Wednesday, 15 February 2012

MANA KONTROL DARI DALAM PARTAI?

Saya tertarik dengan lontaran politikus sebuah partai dalam sebuah acara dialog televisi. Dikatakannya, partainya tidak pernah dan tidak akan toleran terhadap para anggota maupun pengurus yang tersandung persoalan korupsi, dan dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).





FOTO; dari SINI


Di mana menariknya? Dalam serentetan kata-kata yang diberondongkannya, politikus tersebut hanya mengisaratkan bahwa yang dimaksudkan dengan istilah ”tersandung” adalah jika tindak kejahatan yang bernama korupsi itu ketahuan oleh pihak lain. Pertanyaan besar saya, bagaimana dengan mekanisme kontrol di dalam partai itu?

Sampai acara dialopg yang berdurasi (rasanya lebih dari 60 menit) itu, saya tidak juga menemukan kata-kata atau kalimat yang dapat meredam pertanyaan besar saya tersebut. Bagaimana mekanisme kontrol di dalam partai itu sendiri? Apakah seseorang, anggota atau pengurus, baru dikenai sanksi oleh partai jika ia menjahati partainya sendiri, misal melakukan tindak indisipliner dan/atau meng-korup uang Partai?

Saya tahu, jika pun pertanyaan saya itu terlontar, jawabannya pastilah: mekanisme kontrol dari dalam (partai sendiri) itu ada. Dan telah dijalankan dengan baik. Namanya kejahatan, tidak peduli siapa yang jadi sasaran, ia tetaplah kejahatan. Maka, jika kejahatan itu terbukti dilakukan oleh ”oknum” anggota atau pengurus partai, pasti yang bersangkutan akan dikenai sanksi, juga oleh partainya sendiri.

Tetapi, semoga kerusakan tidak pada mata saya, sehingga saya merasa tak pernah mendapatkan secuil pun jawaban atas pertanyaan besar saya tadi itu. Bahkan, ia makin membesar dari hari ke hari. [*]

Wednesday, 8 February 2012

GARIS MALAM

sudah kubuat garis
dari reruntuhan gerimis
rindu pun kuiris
hingga mendesis dengarlah rembulan menangis
dan langit pun berkabung
ini malam keberapa kau eja cerita
tentang cinta yang memar

pengorbanan yang dangkal
dan kecengengan mengental
di gelap malam aku memilih pingsan
agar tak tahu kau belum siuman

sudah kubuat garis
dari reruntuhan gerimis
jika kau menangis
aku pun menangis

rindu pun kuiris
hingga mendesis
biar aku tak melihat
ia menguap habis
di tepi garis

2012

Tuesday, 7 February 2012

Pemerintah belum Berterima Kasih

24 Tahun Hadiah Rancage, Sebuah Catatan

Sejak Zaman Kerajaan, Singasari, Majapahit dll, raja sebagai presentasi kerajaan memberikan penghargaan yang tinggi kepada para pujangga/kawi (pengarang/penyair), tidak hanya berupa peralatan menulis, rumah, tanah, tetapi juga hak-hak istimewa secara khusus.

”Restu raja yang demikian itu didambakan (oleh penyair/kawi) serta diterima sebagai suatu anugerah. Restu itu pasti memberikan dorongan yang diperlukan untuk mengerjakan tugasnya dan menyelesaikannnya dengan memuaskan. Restu itu mungkin juga meliputi dukungan material berupa hadiah-hadiah yang mungkin lebih daripada ’papan tulis dan tanah’ semata-mata. Simpati sang raja juga merupakan berkat yang menyuburkan karya seorang penyair/kawi. Kesaktian yang berpusat pada dan memancar dari raja mempengaruhi karya penyair dan menambah suksesnya.” (Zoetmulder dalam Kalangwan: 1983).



Kritik terhadapa model pemberian hadiaah kepada sastrawan oleh raja seperti itu adalah: sastrawan/pujangga lalu seperti terkooptasi oleh kepentingan (kekuasaan) kerajaan. Tetapi, esensi pemberian hadiah atau penghargaan kepada sastrawan sebagai salah satu sumber wacana kearifan, setidaknya sebagai ”praktisi gerakan literasi” tetap sangatlah penting. Itu yang agaknya dilupakan oleh pemerintah kita sekarang ini.

Hadiah Sastra Rancage, selanjutnya disebut Rancage, adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, yang didirikan budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S. Ekajati, dan beberapa tokoh lain sejak 1989. Artinya, hingga sekarang tradisi pemberian penghargaan untuk buku dan tokoh yang dipandang berjasa terhadap pengembangan bahasa dan sastra daerah itu telah berjalan 23 tahun. Konsistensi semacam ini patut mendapatkan apresiasi dan dukungan, untuk menyelalamatkan bahasa-bahasa ibu dari kepunahan.

Sejak 1994, Yayasan Rancage diberikan untuk buku sastra Jawa (antologi cerkak/cerpen, guritan/puisi, novel). Tahun ini antologi geguritan Ombak Wengi (2012) karya Yusuf Susilo Hartono terpilih untuk mendapatkannya. Hanya ada satu tahun kosong (1995) karena tidak ada buku karya sastra Jawa yang terbit pada tahun tersebut. Untuk kategori tokoh berjasa dalam bidang pengembangan bahasa dan sastra Jawa, tahun ini terpilih Sucipto Hadi Purnomo, Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) yang juga dosesn Unnes.

Saya merasa beruntung dapat terlibat obrolan santai di rumah makan milik keluarga Ayip Rosidi (Magelang, 2010) sebelum acara penyerahan hadiah keesokan harinya di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Dari obrolan itulah saya tahu, betapa kerasnya upaya untuk mempertahankan tradisi yang sangat mulia tersebut. Sangat mulia, karena selain menjadi pilar upaya menumbuhkan tradisi literasi dalam rangka ”mencerdaskan kehidupan bangsa”, Hadiah Rancage sekaligus menjadi pilar pelestari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Pak Ayip pun bercerita, pernah suatu kali, rekeningnya kosong padahal hanya dalam beberapa hari hadiah (piagam dan uang) harus diserahkan kepada para pemenang. Sampai pada saat paling genting (sebelum hari H), tiba-tiba ada uang masuk sejumlah yang dibutuhkan, dari pihak yang tidak bisa diketahui.

Melihat apa yang dilakukan Ayip Rosidi bersama Yayasan Rancage-nya, kita lalu tergelitik pula untuk bertanya, ”Apakah yang sudah dilakukan oleh Pemerintah di bidang literasi, satu hal yang diyakini sebagai kunci utama untuk meningkatkan ”kecerdasan bangsa” ini? Tradisi pemberian hadiah, dalam sastra Indonesia pun tidak ada bukan? Kalaulah ada, paling-paling hanya rog-rog asem, berjalan setahun dua tahun, setelah itu lenyap entah ke mana. Beberapa versi hadiah untuk Sastra Indonesia pun, yang nilainya tergolong besar justru diselenggarakan oleh lembaga nonpemerintah.

Harus diakui, dampak penganugerahan Hadiah Rancage untuk buku Sastra Jawa sangat signifikan. Sebelum tahun 1994 banyak tahun kosong penerbitan buku sastra Jawa. Atau jika ada pun, biasanya adalah buku ”stensilan”, berupa antologi bersama, dan tidak ber-ISBN. Setelah ada Rancage untuk Sastra Jawa, hingga taun ini hanya 1995 saja yang tidak ditandai dengan adanya buku karya sastra Jawa yang terbit. Dengan gambaran tersebut saya tidak ingin mengatakan bahwa Rancage adalah satu-satunya pendorong semangat untuk menerbitkan buku karya sastra Jawa.

Bahkan, ketika geliat penerbitan buku karya sastra Jawa sudah mulai membaik seperti sekarang, dan pada saat mengalami masa-masa yang subur kelak (jika itu akan terjadi) pemberian penghargaan untuk karya”terbaik” seperti dilakukan Yayasan Rancage semakin penting, sebagai bagian dari kritik dan sekaligus pengawal kualitas karya sastra berbahasa daerah. Dalam kaitannya dengan perkembangan Sastra Jawa Modern, Rancage seolah juga mengisi ruang kosong kritik setelah ditinggalkan Suripan Sadi Hutomo, Poer Adhie Prawoto, Piek Ardijanto Soeprijadi, dan beberapa nama (kritikus) lain.

Pemerintah (daerah), sesungguhnya sangat terbantu oleh Rancage. Dalam urusan penyediaan buku-buku bacaan berbahasa daerah di sekolah, setidaknya setiap tahun ada buku-buku terpilih. Dengan ini saya juga tidak sedang mengatakan bahwa Rancage adalah satu-satunya saringan untuk meloloskan buku-buku bacaan berkualitas untuk perpustakaan di sekolah-sekolah. Adalah sangat pantas jika buku-buku karya sastra Jawa yang telah mendapatkan Rancage itu kemudian juga disambut oleh pemerintah (daerah) melalui Dinas Pendidikan. Sambutan yang baik adalah dengan membelinya untuk disebarkan ke sekolah-sekolah.

Alih-alih memberikan sambutan yang baik terhadap buku-buku sastra berbahasa Jawa terpilih (oleh Yayasan Rancage), saya malah mendapat kabar dari beberapa pengarang sastra Jawa yang didesak-desak oleh penerbit untuk menyetor naskah agar nantinya bisa diterbitkan setelah mendapat persetujuan Dinas Pendidikan. Artinya, setelah keuntungan dapat dihitung secara pasti. Tidak akan jadi masalah jika cara begitu hanya sebagai varian. Tetapi, tidak mengacuhkan buku-buku ”Rancage” dan memilih buku-buku yang diseleksi secara terburu-buru adalah tindakan degsiya alias semena-mena. Padahal, buku-buku sastra Jawa di luar ”pesanan” Dinas Pendidikan pada umumnya diterbitkan dengan tidak mengejar keuntungan finansial. Karena itulah, cara memberikan dukungan kepada Yayasan Rancage, menurut Ayip Rosidi, selain memasukkan bantuan dana ke rekening (Yayasan Rancage) adalah dengan menjadikan buku-buku pemenang Rancage sebagai bahan bacaan di sekolah-sekolah di wilayah masing-masing: Sunda, Jawa, Bali, Lampung.

Sekarang ini sangat tampak bahwa pemerintah (daerah), agaknya kecuali Jawa Barat, tidak tahu (-menahu) persoalan seperti itu. Maka, mendesak-desak agar pemerintah (daerah) menciptakan tradisi pemberian hadiah tersendiri kepada orang-orang yang dipandang berjasa terhadap pengembangan bahasa dan sastra daerah (dengan karya buku maupun aktivitas lainnya) menjadi agak lucu. Dan akan sangat potensial mengacaukan keadaan, jika yang dibayangkan adalah bentuk/sistem seperti yang sudah dilakukan Yayasan Rancage. Walaupun, dulu saya pernah juga meneriakkan hal seperti itu. Sekarang saya tahu, para pengarang sastra Jawa masih harus bersabar. Pemerintah (daerah) pancen durung jawa, kok!

Sudah 24 tahun Rancage mendorong dan mengawal perkembangan bahasa dan sastra daerah (Sunda, Jawa, Bali, Lampung). Walau belum menjangkau daerah-daerah lain di seluruh wilayah negri ini, sesungguhnya Rancage telah dengan suka-rela mengambil alih tugas negara yang seharusnya dilakukan pemerintah. Sedangkan pemerintah, seperti belum tahu caranya berterima kasih.*

[Jawa Pos, Minggu, 5 Februari 2012

Sunday, 5 February 2012

PERSELINGKUHAN ITU BEGITU NYATA


matahari belum mekar
dan embun masih mengurung mawar
kau sudah datang dengan nafas motor liar
mambanting pantat di depan hidung
yang masih tenggelam dalam aroma pagi
kauberondongkan kata
sambil merasa mengurai sajak cinta
sedang kau malah membuatnya makin ruwet
dan membuatku makin murka

jangan biarkan dirimu jadi alamat pertama
kemarahanku yang nyaris buta
sebab aku tahu perselingkuhan itu begitu nyata
di ruang-ruang kekuasaan
yang makin pesing bau ompolnya

tapi aku tidak punya seprei basah
atau celana dalam yang tertinggal
dengan bercak sperma

mataku melihat
perselingkuhan begitu nyata
mereka tergelak
sambil menjungkirbalikkan fakta
menggelembungkan angka-angka
dan membungkusnya dengan kata-kata berbusa

tahukah kau apa yang membuatku semakin murka?
mereka rayakan perselingkuhan dengan berkelamin
di tengah-tengah altar pemujaan
kepada para pendahulu yang bijak
dan berani berkorban

aku menyaksikan semuanya
tapi aku tidak punya seprei basah
atau celana dalam yang tertinggal
dengan bercak sperma

itulah yang membuatku semakin marah
dan semakin sedih karena tahu
kemarahan ini akan meracuni udara!

2012

Sunday, 15 January 2012

”Gek Kesenian Kuwi Blangkrah Apa!” [1]



--pertemuan yang gayeng
Trenggalek, adalah sebuah kabupaten yang tergolong tertinggal di Jawa Timur. Berbagai kelemahannya: angka kemiskinan, hutan yang nyaris habis dibabat secara sempurna, dan tradisi-tradisi/ritual warisan kebudayaan lama seperti bersih desa, larung sembonyo, tiban (tarian/pertarungan dengan cambuk dari sada aren), dan lain-lainnya, seharusnya dibaca sebagai tantangan (baca:peluang). Masyarakatnya masih menjunjung tinggi nilai-milai persaudaraan, solidaritas, dan kegotong-royongan, berbeda dengan manusia-manusia kota (metropolitan) yang semakin kukuh individualitasnya. Di Trenggalek ada kesenian rakyat ”Jaranan” yang dikenal dengan nama ”Turanggayaksa” (sering ditulis secara salah: ”Turonggoyakso”. Kalau di tempat lain ada seni-jaranan yang dikenal dengan nama ”Jaranan Buta” (artinya sama dengan turanggayaksa (: jaran = kuda | yaksa = buta = raksasa) pastilah tampilan/gerak tariannya jauh berbeda dengan ”Turanggayaksa” yang khas Trenggalek itu.

Saya bisa bercerita secara khusus mengenai Turanggayaksa karena saya pernah menjadi pemain Jaranan Sentherewe oleh dua orang kreator ”Turanggayaksa” itu, yakni Pak Mu’an dan Pak Pamrih (keduanya tinggal di Kecamatan Dongko). Kedua orang kreator Turanggayaksa itu, menurut keterangan yang saya terima, pernah menjadi pemain ludruk juga. Pak Mu’an, juga terampil menciptakan perlengkapan tarian Turanggayaksa, dari slompret (terompet) ”turangga”, hingga barongan (caplokan)-nya. Turanggayaksa yang diciptakan untuk menghidupkan tradisi bersih desa di Desa Dongko itu kemudian menjadi populer, dan bahkan pernah dijadikan materi tarian yang wajib dipelajari di sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Trenggalek.

Beberapa kali Festival Turanggayaksa pun digelar. Sayangnya, dalam rembug kesenian di Sanggar Tari Joyo Anggodo, Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, yang dihadiri para pelaku, guru, pemilik sanggar, dan para pemerhati kesenian (15 Januari 2012) terungkap bahwa Festival Turanggayaksa sudah tidak lagi digelar dalam beberapa tahun belakangan ini.

Mendengar kabar menyedihkan itu, saya lalu teringat kawan-kawan, para perempuan pekerja migran di Hong Kong yang dengan bangga dan penuh antusiasme memromosikan kesenian jaranan di negeri penggemar Barongsai itu.

Kabar sedih itu juga seperti nyaris memupuskan harapan saya, untuk suatu ketika ada delegasi kesenian dari Trenggalek (tidak perlu rame alias banyak orang) bisa menampilkan Turanggayaksa di Hong Kong, sekalihgus memberi kursus kilat kepada perempuan pekerja migran asal Trenggalek yang ada di Hong Kong. Beberapa di antara mereka mengaku pernah mempelajarinya sewaktu di sekolah. Maka, alangkah Indahnya jika setelah tampil jam-session dengan sebuah Grup Barongsai dari Kecamatan Wan Chai, Kelurahan Causeway Bay, atau Kabupaten Kowloon Tong, lalu perlengkapannya dihibahkan kepada para ”duta budaya” yang selama ini hanya lebih banyak dikenal dengan sebutan bernada menghina: ”TKW” itu.

Impian mengenai delegasi keenian dari Trenggalek ke Hong Kong itu sesungguhnya bukan impian ngayawara, jika saja kita bisa membaca seberapa penting, apa dampak positif, dan keuntungan nonfinansial dapat diraih, baik oleh seniman yang terlibat, para pekerja migran yang ada di Hong Kong, terutama yang diwarisi ketrampilan-seni-jaranan, maupun yang dapat dipetik dari silaturahmi antarnegara: Indonesia - Hong Kong.

Makin masuk akal lagi, tanpa berpretensi untuk mengajak ber-KKN, mengingat ada dua sosok yang menjadi pejabat penting di bidang ini di Provinsi Jawa Timur, berasal dari Trenggalek: Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreativ Provinsi Jawa Timur, dan seorang lagi Kepala Taman Budaya Jawa Timur.

Tetapi batin saya kembali menjadi kecut ketika dalam sarasehan tadi pagi itu sempat terlontar celetukan, mengabarkan bahwa dalam sebuah pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Trenggalek, sempat meluncur sebuah kalimat pendek, ”Gek kesenian kuwi blangkrah apa, ta!”

Jangan-jangan yang ada di Jakarta juga punya simpanan kata-kata senada itu? Dan oleh karenanya, kita tidak perlu heran, kalau di ruang sidang pun mereka bisa saling mencaci, berdiri di atas meja, dan kemudian saling adu jotos. Mereka tak pernah nonton/mendengarkan siaran wayang kulit, yang, bahkan seorang raksasa menantang berkelahi patih dari kerajaan yang didatangi dengan, ”Heh, patih murang tata, metua njaba, takladeni apa abamu!” Raksasa itu pun keluar, meninggalkan ruang pertemuan, dan menunggu Sang Patih di alun-alun depan istana kerajaan untuk bertarung.” –Sedangkan anggota dewan kita, kalau sudah menyala amarahnya, mengamuk tak pandang tempat. Apalagi kalau diminta adu mulut di layar televisi, jan kemaruk-nya minta ampun!

[bersambung]


Thursday, 12 January 2012

LAKILAKI PENUNGGANG ASAP

lakilaki penunggang asap itu kini termangu
di puncak menara
ucapan selamat, kado, telor busuk, dan molotov
dilemparkan
tetapi malahan membuatnya makin tegar
ucapan selamat dan berjuta kata menghujat
seperti menunjukkan bahwa ia makin kuat
makin bertambah kesaktian
sesungguhnya ia makin kesepian
di tengah hiruk sorak
tangis, rintih, dan tawa cekikikan
ia merasa di panggung
hanya sendirian
sedang jurus pencak dan ukel tarian
habis dipamerkan

lakilaki penunggang asap itu tiba-tiba meneriakkan
sebuah nama perempuan
sambil menunjuk dan menatap awan
padahal perempuan itu sudah berada di kuburan
setelah mati ngenes
karena pesan-pesannya tak pernah diindahkan

Sawojajar, 2011

Wednesday, 11 January 2012

Membangun Monumen Solidaritas

Menuju Hari Buruh Sedunia 2012


Efektifnya hanya sekitar dua bulan lagi, kita akan sampai pada Hari (Besar) Buruh Sedunia atau yang sering juga disebut sabagai May Day (1 Mei 2012). Di berbagai belahan dunia hari itu akan diperingati dengan gegap-gempita. Demonstrasi ada di mana-mana. Itu adalah salah satu cara, menyalurkan aspirasi, menggedor tembok keangkuhan para birokrat yang sering tampak lupa mengemban amanat rakyat.
Adalah salah satu cara. Artinya, ada cara lain yang bisa ditempuh tanpa mengurangi, tanpa melupakan cara yang lainnya lagi. Berbagai cara memang mesti ditempuh untuk semakin mempertegas garis perjuangan kita. Cara yang lain lagi, adalah memlalui tulisan. Ini juga sudah dilakukan banyak buruh migran asal Indonesia di Hong Kong. Sekadar menandaskan, sejauh yang terkespose media, tidak ada dunia penulisan di kalangan buruh migran sesemarak yang ada di Hong Kong. Bahkan, di kalangan buruh migran asal negara lain, selain Indonesia!

Seperti mulai diumumkan melalui Peduli edisi Januari 2012 (edisi bulan lalu) kita akan menggelar Festival Pekerja Migran di kawasan Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur pada bulan Mei 2012 nanti. Diharapkan, kawan-kawan BMI yang sedang cuti dan berada di tanahair dapat menghadiri acara itu, secara sukarela, secara swadaya. Tentu, jangan ketinggalan pula para ”pendahulu” yang sudah ”memanjangkan penanya” di tanahair: Etik Juwita, Maria Bo Niok, Eni Kusuma, Nadia Cahyani, Wina Karnie, dan siapa lagi?

Lalu, anggaplah saja kita akan melakukan demo dengan kemasan yang agak berbeda. Selain meneriakkan tuntutan, dengan lagu puisi, cerita, atau melalui foto-foto dan tayangan audio-visual yang dapat disiapkan, pertemuan seperti itu nanti juga akan memperkokoh ikatan persaudaraan, bisa jadi semacam ajang konsolidasi untuk mempertegas garis perjuangan. Bukan hanya di ruang sempit bernama dunia pekerja migran, melainkan juga perjuangan sebagai anak bangsa, sebagai anak manusia, yang makin ditantang oleh ganasnya gelombang kehidupan modern.

Ketika saudara-saudara dari berbagai wilayah bertemu, peluang untuk munculnya gagasan-gagasan baru pun akan semakin terbuka. Termasuk gagasan pengembangan bisnis. Ada kata kunci yang sangat ampuh di sini: kebersamaan. Jika semangat kebersamaan, senasib-seperjuangan itu tidak hanya di hentikan ketika serentak turun ke jalan, melainkan juga saat berjuang di dalam frame yang lebih luas: kehidupan ini sepenuhnya, alangkah dahsyatnya!

Juga, jika keinginan menerbitkan buku bersama yang representatif, setebal 500 halaman atau lebih itu tercapai, sesungguhnyalah akan secara simbolis menjadi tambahan bukti kedahsyatan itu. Di sanalah antara lain kita akan meletakkan tanda kebersamaan kita. Biarlah orang mengolok-olok, misal dengan kata-kata ini, ”itu sekadar sensasional!” Apa pun, itu kita butuhkan! Kita perlu terus menggali cara untuk menarik perhatian. Dan membuat sensasi, sejauh tidak mengandung unsur kekerasan, pemaksaan, atau pelanggaran terhadap nilai-nilai lain yang bersama dijunjung tinggi, adalah bentuk kreativitas juga.

Buku tebal kita itu nanti, jika terwujud, ia akan jadi semacam monumen untuk: solidaritas kita! [*]

FOto: YANY WIJAYA KUSUMA