Wednesday, 30 March 2011

Menakar Kehebatan Seorang Penulis

Profesi penulis pastilah tidak mengungguli ’dokter’, ’menteri’, ’presiden’, ’pengusaha kaya’, dalam hal paling banyak dicita-citakan. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tidak sedikit orang, secara diam-diam maupun terang-terangan, kepengin menjadi penulis. Menjadi penulis hebat! Persoalannya sekarang adalah, penulis macam apa yang kita pandang sebagai penulis hebat itu? Apakah penulis yang bukunya laris bak kacang goreng, penulis yang menginspirasi banyak orang, ataukah penulis yang berhasil mengoleksi banyak piala/piagam kompetisi dan menang di berbagai perlombaan? Penulis yang bukunya laris bak kacang goreng secara serta-merta dapat kita nilai sebagai telah pula menginspirasi banyak orang. Tetapi menginspirasi untuk apa? Untuk berubah. Berubah ke arah mana? Menjadi manusia yang lebih konsumtif, menjadi manusia yang tak ketinggalan mode, atau bahkan menjadi manusia yang berani melawan arus? Arus yang mana pula?

Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Atau, setidaknya, saya hanya berkepentingan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada sidang pembaca. Dan berdamailah dengan jawaban Anda masing-masing.

Ada perasaan sukacita luarbiasa ketika tulisan kita untuk pertama kalinya dimuat di media cetak, apalagi di media cetak yang berwibawa. Seiring dengan pertukbuhan jam terbang sebagai penulis, hal seperti itu akan menjadi relatif biasa, walau rasa suka itu pasti tetap ada. Rasa sukacita luar biasa berikutnya akan muncul ketika berhasil melahirkan buku. Dan akan menjadi relatif biasa ketika semakin banyak buku dihasilkannya. Demikianlah, rentetan perasaan sukacita itu muncul pula saat, buku jadi best-seller, saat diangkat menjadi film dan ditonton jutaan pasang mata, dan dipuji-puji oleh ahlinya. Demikian pula saat seorang penulis berhasil mendapatkan gelar juara dalam sebuah perlombaan. Itulah rentetan ’keberhasilan’ yang tampaknya dalam jumlah keseluruhannya hanya dapat dinikmati sedikit penulis. Sebagian besar penulis hanya bisa mendapatkan satu, dua, atau beberapa di antara rentetan ’keberhasilan’ itu. Lalu, siapa penulis hebat? Nah, di sinilah uniknya. Fakta membuktikan, bahkan yang tampaknya sudah mengantongi seluruh daftar keberhasilan itu bisa jadi ternyata hanya mengantongi ’kehebatan’ sementara saja. Seperti sebuah lagu pop yang muncul di puncak tangga untuk beberapa bulan, dan setelah itu lenyap bagai di telan bumi. Sementara, di sisi lain, ada penulis yang seoalh tak begitu ’hebat’ tetapi ia ’berumur panjang’, bahkan jauh lebih panjang daripada usia tubuhnya, dengan segenap sanjungan dan predikat baik yang menyertai namanya.

Masih bingung? Jangan khawatir. Merasa bingung itu bagian dari tanda bahwa pikiran kita sedang ’jalan’. Sebelum terjerembab, ikutilah kisah pendek ini. Dalam suatu perlombaan menulis cerpen, seorang penulis yang jam terbangnya lebih banyak dikalahkan oleh ibarat bocah kemarin sore. Si Bocah Kemari Sore itu juara ke-2, sedangkan Si Pengarang Senior juara ke-3. Peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu. Perlombaan itu ternyata tidak menggusur kewibawaan Si Pengarang Senior, walau Si Kemarin Sore terangkat derajatnya karenanya.

Dunia Sunyi

Begitulah, masyarakat (pembaca) memiliki sistem penilaiannya sendiri. Karena itu, mengikuti lomba adalah cara yang baik untuk mengasah kemampuan menulis, tetapi ketika sukses mendapatkan gelar juara, janganlah lalu menjadi mabuk dan merasa sudah sampai di puncak. Tepuk tangan atau sanjungan dalam sebuah perlombaan itu hanya akan bertahan beberapa saat lamanya. Setelah itu akan kembali sepi. Dan, demikianlah, akal-akalan manusia saja membuat dunia kepenulisan menjadi dunia yang hiruk. Padahal, sesungguhnya, ia adalah dunia yang sunyi, yang justru karena kesunyiannya itulah banyak orang memburunya.

Tetapi, tak semua orang suka kesunyian macam itu. Ada yang melihat keberhasilan seorang penulis karena ia bisa pula menjadi semacam selebriti yang dielu-elukan para penggemarnya, yang tulisan-tulisannya selelu dikerubuti orang, bahkan ditunggu-tunggu, yang namanya tertulis dalam soal ujian anak-anak sekolah, yang menerima royalti ratusan juta rupiah, dan seterusnya. Maka, muncullah penulis-penulis dengan orientasi popularitas, kekayaan, dan hal-hal lain yang sifatnya harfiah. Apakah penulis demikian bukan pejuang nilai? Ya, pejuang juga tentunya. Tetapi, nilai-nilai yang diperjuangkan adalah nilai-nilai kebendaaan, dan bukannya nilai-nilai kemanusiaan. Yang memperjuangkan nilai kemanusiaan itulah, siapa pun, apakah ia seorang penulis ataukah seorang pekerja sosial, biasanya lebih dikenang untuk jangka waktu yang sangat panjajang.

Kini, jika Anda sudah mulai banyak melahirkan tulisan, mengantongi sekian banyak piala dan piagam penghargaan, mengantongi nama koran dan majalah bergengsi yang pernah/sering memuat tulisan Anda, dan sudah melahirkan pula sekian banyak buku, tengoklah kembali semua itu. Anda akan segera tahu, apakah Anda sudah berada di jalan lurus sesuai garis nilai yang Anda perjuangkan, dan apakah garis lurus itu adalah garis yang Anda setujui atau tidak, ataukah sesungguhnya Anda masih saja berputar-putar di lereng (gunung) yang masih sangat jauh dari puncaknya.

Sampai muter-muter di beberapa halaman majalah ini pun tampaknya kita tak akan mendapatkan jawaban yang jelas mengenai pertanyaan: Siapakah penulis hebat itu. Sebab, saya hanya tahu siapa penulis yang tidak hebat, yakni mereka yang suka bertanya: ’’Tulisan seperti apakah yang digemari orang (pembaca) sekarang ini?’’ [Bonari Nabonenar]

Monday, 14 February 2011

PUISI DAN KEMISKINAN YANG DISEMBUNYIKAN

[Catatan Nurani Soyomukti]


“dipastikan tak berdampak sistemik
jika orang kecil bangkrut
dan menjerat leher sendiri dengan kawat
sebab untuk urusan rezeki dan maut
tuhan pun dikambinghitamkan
dipastikan tak berdampak sistemik
jika ibu putusasa membuang bayinya
sebelum menamatkan diri dengan minum obat serangga
sebab orang bisa matidini atau matitua

dipastikan tak berdampak sistemik
jika anakmuda memilih kehilangan ingatan bersama narkoba
daripada menatap masa depan mereka yang gelap gulita
sebab mereka hanya angka di dalam statistik
bisa diatur dengan sedikit utakatik

dan karena dipastikan tidak berdampak sistemik
tak diperlukan talangan perhatian buat mereka.”

(Puisi Bonari Nabonenar, Desember 2009)


Puisi Kang Bonari tersebut punya kekuatan menggugah. Hanya dengan beberapa baris kata, tidak perlu satu buku ekonomi yang terdiri dari beratus-ratus halaman, untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi. Tetapi dengan puisi yang memiliki pilihan kata (diksi)-nya tepat, kita semua tergugah. Bahwa kemiskinan dan orang miskin berusaha disembunyikan. Sebuah puisi yang level manfaatnya setaraf dengan analisa sosial yang dikerjakan oleh peneliti atau aktivis sosial yang reputasinya sudah internasional. Kenapa saya katakan demikian? Karena membaca puisi di atas, saya menemukan ungkapan hampir sama dengan kata-kata yang ditulis oleh aktifis sosial internasional, Jeremy Seabrook, yang dalam bukunya ”Kemiskinan Global” menuliskan berikut ini: ”Orang miskin dibentuk ulang dalam citra orang kaya. Mereka menjadi subjek berondongan publisitas dan iklan, untuk memiliki dan untuk membelanjakan... di kalangan yang terpinggirkan, budaya itu membangkitkan suatu karikatur partisipasi pasar kejahatan, penyalah-gunaan obat, kecanduan, persaingan... tersingkir dari pasar global, kaum muda menjadi prajurit bayaran transnasional, dalam kancah perang untuk memenangkan logo dan merk. Obsesi mereka pada emblem yang menunjukkan kepemilikan—kaos, jeans, pakaian olah-raga, telfon genggam—mendorong mereka melakukan apapun untuk menggenggam barang-barang itu”.

Mereka berusaha menutupi mata kita akan adanya fakta ketimpangan yang menyebabkan kejahatan dan eksploitasi itu. Caranya misalnya adalah dengan mengatakan bahwa kaya dan miskin itu sama saja. Bagi kita yang mengetahui hokum-hukum alam dan materi, tidak mungkin segala sesuatu yang secara material berbeda—bahkan meskipun perbedaan itu kecil—dapat dianggap sama. Dua hal yang secara material berbeda, tidak boleh dikatakan sama, karena dengan mengatakannya sama berarti menutup-nutupi realitas atau mengompromikan antara keduanya—alias “pukul rata”.

Dengan bahasa yang menggunakan agama sebagai tameng, banyak dari orang bodoh itu yang berkata bahwa: (1) “Kaya dan miskin itu sama saja dihadapan Tuhan; (2) “Belum tentu orang miskin itu sengsara, belum tentu juga orang kaya itu bahagia. Kadang orang miskin itu lebih bahagia daripada orang kaya”.

Orang yang mengatakan dan berpikir itu punya kecenderungan yang sangat negatif. Pertama, ia menganggap bahwa kaya dan miskin sama saja, ia membiarkan (tak peduli) pada adanya ketimpangan yang akibatnya sangat membahayakan bagi hubungan antar manusia. Dengan mengatakan bahwa perbedaan material antara kaya dan miskin sama saja, ia tak punya semangat untuk merubah kondisi itu, dia membiarkan saja karena tidak tahu bahwa kemiskinan disebabkan oleh suatu hubungan material (ekonomi) yang sangat eksploitatif—karena mungkin menurutnya hanya karena takdir Tuhan yang dianggapnya sangat wajar.

Kedua, dia tidak objektif atau tidak jeli dalam melihat kondisi sebenarnya—mungkin karena ungkapan semacam itu, meskipun seringkali kita jumpai, merupakan ungkapan yang paling banyak muncul di sekitar kita. Tidak objektif dan tentu saja tidak adil karena—kalau kita mau menganalisa secara mendalam—ketidakbahagiaan orang kaya adalah ketidakbahagiaan yang tingkat dan derajat atau kualitasnya berbeda. Orang kaya tidak bahagian mungkin karena tak puas pada kondisi tubuh gemuknya yang diakibatkan oleh terlalu banyak makan—pada saat orang lain kurang makan; atau tidak bahagia karena merasa kekurangan karena kekayaan membuat orang semakin serakah dan kian gengsi atau takut bersaing dengan orang kaya lainnya; tidak bahagia karena ia resah karena takut kalau rumahnya dimasuki pencuri, yaitu kalangan yang mencuri bukan karena “takdir” tuhan tetapi karena kondisi material kemiskinan; tak bahagia karena anaknya tiba-tiba mati karena gaya hidup orang kaya yang bebas, anaknya mati karena nge-drug over-dosis; tak bahagia karena karena kekayaannya ia mampu beristri dua, karena harus berbagi ia harus berkorban perasaan, belum lagi kalau istri pertamanya marah-marah—tak bahagia kalau ia ketahuan selingkuh atau ketahuan masyarakat saat “jajan” di rumah bordir; tak bahagia yang sebenarnya lebih disebabkan oleh hal yang remeh dan akibat ulahnya sendiri yang tak data berpikir solider, objektif, dan dilenakan oleh kondisi kekayaannya yang memanipulasi dirinya di hadapan orang lain.

Memandang—lebih tepatnya menggeneralisir—bahwa orang miskin belum tentu tidak bahagia juga membahayakan karena ia akan membiarkan kondisi kemiskinan dan sekaligus pandangan ini tak berdasarkan kenyataan. Dari hari ke hari, baik disadari atau tidak, orang miskin yang serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya adalah pihak yang paling merasakan kesusahan, bersamaan dengan tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang membuatnya menderita sakit da miskin.

Puisi Kang Bonari di atas sengaja saya kutip karena mengandung ketajaman dalam melihat persoalan yang ada di masyarakat kita. Sebagai bagian dari masyarakat di era kapitalis yang dilindungi oleh tentara dan angkatan perang dan dihiasi oleh jagat hiburan (entertainment) yang terdiri dari glamourisme seni-budaya borjuasi yang kualitasnya hanya sebatas citra teknologi, juga tatanan yang dilanggengkan secara politik-pemerintahan oleh seorang presiden yang hanya mengandalkan politik pencitraan, nasib orang miskin hanyalah sebatas bahan omongan.

Kemiskinan hanya jadi bahan kajian kaum intelektual agar mereka mendapatkan banyak uang dalam proyek penelitian dan pemberdayaan, sudah lama hal itu dilakukan terus-terusan, tetapi kemiskinan bukannya menurun tetapi malah menjadi-jadi. Jangan-jangan untuk mengubah dan menghilangkan kemiskinan sebenarnya tidak cukup hanya dengan intelektualitas, tetapi butuh keberanian dalam bertindak. Tidak butuh terlalu banyak seminar atau perdebatan di kalangan akademisi atau kalangan cendekia, karena kalau hanya omongan saja, kata-kata saja, tidak akan merubah apa-apa. Widji Thukul dalam puisinya:

"... dunia bergerak bukan karena
omongan para pembicara dalam ruang
seminar yang ucapnya dimuat
di halaman surat-kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak setelah surat-kabar itu dilipat."

Tetapi bukan berarti bahwa pengetahuan dan kata-kata tidak memiliki kekuatan dan manfaat. Tentu yang dibutuhkan adalah kata-kata dan pengetahuan yang progresif dan bukan pengetahuan yang konservatif. Pengetahuan yang progresif adalah yang mampu menunjukkan realitas objektif dan secara kritis menguak terjadinya suatu fakta penghisapan/pemiskinan. Intelektualitas progresif adalah yang dengan pengetahuannya dan kata-kata yang dikabarkannya pada orang lain mampu menunjukkan fakta terjadinya ketimpangan, lalu pengetahuan tersebut menimbulkan empati dan komitmen banyak orang untuk bertindak.

Sedangkan intelektual konservatif adalah kaum yang mengotak-atik pengetahuan hanya sekedar untuk membuat dirinya layak disebut kaum intelek atau suatu status yang dipamerkan untuk mendapatkan sesuatu: pujian dan uang. Intelektual konservatif ini tak lebih dari orang yang masuk ke dalam pengetahuan dengan batasan-batasan tertentu dengan mengompromikan kepentingannya untuk mendapatkan keuntungan dari sistem yang ada. Ia akan mencari pengetahuan dan mengabarkannya sebatas ada uang atau menghasilkan, sebatas ada proyek. Dan hasilnya pun tak akan menghasilkan tindakan bagi orang lain, tak menyadarkan, dan tidak kritis.

Jadi, yang dibutuhkan adalah pengetahuan dari kaum intelektual yang progresif yang mampu menguak ketimpangan dan keberlangsungan tatanan material penindasan. Ideologi dan pengetahuan semu yang melanggengkan tatatan penindasan punya kekuatan untuk menutup-nutupi realitas nyata, terutama realitas bahwa banyak orang miskin dan dimiskinkan kadang juga disembunyikan.*

dicomot dARI catatan facebook penulisnya

KENDURI MELLY

pagi kemarin melly mendarat di bumi pertiwi
di kampung halaman wajahnya berseri
dikerubuti tetangga kanan kiri
tapi keceriaan bundanya sore ini surut
sebab melly mothah bersungut-sungut
minta dibuatkan kendurian
peringatan hari kasih sayang
"gek kuwi ambengane piye ta ndhuk?"

dan tak kebayang pula
bagaimana Mbah Kariyo nanti malam
bingung piye le ngajatke

februri 2011

Friday, 21 January 2011

PUISI BAIK BAGI KESEHATAN

ini puisi buruk
tetapi baik bagi kesehatan:


sebab manusia pemakan segala
mereka hanya perlu sadar takaran
untuk menjaga kesehatan
sayur, buah, dan biji-bijian
bahkan bisa jadi obat yang menyembuhkan
tak sekadar mengenyangkan
tetapi melahap sawah dan ladang
hutan dan bebukitan
hanya akan menimbulkan penyakit
dan penderitaan tujuh turunan


ini puisi buruk
tetapi baik bagi kesehatan:


dianjurkan rajin bergerak badan
jalan kaki dan bersenam
dan janganlah harihari dilewatkan
dengan berpangku tangan

untuk kesehatan
jangan pula suka menendang
dan menyikut kiri dan kanan

ini puisi buruk
tetapi baik bagi kesehatan:


membaca puisi
atau sekadar mendengarkan
juga baik bagi kesehatan
sebab sebuah puisi adalah makanan
bagi jiwa, seperti selembar daun
sayuran bagi badan

2010

Thursday, 6 January 2011

NEGARA KANG KELANGAN PUSAKA, UTAWA….

Wauta kang cinarita, anenggih Nagri Indonesia Raya. Nagri nugrahaning Gusti, kang kebegan kaskayaning bawana, wiwit ingkang warni papan subur, ilen-ilen, thethukulan, sato kewan, lan padunung rong atus yuta langkung cacahira. Estu punika nagri kang (kedahipun) panjang punjung, pasir-wukir, gemah ripah lohjinawi. Eman sanget dene dugi sapriki sedaya wau mung kandheg dumugi teori. Pratandhane: polahe jalma manungsa pindha gabah deninteri.

Wiramane sampak. Sampak kuwi wirama seseg, kemrungsung. Ya kaya mengkono kuwi candra swasanane negara iki. Tansah kemrungsung. Rampung perang kembang antarane aparat karo para mahasiswa/demonstran kang nglairake tatanan anyar ingaran reformasi kang nganti saiki ya durung cetha jluntrunge, susul-sinusul kedadeyan-kedadeyan ngeram-eramake. Ana lakon Cecak mungsuh Bajul, ana Geger Bank Century, nganti tekan prekara goyas-Gayus nglelingsemi.

Para anung-anunging praja samya udreg rebut panguwasa, samya nggugu karsaning priyangga, mengko yen kesel prekentengan ngenggar-enggar sarira plesir nyang tlatah manca sinamudana program studi banding amrih bisa disangoni negara. Rakyat mung bisa nonton polahe-tandange para penggedhe ing layar kaca.

Wauta kang kacarita. Pating bilulung polahe para kawula. Pating bleber nggendhong keba luru rombeng satepining marga, ngongkreh-ongkreh pawuhan lan ngebur peceren mbokmanawa ana kang bisa digawa.

Kang katrajang murkaning bawana samya keplantrang ing pangungsen, sambate ngaruara.

Para taruna kang jibeg nguber lowongan wekasan keplayu nyang bumi sabrang adol bahu menyang para juragan bangsa manca. Dadi jurumudi kapal misaya mina, wekasane malah kaparentah nggangsir kaskayaning samodra, nyolong iwak ing perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Uga ana sing kaladuk cupeting graita, temah nglalu nguncalake ragane saka puncaking mall, pralambange urip kang keburu donya.

Sesa-sesa pethakilane wong mulya, sesa-sesa polahe wong cintraka. Uga ana kang adol kamardikane, trima dadi narapidana beteke butuh dhuwit sepuluh yuta.

Eloke, ekonomi ngrembaka nyundhul angka kang ngedap-edapi. Dhuwit ditandur ing sadhengah papan, ana kala-mangsane sinambi ngrabasa wong ringkih. Brahala winangun ing endi-endi, ing kutha, ing karang padesan. Kreta kencana pating bleber ngebaki ratan, adu dhisik kaya balapan. Pamberunge mesin wor-suh lan swarane wong pepriman.

Wiramane isih sampak. Seseg. Kemrungsung. Kapan bakal tumekane jaman kencana-rukmi, murah sandhang, murah Lombok, murah pangan, lan ora ana wong wedi kejengkang saka papan padunungane? Tanpa wilangan pawongan kang tansah kelunta-lunta saka impen siji nyang impen seje, saka impen iki nyang impen candhake, impen kang gilir5-gumanti tekane, mbarengi mangsa pilkades, pilkada, pileg, lan liya-liyane.

Negara kang candrane kaya mangkono iku, yen ing pakeliran bisa dibadhe, apa kang dadi jalarane. Padatane, pusaka andel-andeling praja lagi ilang cinidra dening mungsuh, upamane yen Negara Amarta kelangan Jamus Kalimasada, yen Ndwarawati kelangan Cakra. Utawa, ana mungsuh kang ora mung nyidra pusaka andel-andeling praja, nanging mikut Sang Narendra, banjur memba-memba dadi paraga (narendra gung binathara) kang dicidra kuwi mau.

Mula ana kang asung pratelan manawa satemene Negara Indonesia Raya titi mangsa iki lagi kelangan pusaka andel-andel kang ingaran Pancasila. Yenn isih ana murid kang apal utawa ana tulisan kang ditemplekke tembok, iku mung dhapur tulisan utawa apalan. Nanging jiwa utawa semangat Pancasila kang satemene wus oncat saka batine Bangsa Indonesia. Utawa, malah….

Dlang tak tung-tung…!

Thursday, 30 December 2010

2010: TAHUN PENUH TANDA TANYA

pitakone suta marang naya
: kowe melu sapa?
pitakone buruh marang juragan
: kapan kowe dhamang
ajine kringet lan kamardikan?



Kowe melu sapa? Kamu ikut siapa? Itu pertanyaan yang sangat sederhana. Apalagi jika hanya berkaitan dengan keberangkatan sebuah rombongan darmawisata. Tetapi, lalu menjadi rumit ketika menyangkut pilkada, pilkades, pileg, dan pil-pil lainnya. Apalagi jika kemudian berujung tawar-menawar dan jual-beli suara. Dan dari pertanyaan sederhana itulah tumbuh perkara yang terus membesar dan semakin runyam.

Pertanyaan berikutnya: pertanyaan buruh kepada sang majikan: kapankah kau akan paham harga keringat dan kemerdekaan? Saya pun tidak punya penjelasan yang baik untuk pertanyaan ini, yang gaungnya terus menggema, bahkan di kota kita ini.

Mengapa Malaysia yang tidak memiliki gunung berapi itu seolah tanahnya lebih subur dan rakyatnya lebih makmur daripada negri kita yang nyaris dipenuhi gunung berapi? Mengapa pula negri jiran yang jumlah penduduknya hanya 27 sekian juta jiwa itu memiliki kesebelasan yang lebih berjaya dibandingkan negri kita yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa? Apakah karena mereka menyurangi kesebelasan kita dengan sinar laser dan kesebelasan kita lupa memakai kacamata hitam?

Daftar pertanyaan ini bisa kita perpanjang sampai esok, atau lusa. Dan saya semakin tak tahu apa jawabnya, sampai kemudian saya teringat, pada suatu hari seorang Suparto Brata menawarkan ini: ’’Mas Bonari, jika untuk keharmonisan dunia itu diperlukan tiga orang dewa, maka kita telah kehilangan salah satunya. Kita ini seperti tidak lagi memiliki Dewa Wisnu, dewa yang bertugas memelihara, merawat, dan menjaga.’’

Dua orang dewa lainnya adalah Dewa Pencipta dan Dewa Pemusnah, Syiwa dan Brahma. Mereka masih bersama kita. Karena itulah kita terus mencipta dan tak henti-henti memusnahkan. Gedung-gedung baru diciptakan, dan tak jarang pula dengan merusak gedung-gedung lama yang sesungguhnya lebih bernilai. Tarif listrik pun diciptakan yang baru, dengan merusak tarif yang lama.

Dalam dunia wayang, Dewa Wisnu itu biasanya mengejawantah pada sosok pemimpin besar, misalnya: Prabu Rama, Raja Ayodyapala, Prabu Kresna, Raja Dwarawati.

Nah, kini sampailah kita pada pertanyaan yang saya tahu jawabannya. Apa yang mesti kita lakukan ketika ’’Dewa Wisnu’’ itu tak karuan di mana tempatnya? Jawabannya adalah: Bermain cantik seperti Firman Utina dan (tobat) Nashuha beserta kawan-kawannya tadi malam itu. Ingatlah: bermain cantik, bermain cantik, dan bermain cantik. [bonari nabonenar]

Untuk parade kuliah kebangsaan di fisip unair, Kamis, 30 Desember 2010

Saturday, 18 December 2010

Lha Wong Istilahnya saja Kacau..!

Tanggal 18 Desember 2010 kemarin, seperti ditulis Wahyu Susilo dari Migrant Care (Kompas, 18/12) bertepatan dengan 20 tahun Konvensi Internasional untuk Perlindungan Buruh Migran dan Anggota Keluarganya. Sudah 20 tahun, dan Indonesia masih ’njintel’ saja, belum meratifikasinya!

Dalam tulisan berjudul Sesat Pikir soal PRT Migran itu Wahyu mendedah beberapa kesalahan (kesesatan) pola pikir ’Pemerintah’ mengenai profesi Pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran. Antara lain Wahyu menulis, ’’Konstruksi sesat pikir yang terus dibangun oleh pemerintah adalah dengan menyebut PRT migran sebagai sebagai pekerja tak berketrampilan (unskilled) dan informal.’’

Apa yang disampaikan Wahyu Susilo itu sebenarnya hanya dapat ’dibantah’ oleh siapa yang hanya berpura-pura tidak paham. Jangankan di ranah yang lebih pelik, di tataran pemakaian istilah saja, harus diakui: masih kacau. Marilah kita catat bahwa hingga saat ini, bahkan di tataran bahasa, masih juga berlaku istilah TKI, TKW, yang diciptakan tanpa logika itu.

TKI adalah singkatan dari Tenaga Kerja Indonesia. Itu berarti semua manusia Indonesia usia produktif secara logis adalah TKI, bahkan walau ia menganggur. Maka, menyebut TKI hanya bagi tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di uar negri adalah tidak masuk akal alias tidak logis.

Ada lagi istilah TKW sebagai singkatan dari Tenaga Kerja Wanita. Ini, setidaknya mengandung 3 kesalahan: (1) diskriminatif gender, (2) seperti halnya TKI tadi, yang bekerja di Indonesia pun kalau jenis kelaminnya perempuan ia juga TKW kan, secara logis? Dan bahkan: (3) karena TKW dan bukan TKWI, maka sebenarnya semua perempuan atau wanita usia produktif yang sehat jasmani dan rohani adalah TKW, termasuk yang menganggur, tanpa memandang kewarganegaraan dan di mana mereka bekerja.

Di luar urusan pekerja atau buruh migran, sebenarnya kita juga punya cukup banyak masalah berkaitan dengan istilah yang mengandung: "wanita" --misalnya: ada Dharma Wanita dan tidak ada Dharma Pria, ada Wanita Tuna Susila, mengapa tidak ada istilah Pria Tuna Susila. Terutama untuk yang terakhir itu, de facto-nya ada banget, bukan?

Lalu, khusus untuk PRT, pemerintah menciptakan pula istilah PLRT, singkatan dari Penata Laksana Rumah Tangga. Haiya! Kok malah jadi sibuk membentuk istilah? Makin kacau, ada paradoks juga di balik sebutan ciptaan pemerintah, ’’Penata Laksana Rumah Tangga’’ itu. Ini istilah yang sangat gagah, yang mengesankan adanya pengakuan (oleh pemerintah) bahwa pekerja rumah tangga adalah profesi formal. Bukan informal. Kata ’penata’ itu segera menhgngatkan pada sebuah jenjang kepangkatan dalam kepegawainegerian: Penata Tingkat I dst, Penata Muda (untuk Golongan 3-A ?) –eh ada Penata Tua juga enggak ya?

Tetapi? Kembali seperti yang disebut Wahyu Susilo sebagai kesesatan pikir tadi itu, istilah-istilah itu seolah hanya diciptakan dengan semangat asal njeplak saja. Buktinya, bahkan di tengah-tengah masyarakat kita pun masih banyak yang berpikiran bahwa PRT bukan pekerja, melainkan hanya pembantu. Lho, gimana ta? Mosok pembantu kok mengerjakan lebih banyak daripada yang dibantu? Jan sontoloyo tenan kok! [ehek-ehek]


FOTO: YANY WIJAYA KUSUMA