Sunday, 29 May 2011

BURUH MIGRAN BERTANYA

bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa
dan oleh karena itu perbudakan dalam segala bentuknya harus
dilenyapkan
kecuali dalam keadaan memaksa
tenaga kerja boleh dikirim sebanyak-banyaknya
ke luar negri sebagai buruh migran


’’klenger, jan klenger tenan
di dalam negri merana susah cari kerja
di luar negri mung dadi gedibale majikan!”

apakah kami harus bangga
negara kami negara yang besar
banyak utangnya
dan juara korupsinya?

maka didirikanlah negara kesatuan republik indonesia
untuk melindungi warga negara
mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya
kecuali rakyat yang berjuta jumlahnya
yang terlempar ke berbagai negara
menjadi buruh yang teraniaya
menderita di dalam
menderita di luar

jiwa-jiwa yang ingin merdeka
tapi terjajah nyaris sepanjang usia
berjuta kami jumlahnya
serentak berteriak
bertanya:
’’di manakah tempat berlindung bagi kami
sesungguhnya?’’

Thursday, 14 April 2011

Lomba Ngarang Crita kanggo Siswa

Iki ana lomba ngarang crita kanggo para Siswa, dicepaki hadiah Rp 7.000.000 (pitung yhuta rupiyah). Sing nganakake lomba iki Yayasan Saworo Tino Triatmo (YASATRI).
Carane melu lomba:[1] Irah-irahan: bebas, [2] Tema: Ngudi kas kayaning budaya Jawa kanggo ngawekani laku brangasan ing madyaning para mudha. [3] Crita diketik MS Word 97-2003, ora luwih saka 5 kaca ukuran folio, spasi 1, font 11 (watara 2000 – 3000 tembung). [4] Asli asil karya pribadi para siswa durung dipacak ing media, dikanthi surat pengantar/katrangan kepala sekolah. [5] Dikirim sakdurunge 31 JULI 2011 marang pengurus YASATRI kanthi alamat email: bs2751950@yahoo.com utawa bs2751950@gmail.com. Hadiah lomba Rp 7.000.000 iku kanggo juara siji nganti teka juara harapan. [b]

Wednesday, 13 April 2011

Lomba Ngarang Crita Abasa Jawa kanggo para Siswa


Friday, 8 April 2011

Arisan Sastra, Sebuah Oase Budaya di Trenggalek

Ketika 3 atau 4 orang (saja) mengadakan pertemuan rutin dan mendiskusikan sesuatu hal secara intensif, sebuah oase budaya dapat terbangun dan berkembang menjadi besar, atau setidaknya menghasilkan sesuatu yang besar, dan menggelembung melampaui batas-batas wilayah geografis mereka, seperti yang dilakukan Socrates dan kawan-kawan (Socrates Café) atau Derrida dan kawan-kawan. Tiba-tiba, di Trenggalek muncul kelompok diskusi yang dibangun oleh sosok-sosok muda yang gandrung tulis-baca, yang dengan segala daya-upaya mereka giat mengampanyekan gerakan literasi di kota kecil yang jika terkenal pun, sering lebih karena kemiskinan dan keterpencilannya ini.

Kelompok anak-anak muda yang dipelopori Nurani Soyomukti, penulis yang sudah melahirkan belasan buku, Tony Saputra, mahasiswa STKIP Trenggalek yang gemar menulis puisi, dan kawan-kawan itu pun menjadi semacam kumparan yang semakin memperkokoh keberadaannya dengan aneka macam kegiatan, dari menyelenggarakan diskusi sastra, peluncuran/bedah buku, dan yang secara rutin diagendakan setiap bulan sejak 6 bulan lalu adalah: Arisan Sastra Trenggalek (selanjutnya disebut dengan Arisan Sastra). Beberapa nama yang dalam hal usia tidak bisa disebut muda lagi pun bergabung ke dalam kelompok ini.

Ini adalah kabar gembira, ketika masyarakat kita, tak terkecuali yang hidup di pelosok-pelosok desa cenderung menjadi sangat pragmatis-materialistis, dan pembangunan karakter bangsa hanya menjadi jargon atau kalau dilakukan pun sering lebih berorientasi proyek. Nurani Soyomukti dan kawan-kawan ini melakukan gerakan budaya dengan segenap kemampuan (yang sesungguhnya sangat terbatas) yang mereka miliki. Dan hebatnya, lagi-lagi, mata kita dibuka untuk melihat kenyataan bahwa kemauan yang kuat, yang bersih dari pretensi mendapatkan keuntungan material, mampu menyerap kekuatan alamiah yang, menurut saya: luar biasa, membalik keadaan dari kemampuan yang sangat terbatas itu menjadi kemampuan luar biasa.

Luar biasa, ketika puluhan orang bertahan untuk bergantian membaca/mendengarkan pembacaan-puisi, orasi, di tengah guyuran rintik hujan, dari sekitar pukul 19.00 hingga tengah malam (Rumah Hamzah Abdillah, Jl. WR Supratman, Minggu, 5 Maret 2011).

Luar biasa, ketika acara yang bahkan tidak tertera di dalam agenda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten (Trenggalek) ini dihadiri oleh penulis, penyair, sastrawan dari berbagai kota: Bojonegoro (Riza Multazam Luthfi), Malang (Misbahus Su’rur), Jombang (Hadi Sutarno), Ponorogo (Ary Nurdiana), dan Ngawi (Hardho Sayoko).

Luar biasa, karena Arisan Sastra ini adalah model pembangunan kebudayaan dari akar rumput, dari bawah, yang sangat berpeluang menyejajarkan Trenggalek dengan kabupaten lain di Jawa Timur yang lebih dahulu maju di bidang kesusasteraaan dan dunia penulisan ini: Sumenep, Lamongan, Bojonegoro, yang belakangan disusul Kabupaten/Kota Mojokerto.

Mengapa tradisi tulis-baca seperti dilakukan Nurani Soyomukti ini penting untuk dibangun? Sastrawan peraih SEA Write Award Suparto Brata yang menulis dengan dua bahasa (Jawa dan Indonesia) memiliki jawaban yang bagus untuk pertanyaan itu: ’’Kita bisa bertani dengan baik hanya dengan mendengarkan siaran radio mengenai cara-cara bertani yang baik. Tetapi, kita tidak akan dapat membuat radio hanya dengan mengikuti petunjuknya melalui siaran radio.’’ Artinya, tradisi baca-tulis atau gerakan literasi adalah wajib hukumnya untuk masyarakat yang ingin maju peradabannya.

Luar biasa, karena Arisan Sastra ini menunjukkan kepada kita adanya geliat-gerak-maju peradaban/kebudayaan, dalam pengertian tidak statis dan puas hanya mengelus-elus warisan budaya nenek moyang (baca: tradisi lisan), yang, mengelus pun kini sepertinya sudah tidak dilakukan dengan benar. Hanya mau merawat (dengan baik) budaya warisan dan tidak dapat mengembangkannya dengan baik paling banter hanya akan menjadikan masyarakat sebagai semacam museum. Jangan sampai instansi bernama Dinas kebudayaan dan Pariwisata di negri ini, khususnya di Jawa Timur hanya mendjadi semacam biro penjualan tiket masuk ke: gua, pantai, candi. Jangan sampai hanya mau sesekali nanggap wayang, ludruk, kentrung, sambil merasa telah ikut menjaga dan mengembangkan warisan budaya bernama kesenian tradisional itu. Adalah kecelakaan budaya jika kita tidak mampu dengan benar merawat warisan dan gagal menciptakan iklim yang baik bagi dunia kreasi, penciptaan, bagi generasi terkini. Dan perlu dicatat pula, Arisan Sastra ini sekaligus juga dapat dipandang sebagai salah satu obat antidehidrasi (menghindarkan kelumpuhan kultural masyarakat) di tengah-tengah banjir limbah peradaban dunia.

Pada akhirnya saya hanya ingin mengatakan, bolehlah Dewan Kesenian Jawa Timur tidak tahu bahwa di Trenggalek juga ada Dewan Kesenian (Kabupaten Trenggalek). Tetapi, kini ada harapan untuk menuju apa yang bisa saya katakan dengan: ’’tidak ada yang salah dengan kesenian di Trenggalek.’’

Arisan Sastra ini penting untuk terus dipacu dan dikembangkan sebagai oase budaya di Trenggalek, dan tidak perlu digiring menjadi koperasi. Karena itulah disamping Nurani Soyomukti yang menjadi tumpuan utama keberlangsungan gerakan ini, saya mengusulkan Tony Saputra untuk dukukuhkan sebagai Bupati Penyair Trenggalek. Setuju, ya? [Bonari Nabonenar, peserta Arisan Sastra Trenggalek]. [Radar Surabaya, 18 April 2011]

Wednesday, 30 March 2011

Menakar Kehebatan Seorang Penulis

Profesi penulis pastilah tidak mengungguli ’dokter’, ’menteri’, ’presiden’, ’pengusaha kaya’, dalam hal paling banyak dicita-citakan. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tidak sedikit orang, secara diam-diam maupun terang-terangan, kepengin menjadi penulis. Menjadi penulis hebat! Persoalannya sekarang adalah, penulis macam apa yang kita pandang sebagai penulis hebat itu? Apakah penulis yang bukunya laris bak kacang goreng, penulis yang menginspirasi banyak orang, ataukah penulis yang berhasil mengoleksi banyak piala/piagam kompetisi dan menang di berbagai perlombaan? Penulis yang bukunya laris bak kacang goreng secara serta-merta dapat kita nilai sebagai telah pula menginspirasi banyak orang. Tetapi menginspirasi untuk apa? Untuk berubah. Berubah ke arah mana? Menjadi manusia yang lebih konsumtif, menjadi manusia yang tak ketinggalan mode, atau bahkan menjadi manusia yang berani melawan arus? Arus yang mana pula?

Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Atau, setidaknya, saya hanya berkepentingan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada sidang pembaca. Dan berdamailah dengan jawaban Anda masing-masing.

Ada perasaan sukacita luarbiasa ketika tulisan kita untuk pertama kalinya dimuat di media cetak, apalagi di media cetak yang berwibawa. Seiring dengan pertukbuhan jam terbang sebagai penulis, hal seperti itu akan menjadi relatif biasa, walau rasa suka itu pasti tetap ada. Rasa sukacita luar biasa berikutnya akan muncul ketika berhasil melahirkan buku. Dan akan menjadi relatif biasa ketika semakin banyak buku dihasilkannya. Demikianlah, rentetan perasaan sukacita itu muncul pula saat, buku jadi best-seller, saat diangkat menjadi film dan ditonton jutaan pasang mata, dan dipuji-puji oleh ahlinya. Demikian pula saat seorang penulis berhasil mendapatkan gelar juara dalam sebuah perlombaan. Itulah rentetan ’keberhasilan’ yang tampaknya dalam jumlah keseluruhannya hanya dapat dinikmati sedikit penulis. Sebagian besar penulis hanya bisa mendapatkan satu, dua, atau beberapa di antara rentetan ’keberhasilan’ itu. Lalu, siapa penulis hebat? Nah, di sinilah uniknya. Fakta membuktikan, bahkan yang tampaknya sudah mengantongi seluruh daftar keberhasilan itu bisa jadi ternyata hanya mengantongi ’kehebatan’ sementara saja. Seperti sebuah lagu pop yang muncul di puncak tangga untuk beberapa bulan, dan setelah itu lenyap bagai di telan bumi. Sementara, di sisi lain, ada penulis yang seoalh tak begitu ’hebat’ tetapi ia ’berumur panjang’, bahkan jauh lebih panjang daripada usia tubuhnya, dengan segenap sanjungan dan predikat baik yang menyertai namanya.

Masih bingung? Jangan khawatir. Merasa bingung itu bagian dari tanda bahwa pikiran kita sedang ’jalan’. Sebelum terjerembab, ikutilah kisah pendek ini. Dalam suatu perlombaan menulis cerpen, seorang penulis yang jam terbangnya lebih banyak dikalahkan oleh ibarat bocah kemarin sore. Si Bocah Kemari Sore itu juara ke-2, sedangkan Si Pengarang Senior juara ke-3. Peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu. Perlombaan itu ternyata tidak menggusur kewibawaan Si Pengarang Senior, walau Si Kemarin Sore terangkat derajatnya karenanya.

Dunia Sunyi

Begitulah, masyarakat (pembaca) memiliki sistem penilaiannya sendiri. Karena itu, mengikuti lomba adalah cara yang baik untuk mengasah kemampuan menulis, tetapi ketika sukses mendapatkan gelar juara, janganlah lalu menjadi mabuk dan merasa sudah sampai di puncak. Tepuk tangan atau sanjungan dalam sebuah perlombaan itu hanya akan bertahan beberapa saat lamanya. Setelah itu akan kembali sepi. Dan, demikianlah, akal-akalan manusia saja membuat dunia kepenulisan menjadi dunia yang hiruk. Padahal, sesungguhnya, ia adalah dunia yang sunyi, yang justru karena kesunyiannya itulah banyak orang memburunya.

Tetapi, tak semua orang suka kesunyian macam itu. Ada yang melihat keberhasilan seorang penulis karena ia bisa pula menjadi semacam selebriti yang dielu-elukan para penggemarnya, yang tulisan-tulisannya selelu dikerubuti orang, bahkan ditunggu-tunggu, yang namanya tertulis dalam soal ujian anak-anak sekolah, yang menerima royalti ratusan juta rupiah, dan seterusnya. Maka, muncullah penulis-penulis dengan orientasi popularitas, kekayaan, dan hal-hal lain yang sifatnya harfiah. Apakah penulis demikian bukan pejuang nilai? Ya, pejuang juga tentunya. Tetapi, nilai-nilai yang diperjuangkan adalah nilai-nilai kebendaaan, dan bukannya nilai-nilai kemanusiaan. Yang memperjuangkan nilai kemanusiaan itulah, siapa pun, apakah ia seorang penulis ataukah seorang pekerja sosial, biasanya lebih dikenang untuk jangka waktu yang sangat panjajang.

Kini, jika Anda sudah mulai banyak melahirkan tulisan, mengantongi sekian banyak piala dan piagam penghargaan, mengantongi nama koran dan majalah bergengsi yang pernah/sering memuat tulisan Anda, dan sudah melahirkan pula sekian banyak buku, tengoklah kembali semua itu. Anda akan segera tahu, apakah Anda sudah berada di jalan lurus sesuai garis nilai yang Anda perjuangkan, dan apakah garis lurus itu adalah garis yang Anda setujui atau tidak, ataukah sesungguhnya Anda masih saja berputar-putar di lereng (gunung) yang masih sangat jauh dari puncaknya.

Sampai muter-muter di beberapa halaman majalah ini pun tampaknya kita tak akan mendapatkan jawaban yang jelas mengenai pertanyaan: Siapakah penulis hebat itu. Sebab, saya hanya tahu siapa penulis yang tidak hebat, yakni mereka yang suka bertanya: ’’Tulisan seperti apakah yang digemari orang (pembaca) sekarang ini?’’ [Bonari Nabonenar]

Monday, 14 February 2011

PUISI DAN KEMISKINAN YANG DISEMBUNYIKAN

[Catatan Nurani Soyomukti]


“dipastikan tak berdampak sistemik
jika orang kecil bangkrut
dan menjerat leher sendiri dengan kawat
sebab untuk urusan rezeki dan maut
tuhan pun dikambinghitamkan
dipastikan tak berdampak sistemik
jika ibu putusasa membuang bayinya
sebelum menamatkan diri dengan minum obat serangga
sebab orang bisa matidini atau matitua

dipastikan tak berdampak sistemik
jika anakmuda memilih kehilangan ingatan bersama narkoba
daripada menatap masa depan mereka yang gelap gulita
sebab mereka hanya angka di dalam statistik
bisa diatur dengan sedikit utakatik

dan karena dipastikan tidak berdampak sistemik
tak diperlukan talangan perhatian buat mereka.”

(Puisi Bonari Nabonenar, Desember 2009)


Puisi Kang Bonari tersebut punya kekuatan menggugah. Hanya dengan beberapa baris kata, tidak perlu satu buku ekonomi yang terdiri dari beratus-ratus halaman, untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi. Tetapi dengan puisi yang memiliki pilihan kata (diksi)-nya tepat, kita semua tergugah. Bahwa kemiskinan dan orang miskin berusaha disembunyikan. Sebuah puisi yang level manfaatnya setaraf dengan analisa sosial yang dikerjakan oleh peneliti atau aktivis sosial yang reputasinya sudah internasional. Kenapa saya katakan demikian? Karena membaca puisi di atas, saya menemukan ungkapan hampir sama dengan kata-kata yang ditulis oleh aktifis sosial internasional, Jeremy Seabrook, yang dalam bukunya ”Kemiskinan Global” menuliskan berikut ini: ”Orang miskin dibentuk ulang dalam citra orang kaya. Mereka menjadi subjek berondongan publisitas dan iklan, untuk memiliki dan untuk membelanjakan... di kalangan yang terpinggirkan, budaya itu membangkitkan suatu karikatur partisipasi pasar kejahatan, penyalah-gunaan obat, kecanduan, persaingan... tersingkir dari pasar global, kaum muda menjadi prajurit bayaran transnasional, dalam kancah perang untuk memenangkan logo dan merk. Obsesi mereka pada emblem yang menunjukkan kepemilikan—kaos, jeans, pakaian olah-raga, telfon genggam—mendorong mereka melakukan apapun untuk menggenggam barang-barang itu”.

Mereka berusaha menutupi mata kita akan adanya fakta ketimpangan yang menyebabkan kejahatan dan eksploitasi itu. Caranya misalnya adalah dengan mengatakan bahwa kaya dan miskin itu sama saja. Bagi kita yang mengetahui hokum-hukum alam dan materi, tidak mungkin segala sesuatu yang secara material berbeda—bahkan meskipun perbedaan itu kecil—dapat dianggap sama. Dua hal yang secara material berbeda, tidak boleh dikatakan sama, karena dengan mengatakannya sama berarti menutup-nutupi realitas atau mengompromikan antara keduanya—alias “pukul rata”.

Dengan bahasa yang menggunakan agama sebagai tameng, banyak dari orang bodoh itu yang berkata bahwa: (1) “Kaya dan miskin itu sama saja dihadapan Tuhan; (2) “Belum tentu orang miskin itu sengsara, belum tentu juga orang kaya itu bahagia. Kadang orang miskin itu lebih bahagia daripada orang kaya”.

Orang yang mengatakan dan berpikir itu punya kecenderungan yang sangat negatif. Pertama, ia menganggap bahwa kaya dan miskin sama saja, ia membiarkan (tak peduli) pada adanya ketimpangan yang akibatnya sangat membahayakan bagi hubungan antar manusia. Dengan mengatakan bahwa perbedaan material antara kaya dan miskin sama saja, ia tak punya semangat untuk merubah kondisi itu, dia membiarkan saja karena tidak tahu bahwa kemiskinan disebabkan oleh suatu hubungan material (ekonomi) yang sangat eksploitatif—karena mungkin menurutnya hanya karena takdir Tuhan yang dianggapnya sangat wajar.

Kedua, dia tidak objektif atau tidak jeli dalam melihat kondisi sebenarnya—mungkin karena ungkapan semacam itu, meskipun seringkali kita jumpai, merupakan ungkapan yang paling banyak muncul di sekitar kita. Tidak objektif dan tentu saja tidak adil karena—kalau kita mau menganalisa secara mendalam—ketidakbahagiaan orang kaya adalah ketidakbahagiaan yang tingkat dan derajat atau kualitasnya berbeda. Orang kaya tidak bahagian mungkin karena tak puas pada kondisi tubuh gemuknya yang diakibatkan oleh terlalu banyak makan—pada saat orang lain kurang makan; atau tidak bahagia karena merasa kekurangan karena kekayaan membuat orang semakin serakah dan kian gengsi atau takut bersaing dengan orang kaya lainnya; tidak bahagia karena ia resah karena takut kalau rumahnya dimasuki pencuri, yaitu kalangan yang mencuri bukan karena “takdir” tuhan tetapi karena kondisi material kemiskinan; tak bahagia karena anaknya tiba-tiba mati karena gaya hidup orang kaya yang bebas, anaknya mati karena nge-drug over-dosis; tak bahagia karena karena kekayaannya ia mampu beristri dua, karena harus berbagi ia harus berkorban perasaan, belum lagi kalau istri pertamanya marah-marah—tak bahagia kalau ia ketahuan selingkuh atau ketahuan masyarakat saat “jajan” di rumah bordir; tak bahagia yang sebenarnya lebih disebabkan oleh hal yang remeh dan akibat ulahnya sendiri yang tak data berpikir solider, objektif, dan dilenakan oleh kondisi kekayaannya yang memanipulasi dirinya di hadapan orang lain.

Memandang—lebih tepatnya menggeneralisir—bahwa orang miskin belum tentu tidak bahagia juga membahayakan karena ia akan membiarkan kondisi kemiskinan dan sekaligus pandangan ini tak berdasarkan kenyataan. Dari hari ke hari, baik disadari atau tidak, orang miskin yang serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya adalah pihak yang paling merasakan kesusahan, bersamaan dengan tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang membuatnya menderita sakit da miskin.

Puisi Kang Bonari di atas sengaja saya kutip karena mengandung ketajaman dalam melihat persoalan yang ada di masyarakat kita. Sebagai bagian dari masyarakat di era kapitalis yang dilindungi oleh tentara dan angkatan perang dan dihiasi oleh jagat hiburan (entertainment) yang terdiri dari glamourisme seni-budaya borjuasi yang kualitasnya hanya sebatas citra teknologi, juga tatanan yang dilanggengkan secara politik-pemerintahan oleh seorang presiden yang hanya mengandalkan politik pencitraan, nasib orang miskin hanyalah sebatas bahan omongan.

Kemiskinan hanya jadi bahan kajian kaum intelektual agar mereka mendapatkan banyak uang dalam proyek penelitian dan pemberdayaan, sudah lama hal itu dilakukan terus-terusan, tetapi kemiskinan bukannya menurun tetapi malah menjadi-jadi. Jangan-jangan untuk mengubah dan menghilangkan kemiskinan sebenarnya tidak cukup hanya dengan intelektualitas, tetapi butuh keberanian dalam bertindak. Tidak butuh terlalu banyak seminar atau perdebatan di kalangan akademisi atau kalangan cendekia, karena kalau hanya omongan saja, kata-kata saja, tidak akan merubah apa-apa. Widji Thukul dalam puisinya:

"... dunia bergerak bukan karena
omongan para pembicara dalam ruang
seminar yang ucapnya dimuat
di halaman surat-kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak setelah surat-kabar itu dilipat."

Tetapi bukan berarti bahwa pengetahuan dan kata-kata tidak memiliki kekuatan dan manfaat. Tentu yang dibutuhkan adalah kata-kata dan pengetahuan yang progresif dan bukan pengetahuan yang konservatif. Pengetahuan yang progresif adalah yang mampu menunjukkan realitas objektif dan secara kritis menguak terjadinya suatu fakta penghisapan/pemiskinan. Intelektualitas progresif adalah yang dengan pengetahuannya dan kata-kata yang dikabarkannya pada orang lain mampu menunjukkan fakta terjadinya ketimpangan, lalu pengetahuan tersebut menimbulkan empati dan komitmen banyak orang untuk bertindak.

Sedangkan intelektual konservatif adalah kaum yang mengotak-atik pengetahuan hanya sekedar untuk membuat dirinya layak disebut kaum intelek atau suatu status yang dipamerkan untuk mendapatkan sesuatu: pujian dan uang. Intelektual konservatif ini tak lebih dari orang yang masuk ke dalam pengetahuan dengan batasan-batasan tertentu dengan mengompromikan kepentingannya untuk mendapatkan keuntungan dari sistem yang ada. Ia akan mencari pengetahuan dan mengabarkannya sebatas ada uang atau menghasilkan, sebatas ada proyek. Dan hasilnya pun tak akan menghasilkan tindakan bagi orang lain, tak menyadarkan, dan tidak kritis.

Jadi, yang dibutuhkan adalah pengetahuan dari kaum intelektual yang progresif yang mampu menguak ketimpangan dan keberlangsungan tatanan material penindasan. Ideologi dan pengetahuan semu yang melanggengkan tatatan penindasan punya kekuatan untuk menutup-nutupi realitas nyata, terutama realitas bahwa banyak orang miskin dan dimiskinkan kadang juga disembunyikan.*

dicomot dARI catatan facebook penulisnya

KENDURI MELLY

pagi kemarin melly mendarat di bumi pertiwi
di kampung halaman wajahnya berseri
dikerubuti tetangga kanan kiri
tapi keceriaan bundanya sore ini surut
sebab melly mothah bersungut-sungut
minta dibuatkan kendurian
peringatan hari kasih sayang
"gek kuwi ambengane piye ta ndhuk?"

dan tak kebayang pula
bagaimana Mbah Kariyo nanti malam
bingung piye le ngajatke

februri 2011