Wednesday, 3 December 2008

Ketua PPSJS Baru Kritisi Bahasa Jawa Google


SURABAYA – Kepengurusan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) telah dilantik. Ketuanya dijabat lagi oleh Bonari Nabonenar untuk periode 2008 - 2013. Pertengahan 2009, PPSJS merencanakan menggelar Festival Sastra Jawa (FSJ) pertama di Trenggalek. Ajang ini diharapkan bisa menjadi embrio ajang sastra etnik di Nusantara yang lama digagas.

Selain itu, tambah Bonari yang ditemui seusai pelantikan di Pendapa Kampus Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) Surabaya, Rabu (26/11), ke depannya PPSJS juga bakal bekerjasama dan memperluas jaringan dengan beberapa paguyuban lain, termasuk juga penerbit. “Jika ada salah satu anggota membuat buku, bakal difasilitasi untuk bisa masuk ke penerbit,” jelasnya.

Dua buku yang telah diterbitkan PPSJS, ditulis salah seorang anggota PPSJS, Sri Setyowati atau akrab dipanggil Trinil. Dua buku itu berupa guritan berjudul Dunga Kembang Waru dan novel berjudul Sarunge Jagung. Semuanya karya itu berbahas Jawa Surabayaan bukan Jawatengahan.

Menurut catatan Surabaya Post, Trinil dalam proses pemilihan Ketua PPSJS 2008 – 2013, juga banyak diunggulkan dan diharapkan bisa ngemong anggota PPJS. Selama ini dia juga dinilai produktif menulis dan aktif di keanggotaan. Karena kesibukannya di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Trinil menolak duduk di kepengurusan tapi tetap mendukung sepenuhnya PPSJS.

Kalau PPSJS selama ini jarang muncul di permukaan, jelas dia, karena sepinya kegiatan. Acara besar yang pernah digelar PPSJS adalah Kongres Sastra Jawa (KSJ). Itupun baru dua kali diadakan dan rentan waktunya sangat jauh. KSJ pertama pada 2001 di Solo dan kedua 2006 di Semarang.

“Kegiatan ini waktunya nempel dengan Kongres Bahasa Jawa (KBJ). Karena itu, kadang KJS dikatakan saingan KBS,” tutur Bonari.

Selain itu, tambah Bonari, PPSJS bakal menjadi wadah aspirasi anggotanya mulai yang muda maupun yang memiliki nama besar seperti Suparto Brata, RM Yunani, Suharmono Kasiyun dan lainnya. Semisal karya anggotanya ada yang ‘menyomot’ tanpa ada ijin atau tanpa ada royalti, PPSJS memfasilitasi dan ikut “teriak,”.

Sementara pada pidato pelantikannya, Bonari juga mengkritik Bahasa Jawa di situs Google. Dia menilai ada beberapa ketidaksesuaian yang digunakan Google dengan ejaan yang baku. Misalnya penulisan fonetis “o” pada “toko” dan “o” pada “tokoh”. Di situs itu dituliskan dengan vokal yang sama “o”.
Dalam Bahasa Jawa berbeda dengan Bahasa Indonesia. Kedua vokal tersebut dituliskan berbeda di Bahasa Jawa. Vokal “o” pada “tokoh” di Bahasa Jawa ditulis dengan vokal “a.”

Di Bahasa Jawa Google, kata dia, akan sulit dibedakan antara kata “loro” berarti “dua” ataukah “loro” yang berarti ‘sakit.’ Contoh kalimatnya “tanganku loro,” yang berarti “tanganku dua” ataukah “tanganku loro” yang berarti “tanganku sakit”. Mestinya sakit dalam Bahasa Jawa ditulis “lara.”

Sedangkan Pengurus Besar PPSJS 2008 – 2013 secara lengkap, Amir Mahmud sebagai Pelindung dan penasihatnya adalah RM Yunani, Suparto Brata, Suharmono Kasiyun, Trinil, dan Aming Aminoedhin.

Ketua PPSJS Bonari Nabonenar, Wakil Ketua R Djoko Prakosa, Sekretaris Mashuri, Bendahara Indri, dan Pembantu Umum Arif Santoso dan Kicuk Parta. Seksi Kegiatan Anang Santoso, Kerumahtanggaan Gatot Suryowidodo, Litbang Yulitin Sungkowati, Humas R Giryadi, dan Kemitraan Leres Budi Santoto dan Ulfa.

Bersamaan dengan pelantikan itu, Komunitas Sastra Tutur Surabaya menggelar Sarasehan Sastra Lisan dan Pentas Tradisi Lisan. Acara tersebut dihadiri Wawalikota Surabaya Drs Arif Afandi.[k13]

Sumber tulisan/foto: Surabaya Post, Selasa, 2 Desember 2008 | 09:55 WIB

Saturday, 29 November 2008

Halo Taiwan!

Kami sangat senang bisa menjumpai warga Indonesia yang kini tengah berada di Taiwan, terutama para tenaga kerja yang sungguh sangat berjasa untuk 2 hal: membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran yang makin menumpuk di tanahair, dan mengirim devisa untuk keluarga dan negara, terlebih dalam situasi krisis global seperti sekarang ini.

Para Pembaca yang budiman, seperti biasanya sebuah kelahiran, kami berharap Radar Taiwan yang masih bayi cenger ini mendapatkan sambutan yang hangat. Seperti halnya saudara-saudari kita di Hong Kong menyambut dengan hangat kelahiran media dari Berita Indonesia Ltd yakni: Berita Indonesia, Intermezo, dan Peduli. Kawan-kawan kita di Hong Kong dengan gembira manyambut media berbahasa Indonesia, dan mereka beramai-ramai mengirimkan tulisan, dari yang bernama surat pembaca, puisi, cerita, hingga tulisan opini.

Bahkan, beberapa nama, sebut saja: Rini Widyawati, Dhenok Kanthi Rokhmatika, Eni Kusuma, Wina Karni, Maria Bo Niok, Mei Suwartini, dan masih ada beberapa nama lagi yang meneruskan kegemarannya menulis setelah kembali ke tanahair. Maria Bo Niok yang dulunya pernah bekerja di Taiwan (baca: halaman 05) bahkan telah melahirkan beberapa buku.

Begitulah pula yang kami harap dari warga Indonesia yang berada di Taiwan ini. Mari kita sambut Radar Taiwan dengan senang hati, dan kirimkanlah kritik dan saran demi peningkatan kualitas maupun oplahnya!

Terima kasih, dan marilah tetap bersemangat!

Redaksi

Monday, 17 November 2008

PPSJS Gagas Festival Sastra Jawa

Surabaya - Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) menggagas even kebudayaan bernama Festival Sastra Jawa yang diharapkan menjadi embrio dari Festival Sastra Etnik Nusantara untuk melestarikan kekayaan seni tradisi

Ketua Umum PPSJS, Bonari Nabonenar di Surabaya, Sabtu menjelaskan, saat ini diperlukan media ekspresi alternatif untuk mewadahi aktivitas para penulis sastra Jawa dalam skala yang lebih luas.

"Sastra Jawa adalah warga dari Sastra Indonesia dan juga warga dari sastra dunia yang layak diberi ruang untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dan keinginan masyarakat pendukungnya," katanya.

Karena itu, katanya, diperlukan berbagai bentuk ekspresi bagi pegiat sastra Jawa. Even ini sekaligus untuk menghormati beberapa tokoh sastra Jawa di Jawa Timur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

"Jawa Timur ini memiliki nama besar untuk penulis sastra Jawa. Mereka antara lain, Suparto Brata, Satim Kadaryono, Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, Tiwiek SA, Djayus Pete, JFX Hoery dan lainnya," katanya.

Menurut dia, even ini bisa digelar tahunan dan skalanya bisa diperluas dengan melibatkan seluruh pegiat sastra etnis di negeri ini. Karenanya acara ini diharapkan juga menjadi silaturahmi budaya dalam skala yang lebih besar.

Ia mengemukakan, Festival Sastra Jawa itu akan digelar 2009 dengan tema, "Desa dan Sastra Jawa". Dengan alasan itu, maka festival tersebut rencananya akan dilaksanakan di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

"Kegiatan ini akan digelar di desa karena kami berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat pendukung sastra Jawa modern ada di daerah-daerah pinggiran, di desa-desa," katanya.

Karena itu, katanya, perlu dikaji hubungan imbal-balik antara sastra Jawa modern dengan masyarakat pedesaan, dan peran apa yang perlu dipertegas oleh para pengarang sastra Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedeaan tersebut.

Kegiatan itu akan diramaikan dengan pentas baca cerita cekak (Cerpen Bahasa Jawa), geguritan (puisi), drama berbahasa Jawa, sarasehan, pameran buku dan pemutaran film dokumenter.

Mengenai lokasi festival ini, yakni Desa Cakul adalah sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, yakni sekitar 10 km dari ibukota kecamatan Dongko dan 46 km dari ibukota Kabupaten Trenggalek.

"Seperti halnya wilayah di bebukitan kapur jalur selatan Pulau Jawa, lokasinya cukup indah dengan kekayaan bebatuan kapur, marmer, dan banyak lubang bawah tanah atau gua," katanya.

Masuki M. Astro

Antara Jatim [Sabtu, 15 Nov 2008 15:27:13]

Wednesday, 5 November 2008

Koran Dinding Kampung (2): Tenaga-tenaga Muda di Sekitar Kita


Ada anjuran yang sangat baik, ’’Janganlah kesusu bertanya apa yang seharusnya Anda terima, tetapi bertanyalah lebih dahulu: apa yang bisa Anda berikan.’’ Apa yang bisa diberikan/diperbuat oleh kaum muda?
Di antara kita banyak tenaga-tenaga muda. Muda usia. Ada yang menyebut dengan remaja. Ada yang menyebut dengan istilah pemuda (termasuk pemudi, lho! –Red). Ada orang yang dengan nada kelakar alias guyon mengatakan bahwa remaja itu manusia tanggung. Maksudnya, mau disebut anak-anak kok secara fisik sering malah lebih gedhe daripada orang dewasa, tetapi kalau mau disebut dewasa kok belum cukup syarat untuk itu, antara lain dalam hal luasnya wawasan hidup, banyaknya pengalaman, dan sebagainya. Maka, sebenarnya kita tidak perlu terlalu sedih jika mialnya tidak dilibatkan dalam rembug/petung tuwa. Bukankah kita sudah diberi wadah sendiri, yang di tingkat desa misalnya dengan adanya organisasi Karang Taruna? Bukankan Pemerintah sudah mengangkat seorang menteri yang diberi amanat khusus untuk mengurusi Pemuda (dan Olahraga)?


Kita sudah dipikirkan, dan Pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk kita, untuk pemuda. Jika kita merasa belum ada apa-apa yang sampai pada kita, mungkin itu hanya persoalan antrean, persoalan giliran, ata persoalan sistem komunikasi, dimana kita kurang jeli, kurang membaca, dan kalau banyak nonton televisi pun yang kita tonton bukanlah acara-acara yang bersifat informatif, melainkan acara-acara yang sebenarnya sering memperbodoh macam sinetron horor atau percintaan yang asal-asalan itu.

Maka, marilah kita bersama-sama bertanya sekarang: Apa yang dapat kita berikan, apa yang dapat kita perbuat untuk diri kita masing-masing dan kemudian untuk lingkungan kita?

Pada garis besarnya, marilah kita lakukan hal-hal yang baik yang bermanfaat bagi diri dan linggkungan kita, sehingga cita-cita yang digantungkan oleh para orangtua kita: --agar kita menjadi manusia yang berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa—itu tidak sekadar menjadi mantra (doa) yang makin hari makin pudar maknanya.

Dahulu, orang-orang seusia kita harus bertaruh nyawa, memanggul senjata, bahkan senjata seadanya, untuk mengusir penjajah yang bersenjata modern. Dahulu, orang-orang seusia kita dari berbagai suku, golongan, agama, berkumpul hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah bersatunya kembali Nusantara (Indonesia) yang pernah dicerai-beraikan bangsa asing (penjajah). Mereka adalah pemuda yang pantang menyerah, kaum muda yang tak pernah berpikir dua kali, tak pernah ragu untuk: BERBUAT BAIK.

Ayo! Jangan biarkan diri kita kelak dicatat oleh sejarah sebagai generasi loyo! Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ketika pertanyaan itu mulai ada di benak kita, yakinlah, kita sudah berada di langkah pertama untuk ’’berbuat baik’’ untuk tidak menjadi generasi loyo. [bonari nabonenar]

Koran Dinding Kampung


Telah lahir Koran dinding kampung (Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jatim/4-Nov-2009) cap ’’Nglaran Kita.’’

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Sudarmaji. Redaktur/Kordinator Liputan: Aan Rulianto. Reporter: Warsito, Hendri, Karni, Sudarto, Sukatni, Nuryati, Riza Rinata, Sulis. Fotografer: Jarwanto, Jamaludin. Desain/Artistik: Hendro. Sekretaris Redaksi: Wulandari. Konsultan: Bonari Nabonenar, Purwo Santoso. Alamat Redaksi: RT 29/RW 15 Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kec. Dongko, Kab. Trenggalek, Jawa Timur.

Rencananya, bakal terbit sekali sebulan.


Tuesday, 28 October 2008

Masa Depan Sastra Jawa

Oleh Ribut Wijoto

Sastra Jawa di Jawa Timur menunjukkan gejala yang unik. Tidak ada perkembangan yang pesat namun juga tidak macet. Situasinya cukup sehat-sehat saja. Beberapa karya baru baru bermunculan, dipublikasikan, dan diterbitkan. Tapi, lompatan estetika nyaris tidak ada. Bisa dikata, sastra Jawa sedang adem ayem. Kondisi ini ditegaskan dengan tiadanya tema atau perdebatan yang bersifat luas atau mendalam. Ke depan, jika situasi ini terus berlanjut, sastra Jawa sedang dalam kondisi ambang. Bisa lantas berkembang bisa juga lantas tenggelam. Agar bisa mengarah ke perkembangan, ada beberapa problem yang musti diurai dan diselesaikan.


Sampai saat ini, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih patut berbangga. Mampu selangkah lebih maju dibanding kompetitornya di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Lihat saja, dua peraih penghargaan Rancage tahun ini berasal dari provinsi paling timur di pulau Jawa ini. Yakni, Turiyo Ragilputra melalui kumpulan gurit Bledheg Segara Kidul untuk kategori karya sastra dan Sriyono, redaktur majalah Jaya Baya, untuk kategori pengembangan bahasa dan sastera Jawa.

Prestasi prestisius itu tidak lepas dari kinerja ulet dua tokoh besar yang telah almarhum. Suripan Sadi Hutomo dan Tamsir AS. Kedua tokoh ini seakan saling melengkapi. Suripan bergerak di wilayah pusat, Surabaya dan sekitarnya. Ketika itu, mobilitas sastra Jawa di Surabaya tidak ada yang tidak lepas dari campur tangannya. Di beberapa even, dia ikut menggagas. Memberi masukan ataupun menjadi konseptornya.
Tak hanya soal even, Suripan terkenal sebagai apresiator yang tajam serta tekun. Dia mampu mendedahkan peta sastra Jawa di Jawa Timur. Perihal tokoh-tokohnya, perihal karya-karyanya, karakteristik estetika masing-masing pengarang. Pun juga, tokoh kelahiran Blora 5 Februari 1940 ini bisa merunut kesejarahan sastra Jawa. Mulai zaman sebelum merdeka sampai menjelang meninggal dunia. Banyak yang mengultuskan, Suripan adalah HB Jassinnya sastra Jawa. Sebuah pengkultusan yang bukannya kosong fakta. Berkat Suripan, sastra Jawa memperoleh arah-tuju yang terprogram.

Sedangkan Tamsir AS, maestro ini lebih bergerak di wilayah pinggiran. Melalui Sanggar Triwida, pria kelahiran Tulungagung (1936-1997) mampu menaikkan pamor sastrawan-sastrawan di pinggiran. Kegiatan sastra Jawa tidak hanya berpusat di Surabaya. Kabupaten, kecamatan, maupun desa pun sanggup menciptakan kegiatan sastra Jawa. Pernah suatu kali, sekitar tahun 1985, ada acara macapatan di rumah seorang warga di desa Gandong Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung. Pesertanya warga sekitar dan beberapa sastrawan Jawa dari Trenggalek dan Kediri.

Penulis sebanyak 286 cerkak ini memang tak bosan-bosannya memompa semangat sastrawan daerah (baca: desa) untuk berproses. Saling berinteraksi maupun mengonsepkan gerakan sastra Jawa di daerah Mataraman. Meliputi Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya. Kadang dia tak hanya menjadi konseptor, dia juga keluar banyak uang untuk mendanai. Kecuali itu, Tamsir juga seorang penulis buku yang tekun. Lihat saja, dia telah menuliskan puluhan buku tentang sastra Jawa.

Sampai saat ini, peran dua maestro sastra Jawa di Jawa Timur tersebut belum tergantikan. Keberadaan sastra Jawa di Jawa Timur juga berkat kontribusi dua media, mingguan Jaya Baya dan mingguan Panjebar Semangat. Rutinitas kedua media ini dalam menyediakan halaman sastra berbahasa Jawa sanggup menjadi ruang ekplorasi para pengarang. Tak hanya pengarang generasi tua, beberapa pengarang muda pun bermunculan. Apalagi, segala berita juga disajikan dalam bahasa Jawa. Peran ini secara dahsyat mampu selalu mengaktualkan bahasa Jawa dalam lingkup kekinian dan perkembangan pengetahuan.

Hanya saja, kehidupan sastra yang berbasis media memiliki risiko cukup riskan. Sastra menjadi elitis. Terpisah dari kehidupan riil masyarakat. Keintiman antara sastrawan dengan warga yang dulu dibangun oleh Tamsir AS dan kawan-kawan menjadi luntur. Hal itu diperpaah dengan rendahnya interaksi para pengarang. Mereka lebih bergerak sendiri-sendiri. Tujuan pokok proses kreatif terfokus pada publikasi media dan penerbitan. Gerakan maupun perkumpulan yang gayeng jadi sulit didapat. Jika ini terus berlanjut, dalam 10 tahun ke depan, sastra Jawa akan semakin elit dan semakin dijauhi oleh masyarakat. Ia berubah jadi wacana yang iseng sendiri.

Melihat problem ketiadaan tokoh penggerak (pengganti Suripan dan Tamsir AS) dan merujuk pada risiko sastra media massa, sastra Jawa butuh pola baru. Kebergantungan pada sosok atau tokoh perlu dipangkas. Peran tokoh harus diganti dengan peran struktur. Dalam pola ini, peran Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) harus dimaksimalkan.

PPSJS musti menciptakan program realistis, pembagian tugas, koordinasi antardaerah, dan memaksimalkan segala potensi yang telah ada. Semisal terhadap sanggar Triwida yang digagas oleh Tamsir AS. Sanggar meski kurang berkembang tapi juga tidak mati. Pengurusnya masih ada. PPSJ harus memompanya agar kembali berkembang seperti zaman Tamsir dulu.

Sama seperti Dewan Kesenian, PPSJ perlu membentuk paguyupan-paguyupan sejenis di tiap kabupaten. Tujuannya agar koordinasi lebih terjaga. Bila ada pengurusnya otomatis ada orang yang bisa diserahi tanggung jawab mengadakan kegiatan.
Berkaca pada pengurus PPSJS lima tahun lalu, di mana Bonari Nabonenar sebagai ketuanya, yang dianggap banyak kalangan kurang maksimal. Hal itu perlu dijadikan bahan evaluasi. Kesalahan mendasarnya adalah tiadanya kerja tim. Bonari seakan berjalan sendirian. Ketika dia sibuk dengan kegiatan lain, PPSJS menjadi terlantarkan. Dan sebaliknya, pengurus lain seakan kelewat berharap terhadap Bonari. Pengaruhnya, kinerja organisasi alias terstruktur menjadi kurang teraplikasi.

Pada kepengurusan yang baru ini, di mana Bonari kembali terpilih, dia harus benar-benar menaruh kepercayaan terhadap kabinetnya. Setelah pembagian seksi dibentuk. Tiap orang dalam seksi perlu diberi wewenang dan tugas yang sesuai dengan wilayah garapannya. Jangan sampai terpusat pada ketua. Biarlah masing-masing tokoh menjalani perannya sendiri. Bonari cukup melakukan fungsi kontrol dan manajerial.
Sastra Jawa belum hancur. Hanya dalam situasi tiarap. Tidak mundur ataupun tidak berkembang. Pada titik ini pun, sastrawan Jawa di Jawa Timur masih lebih bagus dibanding kompetitornya di Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Hanya saja, ini sebuah kondisi stagnan. Semua potensi yang sedang tiarap musti dibangunkan kembali. Bila tidak segera disadari dan disikapi, sastra Jawa di Jawa Timur sangat mungkin tinggal kenangan. []

Biodata:

Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Anggota Forum Studi Sastra & Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya dan anggota Komunitas Teater Gapus Surabaya. Lulusan Fakultas Sastra Unair. Ketua Departemen Informasi dan Dokumentasi DK-Jatim.
Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit, Pengantar Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002).
Pernah mengeditori buku puisi F Aziz Manna Ayang-Ayang (Gapus Press, 2003), Ijinkan Aku Mencintaimu (Gapus Press, 2006), Menguak Tanah Kering (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2003), Rumah Pasir, Antologi 5 Penyair Terbaik Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2008). [ribut_wijoto@yahoo.com]

Sumber, Kompas Jatim [….]

Friday, 17 October 2008

Proyek Gagal


Tiba-tiba seseorang melontarkan ’ramalan’ bahwa Proyek Pemerintah yang dikenal dengan sebutan BLT atau be-el-te --yang sering diplesetkan menjadi Bantuan Langsung Tawuran, atau bahkan Bantuan Langsung Tewas—akan menjadi proyek gagal. Maksudnya, orang-orang/keluarga yang sekarang menjadi penerima BLT itu dalam beberapa tahun mendatang akan tetap menjadi penerima BLT. Artinya, mereka masih saja melarat, masih saja tidak punya cukup kemampuan untuk hidup mandiri secara layak.

Jika ramalan itu kelak terbukti, tumpukan daftar proyek gagal akan semakin membukit. Sejak zaman Pak Harto (baca: Era Orde Baru) Pemerintah gencar mengadakan proyek untuk memberdayakan masyarakat miskin yang sering identik dengan: masyarakat di pedesaan. Kita boleh mencatat misalnya, proyek bantuan sapi unggul, kambing, hingga kelinci untuk menggeliatkan usaha peternakan di kalangan masyarakat pedesaan, yang ujung-ujungnya dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Tetapi, baik itu sapi, kambing, dan seterusnya itu, nyaris semuanya menjadi ’kelinci’ (percobaan) yang gagal.

Juga, proyek penghijauan, penggalakan tanaman terasering di wilayah-wilayah desa pegunungan. Kini, jangankan tanah warga, tanah hutan yang seharusnya dijaga kerimbunannya sebagai penyimpan air, penahan longsor, dan pengendali banjir serta gudang udara bersih dan sehat (sumber oksigen) pun sudah pada gundhul tholo-tholo.

Tanah semakin tandus, panen sering gagal, padahal jumlah mulut yang perlu diberi makan semakin banyak. Lalu, alam pun menyuguhkan tradisi/kebiasaan baru: bencana. Ya, bencana, apakah itu berupa puting beliung yang dalam pekan ini menggasak beberapa kota di Jawa Timur: Malang, Sidoarjo, Ngawi, Ponorogo, Trengalek, Masiun, dll.

Mengapa proyek-proyek itu bertumbangan? Ada beberapa hal dapat dijadikan catatan. Walau sebelumnya dilakukan studi/penelitian, biasanya ketika mau menggulirkan proyek, wong-wong ndesa itu diasumsikan oleh pihak Pemerintah sebagai wong bodho yang hanya dapat: dibantu, diberi, diperintah, dan bahkan dicekoki, dan nyaris tidak pernah diajak bicara. Maka, ketika musim proyek kambing, ya semua desa dikirimi kambing, tanpa ditanya dulu apakah warganya benar-benar suka beternak kambing atau tidak.

Lalu soal pendampingan yang sangat kurang. Ini juga berkaitan dengan penyegaran atau bahkan pengubahan pola pikir masyarakat. Peran pendamping sering dianggap tidak penting. Hanya dianggap penting untuk dicantumkan namanya di formulir, tetapi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat yang didampingi sering luput dari perhatian.

Dan catatan yang tak kalah pentingnya lagi adalah pengawasan dan kemudian evaluasi. Mungkin evaluasi diadakan, tetapi hasilnya kurang diperhitungkan untuk pengguliran proyek berikutnya. Maka, yang terjadi kemudian adalah: proyek yang tidak tepat sasaran, tumpang-tindih, dan pada akhirnya menambah daftar proyek gagal.

Sebenarnya akan lebih baik jika kita dapat berdiskusi pula soal proyek-proyek pemerintah yang berkaitan dengan pemberdayaan sekelompok warga masyarakat yang oleh Pemerintah disebut: TKI Purna. Apakah daftar gagalnya cukup banyak juga? Apakah ada tumpang tindihnya juga? Kapan, ya?[]