Thursday, 26 November 2009

Karena Hidup Bukan Sinetron

Seorang gadis terlunta-lunta, menjalani hidup dengan beban penderitaan nyaris melewati batas yang mampu ditanggung seorang manusia. Kemiskinan, kekejaman ayah atau ibu tiri, dan perlakuan negatif kawan sebayanya mengisi hari-harinya. Tetapi, seperti lazimnya dongeng, pada akhirnya datanglah pertolongan, melalui tangan peri baik hati atau seekor katak penjelmaan pangeran tampan. Kisah pun diakhiri dengan peristiwa terbebasnya sang gadis dari segenap penderitaannya, memasuki dunia baru yang penuh dengan sukacita, termasuk di antaranya pernikahan...

Monday, 23 November 2009

Memeras Kesenian

Bonari Nabonenar* Saya masih di Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur ketika program Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) Jatim digagas dan kemudian digulirkan oleh Taman Budaya (salah satu UPT Dinas Pendidikan) Jatim awal 200-an. Pertama digelar di Blitar, dan kemudian menyusul pula Festival Kesenian Kawasan Utara Jatim. FKKS dan kemudian juga FKKU seolah-olah mengobati kegelisahan kalangan masyarakat/seniman yang sebelumnya melihat banyak agenda-agenda kesenian Jawa Timur cenderung terpusat di Surabaya seperti: Festival Cak Durasim,...

Wednesday, 18 November 2009

Angka dan Badai

Oleh : Bonari Nabonenar Tiga, empat: tujuh! Itu bukan nama angka keramat, tentu. Juga bukan kandidat untuk keluar sebagai nomor toto gelap. Itu hanya hasil utik-utikku secara iseng. Iseng banget. Bukankah anak kecil yang masih cedal pun tahu kalau tiga ditambah empat sama dengan tujuh? Aku sendiri juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba aku tertarik untuk iseng dengan deretan angka. Padahal, biasanya aku selalu pasang muka masam setiap berpapasan dengan angka-angka. Mereka sering menipu, setahuku, atau paling tidak demikianlah citra mereka (para angka)...