Friday, 16 May 2008

Siapakah ’Pelaku Pembunuhan’ Itu?

Sekitar pukul 09.49 WIB, rombongan ini melintas di wilayah Ngawi, Jawa Timur menuju Sragen, Solo. Namun saat berada di perbatasan Ngawi-Sragen, tepatnya di kawasan hutan Widodaren, sepeda motor besar yang tunggangi Sophan menghantam lubang besar. Seketika itu juga, sepeda motor tersebut oleng dan akhirnya terjatuh. [dari: detik.com]

Semoga arwah seniman yang juga politisi itu diterima di sisi-Nya. Banyak hal bisa dicatat dari kejadian ini. Salah satu di antaranya, adalah bahwa pihak mana yang memegang amanat membangun dan merawat jalan raya, dan membiarkannya rusak berlubang-lubang seperti itu, secara tidak langsung adalah ’’pelaku pembunuhan’’ atau terlibat dalam urusan ’hilang’-nya nyawa/jiwa orang, manusia, bukan hanya Sophan Sophiaan, tetapi juga sekian banyak jiwa yang lain. [pembaca peduli]

Menyaksikan Anak Gagap yang Kini Jadi Motivator *)


Setelah jeda cukup lama karena kelahiran bayinya, Natasya Ensa Motivani (3 bulan), Eni Kusuma (31) kembali menjalani profesinya yang baru hitungan bulan ditekuni menyusul penerbitan bukunya, Anda Luar Biasa!!!. Kali ini Eni tampil di hadapan para guru di bawah naungan Diknas Kabupaten Bojonegoro (Gedung Serbaguna Kab. Bojonegoro, Minggu, 20 April 2008).

Luar biasa, bersama Dr Ismet Basuki dari Unesa, di hari yang panasnya lumayan menyengat itu Eni harus berbicara di hadapan sekitar 1.000 orang guru! Bisa begitu banyak yang datang, tampaknya, karena ada iming-iming sertifikat yang kini sedang populer bersamaan dengan digalakkannya program sertifikasi guru.

Akibat membludagnya peserta, selain cukup banyak yang tak kebagian kursi, pendaftaran ulang, mengisi daftar hadir, pun memerlukan waktu lama, sehingga acara yang semula dijadwal mulai pukul 08.30 itu baru sekitar pukul 10.00 dimulai.

Eni dapat giliran bicara pertama. Sebagai motivator, Eni bertutur bagaimana dia ketika menjadi pekerja rumah tangga di HK bisa menyisihkan waktu untuk membaca dan menulis hingga menghasilkan buku pertamanya yang laku keras itu. Eni menilai, banyak orang kepengin bisa menulis tetapi tak kunjung menghasilkan tulisan karena beberapa hal, di anataranya: takut dikritik, merasa tak layak, dihantui teknik menulis yang dianggap baik dan benar. ’’Untuk menulis topik ini kan banyak yang lebih berkompeten daripada saya yang hanya Sarjana 1, bukankah yang sarjana 2 atau strata 2 saja tidak berani menulisnya?’’ lebih-kurang demikian Eni menyuarakan pikiran orang-orang yang diduganya terlalu minder untuk memulai menulis itu.

Eni yang hingga lulus SMA mengaku sebagai anak gagap biacara itu (ia baru belajar menghilangkan kegagapannya bersamaan dengan belajar berbahasa Kantonis di HK: ’’Saya merasa, orang akan menganggap karena saya belum lancar berbahasa Kantonis sehingga kalimat saya selalu patah-patah, dan perasaan demikian membantu saya untuk terus belajar tanpa rasa malu karena sebenarnya gagap,’’ akunya) pun berbicara cukup lancar, dan panjang, sehingga moderator harus beberapa kali mengingatkannya bahwa waktunya sudah habis.

Saking bersemangatnya berbicara, Eni tampaknya lupa bahwa di belakangnya ada moderator yang bertugas, antara lain mengundang penanya/penanggap setelah ia selesai berbicara. Eni mengundang sendiri peserta untuk bertanya. Ada 3 orang penanya. Penanya pertama perempuan, penanya berikutnya 2 orang laki-laki. Dua penanya terakhir itu, kalau boleh saya sampaikan dengan bahasa saya, intinya adalah, mereka menilai bahwa Eni Kusuma dapat menghasilkan banyak tulisan karena Eni menulis dengan mengabaikan teknik-teknik penulisan. [Hebatnya, tanggapan/penilaian semacam itu dilontarkan dengan entengnya oleh guru yang sebelumnya secara tidak langsung mengaku belum membaca tulisan/buku Eni Kusuma. Sebelum memulai menyampaikan paparannya Eni bertanya kepada peserta, siapa gerangan yang telah membaca buku Anda Luar Biasa!!! dan tidak seorang pun mengaku telah membacanya].

Materi tanggapan/pertanyaan orang ketiga mirip dengan yang telah dilontarkan penanya kedua. Penanya ketiga itu sempat menyisipkan pertanyaan apakah tulisan-tulisan seperti yang ditulis oleh Eni Kusuma, yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah itu bisa dinilai sebagai penambah poin fortopolio untuk mengikuti program sertifikasi guru, mengingat seminar sehari itu digelar dalam rangka merangsang para guru untuk bisa menulis demi peningkatan profesionalitas mereka. Lalu, sempat pula dilontarkan, apakah Eni masih akan meneruskan karirnya sebagai pembicara/motivator.

Pertanyaan terakhir itu tidak sempat terjawab oleh Eni yang tampak terlalu bersemangat dan agak bertele-tele menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya (terasa Eni agak emosional) sehingga moderator harus beberapa kali mengingatkan bahwa waktunya sudah habis.

Tetapi, saya cenderung menilai, bisa saja keliru, bahwa pertanyaan, ’’Apakah Eni akan meneruskan karirnya sebagai motivator/pembicara publik?’’ itu didorong oleh kesangsian akan kualitas pembiacaraan Eni, baik esensi maupun cara penyampaiannya. Penanya tanpaknya ragu, dan saya kira di dalam benaknya tersimpan pula pertanyaan begini, ’’Kalau hanya begini-begini, siapa lagi yang akan mengundangnya untuk jadi pembicara?’’

Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah di hari yang terik itu Eni telah berbicara di tempat yang salah? Padahal, ketika berbicara di hadapan para profesional di bidang marketing di Jakarta, di forum yang di sana pernah berbicara pula orang-orang sekaliber Tung Dasem Waringin, Andre Wongso, dan Hermawan Kertajaya, Eni bisa tampil memukau, sehingga seorang peserta sempat menawarinya untuk berbicara dari kota ke kota di seluruh Indonesia.

Terasa bahwa para guru di Gedung Serbaguna itu lebih membutuhkan resep ces-pleng, resep jitu, untuk membuat naskah atau tulisan yang dituntut oleh program sertifikasi. Tentunya ini bukan tuntutan yang salah. Tetapi, orang hebat macam apakah yang bisa membuat para sarjana yang bukan penulis menjadi penulis yang andal hanya dalam sehari? Lihatlah jurusan-jurusan di berbagai perguruan tinggi yang menyekokkan ilmu menulis ratusan SKS kepada setiap mahasiswanya itu. Lalu, berapa gelintir mahasiswa yang lulus dan bisa menulis dengan baik? Budi Darma, dalam beberapa tulisannya, antara lain dalam Solilokui (Gramedia, 1982) dengan tajamnya mengritik para akademisi kita yang kebanyakan hanya bisa membuat mozaik, menjejer-jejerkan teori para pakar, mengutip-ngutip pendapat orang lain untuk tulisannya, dan sangat gagap ketika harus membuat simpulan, kedodoran ketika harus menganalisis. Lalu kita akan tahu pula duduk persoalannya, mengapa sedemikian njomplang perbandingan antara jumlah skripsi, tesis, dan bahkan disertasi yang dihasilkan oleh para akademisi kita dengan yang layak terbit sebagai buku.

Maka, paling tidak menurut penilaian saya, buku Anda Luar Biasa!!! yang ditulis Eni Kusuma itu lebih bernilai, lebih ilmiah, daripada skripsi ’mozaik’ yang dibuat oleh seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya.

Bagaimana HK?

Bermcam-macam reaksi BMI-HK atas karya tulisan (buku) yang dihasilkan oleh sesama (atau mantan) BMI-HK. Ada yang sertamerta menyambutnya dengan antusias, senang, salut, dan tertarik untuk membaca dan memiliki bukunya, ada yang dingin-dingin saja, tetapi ada pula yang kurang atau bahkan tidak menghargai alias menyepelekannya.

Sebagai contoh, ketika memoar Rini Widyawati Catatan Harian Seorang Pramuwisma, yang oleh Dr Nalini pun dipuji sebagai karya yang hebat, sempat dikomentari seorang BMI-HK seperti ini, ’’Memang seperti itulah gambarannya BMI-HK. Bahkan ada yang lebih seru daripada yang diceritakan Rini. Aku membaca buku itu, dan enggak sampai habis, karena ya itu tadi, biasa bangetlah!’’

Terhadap Eni Kusuma pun saya sempat mendengar beberapa komentar miring dari kalangan BMI-HK. Misalnya begini, kalau saya katakan lagi dengan kata-kata saya, ’’Siapa sih Eni Kusuma itu? Kayaknya dia tidak pernah nongol di organisasi kepenulisan di kalangan teman-teman di HK, kok tiba-tiba dia sebegitu dielu-elukannya?’’ Lalu, ada pula yang berkomentar bahwa Eni Kusuma itu orangnya sombong, mungkin karena merasa telah jadi penulis hebat….’’

Benarkah demikian? Eni pernah bercerita bahwa waktu bekerja di HK ia hanya diberi libur sehari dalam sebulan. Itu pun biasanya ia habiskan di perpustakaan untuk mengetik ulang dan mengirimkan tulisan-tulisannya ke www.pembelajar.com, di situlah kini Eni jadi salah seorang kolumnis tetap. Lalu, saya kadang berpikir, jika Eni mesti membalas semua email yang ia terima, ia bisa kehilangan waktu untuk menuliskan artikel-artikelnya. Kalau ia mesti membalasi semua SMS yang ia terima, bisa jadi ia akan kehilangan banyak royalty yang mestinya ia terima, padahal kini ia tidak punya sumber penghasilan lain, selain dari tulisan dan ceramah-ceramahnya.

Lalu, sekarang coba, apakah Anda masih akan bertanya, siapakah Etik Juwita itu? Yang ’tiba-tiba’ cerpen Bukan Yem-nya masuk dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008? Etik memang telah banyak menulis cerpen, dimuat di media cetak di Indonesia maupun di HK. Tetapi, dibandingkan dengan Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Indra Tranggono, Beni Setia, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lainnya itu, Etik masih boleh disebut pengarang atau cerpenis ’tiban’. Maksudnya, ia masih kencur kalau yang dinilai adalah ’’usia kepengarangannya.’’ Tetapi, untuk penilaian terhadap karya, jika jujur, justru harus sejauh-jauhnya dihindari pertimbangan ’siapa’ penciptanya, apakah orang baru ataukah orang lama.

Jika ada seorang BMI-HK yang kemudian jadi penulis hebat dan sertamerta juga menjadi congkak, sombong, dan sejenisnya, sebenarnya itu urusan lain. Kalau pun kita tidak menyukai kepribadiannya, cobalah kita berpikir ulang, apakah serta-merta kita harus pula membenci karyanya? Asal tahu saja, karya-karya mereka itu, diakui atau tidak, telah menanamkan andil yang sangat besar dalam mengubah pandangan orang (dari negatif ke positif), terutama masyarakat Indonesia terhadap BMI, khususnya BMI-HK. Nah!

Kita memang manusia. Omong kosong jika tidak memiliki rasa iri. Tetapi, kita bisa belajar untuk menekan rasa iri itu agar tidak tumbuh menjadi dengki. Masih banyak waktu dan arena tergelar sedemikian luasnya untuk berkompetisi. Marilah kita budayakan, meminjam kata-kata bijak orang saleh, ’’berlomba-lomba dalam kebaikan.’’ Membiarkan dengki tumbuh dan memupuk kebecian kepada orang-orang yang kepada mereka seharusnya kita belajar (atau setidaknya mengambil pelajaran dari mereka) hanya akan membuat kita jadi semakin kerdil. Percayalah! [Bonari Nabonenar]

*) dimuat di Majalah Peduli edisi Mei 2008, dalam versi lain dimuat di www.jawakini.com dengan judul Menggurui Guru sambil Membela Eni Kusuma.

Tuesday, 6 May 2008

Pakde Karwo di Friendster


Langkah Sekdaprov Jatim Soekarwo mengenalkan diri ke publik menjelang pemilihan gubernur Jatim patut diacungi jempol. Bakal calon gubernur dari PDIP ini juga memanfaatkan media maya yang sedang digandrungi alias friendster.

Selain friendster yang saat ini lagi digandrungi semua usia, Soekarwo yang akrab disapa Pakde ini juga gencar mengkampanyekan diri melalui media outdoor reklame maupun pamflet.

Kabarnya friendster Pakde itu dibuat oleh anak kandung Pakde yang mengenyam pendidikan di Negeri Kanguru Australia. Desain friendster Pakde Karwo ini dominan warna merah jambu dan backgroundnya adalah gambar kartun Pakde berkopiah.

Dalam friendster itu terdapat foto Soekarwo dan di kolom Shoutout bertuliskan “DR Soekarwo (Pakde Karwo Calon Gubernur Jawa Timur. Ingat Tanggal 23 Juli 2008 Coblos Pakde Karwo)”. Dan di dalam layanan pertemanan populer tersebut juga terdapat foto-foto dirinya bersama istrinya Ny Nani Soekarwo semasa muda.

Pantauan detiksurabaya.com, Selasa (2/10/2007) malam, friendster milik Pakde ini sudah memiliki 181 teman. Berbagai komentarpun diberikan oleh kawan-kawan mayanya yang bergabung dalam jaringan pertemanan tersebut. Salah satunya komentarnya “Semooga Pakde Sukses”.

Pakde Karwo ketika dikonfirmasi anaknya yang menempuh pendidikan di Australia yang bernama Ferdian Timur Satyagraha. “Friendster itu inisiatif anak saya dan
teman-temannya anak yang kuliah di Australia,” ujarnya. (wln/gik)

Asline di detikDOTcom

Thursday, 1 May 2008

Lah, Jorok, Gimana Mau Laris?

Dua orang laki-laki muda membuka warung tenda di pinggir jalan yang cukup ramai. Saya melihatnya setelah beberapa hari ke luar kota. Mungkin warung itu baru buka hari itu, saat pertama kali saya melihatnya, atau beberapa hari sebelumnya. Seperti sekian banyak warung tenda lainnya, menu andalannya adalah nasi sambal dengan lauk tempe, tahu, ayam, bebek, kepiting, dan lele goreng.

Saya yang tergolong berselera pemberani (maksudnya: suka makan pedas) pun penasaran untuk menyobanya. Kasihan, warung baru itu agaknya belum mendapatkan pelanggan. Hanya seorang dua orang saja yang datang, pun kadang hanya melongok dan segera balik kanan begitu lauk yang dicarinya tidak tersedia.

Saya pun tertarik mengamati karena, pikir saya, kedua laki-laki muda ini adalah orang-orang yang tak mau tinggal diam, sementara banyak laki-laki seusia mereka suka kebut-kebutan dengan sepeda motor pemberian orangtua mereka, ini malah berusaha. Berani menyoba berbisnis di saat mereka masih tergolong muda. Kira-kira seusia anak SMA-lah mereka. Sungguh membanggakan.

Tetapi, pelahan-lahan rasa bangga itu terkikis tatkala melihat potongan daging ayam dan bebek yang ada di nampannya, yang siap digoreng itu. Potongan-potongan dada, paha, sayap dan kepala itu tampak begitu jorok karena banyak bulu yang belum tercabut. Perut yang tadi terasa lapar pun mendadak tidak lagi kepengin makan.

Tambah lagi, salah seorang di antara mereka, merokok tak putus-putusnya sambil meracik nasi bungkus dengan lauk sambal dan bebek goreng yang saya pesan. Agak mending bagi saya, karena saya pun perokok. Coba, kalau pembelinya seorang perempuan atau laki-laki pun, yang benci rokok, pastilah bau asap rokok itu akan melekat di nasi, bungkusnya, dan akan terus tercium sampai kapan pun.

Dua laki-laki muda ini layak diacungi jempol dalam hal kegigihannya berusaha. Tetapi, sungguh kasihan, mereka tampak sangat minim wawasan, bagaimana melayani pembeli, bagaimana memersiapkan diri sebagai seorang pengusaha warung yang berpotensi menuai sukses. Lah, kalau gayanya begitu, melayani pembeli sambil terus klepas-klepus rokokan, dan menyabuiti bulu ayam atau bebek saja nggak bisa benar-benar bersiah, bagaimana warungnya bisa laris atau ramai pembeli? Itulah pertanyaan besarnya. [peduli-24]

Sunday, 27 April 2008

Mengganti Kebut-kebutan dengan Kunjungan ke Panti Anak Yatim

Iki meh wayahe Lulusan bocah-bocah sekolah. Biasane, yang udah lulus lalu merayakannya dengan naik motor kebut-kebutan, saling mengotori baju dengan coretan-coretan yang takkaruan, dengan cat, dengan spidol, dan bahkan tahun lalu ada yang merayakan kelulusan itu dengan cium-ciuman habis-habisan.

Ini memang pemandangan yang sudah mentradisi di Indonesia kita. tetapi, dengan ini saya menawarkan kepada teman-teman yang kini sedang berada di luar negri, khususon yang ada di HK, yang mnerasa memiliki anggotakeluarga: anak, adik, keponakan, dan lain-lain, mohon diajak mengumpulkan baju-baju seragam mereka, untuk tidak dikotori dengan coretan cat dan spidol, untuk diserahkan kepada yang lebih memerlukannya. Disumbangkan kepada fakir bukanklah lebih hebat daripada dicorat-coret tak karuan begitu? Juga, betapa akan semakin indahnya jika kegiatan kebut-kebutan itu diganti dengan kunjungan ke Panti Asuhan, ke asrama anak-anak yatim, dan sebagainya.

Jika para orangtua dan bahkan para guru yang ada di Indonesia sudah tak begitu mereka gubris nasihat-nasihatnya berkaitan dengan "ritual kelulusan" ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kawan-kawan kita di HK punya cukup "kekuasaan" untuk memaksa mereka melakukan kebaikan-kebaikan itu. Mau tak? Di situ soalnya. Oh, mau, ya? Salam!

Tuesday, 8 April 2008

Mengadili Para Penulis Hantu

Tulisan Imam Cahyono berjudul Ghost-Writers (JP Minggu, 4 September 2005) sungguh menggelitik. Topik ini sebenarnya bisa digiring ke arah yang lebih fokus, dengan kepala yang sedikit lebih dingin, sehingga, misalnya, tidak memunculkan simpulan yang tampaknya terlalu menghakimi seperti dikemukakan Cahyono ini,

’’Ghost-writers telah berbohong kepada publik dan melakukan pembodohan masal. Alih-alih memberikan teladan dan menyumbangkan gagasan melalui karya-karya intelektual, hasil karya penulis hantu sejatinya malah menjerumuskan. Misi pencerahan dan edukasi pun nihil sebab hal ini berangkat dari ketidakjujuran.’’

Jika seorang Camat atau Bupati, misalnya, membayar seorang ’penulis hantu’ untuk menyusun pidatonya dan lahirlah pernyataan-pernyataan yang berpihak kepada rakyatnya, rasanya tidak ada yang perlu dirisaukan. Bukankah kelak, jika ternyata Sang Camat atau Sang Bupati mengeluarkan kebijakan publik yang bertentangan dengan isi pidatonya rakyat tinggal ’’memukulnya’’ dengan cara nagih janji, atau tidak memilih mereka lagi untuk masa jabatan berikutnya?

Dalam dunia sastra, misalnya, para penulis hantu bisa mengacaukan peta, mengaburkan bakal sejarah, dan mengecoh para peneliti yang dengan susah-payah telah memeras otak, mengucurkan keringat dan dana yang tidak sedikit, dengan penuh kejujuran. Sebab, seorang aktris bahenol yang ejaan pun belum paham benar, bukan mustahil dalam sekejap disulap menjadi seorang penyair, novelis, atau cerpenis oleh ’penulis hantu’.

Bisa merepotkan juga memang. Tetapi ’hantu-hantu’ seperti itu (dalam dunia kesusastraan) sudah bermunculan sejak zaman dahulu kala. Serat Darma Gandhul dan Gatholoco adalah dua buah contoh karya sastra yang ditulis oleh orang yang rasanya susah dipahami jika nama aslinya adalah Tanpa Aran seperti yang tercantum, sebab artinya adalah ’tanpa nama’ alias anonim. Saya pernah membaca buku yang diterbitkan dari hasil penelitian (studi teks) –maaf saya lupa penulisnya—yang mengemukakan dugaan kuat bahwa pengarang Darma Gandhul dan Gatholoco sebenarnya ialah Ronggo Warsito yang sering disebut-sebut sebagai pujangga terakhir dalam Sastra Jawa itu.

Lalu ada lagi nama Ki Panji Kusmin yang sosok sebenarnya juga masih misterius hingga saat ini, yang pernah menggegerkan dunia kesusastraan dan pengadilan di Indonesia karena cerpennya Langit MakinMendung. Ketika si pengarang (Ki Panji Kusmin) harus diseret ke meja hijau, justru HB Jassin yang maju, bukannya mengakui bahwa dia adalah pengarang yang juga memakai nama samaran Ki Panji Kusmin, melainkan sebagai sebentuk tanggung jawab karena ia --sebagai Redaktur Horison yang pernah memuat cerpen Langit Makin Mendung-- tidak bersedia membuka jatidiri pengarang yang telah memakai nama Ki Panji Kusmin itu. Dengan demikian, hingga kini Ki Panji Kusmin tetap boleh disebut sebagai pengarang/penulis ’hantu’?

Memang,’hantu’ seperti yang banyak disebut oleh Cahyono jelas berbeda dengan ’hantu’ yang menghasilkan Darma Gandhul, Gatholoco, maupun Langit Makin Mendung. Tetapi, justru di sinilah antara lain titik awal yang bisa kita perhatikan untuk mengurai benang kusut ’perhantuan’ dalam dunia kepenulisan/kepengarangan kita, untuk mendapatkan simpulan-simpulan yang lebih adil.

Rezim yang represif sering pula mendukung perkembangbiakan ’penulis hantu’. Jika seseorang merasa terancam untuk menyampaikan sebuah kebenaran yang diyakininya, menyamarkan diri dengan menulis menggunakan nama samaran adalah jalan yang terbaik, setidak-tidaknya jauh lebih baik daripada ia mendiamkan, misalnya, sebuah kezaliman melenggang di depan matanya.

Dalam kesusastraan, seorang Suparto Brata misalnya, memiliki banyak nama samaran. Ia menggunakan nama M Soleh ketika menulis cerita-cerita agamis (Islam), menggunakan nama Peni untuk menulis cerita yang mengambil sudut pandang (point of view) perempuan. Biasanya, sebagai pembaca, saya akan mengalami semacam gangguan estetis ketika membaca sebuah cerita yang ditulis oleh lak-laki dengan tetap menggunakan nama aslinya, sedangkan cerita itu sendiri meluncur dari ’aku’ seorang perempuan. Nah, seberapa berdosakah pengarang-pengarang yang ’menghantukan diri’ semacam Suparto Brata itu?

Dalam kaitannya dengan Sang Camat atau Sang Bupati atau Sang Gubernur yang ’memelihara’ seorang atau beberapa orang ’penulis hantu’ memang, seperti telah disebut di paragraf kedua tulisan ini, bisa tidak menimbulkan masalah berkaitan dengan materi tulisannya. Bukankah ada pepatah, ’’Simaklah apa yang dikatakan, dan jangan memandang siapa yang mengatakannya.’’

Kesibukan seorang pejabat/pemimpin, apakah ia bupati, gubernur, atau bahkan presiden, tampaknya lebih sering memaksa kehadiran seorang atau bahkan sekelompok orang ’penulis hantu’. Dan seperti yang dikemukakan Cahyono, ’penulis hantu’ dimaksud bukanlah penulis kacangan. Maka, dengan dukungan data-data yang tersedia, dia/mereka tentu akan melaksanakan tugas dengan baik. Untuk berbicara saja seorang pemimpin yang sibuk memerlukan jurubicara. Apalagi untuk menulis!

Tetapi, publik yang ’bodoh’ memang bisa terkecoh, misalnya citra terhadap Sang Bupati berubah karena kecanggihan retorika pada tulisan-tulisan ’penulis hantu’ atas nama Sang Bupati yang muncul di media cetak, di koran atau bahkan jadi buku. Tulisan-tulisan itu bisa mengubah (dari negatif ke positif) anggapan/penilaian pembaca/masyarakat terhadap penulis (bukan ’hantu’-nya), alias Sang Bupati. Padahal, masyarakat seharusnya mengukur kualitas seorang pemimpin terutama dari tindakannya: sikap dan perilakunya, terutama berkaitan dengan kebijakan publik yang diambil/dilakukannya.

Seperti juga dicontohkan Cahyono, tampaknya ’penulis hantu’ yang paling destruktif adalah yang melayani penulisan skripsi, tesis, atau bahkan disertasi. Seseorang atau sekelompok orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap lalu mencoba-coba profesi tukang bikin skripsi, pun patut dikecam. Apalagi, jika posisi ’penulis hantu’ tukang bikin skripsi, tesis, atau bahkan disertasi itu dilakukan oleh seorang pegawai negeri, apalagi lagi oleh seorang dosen! Cobalah bayangkan, Si Pulan yang menjadi staf pengajar di Universitas Ngeri Kita itu ndilalah diambil menantu oleh Kanjeng Bupati yang tampaknya sangat kuat memegangi semboyan long life education. Program S2 pun sudah ditempuh dengan gampang. Lha, bagaimana lagi? Membayar SPP juga tak pernah terlambat. Bahkan, kalau memberi cinderamata teman sekelas --yang suka diminta mengisikan daftar hadir atau memotokopikan catatan pada hari beliau tidak masuk— jan nggak tanggung-tanggung: handphone, televisi, bahkan sepeda motor! Lha, kini tiba saatnya meneruskan ke program S3, untuk mendapatkan gelar doktor. Ndilalah lagi, kelas disiplin ilmu yang beliau pilih pas di situ ada sang menantu yang jauh lebih dulu bergelar Doktor sebagai salah seorang dosennya. Maka, Anda bisa tebak sendiri, manakah yang kira-kira dipilih Sang Menantu: mengurangajari mertua dengan menolak melakukan penelitian dan menyusun disertasi atas nama mertua (dengan begitu ia masuk golongan ’penulis hantu’) atau mengurangajari profesinya dengan merebut satu lagi gelar Doktor buat Sang Mertua! Doktor gadungan dengan ijasah asli, pasti lebih menakutkan daripada hantu! (Bonari Nabonenar, penulis, bukan hantu)


pernah dimuat Jawa Pos

Tuesday, 1 April 2008

SUDUT BACA, PILIHAN ATAU KEHARUSAN ?

Oleh :Dwi Prihastuti*

Sungguh menarik saat membaca apa yang disampaikan oleh Bonari Nabobenar dalam opininya yang dimuat di harian Jawa Pos hari Selasa (18/03) kemarin. Dalam opininya tersebut Bonari seolah-olah (atau memang?) mengajak pembaca untuk memilih mana yang lebih penting antara hotspotisasi yang saat ini gencar dilakukan Pemkot dengan penyediaan sudut baca di Kota Surabaya.


Bagi saya pribadi, sebagai seorang pustakawati tentu akan memilih kedua-duanya karena sama-sama penting. Karena membaca dan mengakses internet bisa dibilang merupakan kebutuhan utama. Saya membaca untuk menambah ilmu sekaligus untuk rekreasi dengan bacaan yang ringan dan menyejukkan seperti novel Ayat-Ayat Cinta. Disisi yang lain, dalam mengakses internet pun juga ada aktivitas membaca. Baik membaca email dari teman dan kolega ataupun membaca info-info terbaru melalui situs berita seperti beritajatim.com dan detiksurabaya.com. Juga untuk berseluncur di situs-situs milik perpustakaan lain untuk meningkatkan kelimuan di bidang pustaka.

Tapi jika harus memilih salah satu, tentu saya memilih penyediaan sudut baca jauh lebih penting dari pada program hotspotisasi. Karena saya melihat bahwa menyediakan fasilitas yang mencerdaskan warganya seperti sudut baca merupakan sesuatu tanggung jawab yang mutlak bagi pemerintah kota Surabaya.

Meski hal tersebut sebetulnya tanggung jawab bersama, hingga saat ini setahu saya belum banyak pihak swasta yang mau membuka sudut baca. Seperti misal pak Kartono, mantan mucikari yang kini membuka taman bacaan Kawan Kami di lokalisasi Dolly. Bandingkan dengan fasilitas hotspot yang sudah banyak disediakan berbagai pihak. Mulai dari hotel-hotel, café di mall yang bertebaran di seantero kota Surabaya hingga Stasiun Pasar Turi tak luput dari fasilitas hotspost tersebut. Tapi apakah di kawasan tersebut tersedia fasilitas sudut baca? Anda bisa menjawab semua.

Namun demikian, bukan berarti saya anti hotspotisasi. Menurut hemat saya, itu bukan kebutuhan utama warga kota Surabaya. Setidaknya hingga lima tahun kedepan. Sebagaimana pertanyaan Bonari dalam opininya, perlu penelitan lebih lanjut tentang kebutuhan warga akan hotspotisasi. Berapa banyakkah warga kota Surabaya yang hobi ngenet di alam terbuka seperti taman prestasi, taman bungkul atau taman terbuka lainnya? Apalagi dalam musim hujan seperti sekarang ini. Jika saya punya laptop, saya pasti berpikir ribuan kali untuk ngenet di tempat terbuka dengan resiko kehujanan sewaktu-waktu. Masih enak ngenet di warnet atau di kantor.

Bukan hanya itu, jika dibandingkan dengan maraknya penderita gizi buruk di Surabaya akhir-akhir ini, kebutuhan akan hotspotisasi yang dibiayai oleh APBD juga perlu dipertanyakan. Sekali lagi, benarkah program tersebut dibutuhkan warga Surabaya mengingat masih banyak balita yang kurang gizi. Baik dalam artian gizi untuk tubuhnya yang dipenuhi oleh nutrisi dalam makanan dan gizi untuk otak dan jiwanya yang bisa dipenuhi dengan bacaan bermutu.

Selain tingkat kebutuhan, anggaran untuk penyediaan hotspotisasi mencapai Rp 3,5 Milyar juga sangat besar untuk kebutuhan yang tidak terlalu mendesak. Jika dana tersebut dihibahkan untuk mengelola taman bacaan atau sudut baca dengan asumsi tiap sudut baca butuh Rp 100 juta, maka akan tersedia 35 sudut baca bagi masyarakat di Surabaya.

Dengan dana tersebut, akan lebih banyak lagi anak-anak tidak mampu yang bisa melihat dunia melalui “jendela dunia” bernama buku. Dengan dana sebesar itu, kehadiran sudut baca bisa membius banyak anak-anak yang kurang bacaan menjadi pecandu. Pecandu buku! Itu karena berdasar pengalaman saya selama masih menjadi pustakawati di mobil pustaka PBA Sampoerna yang memberikan pelayanan ke SD-SD pinggiran. Saya melihat mereka sangat antusias untuk “menyerbu dan memamah” koleksi kami dengan lahap. Artinya, minat baca mereka sebetulnya cukup tinggi, namun fasilitas yang tersedia masih jauh dari cukup. Apalagi layak.

Saya percaya, jika diwujudkan, 35 sudut baca tersebut akan banyak berarti bagi masa depan Surabaya. Katakanlah setiap sudut baca itu dikunjungi 50 anak per hari, maka dalam sebulan akan ada 52.000 anak yang mendapat tambahan gizi bagi jiwa dan otaknya ! Bayangkan jika lebih banyak lagi sudut baca di kota metropolis ini.

Selain anak-anak yang dapat menikmati fasilitas sudut baca tersebut , perlu juga disediakan bahan bacaan untuk orang tua karena mereka juga punya peranan yang sangat penting untuk menumbuhkan mianat baca anak. Alangkah asyiknya jika banyak menemui orang tua dan anak asyik membaca buku bersama sebagaimana yang sering saya temui di taman bungkul setiap akhir pekan. Seharusnya layanan seperti perpustakaan keliling Badan Arsip dan Perpustakaan Surabaya tersebut diperbanyak.

Namun pada akhirnya semua kembali kepada kebijakan dari pemerintah kota Surabaya. Apakah pemkot benar-benar konsisten dengan Visi dan Misinya menjadi kota yang Smart and Care (Cerdas dan Perduli) dengan menyediakan fasilitas yang mencerdaskan rakyatnya yang tidak mampu. Atau hanya mencerdaskan mereka yang mampu. (mampu beli laptop dan mampu browsing gratis di cafe-café serta hotel). Atau, jauh lebih bijak dan merupakan win-win solution jika Pemkot mengakomodir kebutuhan warganya yang berasal dari dua strata tersebut. Hotspotisasi oke, sudut baca juga oke. []

*) Penulis adalah pustakawati SD Al Falah 1 Tropodo,
sedang alih jenjang di Fisip Unair.



CATATAN: Tulisan ini juga pernah dimuat di Jawa Pos, terima kasih kepada penulisnya yang telah memenuhi permintaan (setelah saya lacak di JP-online ora ketemu) untuk mengirim salinannya.