Wednesday, 30 March 2011

Menakar Kehebatan Seorang Penulis

Profesi penulis pastilah tidak mengungguli ’dokter’, ’menteri’, ’presiden’, ’pengusaha kaya’, dalam hal paling banyak dicita-citakan. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tidak sedikit orang, secara diam-diam maupun terang-terangan, kepengin menjadi penulis. Menjadi penulis hebat! Persoalannya sekarang adalah, penulis macam apa yang kita pandang sebagai penulis hebat itu? Apakah penulis yang bukunya laris bak kacang goreng, penulis yang menginspirasi banyak orang, ataukah penulis yang berhasil mengoleksi banyak piala/piagam kompetisi dan menang di berbagai perlombaan? Penulis yang bukunya laris bak kacang goreng secara serta-merta dapat kita nilai sebagai telah pula menginspirasi banyak orang. Tetapi menginspirasi untuk apa? Untuk berubah. Berubah ke arah mana? Menjadi manusia yang lebih konsumtif, menjadi manusia yang tak ketinggalan mode, atau bahkan menjadi manusia yang berani melawan arus? Arus yang mana pula?

Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Atau, setidaknya, saya hanya berkepentingan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada sidang pembaca. Dan berdamailah dengan jawaban Anda masing-masing.

Ada perasaan sukacita luarbiasa ketika tulisan kita untuk pertama kalinya dimuat di media cetak, apalagi di media cetak yang berwibawa. Seiring dengan pertukbuhan jam terbang sebagai penulis, hal seperti itu akan menjadi relatif biasa, walau rasa suka itu pasti tetap ada. Rasa sukacita luar biasa berikutnya akan muncul ketika berhasil melahirkan buku. Dan akan menjadi relatif biasa ketika semakin banyak buku dihasilkannya. Demikianlah, rentetan perasaan sukacita itu muncul pula saat, buku jadi best-seller, saat diangkat menjadi film dan ditonton jutaan pasang mata, dan dipuji-puji oleh ahlinya. Demikian pula saat seorang penulis berhasil mendapatkan gelar juara dalam sebuah perlombaan. Itulah rentetan ’keberhasilan’ yang tampaknya dalam jumlah keseluruhannya hanya dapat dinikmati sedikit penulis. Sebagian besar penulis hanya bisa mendapatkan satu, dua, atau beberapa di antara rentetan ’keberhasilan’ itu. Lalu, siapa penulis hebat? Nah, di sinilah uniknya. Fakta membuktikan, bahkan yang tampaknya sudah mengantongi seluruh daftar keberhasilan itu bisa jadi ternyata hanya mengantongi ’kehebatan’ sementara saja. Seperti sebuah lagu pop yang muncul di puncak tangga untuk beberapa bulan, dan setelah itu lenyap bagai di telan bumi. Sementara, di sisi lain, ada penulis yang seoalh tak begitu ’hebat’ tetapi ia ’berumur panjang’, bahkan jauh lebih panjang daripada usia tubuhnya, dengan segenap sanjungan dan predikat baik yang menyertai namanya.

Masih bingung? Jangan khawatir. Merasa bingung itu bagian dari tanda bahwa pikiran kita sedang ’jalan’. Sebelum terjerembab, ikutilah kisah pendek ini. Dalam suatu perlombaan menulis cerpen, seorang penulis yang jam terbangnya lebih banyak dikalahkan oleh ibarat bocah kemarin sore. Si Bocah Kemari Sore itu juara ke-2, sedangkan Si Pengarang Senior juara ke-3. Peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu. Perlombaan itu ternyata tidak menggusur kewibawaan Si Pengarang Senior, walau Si Kemarin Sore terangkat derajatnya karenanya.

Dunia Sunyi

Begitulah, masyarakat (pembaca) memiliki sistem penilaiannya sendiri. Karena itu, mengikuti lomba adalah cara yang baik untuk mengasah kemampuan menulis, tetapi ketika sukses mendapatkan gelar juara, janganlah lalu menjadi mabuk dan merasa sudah sampai di puncak. Tepuk tangan atau sanjungan dalam sebuah perlombaan itu hanya akan bertahan beberapa saat lamanya. Setelah itu akan kembali sepi. Dan, demikianlah, akal-akalan manusia saja membuat dunia kepenulisan menjadi dunia yang hiruk. Padahal, sesungguhnya, ia adalah dunia yang sunyi, yang justru karena kesunyiannya itulah banyak orang memburunya.

Tetapi, tak semua orang suka kesunyian macam itu. Ada yang melihat keberhasilan seorang penulis karena ia bisa pula menjadi semacam selebriti yang dielu-elukan para penggemarnya, yang tulisan-tulisannya selelu dikerubuti orang, bahkan ditunggu-tunggu, yang namanya tertulis dalam soal ujian anak-anak sekolah, yang menerima royalti ratusan juta rupiah, dan seterusnya. Maka, muncullah penulis-penulis dengan orientasi popularitas, kekayaan, dan hal-hal lain yang sifatnya harfiah. Apakah penulis demikian bukan pejuang nilai? Ya, pejuang juga tentunya. Tetapi, nilai-nilai yang diperjuangkan adalah nilai-nilai kebendaaan, dan bukannya nilai-nilai kemanusiaan. Yang memperjuangkan nilai kemanusiaan itulah, siapa pun, apakah ia seorang penulis ataukah seorang pekerja sosial, biasanya lebih dikenang untuk jangka waktu yang sangat panjajang.

Kini, jika Anda sudah mulai banyak melahirkan tulisan, mengantongi sekian banyak piala dan piagam penghargaan, mengantongi nama koran dan majalah bergengsi yang pernah/sering memuat tulisan Anda, dan sudah melahirkan pula sekian banyak buku, tengoklah kembali semua itu. Anda akan segera tahu, apakah Anda sudah berada di jalan lurus sesuai garis nilai yang Anda perjuangkan, dan apakah garis lurus itu adalah garis yang Anda setujui atau tidak, ataukah sesungguhnya Anda masih saja berputar-putar di lereng (gunung) yang masih sangat jauh dari puncaknya.

Sampai muter-muter di beberapa halaman majalah ini pun tampaknya kita tak akan mendapatkan jawaban yang jelas mengenai pertanyaan: Siapakah penulis hebat itu. Sebab, saya hanya tahu siapa penulis yang tidak hebat, yakni mereka yang suka bertanya: ’’Tulisan seperti apakah yang digemari orang (pembaca) sekarang ini?’’ [Bonari Nabonenar]
piye?: