Thursday, 9 December 2010

SELAMAT TINGGAL TAHUN PENUH LUKA

seperti biasa
kita akan menutup tahun ini dengan pesta
memeriahkan kesedihan dan ketakutan
atas hari-hari penuh kecelakaan dengan penyebab utama:
keteledoran manusia
dan kita menyebutnya sebagai bencana
seperti biasa
kita akan menutup tahun ini dengan bangga
membusungkan daftar hutang dan janji-janji belum terlunasi
sejauh mata memandang panjangnya
yang seperti biasa pula kita selesaikan dengan cara seksama
dengan menggali lubang yang lebih menganga
: luka lama ditutup dengan luka baru
atau dengan tablet penghilang rasa sakit

sebab kita tak pernah benar-benar berniat membasmi
penyakit kita sendiri

selamat tinggal tahun-tahun penuh luka
dan kita sambut tahun baru
: borok baru!

sebab memang biasanya kita selelu begitu


Desember 2010

Friday, 3 December 2010

TUKANG KOMUNIKASI YANG TIDAK KOMUNIKATIF

Dulu saya memulai belajar menulis dengan fiksi: puisi, cerita pendek. Setelah beberapa cerita pendek dan puisi berbahasa Jawa saya berhasil nampang di media cetak (majalah mingguan berbahasa Jawa) barulah saya mencoba-coba menulis esai.

Selama bertahun-tahun menjadi penulis yang tidak produktif (hanya sesekali menulis) saya tidak begitu mempersoalkan apakah tulisan saya bisa segera dimuat, mengantri sangat lama, atau lolos masuk keranjang sampah tanpa kabar.

Tetapi, sebuah cerita pendek berbahasa Jawa saya pernah menjadi masalah. Suatu hari orang-orang dekat saya: Tamsir AS (alm.), Ardhini Pangastuti dari Sanggar Triwida ketika itu, ikut mempersiapkan sebuah tabloid berbahasa Jawa yang akan terbit di Yogyakarta, pada akhir tahun 1980-an. Sya diminta menyiapkan sebuah cerpen untuk dimuat (jika layak) di dalam tabloid tersebut. Saya pun menerima undangan untuk menulis itu sebagai sebuah kehormatan dan segera saya penuhi.

Sayangnya, tabloid yang dummy-nya sudah dibuat beberapa edisi itu gagal dilanjutkan alias tidak jadi terbit. Maka, cerita pendek berbahasa Jawa saya itu pun saya kirimkan ke salah satu majalah berbahasa Jawa yang sudah pernah memuat cerita pendek saya sebelumnya. Setahun lamanya, tak ada kabar-beritanya. Maka, ketika ada lomba penulisan cerpen berbahasa Jawa, saya sertakanlah naskah cerpen saya yang mulai terlunta-lunta itu.

Hasilnya, beberapa bulan kemudian saya menerima undangan untuk menghadiri penyerahan hadiah, cerpen saya ditetapkan sebagai Juara II, pada pekan yang sama ketika ia mak bedunduk muncul atau dimuat di majalah.

Saya pun sempat diinterogasi dewan Juri ketika rangkaian acara pemberian hadiah mala itu (di Yogyakarta) sudah di mulai. Saya beberkan kisahnya, dan mereka memahaminya. Selamatlah saya.

Perkara kedua menimpa saya ketika sebuah artikel saya (kali ini sudah mulai merambah media berbahasa Indonesia) yang sudah beberapa pekan saya kirimkan ke Surabaya Post kemudian saya kirimkan pula ke Karya Darma, karena saya piker tidak lolos seleksi redaktur Surabaya Post. Ternyata, naskah yang sama muncul di dua media cetak yang sama-sama terbit di Surabaya. Surat pembaca pun muncul mengecam saya, dan saya pun mengklarifikasinya, melalui kedua koran itu.

Kejadian-kejadian puluhan tahun lalu itu sepertinya mau mendidik saya agar saya bisa menulis seperti ’ngising’ atau buang hajat saja. Tetapi, tetap saja saya tidak bisa. Malahan, semakin tidak bisa ketika, selain berkaitan dengan kekaryaan, kini menulis itu adalah pekerjaan saya. Bukan hanya uang honorarium yang saya dapat, tetapi juga kawan, sahabat, banyak di antaranya sesama penulis, dan sebagian adalah jurnalis dan redaktur.

Punya kenalan, apalagi menjadi sahabat dekat redaktur media cetak banyak untungnya. Saya bisa dengan leluasa menanyakan apakah kiriman naskah saya sudah diterima, apakah kira-kira bisa dimuat atau sebaiknya saya tarik untuk saya benahi dan segera saya kirimkan ke media lainnya. Bahkan, ketika kantong kempes dan pikiran bunel, bisa kirim SMS sekadar tanya, ’’Apa yang kira-kira bagus untuk saya tulis.’’ Sisi negatifnya, bisa jadi ada kawan lain yang menganggap kami telah ber-KKN. Padahal, pengalaman dengan redaktur kenalan terdekat saya membuktikan, berita penolakan atas naskah yang saya kirim biasanya datang terlalu cepat. Dan itulah pula untungnya.

Berita penolakan atas naskah yang dikirim adalah ’berita duka’ bagi seorang penulis. Tetapi, saya masih menyebutnya sebagai keuntungan ketika dapat menerima kabar itu dalam tempo sesingkat-singkatnya. Mengapa? Untuk naskah-naskah yang pendek masa kadaluwarsa-nya, misalnya artikel yang kita buat untuk menaggapi isu hangat di tengah masyarakat, dengan kabar penolakan yang datang cepat itu penulis punya kesempatan untuk mengirimkannya ke media lain, sebelum isunya terbenam oleh isu-isu baru.

Tampaknya tak banyak media cetak yang memiliki manajemen redaksi yang bagus untuk hal-hal seperti ini. Beberapa media lambat memberikan tanggapan, berupa berita bahwa sebuah naskah akan dimuat dan harus mengantri atau berita penolakan itu. Bahkan, ada pula yang tak memberikan tanggapan. Lebih parah lagi, penulis harus memelototi setiap edisi media yang bersangkutan hingga putus asa-nya. Atau, kalau ternyata tulisannya segera muncul, atau dimuat, ia juga harus menagih honornya dengan menghubungi bagian administrasi keuangan.

Mengapa Redaksi sebuah media cetak tidak memiliki mekanisme komunikasi yang bagus dengan para penulis? Tanya kenapa? Pekan ini saya juga menulis sebuah artikel, saya kirim ke sebuah media cetak, melalui email resmi media yang bersangkutan, dengan mengabarkan kepada beberapa orang redaktur yang saya kenal (semoga mereka juga mengenal saya) melalui SMS ke nomer HP mereka. Sudah timpal-menimpal beberapa kali SMS, tetapi yang saya dapatkan hanya pernyataan, ’’Ya Mas, nanti saya lihat.’’

Setelah itu? Mosok saya harus ngeyel menanyakan lagi? Ada rasa sungkan, justru karena seorang redaktur kenalan saya yang lain sering curhat, bahwa beberapa penulis yang sangat dikenalnya ternyata sangat hebat pula kemampuan ’ngeyel’-nya.

Halah embuh. Yang pasti saya menngkap sebuah ironi dalam hal ini, yakni media (cetak) yang keberadaannya tak bisa dipisahkan dengan urusan komunikasi (dan informasi publik) itu bisa, dalam satu hal, SANGAT TIDAK KOMUNIKATIF…![]

Monday, 22 November 2010

RAPAT DIBATALKAN

Demikianlah, setelah melesat dengan kecepatan cahaya, Petruk (dadi Anggota Dewan Perwakilan Wayang) sampailah di Alang-alang Kumitir. Itu wilayah yang sudah sangat jauh dari atmosfir. Sebuah papan segede billboard perusahaan rokok ternama berkilauan karena dicipta dari kencanamurni, bertuliskan: ’’Selamat datang di Kadewatan.’’ Jika Anda belum paham makna kata ’’kadewatan’’ itu adalah wilayah pemukiman para dewa. Petruk pun segera disambut Bathara Narada. Ialah dewa yang suka latah memulai setiap perkataannya dengan, ’’Prekencong, prekencong waru dhoyong ditegor uwong. Pak pak pong, pak pak pong rakyate omahe gedheg kok wakile omahe gedhong….’’ Tidak seperti biasanya, Bathara Narada yang biasanya tampil jenaka, kali ini methentheng seperti sedang menahan amarah.

’’Truk?’’

’’Inggih sembah kula konjuk Pukulun.’’

’’Sembah gundhulmu kuwi!’’

’’…..??’’

’’Mengapa kamu sudah ada di sini, sepagi ini?’’

’’Berdasarkan email yang sahaya terima dari Kadewatan….’’

’’Guoblog! Kowe wis ora bisa mbedakke email asli karo spam ya?’’

’’Lhadalah.’’

’’Iki langit Sapapat ya Truk! Yen Petruk ora owah saka padatan, yen durung ketempelan brekasakan, kudune ora bisa tekan kene. Piye lehmu munggah nyang langit kanthi kahanan resik tur waras-wiris mengkene iki? Lha kok bunyik tilas keslomot wae ora. Aja meneh mlocot keslomot, lha mambu awu wae ora. Gunungmu njeblug kok kowe isih byayakan turut kene ki arep ngapa, Truk?’’

’’Ha rak wonten uleman Rapat Koordinasi Proyek Memayu Hayuning Bawana….’’

’’Memayu ayune udelmu bodong kuwi ya? Rapat wis dibatalake, Truk. Urusana wargamu Pucuk Pecukilan sing padha pating bilulung golek papan pangungsen kae. Lekna matamu ben dhamang pating bilulunge para kawula. Tilingna kupingmu ben krungu jerit-tangise para kawula.’’

Petruk njegreg. Batine bingung. Bathara Narada tanggap, mula njur nambah katrangan.

’’Wektu iki Kadewatan sepi Truk. Para dewa tumurun ambyur nyang marcapada kang lagi nandhang dhuhkita. Iki aku ya meh budhal, ngenteni jemputan. Tapi pesawate isih diganti swiwine. Mula ndang balia, ya Truk! Kandhakna marang para kawula kabeh kang lagi ora kbalabak ing prahara, yen arep sowan para dewa ora sah numpak pesawat ndedel ngawiyat, kae lho para dewa padha melu repot neng pesisir lan gunung-gunung….’’

Dlang tak tung tung….. [Bonari Nabonenar]

Sunday, 17 October 2010

Niki Pripun Wak Guss........!!!

Aku mentas nampa ulem saka Balai Bahasa Surabaya, kang binuka kanthi ukara, ’’Kami beri tahukan kepada Saudara bahwa Balai Bahasa Surabaya akan menyelenggarakan ’’Gebyar 28’’ pada tanggal 28 Oktober 2010, pukul 09.00 – 12.30, bertempat di Auditorium Balai Bahasa Surabaya. Acara tersebut diisidengan penyerahan ’’Penghargaan Sastra Balai Bahasa Surabaya’’ pada dua sanggar sastra, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, serta bedah buku antologi geguritan ’’Layang Panantang’’ karya Sumono Sandy Asmoro.’’ Ulem utawa layang undangan iku dikantheni kitir kanthi irah-irahan, ’’Menyambut Kongres V Bahasa Jawa 2011 di Provonsi Jawa Timur, GEBYAR 28, Bedah Buku Kumpulan Geguritan Layang Panantang karya Sumono Sandy Asmoro, terbitan Balai Bahasa Surabaya.’’ Eloke, miturut Sunarko Budiman, ’’Layang Panantang’’ iku katujokake marang Kongres Basa Jawa apadene Kongres Sastra Jawa kang --banjur disarujuki dening Sumono dhewe—didakwa mung … (mangga kawaos pethikanipun menika):

Lha apa KBJ kaping 5 kang bakal kagelar ing Jawa Wetan taun 2011 mbesuk isih padha kaya dudutane dhik Mono lan sawenehing sastrawan sarta budayawan Jawa, tegese mung pinter ada-ada gawe ’kasus’ kanggo ngundhakake pamore dhiri pribadhi ’’sang pendhekar’’? Apa dadi ’’raja alas’’ iki.

Macan loreng/nggereng mrojol saka krangkeng/mlaku turut dalan sudhetan/nggoleki watu gilang/papan lungguhe sing ilang/nalika banjir bandhang//macan loreng/mung bisa mlenggong/weruh kanca-kancane ganti sandhangan/ supaya ora ditumbak wong mbebedhag/sing butuh buron alasan//macan loreng/kelangan crita, kelangan dongeng/senajan untune wis ompong/nanging sing ngati-ati, mitra/lambene isih ngemu wisa//. (Layang Panantang : 44).—kapethik saka tulisane Sunarko Budiman: ’’Markus Basa Jawa, Sumono Gugat,’’ ing Panjebar Semangat No 18, April 2010

=====================================
Estu ageng kapitunanipun bilih boten nyekseni acara menika.
--bonari nabonenar

Tuesday, 7 September 2010

LEBARAN

LEBARAN [1]

"kau datang ketika aku bersuka
ketika aku dirundung duka
di manakah kau berada?"


LEBARAN [2]

ini lebaran pertamaku
tanpa kartu merahjambu
...tanpa baju dan sarung baru

ini lebaran pertamaku
tanpaisak tanpasedu

LEBARAN [3]

kau datang dengan muka layu
tersedu meminta maafku
...sambil mengingatkan bahwa dahulu
begitu tega kau menyakitiku

LEBARAN [4]

makin banyak te-ha-er
makin lebaran
makin banyak uang
...makin lebaran
--demikianlah tuan tanah punya pikiran

LEBARAN [5]


pulang kambung
mudik lebaran
...mendapati bebukitan
yang dulu hutan
adi ladang singkong dan sayuran

dan sesunguhnya manusia telah menerima apa adanya
dunia sebagai ladang mereka
yang telah dipasrahkan tuhan seutuhnya
untuk dikuasai sepenuh-penuhnya


LEBARAN [6]

saling memaafkan
tak selalu berkaitan dengan
...tinjauan kembali atas perceraian
:
sebab boleh dibayangkan
betapa sibuknya kantor urusan
hubungan lakilakiperempuan
saat lebaran


LEBARAN [7]

bagaimana kita meminta maaf
kepada bukit ranggas
dan kalimati

bagaimana kita meminta maaf
kepada hutan perawan yang bertahun kita gagahi
dan melahirkan anak-anak pengungsi

bagaimana kita meminta maaf kepada langit
yang tak henti kita bisingi
dengan lantunan ayatayatsuci
yang kita sunati di sana-sini

2010

LEBARAN [8]

berapa keping recehan dicecerkan rang kota
di kampung-kampung saat lebaran
sebelum mereka kembali mengusung
perempuan-perempuan lugu
dan lakilaki perkasa
--sedang aku dengan sukarela
membetot diri ini dari desa
tercinta




LEBARAN [9]

tahu salah dan meminta maaf menunggu lebaran
seperti terkilir hari ini dan dipijetke tahun depan


LEBARAN [10]


si kuncung pun berlebaran dengan gembira
ia senang dengan baju barunya
walau sarungnya usang dengan sedikit tambalan
’’berbahagialah nak
walau baru bisa berlebaran setengah badan’’


LEBARAN [11]

mari kita rayakan
hari kemenangan
agar bisa sabar menikmati
hari-hari kekalahan


2010

Thursday, 2 September 2010

Srigunung

Dari sri (asri = baik, indah, atau apa ya?). Gunung? Lah gak ngerti gunung ya kebacut tenan. Inilah juga salah satu bukti kehebatan orang Jawa mencipta kata/ungkapan. Begitu puitisnya, begitu sastrawinya. Itu baru kata bentukannya. Belum kalimat, belum pupuh tembangnya. Srigunung adalah kata (ungkapan) untuk menyebut sesuatu yang tampak memesona jika dipandang dari kejauhan. Nah, seperti itulah gunung. Kalau dipandang dari jauh, tampak hijau, atau biru, sangat menawan. Tetapi datangilah, dakilah dan kau akan terpesona pula oleh pemandangan di kejauhan. Keindahan yang semula kita tangkap ada pada gunung itu seperti lenyap entah ke mana.

Kadang saya hanya bisa mesem saat membaca status kawan-kawan yang status aslinya masih jomblowati atau jomblowan. Maksudnya, belum menikah, atau bahkan belum punya pacar. Misalnya, ada yang menulis begini, ’’Duh Arjunaku, di manakah engkau berada kini? Segeralah kita dipertemukan, dan engkau akan kurawat dengan penuh kasih, dan takkan kubiarkan engkau lecet barang sedikit pun. Kan kupakaikan sepatumu, kupijit punggungmu, dan kubuatkan kopi sebelum kau memintanya. Kalau kau pulang terlambat, aku akan sabar menunggu di rumah dengan wangi perempuan yang kalau bisa pun tak kan kubiarkan menguap bersama angin malam….’’ Duh, kok panjang banget? Itu status atau catatan? Hehe. Lah, emang statusnya 7 orang dirangkum jadi satu, kok! Terus, apa hubungannya dengan srigunung?

Mereka, para jomblowan dan jomblowati sering melihat bahwa punya suami/istri itu sebegitu indah, enak, nikmat, membahagiakan. Padahal, kenyataan membuktikan: tidak selalu begitu. Contoh lain: Ketika kita duduk di TK, betapa besar rasa cemburu kita kepada mereka yang sudah di SD, apalagi SMP, dan seterusnya. Ketika kita di bangku kelas satu, betapa cemburu kita menyaksikan para senior kita di kelas 2 dan seterusnya. Ketika kita kelas 2, kita sebegitu cemburu kepada kelas 3. Ketika kita naik pit onthel, kita cemburu kepada mereka yang naik motor. Ketika kita merasakan naik motor, kok, sepertinya tak ada lagi yang istimewa, ya? Maka kita cemburu kepada mereka yang bermobil.

Ketika kita mulai menyenangi puisi, betapa sambil menikmati sebuah puisi di majalah atau suratkabar rasa cemburu itu tumbuh: ’’Betapa gagahnya aku jika puisiku termuat di sini!’’ Lalu, pada suatu waktu ketika berhasil menampangkan puisi di situ, …kita memang sempat mengalami semacam euphoria. Tetapi itu tak bakal berlangsung lama.

Dan kita sesungguhnya hanya akan terombang-ambing dari puncak derita yang satu ke puncak derita yang lain. Derita karena kecemburuan itu. Derita karena Srigunung itu. Sampai kita menyadari bahwa usia telah tanpa ampun mengganyang kegagahan fisik kita. Dan sempurnalah penderitaan itu jika orang menganggap kita telah menjadi tua dan diama-diam masih tumbuh rasa cemburu kita kepada yang muda. [Bonari Nabonenar]

TIKUS DI PERUT SAYA

:sambil mengenang nyawa manusia
yang dipermainkan manusia lainnya


ini kisah nyata
tentang tikus sebenar-benarnya
tempatnya pun hanya di sebuah rumah
dekat sawah
jauh dari mewah
dan pangkal pohon mangga

seekor tikus sebenar-benarnya
masuk perangkap kemarin agaknya
semalam ketahuannya
baru pagi ini saya hendak mengeksekusinya
di bawah pohon mangga
seperti tiga ekor pendahulunya
yang sekarang sudah almarhum semua

seekor tikus sebenar-benarnya
di dalam perangkap di rumah saya
pagi ini jadi setengah lusin jumlahnya
lima ekor indhil-indhil merah semua
agaknya semalam mereka dilahirkan
dari dalam perangkap
tangis mereka merayap
menyergap telinga

dan serta-merta grasi pun saya berikan
dengan sukarela
tanpa tekanan
apalagi paksaan
karena sejahat-jahat saya
kebinatangan pun harus beradab

sungguh saya tak tahan
menatap wajah mereka
berlama-lama
dan karenanya saya lebih memilih risiko
didakwa menyebarkan kebohongan
hanya karena tidak bisa menunjukkan
: foto mereka

dengarlah tangisan itu
kini berubah menjadi tawa
di tingkah suara lagu gembira
dari bawah pohon mangga:

kami beruntung kamu sudi melahirkan kami
membuat kami bisa bicara bahkan bernyanyi
kami binatang dan kamu manusia
tapi kita punya tuhan yang sama


padahal aku hanya tak mau muntah
atau membiarkan mereka berlama-lama
di dalam perut saya


1 September 2010