seekor sapi seharga Rp 7 juta. Hitunglah, berapa uang dibutuhkan untuk sebuah pesta nduwe gawe. Oh, itu belum semuanya.

Pesta dengan pengeluaran seperti itu sesungguhnyalah sangat mahal untuk rata-rata orang desa. Kebanyakan dari mereka, si empunya hajat itu, memakai uang/barang pinjaman untuk pestanya. Hewan sembelihan, beras, sayur, bumbu-bumbu, dan plekenik-plekenik lainnya diambil saja lebih dulu kepada penyedia, nanti dibayar kalau hajatan rampung. Artinya, empunya hajat dalam hal ini menjagakan sumbangan para kerabat dan handai-tolan.

Tradisi becekan memang mirip-mirip arisan. Semakin rajin mbecek alias buwuh, biasanya semakin banyak pula tamunya kelak jika punya hajat sendiri. Tetapi, tak jarang pula yang meleset dari itungan. Banyak yang merugi setelah punya hajat. Dahulu, tak jarang orang terpaksa menjual rumah setelah rampung hajatan. Sehingga, ada parikan kecut begini: ''Hore, hore bubar 'hore-hore' kagol balene,'' artinya, ''Hore hore setelah tayuban rumah terjual.'' Tragis bukan? Sekarang sudah jarang rumah kayu. Jarang pula orang jual rumah. Maka, jika hajatan sampai merugi, yang kenudian terjual adalah barang-barang berharga, atau bahkan tanah. Lha, kalau pangkat hanya petani, apalagi yang bisa menegakkan hidup jika tanah sudah terjual? Lebih tragis lagi, ada juga kisah orang gantung diri hanya beberapa hari setelah berpesta atau hajatan. Sampai sebegitulah kadang: harga sebuah pesta.

Maka, pikirkanlah masak-masak jika suami, istri, anak, atau bahkan orang tua Anda suatu saat mothah ngajak nduwe gawe gedhen-gedhen.[bonarine@gmail.com]

piye?:

3 urun rembug:

salam sahabat
wah lama ga ke sini banyak perubahan bagus banget postingannya.weleh itu pegang botol sambil goyang???he..he..eh mas Bonarine sudikah kiranya menempelkan nama saya di daftar links,kalo nama mas Bonarine dah saya pasang dari duluuuu....thnxs n good luck

Sugeng tetepangan mas. Kula blogger anyaran nulis Jawa nyuwun piwulange