Thursday, 25 August 2011

Sebuah Catatan dari Lomba Menulis Kecil-kecilan

Pekan ketiga bulan lalu (21/8), hasil sebuah lomba penulisan kecil-kecilan (kalau boleh dibilang begitu) diumumkan. Lagi-lagi saya mendapat kejutan, sebelumnya, karena sebagai salah seorang juri (kalau boleh dibilang begitu) saya mendapat kesempatan membacai tulisan para peserta sebelum hasilnya diumumkan. Kejutannya adalah, munculnya tulisan-tulisan bagus dari nama yang belum familiar di antara nama-nama BMI-HK penulis yang sudang memalang-melintangkan namanya di media cetak: dari tanahair hingga ke Negeri Beton ini. Salah seorang di antaranya adalah Awiek Libra. Hingga kini pun saya belum pasti apakah seperti itu pula nama yang tertera di dalam paspor BMI-HK asal Trenggalek, Jawa Timur, ini. Ia menuliskan pengalamannya sendiri dengan baik, dan oleh karenanya saya tak begitu terkejut ketika saat pengumuman namanya muncul sebagai juara.

Untuk kesekian kalinya saya ingin mengatakan, bukan sekadar basa-basi, bahwa bibit-ibit penulis kita di HK ini bagaikan sebaran biji kacang kering di ladang kerontang. Ketika sedikit saja dapat siraman, bermunculanlah bagaikan jamur di musim hujan.

Penyelenggara lomba penulisan kecil-kecilan ini pun, Sri Lestari yang juga pemilik situs www.babungeblog.blogspot.com itu, pada saat sibuk mengurusi lombanya masih sempat mengirimkan 3 buah tulisan untuk majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya. Luar biasanya pula, ia termasuk sedikit penulis (di media berbahasa Jawa pula) yang begitu coba-coba mengirimkan tulisan langsung dikomentari redakturnya, ’’Tulisan ini nyaris bisa lagsung naik cetak tanpa disunting!’’ Nah, model-model ’’bakat kependhem’’ seperti inilah yang kemudian kulihat bermunculan di HK.

Tulisan-tulisan yang ’’terkalahkan’’ di dalam lomba ini pun sebenarnya bukan tulisan-tulisan jelek. Dalam komentar saya di situs jejaring sosial, saya katakan bahwa penyebab ’’kekalahan itu kebanyakan hanya soal, ibarat memasak: salah takaran bumbu, atau terlalu lama atau terlalu sebentar memanasinya. Ada pula beberapa yang salah menghidangkannya, seperti menaruh rawon di dalam gelas dan menaruh es teh-nya di dalam mangkuk. Diminta menulis opini malah bercerita, dan sebaliknya, ketika diminta bercerita malah beropini. Artinya apa? Tidak diperlukan kuliah terlalu panjang-lebar atau resep menulis yang ndakik-ndakik untuk kawan-kawan kita ini, melainkan cukup diberitahu dengan dua atau tiga kalimat pasti mereka akan menghasilkan tulisan yang cukup bagus dan sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Selamat kepada para pemenang. Yang belum menang, jangan patah arang. Yakinlah, menulis itu membuat hati kita senang, pasti membawa manfaat, bahkan tak jarang bisa jadi semacam obat!

BONARI NABONENAR
piye?:

0 urun rembug: