Thursday, 17 December 2009

CINCIN BERNAMA

Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.

Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya

"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"

Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.

"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"

Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!

Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)

Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!

Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.

"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."

"Boleh aku ikut?"

"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."

"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"

"Ya. Kenal dia?"

"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."

"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."

Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.

Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"

Oh, ya?"

"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"

"Cincin."

"Ha?"

"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."

"Hah…?"

"Apakah permintaanku berlebihan?"Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.

"Kau selalu di hatiku," gombalnya.

"Ah, terlalu dalam.

Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.

Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.

"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.

"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."

"Ya, kirimkan rindumu padaku."

"Tentu!"

Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi.

Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.

"Thing, thung, thing…." Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.

"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian.

Aku merindukanmu!"

"Oh, aku juga."

"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."

"Rasanya, aku juga."

"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"

"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."

"Mabuk? Aku tak suka minum."

"Mabuk asmara, maksudku."

"Ah, percayalah padaku."

"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"

"Sekarang juga!"

"Ha…? Sekarang…?"

"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."

"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"

"Oh, istriku….!"

"Ya, suamiku…!"

"Chpmshshmmmm…..!"

"Mmmmuach…!"Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."


2004

*) Seks in the Kost, judul buku karya Iip Wijayanto (Penerbit Tinta, Jogjakarta, 2003).

Cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos

Saturday, 12 December 2009

TAK BERDAMPAK SISTEMIK

dipastikan tak berdampak sistemik
jika orang kecil bangkrut
dan menjerat leher sendiri dengan kawat
sebab untuk urusan rezeki dan maut
tuhan pun dikambinghitamkan


dipastikan tak berdampak sistemik
jika ibu putusasa membuang bayinya
sebelum menamatkan diri dengan minum obat serangga
sebab orang bisa matidini atau matitua

dipastikan tak berdampak sistemik
jika anakmuda memilih kehilangan ingatan bersama narkoba
daripada menatap masa depan mereka yang gelap gulita
sebab mereka hanya angka di dalam statistik
bisa diatur dengan sedikit utakatik

dank karena dipastikan tidak berdampak sistemik
tak diperlukan talangan perhatian buat mereka


Desember 2009

Saturday, 5 December 2009

KENANGAN

: trenggalek

terkutuklah jika kueja kenangan
hanya untuk kesenangan
sebab selembar gelap bisa lebih berharga
daripada pijar menyilaukan


mengapa kau batu
perempuanku
sebisu pasir
sebiru laut

ombak nyinyir bergenit-genit
seperti sengaja menyindir
anak pantai menahan sakit
kelelawar terusir
dari lorong bebatuan gigir bukit

katakanlah
sebab puisi paling gagal pun
cukup indah mengabarkannya
: kenangan yang tak enyah oleh seribu banjir


sebab selembar gelap bisa lebih berharga
daripada pijar menyilaukan
mari kita bernyanyi untuk makam
dan nama-nama yang ingin dilupakan
: ziarah kampung halaman


Desember 2009

Jawa Pos Minggu, 6 Desember 2009

LAKILAKI YANG MENYINTAI REMBULAN

lakilaki celaka
tertangkap basah mencuri selendang malam
segera dijebloskan ke dalam tahanan
sebelum sebulan
tertangkap basah melubangi atap ruangan
--katanya untuk melihat wajah rembulan
yang dicintainya


lakilaki celaka
kesepian siang malam
meratapi rembulan
tersangkut di dahan

Des 2009

Jawa Pos Minggu, 6 Desember 2009

Thursday, 26 November 2009

Karena Hidup Bukan Sinetron

Seorang gadis terlunta-lunta, menjalani hidup dengan beban penderitaan nyaris melewati batas yang mampu ditanggung seorang manusia. Kemiskinan, kekejaman ayah atau ibu tiri, dan perlakuan negatif kawan sebayanya mengisi hari-harinya. Tetapi, seperti lazimnya dongeng, pada akhirnya datanglah pertolongan, melalui tangan peri baik hati atau seekor katak penjelmaan pangeran tampan. Kisah pun diakhiri dengan peristiwa terbebasnya sang gadis dari segenap penderitaannya, memasuki dunia baru yang penuh dengan sukacita, termasuk di antaranya pernikahan sang gadis dengan pangeran tampan itu.

Tetapi, bagian ’sukacita’ itu, namanya juga akhir cerita, atau ending, biasanya hanya menempati beberapa paragraf atau sehalaman dua halaman dari sebuah buku yang tebal. Dengan menghentikan kisahnya, sang pendongeng sesungguhnya ingin mengabadikan momentum ’sukacita’ itu. Sayangnya, kehidupan ini sendiri tidak bisa diperlakukan seperti itu. Kehidupan mesti berjalan terus, sampai batas waktu yang tan kinayangapa alias tak terjangkau akal manusia.

Maka, berkaitan dengan lakon besar dan paling menghebohkan dalam kehidupan bernegara kita belakangan ini –maaf jika di sini terpaksa digunakan istilah yang sesungghuhnya sudah dianjurkan untuk dilupakan: Cicak vs Buaya, kita mesti bersiap-siap untuk menerima sejenis kekecewaan, apa pun ujung kisahnya nanti.

Lakon Cicak vs Buaya memang layak disebut sebagai lakon besar bukan hanya karena ia menyangkut tokoh-tokoh besar di negri ini, melainkan juga hebat dramaturginya. Kualitas maupun kuantitas tokoh-tokohnya, alur yang sarat suspense, dan segala hal yang dibutuhkan untuk terpenuhinya syarat sebagai sebuah lakon besar ada padanya. Juga, jika kita menggunakan parameter yang sederhana: gelak tawa dan linangan airmata, kehormatan dan kehinaan, termasuk keterlibatan urusan: harta, tahta, wanita.

Seorang kawan malah berani mengatakan bahwa lakon besar kita kali ini dapat saja mengarah ke sebuah puputan, perang besar yang berakhir dengan sampyuh: mereka yang berhadap-hadapan atau kedua belah pihak sama-sama ’mati’ (tidak dalam pengertian harfiah). Kalau ada yang dapat disebut sebagai pemenang, boleh jadi ia atau mereka berada di pihak ketiga, keempat, dan seterusnya. Atau, jangan-jangan pihak lain itu pun (terkhusus: rakyat banyak) harus ikut menerima kekalahan pula. Dan itulah ending yang negatif (sad ending) yang tentu lebih dari sekadar mengecewakan.

Nah, bagaimana halnya jika yang terjadi kemudian adalah happy ending? Tadi sudah disinggung bahwa apa pun ujung kisah ini, karena ini terjadi di dalam kenyataan faktual atau di dalam kehidupan nyata dunia manusia, tetap saja ia berpotensi mengecewakan.

Adalah sebuah perang besar dalam kisah Mahabarata, Perang Baratayuda namanya. Perang besar yang dimulai dari meja judi itu menghadapkan dua kerajaan besar: Kerajaan Astina dengan Kerajaan Amarta, yang sebenarnya masih sedarah (sama-sama keturunan Barata). Dua wayang bersaudara kandung pun harus berhadap-hadapan dalam perang tersebut, yakni Raden Arjuna dengan Prabu Karna, berakhir dengan kematian sang kakak: Karna. Baratayuda juga disebut-sebut sebagai peperangan antara kejahatan (diwakili pihak Astina) dengan kebaikan (Amarta). Baratayuda adalah salah satu contoh kisah happy ending. Setelah mengalahkan musuh-musuhnya, Raden Wrekudara atau Sang Bima pun tayungan (menari, mengekspresikan kegembiraannya): kemenangan dan kesenangan yang sempurna? Bertanyalah kepada mereka yang kehilangan saudara, anak, dan suami. Bahkan, kejayaan Negri Amarta seusai Baratayuda adalah kejayaan yang sepi.

Beratus tahun para pendahulu kita berperang melawan penjajah, dan kemenangan pun didapat: kemerdekaan. Tetapi, kemerdekaan itu bukanlah akhir. Bahkan, ternyata hanya sebuah ’jembatan’ menuju cita-cita: adil, makmur, sejahtera. Dan mereka yang merasa tak kunjung mendapatkan kesejahteraan suka berkelakar untuk melepaskan kegetiran dengan kalimat begini, ’’Mending dijajah Belanda!’’ Lho, lho!

Ada lagi peristiwa tumbangnya Rezim Orde Lama yang kemudian digantikan Rezim Baru. Korban jiwa tak terbilang. Itu kisah happy ending juga bukan? Ah, andaikata seperti kisah rekaan dan hanya berhenti sampai di situ! Sayangnya, kita tidak bisa mengabadikan kemenangan Rezim Orde Baru seperti para kawi menamatkan ceritanya, seperti pengarang mengakhiri novelnya. Juga, ketika Rezim Orde Baru pun pada akhirnya tumbang (1998) menandai dimulainya era baru yang disebut sebagai Era Reformasi.

Setelah perjuangan yang lama dan memakan banyak korban, kemenangan seperti hanya didapat sepanjang tepuk tangan mengiringi akhir sebuah pertunjukan. Setelah itu, kita dipaksa mengingat mitos Sisipus yang dipercanggih oleh Albert Camus itu. Kenyataannya, kita pun seperti harus mendorong batu ke puncak gunung hingga batu itu menggelundung kembali ke lembah dan harus melakukannya kembali, berulang-ulang, sampai mati!

Sebagai bangsa kita telah mengoleksi cukup banyak kemenangan spektakuler, tetapi hampir selalu gagal merawat kemenangan itu dengan baik. Itulah intinya, atau kita hanya mau pasrah sebagai Sisipus, hanya menikmati sukacita atas kemenangan demi kemenangan sepanjang tepuk tangan seusai pertunjukan, sepanjang satu atau dua paragraf, atau sehalaman dua halaman dari buku yang tebal. Padahal, hidup ini bukan sinetron atau novel, kawan! [bn]

Monday, 23 November 2009

Memeras Kesenian

Bonari Nabonenar*

Saya masih di Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur ketika program Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) Jatim digagas dan kemudian digulirkan oleh Taman Budaya (salah satu UPT Dinas Pendidikan) Jatim awal 200-an. Pertama digelar di Blitar, dan kemudian menyusul pula Festival Kesenian Kawasan Utara Jatim.


FKKS dan kemudian juga FKKU seolah-olah mengobati kegelisahan kalangan masyarakat/seniman yang sebelumnya melihat banyak agenda-agenda kesenian Jawa Timur cenderung terpusat di Surabaya seperti: Festival Cak Durasim, Festival ’’Surabaya Full Musik’’, Festival Seni Surabaya, dan lain-lainnya. Ndilalah, sekarang ketika dua agenda besar: Festival Cak Durasim dan Festival Seni Surabaya sedang tak jelas kelanjutannya, FKKS dan FKKU masih menunjukkan keberlangsungannya. Bedanya, jika awalnya FKKS maupun FKKU adalah program Taman Budaya Jatim yang notabene berada di bawah naungan Dinas Pendidikan, kini keduanya menjadi program Dinas Pariwisata dan Budaya (sengaja tidak dipakai nama yang sebenarnya: Dinas Budaya dan Pariwisata) Jatim.

Karena FKKS adalah program Dinas Pariwisata dan Budaya, kita tak perlu lagi heran ketika ia diarahkan untuk, ’’menggenjot PAD (pendapatan asli daerah)’’ seperti diberitakan RaTu, Selasa (18/11). Apakah salah kalau Disparbud (lagi-lagi: sengaja dibalik) mengeksploitasi kesenian dan hal-hal lain di dalam cakupan kerjanya untuk meningkatkan pendapatan? Tentu saja tidak. Tidak salah. Bahkan, bukankah itu salah satu tugas utama departemen ini: mendapatkan pemasukan sebanyak-banyaknya dari sektor pariwisata?

Kita hanya perlu bertanya: kalau kesenian itu diibaratkan sapi, para pemerahnya sudah ngantri, lalu siapa paling bertanggungjawab merawat, menjaga, dan meningkatkan kualitas kehidupannya? Ambil satu contoh jenis kesenian, seni bahasa atau yang biasa disebut dengan kesusasteraan. Pernah saya mengeluh dalam sebuah rapat (waktu saya masih di Komite Sastra DK-Jatim) dengan Subdinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, bahwa di Jawa Timur kesusasteraan sangat kurang diperhatikan. Jawaban yang kami terima adalah, ternyata, memang institusi itu tidak mengemban tupoksi (tugas pokok, fungsi) dalam hal pembinaan dan pengembangan kesusasteraan: sastra Indonesia, dan apalagi sastra daerah. Pada kesempatan-kesempatan berikut pertanyaan dan jawaban seperti itu terulang. Maka, beberapa kali, diambillah semacam terobosan, membuat acara sastra, lomba cipta dan baca/musikalisasi puisi dengan tema ’kepahlawanan’. Jadi, judul proyeknya adalah penguatan nilai-mnilai kepahlawanan itu, bukan secara terang-terangan mengembangkan kesusasteraan.

Nafsu ’memeras’ kesenian itu terlihat dengan jelas pula dalam sebuah naskah perda (semoga sekarang sudah diamandemen, atau dianulir) salah satu kabupaten di Jawa Timur ini yang menyebut atau mengelompokkan Pemilik Sound System sebagai seniman. Dengan begitu kita tahu bahwa itu adalah cara untuk bisa menarik pajak dari perusahaan jasa persewaan sound system tersebut.

Tak mengapalah, jika Departemen Pariwisata dan Budaya memang diberi wewenang untuk ’menjual’ segala potensi wisata termasuk kesenian. Tetapi, pada momentum pelaksanaan FKKS di Trenggalek dalam beberapa hari ini kita layak mengingatkan bahwa mesti ada yang mau mengurusi kesenian dan kebudayaan pada umumnya demi kesenian dan kebudayaan itu sendiri, untuk menjadikan masyarakat semakin tinggi peradabannya, dan tidak tersungkur ke dalam jurang kedangkalan hidup.

Keadaan bangsa yang sedang terpuruk, terutama secara ekonomi, juga menambah alasan pentingnya melakukan hal-hal yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi. Tetapi, perlu tetap diingat bahwa membina dan mengembangkan kesenian/kebudayaan adalah satu hal, dan ’menjual’-nya adalah hal lain. Sebaiknya jangan mengurusi kesenian seperti orang lapar. Karena, ketika ekonomi ditempatkan di atas kebudayaan akibatnya seperti yang kini pun bisa kita lihat, banyak orang berteriak kelaparan, tetapi mereka ternyata tidak ’’lapar nasi’’, tidak ’’haus air’’ melainkan ’’lapar pulsa’’ atau ’’haus bensin.’’ Ada lho, orang mengaku miskin dan sedang lapar, tetapi ketika diberi uang yang pertama kali dibeli adalah pulsa!

Kita tidak bisa dan tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa sebagian warga bangsa ini memang benar-benar miskin dan lapar dalam pengertian yang sebenarnya. Tetapi harus diketahui pula bahwa tidak sedikit di antara yang terkena penyakit kurang gizi itu bukan karena kurang makan, melainkan karena rendahnya tingkat ’kebudayaan’ atau kurangnya pengetahuan mereka mengenai cara-cara mengelola/mengolah bahan makanan yang tersedia.

Jadi, siapa sekarang yang mau peduli pada kesenian/kebudayaan milik bangsa ini? Apakah kita mau menyerahkan urusan pembinaan dan pengembangannya kepada bangsa lain, dan kita hanya mau jadi pengecernya saja? [bonarine@gmail.com]

*) Penulis adalah pengampu blog: www.bonarine.blogspot.com

RaTu, 21 November 2009

Wednesday, 18 November 2009

Angka dan Badai

Oleh : Bonari Nabonenar

Tiga, empat: tujuh! Itu bukan nama angka keramat, tentu. Juga bukan kandidat untuk keluar sebagai nomor toto gelap. Itu hanya hasil utik-utikku secara iseng. Iseng banget. Bukankah anak kecil yang masih cedal pun tahu kalau tiga ditambah empat sama dengan tujuh? Aku sendiri juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba aku tertarik untuk iseng dengan deretan angka. Padahal, biasanya aku selalu pasang muka masam setiap berpapasan dengan angka-angka. Mereka sering menipu, setahuku, atau paling tidak demikianlah citra mereka (para angka) di benakku. Mereka kadang juga terlalu sok. Sok apa sajalah! Di perpustakaan sekolah, aku selalu mengindari buku-buku yang sarat dengan angka. Maka jangan heran kalau guru yang sering kudoakan agar tidak bisa hadir di sekolah adalah guru matematika. Oh, ya! Aku mulai benar-benar benci angka-angka sejak sekolah menengah pertama. Ketika masih di bangku sekolah dasar, aku tergolong jago berhitung (saat itu belum popular istilah matematika). Satu-satunya mata pelajaran yang nilaiku sukses diungguli kawan lain sekelasku adalah kesenian! Lah, suaraku memang jelek, nafasku juga cekak. Dan kalau menyanyi suka terseret ke dalam nada-nada yang tak jelas jenis kelaminnya, nilainya, rasanya!


Tapi, aku punya teman yang suka membuatku pusing tujuh keliling dengan cerita-ceritanya. Namanya Budi. Bukan Budi kakak Iwan. Bukan Budi adik Wati. Tetapi Budiman Ariadi (bernama begitu karena ia diharap jadi orang baik budi dan selalu ingat bahwa ia lahir di hari yang sangat berkesan: Idul Fitri!)

Lhadalah! Budi pun, kemudian, malah suka menggodaku karena ia tahu jika cerita-ceritanya selalu memusingkanku. Tetapi, ia masih tergolong lumayan baik budinya karena tak pernah tega membiarkanku jatuh terpingsan-pingsan, dengan menghentikan ceritanya begitu melihat wajahku tegang bagaikan perawan kebelet pipis tak ketulungan.

Budi suka bercerita dengan menjejalkan sekian banyak angka ke dalam kalimat-kalimatnya. Ia memang pandai bercerita. Orang selain aku akan betah berlama-lama mendengarkan cerita Budi. Hanya aku saja yang tak betah berlama-lama, tampaknya!

Tanyalah Budi, misalnya, dengan kalimat ini, ’’Apa yang kau ketahui tentang Ines?’’ Maka, jika tensinya lagi bagus, Budi akan nyerocos berkisah tentang Ines yang mantan pacarnya itu. Kira-kira begini:

’’Ines memang cantik. Cerdas pula. Ia anak pertama keluarga Abdul Hamid dan Arimbi Risangayu. Ia mantan pacarku. Aku jatuh cinta kepadanya pada tanggal sepuluh bulan delapan tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh, pas kurs dolar melonjak dari tiga ribu ke delapan ribu rupiah! Bayangkan, lonjakan setinggi itu! Orang bisa mati berdiri! Dan Presiden yang terkenal sakti pun terjengkang dengan lonjakan semacam itu! Tetapi Inez memang tidak sekadar sakti. Ia cantik sampai di hati, dan aku pun tertunduk dan memasrahkan diri ke haribaan kecantikannya itu. Ines tentulah akan telah jadi istriku kini, andai orang tuaku dan orang tuanya tidak menentang kehendak kami, hanya gara-gara angka dua puluh lima, yang didapat dengan mengutak-atik hari kelahiranku dan hari kelahiran Ines! Aku hampir bunuh diri karena putus asa. Ines pun jadi ngenes. Berat badannya menurun drastic, dari lima puluh satu kilogram ke empat puluh lima. Tetapi, itu yang membuatnya diterima masuk sekolah modeling yang paling bergengsi di kota kami tanpa tes. Dan aku pun bangkit dari keputusasaan dengan gaya orang bangun tidur setelah melewati mimpi buruk yang sangat menakutkan. Pagi terasa indah. Dan itulah saat paling mengesankan, ketika aku mulai bisa menerima kegagalan cinta, gagal menyunting perempuan yang sudah tiga ratus kali kuajak nonton bersama, dua ribu seratus lima belas kali kukecup bibirnya, dan….’’

’’Oh! Maaf! Aku mau semaput!’’

Maka, pingsanlah aku! Angka-angka itu telah menyeretku ke dalam arus deras yang memusar ke dalam lubang tanpa dasar. Dan aku telah jadi orang tanpa sadar.

Lhadalah! Dua lima! Dua puluh lima! Bukankah jadinya tujuh juga: dua ditambah lima, seperti halnya tiga ditambah empat juga sama dengan tujuh? Dua puluh lima saja pun, tanpa deretan angka lainnya telah sukses menghabisiku. Apalagi jika ditambahi angka-angka lain. Seperti temanku yang lain lagi, Pawestri, yang gemar sekali menyebut angka-angka, mengulanginya, meralatnya, dan menyebut ulang lagi, dan seterusnya, seolah satu angka menjadi gosip yang bisa tak karuan ujung-pangkalnya jika ia bersama Pawestri.

’’Aku menyimpan ratusan kartu telepon di rumah (maksudnya voucher bekas isi ulang, pengarang) yang nilainya telah kukirimkan ke cowokku,’’ kata Pawestri suatu sore, dan pada sore yang sama di dua hari berikutnya, ia telah dengan yakin mengatakan ini, ’’Oh, tadi aku telah menghitungnya dengan teliti, dan ternyata kartu telepon itu ada seratus dua puluh tiga. Biarlah itu kusimpan sebagai kenang-kenangan, bisa kupandang-pandang ketika hatiku geram digerus dendam.’’

’’Dan kau akan mengirimkan berapa banyak voucher isi ulang untuk pacar barumu yang sekarang ini, Tri!’’ tanyaku bercanda.

’’Untuk Mas Soleh?’’

’’Loh, emang berapa biji pacarmu sekarang?’’

’’Yang gelap apa yang terang?’’

’’Yang remang-remang! Uh, dasar!’’

’’Loh, orang bertanya kok sewot. Kebalik, tahu enggak? Aku yang pantas sewot saja malah cengengesan lah kok situ yang sewot!’’

’’Hm. Iyalah. Kau memang pinter berkelit. Maaf, mungkin karena kesehatanku lagi kurang baik, sebab akhir-akhir ini aku sering pingsan. Jadi emosiku pun labil. Bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa menyebutkan angka?’’

’’Ya, perbaiki dulu pertanyaanmu, loh!’’

’’Pertanyaanku sudah baik. Tapi, aku sendiri juga heran, mengapa aku gampang pingsan ketika berhadapan dengan angka-angka.’’

’’Oh, apa kau punya pengalaman buruk, misalnya nyaris atau bahkan pernah diperkosa Guru Matematika!’’

’’Ya pastilah! Setiap berdiri di muka kelas, Guru Matematika itu memerkosaku. Memaksa menjejalkan angka-angka ke dalam otakku yang tak lagi berani menjerit apalagi meronta!’’

’’Oh. Barangkali aku bisa mencobakan sebuah resep….!’’

’’Resep apa?’’

’’Biar kau tidak lagi alergi dengan angka-angka. Tidak sakit karena mereka, apalagi pingsan sia-sia! Kau boleh pingsan saat melihat Anjas Asmara bertelanjang bulat di keramaian menjelang bulan Puasa, tetapi jangan hanya karena angka-angka.’’

Maka, berceritalah Pawestri kepadaku, tentang seorang teman kami yang lain lagi, yang bernama Anjani, yang suka bermain-main dengan Permata Cermin Seribu Galaksi, yang beberapa hari lalu memeriahkan hari kelahirannya dengan pesta rujak cingur dan sayur lodeh sambal terasi dipadu nasi punel dan bakar gurami disantap beramai-ramai di sebuah taman di seberang pantai, lalu ada yang menari dan menyanyi-nyanyi meriah sekali!

’’Anjani telah melewati tahun ketigapuluh empat. Jangan tegang! Tiga puluh empat, itu mengandung angka tiga, nol –yang tidak dutuliskan, dan empat. Kosong itu disebut juga nol, karena wajahnya bulat. Nah, bayangkanlah sebuah bulatan berada di tengah-tengah pertigaan. Maksudnya simpang tiga. Biasanya orang tak perlu pusing ketika menentukan akan menempuh jalan yang mana saat berada di persimpangan (simpang dua, pengarang). Sebab simpang dua itu wataknya tegas, kontras! Tetapi simpang tiga mulai bias. Dan simpang empat, lebih bias lagi, karena ia tak selalu searah dengan mata angin. Maka berpikirlah kau tentang tiga, tentang empat, tentang kosong! Sebab kau tak boleh terus menerus dibuat pingsan. Kau mesti melawan! Maka, sekali lagi, berpikirlah tentang tiga, tentang empat, sebelum sampai pada hasil penjumlahan dari keduanya: tujuh. Dan pada saat yang tepat, kau akan tahu: tujuanku, tujuanmu, tujuan kita. Sebab jika kita berjalan tanpa menyadari tujuan kita, tak ubahnya kita hanya berputar-putar di tempat seperti orang-orang orang-orang berjalan atau berlari mengelilingi alun-alun kota.’’

Tiba-tiba Gedung Perpustakaan di seberang itu tercabut dari tanah, membubung tinggi, meliuk-liuk, dan badai sangat besar mempermainkannya, menghamburkan buku-buku, meja, kursi, komputer, dan langit pun mendadak gelap: hujan angka!

’’Lihatlah, betapa indahnya!’’ seru Pawestri. ’’Dan tahukah kau, sekian banyak kata itu jika kita sempat menjumlahkannya, akhirnya ketemu juga: tujuh!’’ Pawestri berteori.

Setelah itu aku tak mendengar kata-kata lagi.

Trenggalek, Okt 2009

Surabaya Post, Minggu, 8 Nopember 2009