Sunday, 31 August 2008

Peluncuran Novel Singkar Isi Pelantikan Pengurus PPSJS

Surabaya - Pelantikan pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) akan diisi dengan peluncuran ulang novel berjudul "Singkar" karya Siti Aminah dari Yogyakarta.

"Pelantikan pengurus dan peluncuran novel itu akan dilaksanakan setelah lebaran sehingga sekaligus acara halal bihalal," kata Ketua Umum PPSJS, Bonari Nabonenar kepada ANTARA di Surabaya, Sabtu.

Ia mengemukakan, sebetulnya novel dengan seting cerita di kawasan Singkar, Bantul, Yogyakarta itu sudah diluncurkan di kampung Seni Lerep, Semarang, 28 Agustus 2008, namun PPSJS perlu memperkenal karya tersebut untuk masyarakat Jawa Timur.

Menurut dia, novel yang diterbitkan Griya Jawi Unes bekerjasama dengan Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) itu bercerita mengenai masalah politik, pergerakan mahasiswa serta masalah rumah tangga.

"Kami menyambut gembira terbitnya novel itu karena akan menambah buku-buku untuk menumbuhkan minat masyarakat pada karya sastra Bahasa Jawa," kata penulis sejumlah "cerita cekak" atau cerpen itu.

Selain meluncurkan kembali novel tersebut, PPSJS dalam waktu dekat juga akan menerbitkan novel berjudul "Carang-carang Garing" karya Tiwiek SA asal Tulungagung, Jatim hasil kerjasama antara Komunitas Cantrik Tulungagung, PPSJS, Sanggar Triwida dan OPSJ.

"Novel itu pernah dimuat bersambung di majalah Jaya Baya dan pernah disinetronkan di TVRI Surabaya. Novel itu juga bercerita masalah-masalah sosial," kata alumni IKIP Negeri Surabaya yang kini menjadi Unesa itu.

Mengenai program lain, Bonari mengemukakan, pihaknya belum merancang karena masih akan melakukan konsolidasi para pengurus PPSJS periode 2008-2012.

Bonari memimpin PPSJS periode kedua setelah melalui musyawarah anggota akhir Juli 2008. Pengurus lain yang mendampingi adalah, R. Djaka Prakosa (wakil ketua), Mashuri (sekretaris) dan bendahara dipegang oleh Debora Indri Swari. [ANTARA-Jatim/Masuki M Astro, 30 Agustus 2008]

Singkar, Basane Jawa Tenan


Acara kepyakan buku novel basa Jawa anggitane Siti Aminah, Singkar, ing Kampung Seni Lerep, Ungaran, Jawa Tengah (28 Agustus 2008) dadi udan pangalembana. Sing kudanan, sapa maneh yen dudu si pengarange, Siti Aminah. Penyair ’’Sihir Cinta’’ Timur Sinar Suprabana sing kedhapuk medharake ular-ular ngenani Singkar kuwi ngandhakake manawa basa Jawa kang digunakake ing novel kang uga diarani filmis iki dudu basa Jawa kang mung dhapur jarwan saka (pikiran) basa Indonesia, nanging krasa tenan yen mrenthul saka pikiran abasa Jawa. []

Saturday, 23 August 2008

Tanggal Cantik, Standar Ganda

Seorang ibu muda, Susanti (25), melahirkan anak pertamanya di RS TNI AU dr Soemitro melalui operasi caesar pada waktu yang disebut banyak orang sebagai tanggal cantik (08-08-08). Seperti diberitakan Jawa Pos (9/8) tanggal cantik itu dipilih agar sang anak beruntung.

Mungkin mitos peruntungan berkaitan dengan bilangan (yang dilambangkan dengan angka) itu diciptakan orang bersamaan dengan ditemukannya sistem penanggalan (kalender) atau bahkan sejak orang mengenal bilangan dan menciptakan angka itu sendiri. Maka, kemudian berkembanglah ’ilmu’ mengenai bilangan, angka, nomor, yang dikenal dengan istilah numerologi.

Maka, seorang teman sedemikian bangganya ketika mendapatkan kartu telepon dengan nomor yang dianggapnya cantik, empat angka paling belakangnya adalah: 5758. Itu disebutnya angka cantik yang akan meningkatkan peruntungannya karena kalau dibaca akronimnya (dalam bahasa Indonesia) jadi: maju (lima tujuh) mapan (lima delapan). Padahal, kalau angka 5758 itu diakronimkan dalam bahasa Jawa akan jadi ’’matu malu’’ (lima pitu lima wolu), yang jika ditulis dengan aksara Jawa nglegena --tanpa sandhangan untuk menentukan (bunyi) vokalnya—jadi: mata mala (mata = mata, mala = penyakit)! Nah, inilah ngelmu gathuk, atau othak-athik-mathuk. Kalau belum mathuk (cocok) ya di-othak (bongkar) lagi!

Salah satu ranting numerologi, barangkali, adalah yang di dalam budaya Jawa disebut sebagai neptu, yakni (nilai/angka) untuk hari, bulan, tahun, dan seterusnya.

Neptu dina (hitungan hari) paling populer di dalam kehidupan orang Jawa untuk urusan perjodohan, walaupun orang Jawa yang masih taat dengan kebiasaan hidup yang diwarisinya secara turun-temurun akan memakai pertimbangan neptu untuk hampir di segala urusan, termasuk membuat atau memindahkan kandang kambing.

Dari urusan neptu dina itu pula terlihat betapa akomodatifnya budaya Jawa menerima pengaruh asing. Orang Jawa memiliki penanggalan dengan 5 hari dalam sepekan (pancawara): Kliwon (8), Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4). Lalu menerima penanggalan/kalender masehi dengan 7 hari dalam sepekan (saptawara): Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9). Maka, untuk orang yang lahir Rabu-Kliwon, neptunya adalah 7 + 8 = 15. Angka 15 itulah yang kemudian digunakan untuk, misalnya, membaca karakter atau menilai apakah ia cocok/berjodoh dengan seseorang.

Seiring dengan menguatnya pengaruh budaya Barat, ketertarikan orang (Jawa) terhadap neptu dina semakin terdesak pula oleh ’perhitungan’ perbintangan (astrologi, bukan astronomi). Malahan budaya Timur (China) yang belakangan makin disukai adalah perhitungan berdasarkan shio. Sejauh ini saya belum menemukan ’kearifan’ orang Jawa menyerap pengaruh China/Barat itu seperti halnya nenek moyang dahulu begitu ’pinternya’ mengawinkan pancawara dengan saptawara, walaupun di dalam praktik ’pernujumannya, orang bisa saja mendasarkan perhitungannya secara ’interdisipliner’.

Kembali ke persoalan menentukan hari kelahiran untuk menepatkannya dengan ’tanggal cantik’ tadi, terlihatlah betapa masyarakat kita yang mengaku semakin modern ini justru semakin kuat meyakini gugon-tuhon alias tahayul –kalau boleh disebut begitu. Orang-orang dahulu mendasarkan perhitungan weton atau kelahiran dan lain-lain itu berdasarkan sistem yang jelas, berdasarkan hubungan timbal-balik antara mikrokosmos dengan makrokosmos, antara manusia dengan alam yang ’harmonis.’ Dengan ’memaksakan’ kelahiran melalui Caesar untuk mendapatkan bilangan hari kelahiran yang ’cantik’ berarti orang telah mengagungkan egoismenya dan seakaligus merusak ’keharmonisan’ hubungan mikrokosmos dengan makrokosmos itu.

Maka, dengan tulisan pendek ini, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa dengan nomor (HP) cantik, tanggal (kelahiran) cantik, dan semacamnya itu kita yang mengaku sebagai masyarakat modern ini ternyata lebih nglenik daripada nenek moyang kita. Lebih dari itu, standar ganda pun diterapkan: mengakui ada kekuatan di luar diri yang menentukan peruntungan/nasib berkaitan dengan tanggal kelahiran, misalnya, tetapi tidak mau memasrahkan kapan anak-anak kita harus lahir kepada kehendak Sang Penentu Nasib itu sendiri. Operasi Caesar sebagai langkah darurat untuk menghindari risiko pada bayi maupun ibu yang melahirkan adalah tindakan yang bagus. Tetapi, kalau dilakukan hanya untuk memilih tangal cantik, menurut saya itu bukan tindakan yang cantik! [BN]

Sunday, 17 August 2008

Bonari Nabonenar Kembali Pimpin PPSJS


Surabaya - Bonari Nabonenar kembali memimpin Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) setelah tim formatur memilihnya untuk jabatan periode 2008 - 2012. Lulusan Sastra Indonesia IKIP Negeri Surabaya (Unesa) itu di Surabaya, Sabtu menjelaskan, ia terpilih kembali dalam rapat tim formatur yang berunding selama sekitar tiga pekan sebagai kelanjutan dari musyawarah anggota beberapa waktu lalu.

"Jabatan wakil ketua dipegang oleh R Djaka Prakosa, MSn, sastrawan Jawa yang juga dosen di Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta Surabaya, Sekretaris dijabat Mashuri dari Balai Bahasa Surabaya serta Bendahara oleh Debora Indri Swari," katanya.

Sebelumnya Bonari pernah mengungkapkan bahwa sebetulnya ia sudah memutuskan untuk tidak lagi mengurus PPSJS karena berbagai kesibukannya. Namun para sesepuh dan anggota pengarang sastra Jawa terus mendesaknya.

Ia mengemukakan, dirinya harus berfikir antara memimpin PPSJS yang mensyaratkan adanya sikap "kompromi" agar bisa bekerjasama dengan berbagai pihak, namun di sisi lain ia ingin tetap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

"Di PPSJS saya dan teman-teman pengurus dituntut untuk mampu bekerjasama dengan berbagai pihak. Sementara selama ini saya memang tidak bisa diam jika melihat kebijakan yang tidak mendukung hidupnya seni budaya etnik," kata pria kelahiran Trenggalek, Jatim, tahun 1964 itu, Jumat.

Karenanya, kata penggerak sastra buruh migran di Hongkong itu, kalau dirinya dipaksa agar tidak lagi bersikap kritis, maka ia lebih memilih tidak lagi menjabat ketua PPSJS periode 2008 - 2012.

Dia lebih baik berkiprah di tempat lain jika dituntut harus selalu "manut" pada kehendak pihak lain tersebut.

Alumni SPG di Trenggalek tahun 1982 dan penulis cerita cekak (cerita pendek berbahasa Jawa) itu mengemukakan bahwa kalau boleh memilih, dirinya akan berkonsentrasi pada kegiatan menulis sastra.

"Tapi mau bagaimana lagi, saya harus mengikuti teman-teman untuk menghidupkan sastra Jawa," kata penulis kumpulan cerpen berbahasa Indonesia , Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006) yang pernah "oposisi" pada Kongres Bahasa Jawa IV tahun 2006 di Semarang dengan menggelar Kongres Sastra Jawa itu.


Masuki M. Astro

Antara [Biro Jatim] 16 Aug 2008 07:48:30

Saturday, 16 August 2008

AGUSTUSAN*

Seorang kawan melalui chatt-room, semalam, mengirimkankan naskah semacam memoar pendek mengenai Agustusan. Tulisan itu bagus sekali, segar sekali, seksi banget. Penulisnya mengatakan bahwa itu tulisan mengenai pengalaman masa kecil yang ’memalukan.’

Naskah itu, benar-benar bagus bin segar, dan memiliki kadar ke-nylekit-an yang sebenarnya bisa dipandang sebagai semacam kabar bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, penulisnya bisa menjadi kolumnis yang disegani (bukan dalam pengertian –bahasa Jawa, disuguhi sega, lho ya!).

Ia, Sang Penulis, bertutur tentang masa lalunya berkaitan dengan Agustusan alias Pitulasan, yakni (hiruk-pikuk) sekitar dan pas (tanggal 17 Agustus) Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. ’’Dari tahun ke tahun jalannya peringatan kemerdekaan masihlah sama. Sewaktu saya masih SD dulu, upacara penaikan dan penurunan bendera yang terlalu lama itu selalu membuat saya pingsan di menit terakhirnya. Dan karena mengikuti upacara bendera di tanggal 17 Agustus adalah suatu rutinitas dan keharusan, itu berarti juga rutinitas kesengsaraan saya karena harus mengulang pingsan di setiap tahunnya pada waktu yang sama,’’ demikian tulisnya.

Bicara soal Agustusan, ini mungkin adalah kabar lain. Rukun Tetangga di ligkungan saya, menghabiskan dana satu juta sekian rupiah untuk Peringatan Hari Kemerdekaan, termasuk mengadakan lomba balap karung dan membuat (dengan cat) garis tepi jalan. Kampung saya itu pastilah tidak tergolong kampung yang kaya. Letaknya pun di pinggiran kota. Bayangkanlah sekarang, berapa duit yang dihabiskan untuk kemeriahan Agustusan di kampung-kampung elite, di kota-kota besar. Kadang Panitia Agustusan menarik uang ke warga dengan semacam sindiran (kalau Zaman Orba dulu bisa jadi malah berupa atau akan segera terasa sebagai ancaman) bahwa uang iuran itu terlalu kecil (walau banyak warga merasa keberatan) dibandingkan dengan pengorbanan para pahlawan kemerdekaan.

Maka, kita bisa mengangan-angan, berapa lingkungan RT yang seperti RT saya itu dan yang lebih meriah pesta Agustusannya, di Indonesia Raya, lalu itung berapa juta rupiah yang ternyata hanya terbayar oleh kemeriahan sesaat dan cenderung gagal menanamkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia, bahkan hanya semakin membuat kita lupa bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. Bahkan baru 50% merdeka –meminjam judul puisi Bung Heri Latief.

Kalau uang Agustusan itu diimpun, dan kemudian digunakan untuk menyemangati orang-orang miskin seperti sebuah program yang pernah ditayangkan JTV, mengentas perempuan tua pengemis menjadi penjual jamu di kawasan Alun-alun Sidoarjo, Jawa Timur, berapa banyak orang bakal terentas, dan ratusan ribu orang akan kita buat terhenyak,menyadari betapa indahnya kesalehan sosial itu.

Tetapi, tampaknya kita masih lebih senang membakar mercon, melepaskan balon, dan menggelar lomba balap karung. ’’Balap karung itu sangat filosofis, lho! Dengan balap karung itu kita bisa mengingat dan merenungkan betapa mahal dan pentingnya sebuah kemerdekaan. Baru kedua kaki saja yang tidak merdeka kita bisa jatuh bangun seperti itu, apalagi kalau segenap jiwa raga kita yang tidak merdeka!’’ seorang Panitia berceramah. Dan segera tampak bahwa ia termasuk golongan orang-orang yang tidak, atau setidaknya: kurang merdeka jiwanya. Kurang merdeka pikirannya, sehingga yang ia elus-elus adalah cara-cara memeriahkan Hari Kemerdekaan dengan balap karung, yang bisa jadi hanya akan menyenangkan bangsa penjajah, dan membuat kita makin minder dan tetap saja bermental inlander (orang jajahan) di era global ini. Lha, memang inlander? Masya-Allah!

*)Ditulis untuk Tabloid Intermezo edisi Agustus 2008

Thursday, 14 August 2008

Dilema Bonari Nabonenar di PPSJS

Surabaya - Tokoh pengarang sastra Jawa, Bonari Nabonenar kini menghadapi situasi yang dilematis dalam berususan dengan organisasi yang didirikannya, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).

Ketua PPSJS periode 2004 - 2008 itu dihadapkan pada pilihan antara meneruskan "jabatan" di organisasi yang tidak banyak diminati orang itu dengan tetap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah dalam kaitan seni budaya tradisi.

"Di PPSJS itu saya dan teman-teman pengurus dituntut untuk mampu bekerjasama dengan berbagai pihak. Sementara selama ini saya memang tidak bisa diam jika melihat kebijakan yang tidak mendukung hidupnya seni budaya etnik," kata pria kelahiran Trenggalek, Jatim, tahun 1964 itu.

Karenanya, kata penggerak sastra buruh migran di Hongkong itu, kalau dirinya dipaksa agar tidak lagi bersikap kritis, maka ia lebih memilih tidak lagi menjabat ketua PPSJS periode 2008 - 2012. ia lebih baik berkiprah di tempat lain jika dituntut harus selalu "manut" pada kehendak pihak lain tersebut.

Alumni SPG di Trenggalek tahun 1982 dan Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Negeri Surabaya, kini Unesa itu mengemukakan, dalam musyawarah PPSJS beberapa waktu lalu dirinya kembali didaulat untuk memimpin PPSJS.

Penulis cerita cekak (cerita pendek berbahasa Jawa) itu mengemukakan bahwa dirinya sebetulnya sudah menyatakan mundur untuk menjadi pengurus PPSJS, namun para sepuh pengarang sastra Jawa tetap menghendaki dirinya.

"Mau bagaimana lagi, saya harus mengikuti mereka, tapi kalau nantinya dituntut untuk tidak kritis, saya memilih mundur saja," kata penulis kumpulan cerpen berbahasa Indonesia , Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2006) yang pernah menjadi "oposan" pada Kongres Bahasa Jawa IV tahun 2006 di Semarang dengan menggelar Kongres Sastra Jawa itu.

Hingga kini kepengurusan PPSJS belum terbentuk, termasuk siapa ketuanya. Tim formatur yang salah satunya ada Bonari sedang menyusun kepengurusan, termasuk memilih ketua.


Masuki M. Astro

Antara Jatim, 08 Aug 2008 07:26:33

Saturday, 9 August 2008

Sastra, Olahraga, dan Penghargaan

Oleh Beni Setia

SEBAGAI orang yang pernah mendapatkan Anugerah Seniman Jawa Timur dan sekaligus bekerja di dua ranah kesusastraan, Indonesia dan (etnik) Sunda, rasanya saya cukup pantas untuk menanggapi tulisan terkarib, Bonari Nabonenar --lihat ''Menyoal Sastra Satu Kamar'' (JP, 27/7/08). Sebuah tulisan yang menandaskan bahwa kesejahteraan para pekerja sastra di ranah (bahasa) Indonesia lebih tinggi dari pekerja sastra di ranah (bahasa) Jawa. Benarkah begitu?


Belum lama ini saya menerima e-mail dari kawan yang kebetulan bekerja sebagai redaktur di sebuah harian di luar Jawa, yang mengatakan korannya menyediakan tiga halaman untuk karya sastra dan seni-budaya, tapi tak seperti koran-koran di Jawa yang menyediakan honor lumayan, korannya cuma mampu menyediakan honor Rp 50.000 untuk puisi, cerpen atau esei dan artikel termuat --meski berkali-kali dia minta agar ada peningkatan honor. Sebuah permintaan maaf agak nJawani.

Tapi, apa kita menulis untuk honor semata? Ada kalanya kita ingin berpendapat dan butuh orang yang mau mendengar pendapat kita, lalu berbagi pendapat dalam diskusi terbuka di media massa atau yang terselubung via e-mail atau HP. Ada hal-hal mendesak yang harus dikatakan dan butuh tempat untuk berkata. Persis seperti petani gunung yang berjalan ke sana-kemari sambil membawa timba dan gentong untuk mencari sumur dan air. Sekaligus kita terkadang menulis karena terlalu banyak membaca --dan bacaan tak pernah ada putusnya di internet-- dan karena itu banyak kawan yang lalu memilih membuat blog pribadi agar senantiasa bisa menampung unek-unek dan ada yang membacanya.

Keterikatan pada budaya dan bahasa daerah yang mendorong seseorang menulis dalam bahasa ibu dengan intensitas yang sama dengan saat menulis dalam bahasa Indonesia --kadang malah lebih tinggi. Hal yang nilainya bukan pada ukuran besar-kecilnya honorarium yang diterima, tapi pada aura kepuasan bat�n mampu dan masih bisa menggunakan bahasa ibu. Persis seperti yang dirasakan ketika saya menulis sekian sajak Sunda, dimuat, dan mendapatkan honor Rp 15.000 --padahal bila saya tulis dalam bahasa Indonesia bisa dihargai 10�-20 kali lipat. Celakanya, sajak yang selesai tertulis dalam bahasa Sunda tak pernah bisa diterjemahkan, tanpa merusak otentisitas, ke bahasa Indonesia --karena itu bermakna menulis sajak baru.

Lantas apa arti sebuah cerpen dibayar Rp 1.000.000 bila itu ternyata hanya karena terbit di koran A di Jawa dan bukan koran B di luar Jawa yang cuma bisa membayar Rp 50.000. Saya pikir besaran honor tak menceritakan apa-apa, hanya menceritakan kalau koran A, Z, atau Q di Jawa itu sudah sangat mapan dan karenanya mau menghargai karya sastra sesuai margin keuntungannya yang tinggi; dan koran B, W, dan E di luar Jawa ingin melakukan hal yang sama tapi mereka tak punya margin laba yang besar.

Besaran honor tidak identik dengan kualitas karya, pengabdian sastrawan di zona kering dan seterusnya, tapi berkaitan langsung dengan kapitalisasi industri pers. Koran yang sukses secara finansial, yang berpangkal pada besaran kue iklan yang didapat, bisa menghargai karya sastra. Apa ini tak berkaitan dengan snobisme konglomerat sukses macam Rockefeller atau Ford?

Karena itu, soal apakah Anugerah Seniman Jawa Timur akan diteruskan atau tidak, sesungguhynya tak berkaitan dengan siapa yang akan menjadi gubernur pengganti Imam Utomo. Tapi, berhubungan dengan birokrasi yang mengatur agar pos anggaran untuk penghargaan seniman itu tetap tersedia di RAPBD Jawa Timur nanti. Hal itu sekaligus menunjukkan bagaimana para wakil rakyat mau memikirkan kesejahteraan seniman Jawa Timur sehingga berani meloloskan pos anggaran itu pada APBD 2009 tanpa dirangsang dengan uang pansus, panmus, atau gratifikasi.

Akan menarik kalau Pemprov Jawa Timur mau menenggok ke Pemprov Jawa Barat yang berani membuat terobosan dengan menyediakan dana miliaran untuk membeli buku-buku sastra berbahasa Indonesia maupun Sunda untuk melengkapi koleksi perpustakaan-perpustaan di Jawa Barat. Motivasi yang bisa mendinamisasi industri buku (sastra) di Jawa Timur.

Meski terlambat --Jawa Barat baru tiga tahun terakhir memberi anugerah seniman model Jawa Timur-- berani melakukan terobosan yang lebih radikal dan dahsyat. Dan, itu terlihat signifikan dalam lonjakan penerbitan buku sastra berbahasa Indonesia dan Sunda pada 2008. Bersediakah para birokrat Jawa Timur membuat anggaran untuk itu? Beranikah para wakil rakyat membuat terobosan yang tidak populer tapi akan besar artinya bagi dunia sastra di Jatim dengan memasukkan anggaran penghargaan kepada para seniman dalam APBD 2009 nanti?

Pada dasarnya Anugerah Seniman Jawa Timur tak menekankan kualitas karya tapi lebih menggarisbawahi pada daya tahan dan kapasitas kesenimanan seseorang. Tak heran kalau seniman yang bergerak dengan semangat idealistik dan di bidang seni minoritas bisa bersanding dengan seniman pop-hiburan yang berkesenian untuk menyenangkan banyak orang. Seniman wayang klitik berbaur dan dianggap setaraf dengan seniman gambus; pematung yang kering berbaur dengan pelukis populer yang selalu sold out pada setiap pamerannya; pekerja teater berdampingan dengan seniman seni pertunjukan yang berbasis ritual macam reog Ponorogo; dan seterusnya. Tak heran bila kesenimanan seseorang terkadang dikaitkan dengan kemauan untuk membangkitan motivasi kreatif kepada para seniman yang sebenarnya. Dahlan Iskan, meski dibiaskan, mendapat penghargaan dalam level seniman, tapi bukan dari kualitas karya dan intensitas saat berkarya yang total, melainkan dari komitmennya dalam menggerakkan tangan-tangan kreatif para seniman daerah ini.

Lucu juga sebenarnya. Tapi lebih lucu lagi saat dibandingkan dengan para atlet yang dihargai Pemprov Jawa Timur bukan berdasarkan keatletannya tapi dari berapa banyak ia mampu merebut medali emas di PON. Seperti pada PON XVII/2008 Kalimantan Timur kemarin. Ada seorang atlet yang mendapatkan bonus lebih dari Rp 600.000.000 (ENAM RATUS JUTA RUPIAH!). Sebuah ''penghargaan'' yang setara dengan 5 tahun Anugerah Seniman Jawa Timur (yang diberikan kepada 10 seniman terpilih).

Lucu ya! Tapi ars longa vita brevis, karena sampai kini orang masih menyenandungkan tembang Tombo Ati dan memainkan lakon pakem atau sempalan pakem epos Mahabarata. Tak seorang pun yang ingat pada prajurit yang berlari ke Roma untuk mengabarkan kemenangan dalam perang. Dan, kita mengingat William Tell bukan karena jago memanah apel di kepala anaknya, sebagai tantangan pada otoritarian penguasa, tapi karena ia berani melawan kesewenangan aristokrasi dari si feodal. Memang![]

Beni Setia, Pengarang bukan sastrawan, tinggal di Caruban

Sumber: Jawa Pos [Minggu, 10 Agustus 2008 ]