Monday, 24 June 2013

Rumah sebagai Barang Konsumsi atau Modal

Kebutuhan dasar setelah sandang dan pangan adalah papan. Yang disebut dengan papan adalah tempat (berkeluarga, beristirahat, berteduh, dan tak jarang juga: berusaha). Itulah rumah. Jika kita mendapatkan sejumlah uang yang sekiranya cukup untuk membangun atau membeli sebuah rumah, pun walau hanya dari jenis yang biasa disebut rumah sederhana, kita bisa membelanjakannya sebagai modal atau sebagai konsumsi. Sama-sama membangun/membeli rumah, ada dua jalurnya: jalur modal dan jalur konsumsi. Banyak orang merantau demi mendapatkan pekerjaan yang layak, lalu memanfaatkan uang perolehannya untuk membangun rumahnya di desa. Ratusan juta rupiah dihabiskan untuk pembangunan rumah itu, dank arena lokasinya yang tidak strategis (jawa: ora madoli) nilainya pun seolah tak pernah bergerak naik dari jumlah yang dihabiskan itu. Kalau disebut tidak pernah naik pasti salah. Persoalannya adalah, apakah kenaikan itu signifikan? Dalam kasus seperti inilah kita bisa menyebut uang telah dibelanjakan untuk barang (rumah konsumsi) dan bukannya sebagai modal.
Berbeda halnya jika rumah yang dibangun itu berada di lokasi yang strategis, atau sekalian membeli dari pengembang (yang membangun perumahan di pusat atau pinggiran kota). Kalau tiga bulan lalu rumah itu dibeli seharga Rp100 juta, misalnya, sekarang bisa saja sudah bisa dijual dengan harga Rp125 juta atau bahkan Rp150 juta. Jangankan berbilang bulan, tak jarang baru beberapa hari saja seseorang membeli rumah (di lokasi yang bagus) orang lain sudah menawarnya dengan selisih harga (lebih mahal) yang sangat menggiurkan.

Di sebuah pinggiran kota Malang, misalnya, sebuah perumahan dibangun menempel dengan kawasan perumahan lama. Harga yang ditawarkan melalui baliho yang dipasang di pintu masuknya adalah Rp160 juta/unit untuk rumah bertipe 36 dengan luas tanah 72 m2. Belum genap setahun, baliho itu masih bagus dan tampak dilubangi untuk menghapus angka yang mengabarkan nilai jualnya, karena ternyata sudah berganti harga (dalam brosur terbaru yang dicetak oleh perusahaan pengembang) menjadi Rp210 juta! Rumah seperti inilah yang dapat kita miliki sebagai barang modal. Artinya, sewaktu-waktu dapat diuangkan/dijual dengan nilai yang lebih tinggi. Potensi keuntungannya cukup menggiurkan. Dan karena itulah banyak orang berinvestasi di bidang properti, memiliki rumah bukan untuk ditempati sendiri, melainkan sebagai barang dagangan.

Kini menjamur perumahan-perumahan baru di tengah-tengah atau pinggiran kota-kota kabupaten. BMI-HK pun tampaknya tak sedikit yang telah menyadari dan memanfaatkan peluang bisnis bidang properti ini. Semoga, termasuk Anda. Salam sadar investasi!*
piye?:

0 urun rembug: