Selasa, 25 Maret 2008

DI DALAM GELAP [1]

di pungung sepi malam tertancap kakiku
udara nyaris beku
dan gelap semakin bisu
belantara macam apa lagi ini
tanpa pohon dan binatangnya serasa tinggal aku:
menggigil di punggung sepi
di ceruk malam gelap bisu


mungkin aku telah melewati kubur pengarang
dan beberapa kali tersandung nisan penyair

tak henti aku melolong
memanggil dan menyebut nama yang kukenal
--atau yang kurasa kukenal
tetapi tetap saja semua bisu
udara bisu
dan langit hanya memantulkan suaraku
yang lalu semakin tajam menusuk-nusuk gendang telingaku

semua makin bisu dan aku makin menancap
di punggung sepi
malam
di dalam gelap
ketika semua bisu
beku
[]

Malang, Maret 2008

Selasa, 18 Maret 2008

Hotspotisasi, Kantor pun Jadi Game Zone

Bonari Nabonenar

Proyek Taman Bungkul agaknya telah mengilhami kota-kota lain di Jawa Timur dalam hal hotspotisasi (penyediaan area akses internet nirkabel), seperti Malang, Tulungagung, dan Madiun. Proyek hotspotisasi itu disebut-sebut sebagai sebentuk kepedulian pemerintah agar warganya melek teknologi. Tetapi, kalau sudah bicara soal urgensi, nanti dulu!

Tulisan ini dirangsang oleh dua berita yang menggelitik pikiran saya. Yakni, berita tentang sudut baca di Stasiun Gubeng (Metropolis, Kamis, 28/2) dan berita Rp 3,5 M untuk Proyek Internet (Metropolis, Jumat 7/3). Keduanya proyek yang didanai Pemkot Surabaya dan sama-sama untuk mencerdaskan bangsa. Alangkah bagusnya jika sudut baca itu tidak hanya ada di Stasiun Gubeng, melainkan juga di Stasiun Pasar Turi, Terminal Purabaya, Taman Budaya (UPTD Pemprov Jatim), Taman Bungkul, dan Taman Hapsari, misalnya. Apalagi kalau bisa menarik para donatur, tentu biaya operasionalnya tak sebanyak yang diperlukan untuk hotspotisasi. Yang lebih penting lagi, kemanfaatannya bisa langsung dirasakan sebagian warga masyarakat yang "benar-benar memerlukan" atau mesti dipandang sebagai memerlukan bahan-bahan bacaan gratis sebagai makanan batiniah mereka sekaligus sebagai pengisi waktu saat menunggu keberangkatan kereta (dalam konteks Stasiun Gubeng) atau menunggu jemputan.

Hotspotisasi sekilas memang terasa wah, gagah, dan tentu saja sensasional. Di Surabaya, seperti saya lihat di situs detik.com, ratusan hotspot tersebar di wilayah perkantoran, perusahaan, ruang publik, dan lain-lain. Ada yang mesti pakai voucher untuk menikmatinya, ada juga yang gratis. Hotspotisasi yang difasilitasi perusahaan/sponsor (di luar anggaran daerah/kota/kabupaten), baik yang bisa diakses secara gratis maupun yang harus menggunakan voucher, kita sisihkan dari pembicaraan ini. Yang menurut saya masih terasa berlebihan adalah bila pengadaan hotspot itu memakai uang belanja negara/kabupaten/kota. Apalagi angkanya sampai miliaran. Kita perlu mempertanyakan efektivitasnya.

Sebelum jauh, sebaiknya kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, berapa sih pegawai yang benar-benar memerlukan akses internet sepanjang jam kerja? Ini penting. Sebab ketika kita memberikan lebih dari yang diperlukan, yang akan terjadi kemudian adalah penyalahgunaan. Jangankan akses internet, kelebihan komputer saja bisa-bisa mengubah sebuah kantor pemerintah menjadi digital game zone kok.

Apakah ada jaminan keamanan di tempat-tempat terbuka seperti Taman Bungkul, alun-alun kota/kabupaten yang benar-benar bisa diandalkan sehingga para pemilik laptop tidak perlu khawatir terhadap upaya perampasan dan semacamnya?

Apakah akses gratis itu cukup kecepatannya sehingga orang yang benar-benar memerlukan tidak lebih memilih sewa di warnet daripada dapat gratis tetapi aksesnya lelet (sangat lambat)? Siapakah sesungguhnya yang paling diharapkan dapat memanfaatkan hotspot itu? Para pebisnis dan orang-orang profesionalkah? Para pelajar dan mahasiswakah? Atau masyarakat umum yang kurang mampu mengakses internet secara pribadi dari rumah?

Para pebisnis dan profesional biasanya sudah bisa mengirim email, mengunduh atau menanam file/data, bahkan menerima dan mengirim faksimile menggunakan fasilitas telepon genggam. Para pelajar dan mahasiswa sebagian besar lebih suka ke warnet (karena tidak memiliki laptop yang bisa dibawa ke mana-mana), lebih-lebih masyarakat umum cenderung pergi ke warnet.

Jadi, mana sesungguhnya yang lebih perlu sekarang, memperluas jaringan internet nirkabel ataukah menyediakan taman bacaan seperti di sudut Stasiun Gubeng itu? Dalam hal ini, saya ingin menegaskan kembali pernyataan pakar folklor Universitas Jember Dr Ayu Sutarto bahwa masyarakat kita telah melakukan lompatan budaya dari kelisanan tahap pertama (budaya tutur) ke kelisanan tahap kedua (dengan fasilitas media audiovisual semacam TV, MP3, MP4). Maka, kalau kita tergesa-gesa mencekokkan fasilitas internet kepada masyarakat (termasuk para pegawai kantor), sangat mungkin yang akan terjadi adalah berubahnya suasana kantor menjadi semacam home cinema atau game zone.

Internet memang sarana paling ampuh untuk kemajuan di bidang informasi. Ia ibarat senjata, semacam cupumanik astagina dalam lakon Ramayana episode Dewi Anjani (bersama kedua saudara laki-lakinya, Sugriwa dan Subali) menjadi kera. Maka, kita mesti hati-hati menggunakannya agar tidak berkembang menjadi bangsa munyuk (kera) atau bahkan maaf jadi asu (anjing), seperti dalam cerpen saya Asuanimalenium yang pernah dimuat koran ini delapan tahun silam. Atau setidaknya, jangan sampai fasilitas internet untuk para pegawai itu bukan malah mencerdaskan mereka, melainkan membuat mereka jadi para koruptor waktu: untuk chatting, dolanan (game), atau melakukan bisnis pribadi, mengingat sekarang sedang marak bisnis berbasis internet. []

dari Halaman Metropolis Jawa Pos

Sabtu, 15 Maret 2008

Babu, Semar, Kentut

Saya ini, sebenarnya punya pengalaman “traumatik” juga dengan sebuah kata. Pengalaman masa kecil, begitulah, meminjam judul yang dipilih Nur Sutan Iskandar.

Pada akhirnya mitos juga melekati kata-kata, sehingga kata-kata tertentu menjadi sedemiakian angker, dan beberapa kata lainnya menjadi sedemikian busuknya. Larut dalam permitosan itu terlalu berlarut-larut saya kira hanya akan menjauhkan diri kita dari
“kasampurnan” –betapapun, misal, kita tahu tidak akan pernah sampai di sana. Begitulah, tanah itu tetaplah suci walau di sana-sini dikotori bermilyar manusia dan bertrilyar haiawan. Di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam, curiga manjing warangka, warangka manjing curiga (keris masuk ke dalam sarungnya –bukan sarung saya, sarungnya masuk ke dalam kerisnya). Jadi pada titik pemahaman itulah manusia akan jadi lembah manah (manah= hati) -- jadi hatinya seluas lembah, walau tidak seluas samodra?

Perlu diketahui, “buruh” itu sendiri adalah menunjuk (ini kalau memakai terminologi perkastaan) kasta yang paling rendah, di bawah: brahmana, ksatria, waisa. Buruh adalah sudra. Tetapi, begitu ia berkreasi, olahrasa-pikir yang kemudian dituang ke dalam tulisan, serat (walau tidak sehebat serat centhini atau serat nitimani) ia adalah juga: b r a h m a n a!

Nah, seorang “buruh” atau “TKI” atau “TKW” atau “nakerwan” atau “babu” atau “batur” atau “rewang” (dalam keseharian saya tidak suka menyebut semua kata itu) mana yang bisa menasihati, mengritik, bahkan mencela Sang Presiden Republik benar-benar Indonesia, misalnya, jika ia bukan “pengawak” brahmana? Dan ada contoh yang sudah diidealisasikan orang sejak sebelum Isa turun ke bumi, yang kini kita kenal lewat cerita
para dalang: Semar, Gareng, Petruk, Bagong, mereka adalah batur, rewang, abdi, dan sekaligus adalah “dewa” (asal tahu saja: Semar itu adalah nama samaran Batara Ismaya, seorang dewa yang sangat disegani bahkan oleh para dewa lainnya).

Dalam banyak penggalan cerita, sering persoalan-persoalan bahkan persoalan perang fisik yang tidak dapat diatasi oleh Sang Juragan macam Bima yang kekuatannya dijadikan merek jamu, Arjuna, Gatutkaca, dan lain-lain, malah diselesaikan dengan enteng (hanya dengan kentut) oleh Ki Semar! Tapi para pengikut Semar kan juga tidak pernah ada yang protes walau bukan wajah Semar yang dipasang di bungkus jamu itu, tetapi sosok Bima yanggagah dengan kuku pancanaka-nya.

Sudah segitunya lho! Apa kita masih perlu terlalu memusingkannya? Para pendahulu kita, tampaknya, justru memilih kata “buruh” yang terkesan kasar dan “rendah” itu untuk menegaskan posisi mereka sebagai “lawan” atau yang harus berhadap-hadapan dengan “majikan” atau “juragan” atau “bos” dengan segenap antek-anteknya. Jadi dipilih karena politis untuk kepentingan strategis. Dan orang malah dengan bangga, misalnya, mendirikan Partai Buruh. Kalau misal suatu hari nanti ada yang bikin Unitet Nation of Babu Organisation, dan menunjukkan “darma” yang nyata, yang bisa bikin organisasi “salon” semacam darma wanita tidak ada apa-apanya, menurut saya, so what gitu loh!

Lah, apa untungnya kita disebut “pegawai” atau “karyawan” yang konotasinya lebih halus, tetapi itu hanya meninabobokan dan membuat kita loyo, dan zalim kepada diri sendiri dengan cara mendiamkan majikan, yang, misalnya, men-zalimi kita?

Maka, biarlah orang lain mau bilang apa. Kita lakukan apa yang terbaik untuk diri kita. Sabar, jangan gampang ngentut, walau kita punya kentut yang sangat melumpuhkan….! Ingat, Kiai Semar hanya mau kentut di saat-saat yang benar-benar genting.[]

Dari Majalah Peduli edisi Februari 2008

Taksi Argo-Cangkem di Terminal Arjosari

Saya biasa wira-wiri Malang-Surabaya. Kadang naik motor, kadang naik bis. Kalau saya datang di Terminal Arjosari (dari Surabaya) lewat pukul 18.00, biasanya mikrolet yang menuju ke kampung saya sudah habis. Hanya ada 3 kemungkinan: jalan kaki, naik ojek, dan taksi. Nah saya sering juga datang tengah malam di Terminal Arjosari, dan demi keamanan dan kenyamanan, walau ongkosnya terasa berat, taksilah pilihan saya.

Sejauh yang saya kenal (saya sudah hampir 10 tahun menjadi penduduk Kabupaten Malang) taksi di Terminal Arjosari (sopir, calo dan segenap jajarannya) tidak ramah. Saya selalu bertanya, ’’Pak, ke …. (saya sebut alamat saya) berapa?’’ Dan saya selalu mendapatkan jawaban yang berubah-ubah. Tidak konsisten. Kadang tigapuluh ribu, kadang tigapuyluh lima, dan bahkan ada yang tega mengatakan 40 ribu rupiah. Padahal, saya hampir selalu mendapatkan harga 25 ribu rupiah untuk jarak yang dengan mikrolet cukup dengan duit dua ribu rupiah itu. Bahkan beberapa kali cukup 20 ribu.

Tadi malam saya ada pengalaman yang berbeda. Biasanya, begitu si calo atau sopirnya menyebut 30 atau 35 atau 40 saya langsung menolak dengan bahasa verbal plus bahasa tubuh, dengan membalikkan badan dan biasanya akan segera dipanggil, ’’Ya sudah ayo!’’ Tadi malam, begitu disebut angka 30 ribu, saya langsung duduk, menghisap rokok, mengotori terminal. Saya tidak sepakat dengan harga yang ditawarkan itu. ’’Biasanya Rp 25.000 kok Pak,’’ saya meyakinkan bahwa saya bukan orang baru pemakai jasa taksi itu. Tetapi jawabnya, ’’Ini sudah lama ngantrinya, Mas.’’

Lho, memang apa salahnya kalau lama ngantri? Mengapa hal itu menjadi beban calon penumpang dengan harus membayar lebih dari biasanya? Sekitar setengah jam saya duduk, merokok, dan kemudian saya pergi ke toilet. Ee, lhadalah, ternyata saya diikuti. Usai buang air sedikit, saya dah dijemput, dan ternyata sopir taksi itu mau diongkosi Rp 25.000. Saya tak habis pikir,mengapa mereka rela membuang waktu. Padahal, saya sudah berniat, begadang sampai pagi pun akan saya lakoni, kalau mereka tidak sepakat dengan Rp 25.000.

Begitulah kalau naik taksi argo-cangkem. Maksudnya, tidak menghitung ongkos berdasarkan argometer, melainkan berdasarkan tawar-menawar. Saya pikir hal seperti itu tidak baik untuk Kota Malang yang suka membanggakan diri sesbagai daerah wisata yang andal. Saya yang penduduk malang saja sudah harus begitu repotnya, apalagi orang luar daerah, luar Jawa, luar negri?

Dua hari sebelumnya saya berada di Jakarta dan beberapa kali naik taksi, dan tidak harus diribeti urusan tawar-menawar. Di Jakarta, apalagi, ada taksi yang sudah terkenal dengan layanannya yang baik. Juga di Surabaya. Bahkan, Saya dengan enaknya naik taksi di Hong Kong, walau mahal, tak sedikit pun ada kekhawatiran dinakali, diputer-puterkan, atau argonya di-kuda-kan. Mungkin anda akan segera menyahut, ’’Ya, ini Indonesia, Mas, jangan dibandingkan dengan Hong Kong dong!’’ Lho, lho, nanti dulu. Mengapa saya tidak boleh membandingkan, sedang untuk membuat perbandingan itu saya tidak perlu mengeruk APBN atau APBD macam yang dilakukan oleh pejabat atau wakil kita yang suka Studi banding itu, apa salahnya? Juga, kapan kita mau menjadi lebih baik, kalau sebentar-sebentar hanya bisa bilang, ’’Ya, ini kan Indonesia….’’ []

Sabtu, 08 Maret 2008

Bedah Novel Sejarah Sosial Politik Bulan Jingga di Kepala

Novel sejarah sosial politik “Bulan Jingga dalam Kepala” karya pemikir muda Fadjrul Rachman akan dibedah Halim HD, M Shoim Anwar bersama pengarangnya tgl 13 Maret 2008 di Toko Buku Togamas Jl Diponegoro Surabaya. Mulai pukul 19.00. Silkan hadir. Gratis, lho. Sumber: SMS dari Bung Halim. dan berikut ini sebuah resensi atas novel tersebut...

Bulan Jingga dalam Kepala (bagian pertama)

Judul : Bulan Jingga dalam Kepala
Penulis : M. Fadjroel Rachman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2007
Tebal : 425 hlm

Setelah malang melintang di hiruk pikuknya dunia mahasiswa di era 80-an, bersastra sambil berpolitik di kampus, dikejar-kejar tentara, dianggap sebagai orang yang berbahaya, dan akhirnya dipenjarakan oleh Pemerintah Orde Baru karena dianggap sebagai otak aksi mahasiswa yang menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenannya dalam aksi 5 Agustus 1989 . Kini M Fadjroel Rachman yang masih konsisten mengkritisi pemerintah melalui tulisan-tulisannya di media masa dan puisi-puisi perjuangannya membuat sebuah novel sejarah politik Indonesia dan dunia kontemporer dengan kehidupan tokoh utamanya yang mirip dengan pengalaman hidupnya.

Novel perdana Fadjroel yang diberinya judul Bulan Jingga dalam Kepala ini diawali dengan kisah Surianata saat menghadapi kematian di hadapan regu tembak di kawasan Tangkuban Perahu Lembang. Lalu kisah Surianata mundur ke belakang, tujuh tahun sebelum ia dihukum mati. Surianata masih kuliah di ITB. Ia bersama kawan-kawannya aktif berdiskusi dalam sebuah kelompok rahasia yang dinamai Lingkar Sokrates yang senantiasa mengevaluasi kondisi ekonomi, sosial, dan politik mutakhir, tak hanya itu saja mereka juga berlatih membela diri, dan menyiapkan diri dengan gagasan radikal perubahan sosial.

Dalam novel ini dikisahkan Indonesia berada dibawah kekuasaan otoriter Jendral Suprawiro yang dengan kekuasaannya telah menculik, membunuh, mencuri harta rakyat dan memenjarkan orang seenaknya terutama para aktivis politik dan mahasiswa yang menentang pemerintahannya.

Melihat keadaan negerinya yang semakin parah, akhirnya Surianata dan kawan-kawannya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Jendral Suprawiro dan rezim fasisnya harus digulingkan!. Untuk itu mereka menggalang kerjasama dengan kampus-kampus lain untuk melakukan aksi demo dengan tujuan menurunkan Jenderal Suprawiro dari tahtanya.

Setelah selama setahun melakukan berbagai demonstrasi, akhirnya aksi mahasiswa mencapai puncaknya ketika beberapa mahasiswa tewas ditembak ketika melakukan aksi demo. Inilah momentum sejarah yang mengetuk pintu para mahasiswa termasuk Surianata untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Kali ini dengan lokasi tepat di simbol kekuasaan negara, Istana Merdeka!

Istana Merdeka segera dikepung seratusan ribu mahasiswa. Tentara dan polisi tak kuasa menahan amuk massa yang marah terhadap pemimpinnya. Presiden dan keluarganya terkepung di Istana Merdeka. Surinata dan kawan-kawannya menerebos ke ruang Istana Merdeka. Ia berhadapan langsung dengan Jenderal Suprawiro. Pistol dengan pistol saling teracung, baku tembak terjadi hingga akhirnya menewaskan Jenderal Suprawiro, malangnya Bulan Pratiwi (5 thn) putri Jendral Suprawiro tertembak juga secara tidak sengaja oleh Surianata.

Kematian Jenderal Suprawiro disambut sorak massa yang mengepung Istana Merdeka. Sang Presiden yang telah tewas digantung terbalik seperti pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Mahasiswa menjadi pahlawan. Sayang ternyata para mahasiswa tak siap dengan langkah selajutnya, situasi menjadi chaos, Jakara dilanda amuk masa. Pemerintahan beralih ke kekuasaan para Jenderal yang dulu merupakan kaki tangan Jenderal Suprawiro. Surianata diadili dan djijatuhi hukuman mati karena telah membunuh Presiden dan putrinya. !

Surianata memang puas telah membunuh Jenderal Suprawiro, namun batinnya menangis dan tak tenang karena secara tak sengaja ia telah membunuh Bulan Pratiwi yang tak berdosa. Berkali-kali Surianata membatin bahwa pembunuhan yang ia lakukan membuat jiwanya seperti lepra yang membusuk. Pertempuran dunia batin inilah yang selalu 'mengganggu' Surianata dalam penjara hingga detik-detik terakhir hidupnya berakhir.

Fiksi dengan aroma sejarah, politik, yang juga melukiskan hiruk pikuk gerakan mahasiswa Indonesia dalam menumbangkan rezim fasis inilah yang diangkat dengan gamblang oleh Fadjorel. Dalam novel ini juga terlihat secara jelas bagaimana adanya penghianatan dalam gerakan mahasiswa dan bagaimana pula intrik-intrik politik para jenderal yang menggunakan aksi mahasiswa untuk membawa mereka pada puncak kekuasaan tertiinggi. Dan bagaimana juga akhirnya jika kekerasan dipergunakan untuk menumbangkan sebuah rezim.

Dalam novel ini Fadjroel bertutur secara mengesankan, ia tak ragu menggunakan kalimat-kalimat puitis dalam mendeskripsikan sesuatu. Hal ini menjadi paradoks yang mengasyikan karena menggabungkan gemulainya sastra dengan kerasnya dunia politik dan kehidupan Surianata dalam penjara. Penggunaan kalimat-kalimat puitisnya tersaji secara pas karena Fadjroel mengetahui kapan ia harus berlarik-larik dengan kalimat puitis dan kapan ia harus mempercepat tempo kisahnya.

Beberapa kotbah politik dan sejarah dari para tokoh-tokohnya terselip dalam porsi yang cukup banyak dalam novel ini. Di novel ini pengetahuan penulis tentang filsafat, sosiologi, politik tumpah ruah didalamnya, selain itu diwarnai pula dengan taburan nama-nama pembuat sejarah. Termasuk kisah penyaliban Yesus Kristus yang cukup banyak disinggung di novel ini. Namun Fadjorel bukan menulisnya menurut sudut pandang iman, melainkan dari sisi "kebiadaban dunia" atas apa yang dilakukan terhadap Yesus.
Masih banyak hal-hal yang menarik dalam novel ini, seperti kerasnya kehidupan di penjara dimana sadisme dan perilaku seks menyimpang selalu membayang-bayangi mereka yang hidup di penjara. Setting ITB, UI, Kuil Yasukumi Tokyo, Kamp Nazi Sachhensuen dan Holocoust Memorial Berlin juga turut mewarnai novel ini. Lalu ada pula sedikit taburan kisah cinta antara Surianata dan Bunga Langit yang tak cengeng dan tetap rasional ditengah perjuangan mereka.

Di tengah segala hal yang menarik dalam novel ini, satu hal yang berpotensi menggundang pertanyaan di benak pembacanya yaitu soal setting waktunya. Fadjorel sama sekali tak menulis angka tahun dalam kisahnya. Novel ini hanya menyebutkan kejadian di tahun X. Berbagai peristiwa sejarah dan situasi politik riil dan beberapa nama-nama asli tokoh-tokoh pembuat sejarah muncul dalam novel ini, namun ia tak memaparkannya sesuai dengan kronologis waktunya. Berbagai peristiwa sejarah yang kejadiannya berlainan tahun bisa saja terjadi dalam satu periode waktu.

Contohnya ketika Surianata dalam penjara disebutkan bahwa Xanana Gusmao masih berada di LP Cipinang dan Timor Leste belum merdeka. Namun ketika itu pula Surianata meminta kawan-kawannya untuk membawakan novel Tin Drum karya Gunter Grass karena ia ingin membaca novel tersebut setelah Grass mengaku dirinya sebagai anggota pasukan SS Hitler. Hal yang tidak sesuai dengan kronologis waktu rill karena sejatinya Grass mengaku bahwa dirinya anggota SS di tahun 2006, dan ketika itu Timor Leste telah merdeka dan Xanana telah menjadi presiden.

Ketika hal ini saya tanyakan langsung pada Fadjroel, ia menjawab melalui emailnya bahwa ia memang tidak membuat kronologi sejarah politik pada novel ini. Ia hanya tertarik pada peristiwa politik lalu memberi makna atas peristiwa tersebut. Menurutnya novel ini memang tidak dimaksudkan membuat kronologi sejarah. Ia hanya melihat makna peristiwa-peristiwa lalu disambungkan menjadi makna baru.

Dalam kreatifitas menulis fiksi hal seperti diatas sah-sah saja dilakukan. Hanya saja, tanpa penjelasan dari penulisnya hal ini berpotensi menimbulkan kejanggalan bagi pembacanya yang umumnya terbiasa dengan fiksi sejarah berdasarkan kronologis waktunya seperti tetralogi Pramoedya atau novel sejarah seri Gajah Mada karya Langit Kresna H, dll

Yang kedua, ketika Istana Merdeka dikepung masa kenapa pula Jendral Suprawiro tak dievakuasi oleh paspampres, bukankah kedatangan masa bisa diprediksi dan bukankah aturan pengamanan kepala negara seharusnya telah melakukan evakuasi bagi kepala negara dan keluarganya dari istana ketika keadaan menggenting?

Yang ketiga, surat terakhir Surianata kepada kedua orangtuanya penuh dengan kotbah politik, ah rasanya hal ini terlalu berlebihan, bukankah surat kepada orang tua biasanya lebih personal ?. Bagi saya surat seperti yang ditulis Surianata tampaknya lebih cocok ditujukan kepada kawan-kawan seperjuangannya untuk terus membakar semangat mereka.

Ditengah segala kelebihan dan kekurangannya, novel sejarah politik yang penuh liku, padat, mengungkap kemarahan, kekayaan alam fikir dan batin seorang Fadjroel ini layak diapresiasi oleh mereka yang ingin mengetahui lebih banyak sepak terjang pergerakan dan pola pikir ideal mahasiswa dalam memperjuangkan kebebasan politik. Walau berupa fiksi, tak belebihan jika dikatakan bahwa novel ini dapat dijadikan kisah pembelajaran bagaimana seharusnya para pejuang demokrasi harus berpikir dan bersikap agar apa yang dicita-citakannya dapat terwujud dengan baik.

Selain itu novel ini juga berbicara perjuangan manusia meraih kebebasan, melawan sifat kebinatangan penguasa yang selalu ada sejak zaman dahulu kala. Kebinatangan yang tak akan pernah hilang selamanya dan akan terus membayangi akal budi kita. Seperti bulan yang bersembunyi dalam terang matahari, lalu berkuasa penuh di tengah gelap. Selalu berulang hingga kiamat. Itulah bulan jingga dalam kepala manusia.

@h_tanzil
salam,
h_tanzil

dari gramedia online

Jumat, 07 Maret 2008

PAMERAN FOTO BMI LAGI: KALI INI DI STADION KANJURUHAN, MALANG


PAMERAN foto bertajuk Hong Kong dan BMI Kita akan digelar lagi. Kali ini FBBMI bekerja sama dengan Pemkab Malang. Waktu sudah dipilih, antara tanggal 16 - 26 Maret ini Mendadak banget, ya? Soalnya, sekalian dibarengkan dengan acara Pameran Bunga. Ehe, MAlang kan kota (baca: kabupaten) bunga juga!

TEMPATnya pun sudah ditentukan, di Stadion KAnjuruhan, Kepanjen, MAlang. Tania Roos, mantan BMI-HK yang sukses melobi Pemkab Malang baru memberikan kepastian tanggal dan tempat itu kemarin, melalui telepon, setelah pekan yang lalu saya dan PAk Kuswinarto mengantarkan proposalnya.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini, maka, kami harus menyiapkan materi fotonya. Selain foto-foto yang sudah dipamerkan di Surabaya, Jember, Trenggalek, Tulungagung, Tangerang, ad lagi tambahan materi dari SBMI Jatim, berkat kebaikan Mas Cholili.

Seperti biasanya, selain pamer foto, akan digelar pula diskusi dan pembacaan cerpen/puisi. Tania sendiri diharap akan tampil sebagai pembaca cerpen sekaligus menjadi salah seorang narasumber untuk diskusinya, selain, katanya, 2 atau tiga orang dari lingkungan Pemkab Kabupaten Malang telah pula menyatakan kesediaannya untuk menjadi narasumber.

Akhirnya, kami mohon doa restu, semoga pamerannya lancar, dan diskusinya pun gayeng.

Rabu, 05 Maret 2008

Soeharto dalam Sastra

Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita kematian Paman Gober, di halaman pertama. (Seno Gumira Ajidarma, 2001:11)

Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia yang berkuasa 32 tahun itu, juga dibicarakan dalam karya sastra. Adalah tidak mungkin tidak mencatat Soeharto dalam sastra, dengan kekuasaannya yang selama itu.

Hanya, pada karya sastra, Soeharto dibicarakan secara realistis, agak transparan, bahkan sindirannya mudah dipahami, ke mana mata pisau kata-kata itu tertuju. Tanpa pembaca mengalami kesulitan memahami siapa yang dimaksud oleh karya tersebut.

Dengan demikian, ketika membaca karya sastra yang menyinggung Soeharto di dalamnya, pembaca tidak begitu kesukaran dan dengan cepat tahu bahwa obyek yang dibicarakan dalam karya sastra adalah Soeharto. Mengapa begitu? Apa yang membedakannya dengan laporan jurnalistik, sejarah, artikel, atau karya-karya akademik?

Pertama, karya sastra mengajak kita untuk memahami bukan untuk hanya mengetahui. Jika hanya untuk mengetahui, maka semua orang akan dapat mengetahui hanya sekadar dengan melihat faktanya. Namun, untuk memahaminya, ia harus menjalani perjalanan rasionalitas obyektif ke empirisme subyektif, dari pengetahuan pada kearifan kemanusiaan, mengajak untuk lebih bijak dan adil dalam memahami kehidupan.

Dengan demikian, dalam sastra tentang ”Suharto”, bukan lagi soal transparansi atau sindiran ”yang begitu jelas” itu yang menjadi persoalan, tetapi masalah: ”ada apa di balik semua itu”?

Semua ironi, satir, dan tragedi dalam sastra tentang ”Suharto” pun kemudian mengajak kita untuk masuk pada kearifan, pada tanggung jawab yang kritis dan waspada. Dengan dasar pemikiran itu, maka sastra bukan untuk mengklaim, memveto, mendiskreditkan, memojokkan, menghina, menjatuhkan, berpihak, pada selain nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, bila ada yang bersifat demikian, ia sudah merupakan propaganda, slogan, doktrin, atau dogma.

Absurditas sastra Soeharto

Alasan kedua yang membedakan adalah sebuah premis tentang bahasa sastra yang ditentukan oleh karakter dan sifat kekuasaan. Kekuasaan yang adil biasanya melahirkan karya sastra yang tidak vulgar. Namun, ketika suatu kekuasaan bebal, tebal muka, muka tembok, tidak rasional dan zalim, maka karya sastra pun akan bicara dengan bahasa yang tidak halus, bahkan kasar, penuh dengan metafor yang absurd.

Ketika Soeharto berkuasa, karya sastra penuh dengan metafor yang absurd, semakin kuat kekuasaannya maka akan semakin rumit metafor dan absurditas yang digunakannya. Dapat dipahami mengapa tahun 70-an karya sastra Indonesia dikuasai oleh jenis sastra absurditas, sedangkan mendekati tahun 90-an dan 2000-an, absurditas semakin kurang dan metafornya semakin transparan karena kekuasaan Soeharto semakin lemah.

Memang ada suatu budaya yang tabu membicarakan penguasa mereka, kendati penguasa itu zalim dan menganiaya. Akan tetapi, perilaku literer itu hadir, bisa jadi karena budaya feodalistik sudah begitu mengakar, atau begitu kuatnya tangan kekuasaan menenggelamkan publiknya.

Alasan ketiga, karya sastra berbicara pada tataran tafsir, majas, makna yang ambigu, bukan pada tataran fakta obyektif atau validitas. Oleh sebab itu, Soeharto yang dibicarakan oleh karya sastra bukanlah Soeharto sesungguhnya, tetapi Soeharto dalam pengertian makna dan tafsir. Yang mengajak dan membawa kita pada hikmah tentang keadilan, kebenaran, atau setidaknya tentang manusia itu sendiri.

Soeharto dalam Seno

Salah satu karya sastra yang membicarakan Soeharto dengan bagus dan kuat pada masa kejayaan penguasa Orde Baru itu mungkin adalah cerpen Paman Gober (Republika, 30-10-1994) karya Seno Gumira Adjidarma. Cerpen yang dibacakan Butet Kertaradjasa pada acara Federasi Teater Indonesia (FTI) Award 2007 di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, memang salah satu karya terbaik Seno yang termaktub dalam kumpulan Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Ia seperti memprediksi realitas Soeharto lebih satu dekade kemudian. Ketika penguasa 32 tahun itu mengalami sakratulmaut di rumah sakit.

Memang tak cuma Seno yang mengangkat Soeharto ke dalam karya-karya fiksinya. Setidaknya ada 17 cerpen yang dianggap membicarakan Soeharto, dalam ungkapan yang bermacam dan dibukukan oleh M Shoim Anwar (Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001). Ada tersebut antara lain Menembak Banteng (F Rahardi); Diam (Moes Loindong); Tembok Pak Rambo (Taufik Ikram Jamil); Saran ”Groot Majoor” Prakosa (YB Mangunwijaya); Bukan Titisan Semar (Bonari Nabonenar); Kaki Druhun (Bonari Nabonenar); ”Masuklah ke Telingaku, Ayah” (Triyanto Triwikromo).

Lalu, juga ada Monolog Kesunyian (Indra Tranggono); Celeng (Agus Noor); Senotaphium (Agus Noor); Gadis Kecil dan Mahkota Raja (Sunaryono Basuki Ks); Menari di Atas Mayat (Indra Tranggono); Negeri Angin (M Fudoli Zaini); Putri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden (Joni Ariadinata); serta Orang Besar (Jujur Prananto). Tapi, di luar itu, masih cukup banyak cerpen atau karya sastra lain yang tersebar dan diterbitkan dalam berbagai media dan mengangkat figur Soeharto di dalamnya.

Pada sejumlah karya itu, kita mungkin dapat menangkap bagaimana masyarakat—yang diwakili pengarangnya—melihat dan mengapresiasi sebuah sosok yang bernama Soeharto. Dengan itu pula, barangkali kita juga bisa menengarai bentuk kekuasaan macam apa sebenarnya yang telah digagas dan dipraktikkan oleh Jenderal yang Tersenyum itu. Namun, apa pun, semua itu akhirnya hanyalah ”tanda”, di mana setiap orang bebas membaca, menafsirkan atau menarik signifikansinya. Entah sebagai ironi, satir, tragedi, peringatan, dan pelajaran, tetapi jelas, ia akan berguna bagi mereka, ”bagi orang orang-orang yang berpikir”. Andakah juga? []


Fadlillah Malin Sutan Kayo Dosen dan Peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang. Tinggal di Kampuang Batima, Nagari Soengai Jamboe


HUMANIORA Kompas Cetak Kamis, 6 Maret 2008

donga

[1]

dhuh Allah pangeran kula
lumuntura sih welas paduka
dhumateng jiwangga kula
ugi kekiyatan kangge ngemban sesanggeman
mrantasi sakeh pepalang
mentas saking telenging pacoban
kang trubus samargi-margi
dhuh Gusti
kang yasa lintang rembulan
amemasri ratri
mugi kula tansah amanggih rahayu


dhuh Allah pengeran kula
lumuntura sih welas paduka
dhumateng jiwangga kula
ingkang kadereng nuladha
tabetipun Nabi Muhammad junjungan kula
awit sih berkah paduka
ambeg adil paramarta

dhapur titah kang kajibah jejer kalifah
rinten dalu namung berkah lan sih welas paduka
dhuh Allah pengeran kula
ingkang kula cadhong
murih kula kuwagang
amangun bebrayan
amangun kulawarga
amangun jiwangga kula

dhuh Allah pengeran kula
igkang maha angayomi
ingkang maha welas
ingkang maha asih
paringana jiwangga kula punika
sifat ayom sifat welas sifat asih
saengga jiwangga kula
mupangati tumrap bebrayan puniki



[2]

dhapur titah kang kajibah dadya kalifah
bebasan anggelak lampahing baita
kula nyadhong lumunturing berkah paduka
dhuh Allah kang maha kawasa
mugi angin dadosa kekiyatan
mugi ombak lumembak tumut anggelak
sampun ngantos manjilma dados prahara

dhuh Allah pengeran kula
ingkang maha tresna
ingkang paring garwa-putra
dhumateng jiwangga kula
paring rahmat baita edi rinengga
tresna-asih murakabi salebet sanjawining baita
kang saya ageng saya anengah samodra

dhuh gusti
dhuh Allah kang maha tresna
namung lumunturing tresna paduka
ingkang anjampangi lampahing baita nenggih
nempuh ombak lumembaking gesang puniki
mugi tansah kinanthi rahayu
kalis saking sambekala []

TAMASYA CINTA BONARI DALAM KUMPULAN CERPEN "CINTA MERAH JAMBU"

Oleh Masuki M Astro

Surabaya, 28/2 (ANTARA) - Kalau dalam karya-karya musik, tema percintaan atau asmara sangat laku di pasar dan diterima tanpa kritik, maka tidak demikian dengan karya satra (puisi dan cerita pendek).


Karya sastra dengan tema asmara masih cenderung dianggap sebagai karya cengeng atau pop yang beberapa tahun lalu sempat menjadi perbincangan sehingga menimbulkan dikotomi antara karya sastra dengan karya tulis yang pop.

Karya sastra yang tidak selamanya bisa laku di pasaran masih cenderung dibebani dengan tema-tema untuk peduli pada realitas sosial masyarakat, atau lebih tegas lagi harus memberi kritik. Karena itulah barangkali yang membuat seniman sastra kadang mengalami kelelahan dalam berproses.

Bonari Nabonenar, yang selama ini dikenal sebagai penulis sastra Jawa menerbitkan kumpulan cerpennya dengan judul "Cinta Merah Jambu" yang kesemuanya berkisar tentang dunia asmara, khususnya dalam konteks rumah tangga.

Buku terbitan JP Books, Pebruari 2005 itu berisi 13 cepren dengan kata pengantar cerpenis senior Surabaya, Shoim Anwar. Untuk ini Bonari memperlihatkan kegenitannya, karena kata pengantar yang biasanya menjadi pembuka buku, justru berada di halaman belakang.

Kegenitan lainnya adalah pengantar untuk masuk ke cerpennya. Ia menulis pengantar tidak dalam bab tersendiri, melainkan digabung dengan cerpen berjudul "Cinta Merah Jambu". Ia mengkahiri pengantarnya dengan kata, "Maka, inilah cerita saya. Lalu, alinea di bawahnya langsung dimulai dengan cerpen pertamanya.

Penulis kelahiran Trenggalek, Jatim, 40 tahun silam itu mengaku terus terang dirinya sedang lelah. Karenanya ia meminta agar dirinya tidak dikatakan telah kehilangan ideologi untuk peduli pada masalah sosial.

"Jika kini tiba-tiba saya bercerita tentang cinta dan bergenit-genitria, saya memang sedang lelah dan memerlukan semacam tamasya," kata lulusan IKIP Negeri Surabaya (kini Unesa)itu.

Meskipun berkisah seputar cinta, namun konteks sosial seluruh cerita Bonari masih menempati ruang yang luas, misalnya tentang tenaga kerja wanita, pengangguran dan konsep keluarga masyarakat modern.

"Meskipun berkisah tentang cinta, namun ini bukan karya cengeng dan murahan, karena setiap karya yang saya kerjakan selalu saya pertanggungjawabkan pada publik atau pembaca. Artinya dalam karya ini saya tidak sembarangan karena karya ini merupakan hasil dari kerja keras," kata pengrus Dewan Kesenian Jatim (DKJT) itu.

Menurut dia, dalam buku itu, dirinya banyak bercerita tentang cinta dalam kehidupan rumah tangga dengan segala pahit getirnya. Karena itu ia menolak jika karyanya kali ini disebut sebagai karya pop, meskipun sebelumnya pernah dimuat di beberapa koran.

Ia mengemukakan, penulis-penulis besar jaman dulu juga pernah melakukan hal sama, yakni menyesuaikan diri dengan kondisi. Misalnya Motinggo Busye juga pernah menulis karya-karya berbau pop, namun ternyata hal itu tidak mengurangi penghormatan orang terhadap sastrawan tersebut.

"Kalau saya analogkan dengan pelawak saat berhadapan dengan pejabat dan petani. Tentunya bahasa yang digunakan pelawak di dua pendengar yang berbeda itu harus berbeda pula," katanya.

Cerpen-cerpen dalam buku ini sebelumnya pernah dimuat koran seperti Jawa Pos, Suara Merdeka, Berlian, Karya Darma dan sebuah cerpen yang belum pernah dipublikasikan, yaitu "Perempuan Isteri Dewa".

Sementara Shoim Anwar tidak mempersoalkan tema yang ditulis oleh penggagas Kongres Sastra Jawa di Surakarta, 6-7 Juli 2001 dan Hakim Ketua pada Pengadilan Sastra Jawa di Taman Budaya Jatim, 2003 itu.

Ia mengemukakan bahwa masalah cinta kasih, hubungan pria dan perempuan, baik masih dalam konteks asmara maupun kehidupan berumah tangga, adalah masalah yang tidak pernah habis digali di segala tempat dan waktu.

"Tema seperti ini sudah menjadi masalah yang universal, tapi setiap pengarang memiliki persepsi tersendiri pada kehidupan demikian," kata Shoim.

Menurut dosen sastra di beberapa perguruan tinggi swasta di Surabaya itu, semua cerpen dalam buku ini bercerita tentang tragedi kehidupan; kegagalan, kekecewaan dan para tokoh utamanya terpuruk dalam nasib yang kelabu.

"Dalam melihat masalah cinta kasih atau jalinan asmara, Bonari tampak santai dalam menjalinkan hubungan para tokoh ceritanya," katanya.

Dikatakannya, ada kecenderungan bahwa Bonari --sebagai laki-laki-- melihat persoalan dari sudut pandang lelaki. Jalan menuju kehidupan rumah tangga yang digambarkan kebanyakan cerpenis lainnya begitu banyak tikungan, tapi oleh Bonari digarap dengan mulus, bahkan kocak.

"Cerpen-cerpen Bonari memang penuh anekdot. Pembaca tampaknya tidak diajak berkelana ke dunia yang buram, tapi langsung disuguhi puncak cerita. Banyak hal mengelitik ditampilkan," katanya.

Menurut dia, bagi Bonari, buku ini barangkali dimaksudkan sebagai tawaran kreatif. Ia telah meluncurkan amunisi ke medan pembaca.

"Apakah amunisi ini mampu meledak? Respon dan persepsi pembacalah ayang akan menjawabnya," katanya.


(T.M026/B/S005/B/S005) 28-02-2005 20:12:28

@antara: SPEKTRUM/RESENSI

Selasa, 04 Maret 2008

Teka-Teki

Cerpen Bonari Nabonenar



Tarmi hamil, dan orang-orang ribut. Ribut. Mungkin itulah memang pekerjaan kesukaan orang-orang kurang pekerjaan. Lha, wong Tarmi itu wanita, punya suami, suaminya itu ya lanang tenan, alias benar-benar laki-laki. Laki-laki asli, laki-laki tulen. Jika lalu hamil itu kan ya lumrah. Wajar. Kok diributkan. Marbi, suami Tarmi itu, sebagai laki-laki memamng benar-benar thok-cer, lho. Menikah dapat delapan bulan, usia bayi dalam kandungan isterinya juga delapan bulan. Persis! Tanpa ancang-ancang!


Tetapi bukan soal itu pula yang menjadi sumber keributan sekitar kehamilan Tarmi. Adalah teka-teki: laki-laki atau perempuankah jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan Tarmi nanti, itulah yang mereka ributkan. Itulah yang bikin heboh. Orang-orang sibuk menebak. Dan tak sedikit pula yang bertaruh, mempertaruhkan barang, uang, atau apapun yang dapat diterima sebagai taruhan, dari yang bernada amat-sangat serius sampai dengan yang bernada kelakar; asal ikut-ikutan bertaruh, ikut-ikutan bikin heboh!

’’Aku yakin Tarmi akan melahirkan bayi laki-laki. Jika sampai tebakanku ini meleset, aku akan menghadiri acara syukuran kelahiran itu hanya dengan menganakan kaos oblong dan celana kolor!’’ kata Sarmin berapi-api sekali.

’’Aku bahkan tidak akan mengenakan apa-apa!’’ timpal Ndemun tak kalah semangat.

’’Di mana, haa??’’

’’Ya, di kamar mandi!’’

’’Wow.....!!’’

Ada radio yang dipertaruhkan, ada televisi, kambing, sapi, bahkan kerbau. Lebih heboh lagi, pertaruhan itu benar-benar telah menjadi mode di Desa Parangsilang. Bukan hanya mereka yang cukup umur saja yang demam bertaruh, tetapi juga para remaja, dan bahkan anak-anak!

Banyak orang harus bersusah-susah mengamati langkah Tarmi ketika berjalan, bertanya kepada orang-orang yang mereka anggap dekat dengan Tarmi, bagaimana kebiasaan Tarmi, apakah kini menjadi lebih gemar bersolek atau sebaliknya, hanya untuk meyakinkan tebakan mereka. Bahkan aku ini juga mereka anggap sebagai alamat yang tepat untuk pertanyaan demikian itu.

Tarmi sendiri, yang sesungguhnya tak lain dan tak bukan adalah bakal calon kakak iparku, rupanya juga sudah bulat dengan ramalan, tebakan, atau dugaan, atau apa sajalah istilahnya, bahwa bayi yang kini sedang dikandungnya akan lahir sebagai laki-laki. Marbi, suami Tarmi, demikian juga. Mungkin mereka telah terkena pengaruh Mbah Markijan, orang pintar, orang tua dan yang dituakan di Desa Parangsilang. "Percayalah, laki-laki!" kata Mbah Markijan.

’’Percaya betul sesungguhnya ya tidak, Dik. Tidak boleh begitu, kan?” kata (bakal calon: Mbak) Tarmi kepadaku. “Tetapi bagaimana lagi, ya? Aku tak bisa mengelakkan keinginan memiliki anak laki-laki. Maka jangan dikatakan ndhisiki kersa, Dik! Sesungguhnya tebakanku ini adalah bentuk lain dari doa.’’

’’Sudah berapa bulankah, Mbak?’’

Dapat pertanyaan begitu, dia tidak secara spontan memberikan jawabannya. Seperti harus mengingat-ingat dahulu, menghitung-hitung.

’’Mmm, tujuh, Dik. Tujuh jalan ini.’’

’’Mengapa tidak diperiksakan ke kota saja? Dengan USG, kan sudah dapat pula diketahui jenis kelaminnya sekarang.’’

’’Oh, tidak. Yang penting semua baik-baik. Biar tidak hilang kejutannya. Jika dipastikan sekarang, jangan-jangan justru akan mengacaukan pertaruhan itu. Hm. Terus terang, Dik, kami merasa tersanjung oleh semangat pertaruhan mereka itu.’’

’’O. begitu.’’

’’Ya, begitulah.’’

Pada suatu hari, aku disuruh ibu menemui Mbah Markijan untuk menanyakan hari yang dianggap paling baik untuk menanam padi.

’’Sebenarnya sudah kulihat di primbon. Ya, biar lebih mantap. Dan jangan lupa, jika lebih dari sepuluh hari lagi, benihnya sudah akan kadaluwarsa,’’ kata ibu.

Kebetulan. Ini kesempatan baik. Aku akan menanyakannya kepada Mbah Markijan, siapa tahu bahkan aku bisa tahu pula teknik memastikan prakiraan jenis kelamin janin yang masih ada dalam kandungan seperti yang dilakukan Mbah Markijan.

’’Ya, semua itu hanya berdasarkan ilmu warisan nenek moyang dahulu. Barangkalai dasarnya juga hanya ketekunan mengamati kejadian demi kejadian, membaca keadaan. Lalu jadilah teori itu. Yang dipakai sebagai landasan adalah hitungan hari kelahiran bakal ayah dan ibu si bakal bayi yang akan lahir. Cara menghitungnya, ya, sederhana saja, kamu nanti bisa menyaksikannya sendiri.’’

’’Sejauh mana, Mbah, ketepatan prakiraan itu?’’

’’Namanya juga tebakan. Tidak harus tepat, kan? Hanya saja, sejauh yang kualami dan kuingat, lebih banyak dan lebih sering benar daripada salahnya.’’

’’O, begitu, ya, Mbah? Kalau begitu tentu banyak di antara mereka yang bertaruh itu datang ke sini?’’

’’Banyak juga. Bahkan ada yang ingin bisa menghitungnya sendiri. Tapi jangan salah paham, ini bukan ilmu untuk bertaruh. Semua ilmu itu kan tujuannya keselamatan. Dalam hal ini, ya semoga selamatlah bayi yang akan dilahirkan, selamatlah pula pasangan suami-isteri yang akan segera menjadi ibu dan ayah. Maka, jika ada bayi yang lahir dengan jenis kelamin menyimpang dari hitungan ini, ya sebaiknya di-ruwat.’’

’’Jadi, harus menggelar pertunjukan wayang kulit, Mbah?’’

’’Tidak. Itu tidak termasuk sukerta yang harus di-ruwat dengan pertunjukan wayang kulit. Cukup dengan selamatan, mengundang tetangga, dan si jabangbayi itu –tentu harus sudah diberi nama— diserahkan kepada siapa situ, ke mertua, atau ke kakak, terserahlah, asal diserahkan, misalnya dengan kalimat begini: Budi ini sandang dan pangannya kami yang mengusahakan, Bu, tetapi dia adalah anak Ibu. Begitu kalau diserahkan ke ibu, atau ke mbah putri-nya si jabangbayi.’’

’’O, begitu, ya, Mbah?”

’’Ya, tapi itu juga bukan harga mati. Namanya kan kepercayaan. Jika percaya ya silakan, kalau tidak percaya ya tak mengapa.’’

Sudah dapat diduga, suasana kelahiran anak Tarmi mirip-mirip dengan suasana penarikan undian SDSB. Orang-orang makin ribut. Yang tepat menebak ribut, yang luput tebakannya juga tak kalah ribut. Bahkan ada pula yang nyaris bertengkar karena salah satu pihak menganggap pihak lainnya mengingkari perjanjian taruhan.

Tarmi melahirkan bayi perempuan!

’’Wah, sekarang Mbah Markijan sudah tak sakti lagi!’’

’’Ya. Benar. Suruh saja dia lengser dari kedudukannya sebagai dukun!”

’’Wah. Kalau raja lengser masih bisa jadi pendeta, terus kalau lengser dari dukun, mau jadi apa lagi?’’

’’Mbah Markijan sendiri tak kalah kagetnya menerima berita kelahiran anak Tarmi itu.

’’Sudah lahir? Bukankah masih delapan bulan jalan ini? Ya, yang penting semuanya baik-baik. Semua selamat.’’

Setelah meledek bakal calon isteriku –karena tadinya dia ikut-ikutan kakaknya, bersikukuh mengira bahwa calon keponakannya akan lahir laki-laki— aku mencoba mengorek keterangan.

’’Nik, aku akan bertanya, tapi jangan rame-rame ya? Boleh, ya?’’

’’Ayo, tanya apa?’’

’’Mbak Tarmi itu hamil hanya delapan bulan, ya?’’

’’Mmm, iya, barangkali. Ada apa? O, iya! Iya, ya, yaaa..!!!!!!’’

’’Iya…. Apa?’’

’’Sudahlah!’’

’’Lho!’’

’’Sampean punya dugaan Mbak Tarmi sudah hamil sebelum menikah?’’

’’Hm. Bagaimana, ya? Tapi bukan itu yang penting. Seumpama, ya, mm, ini hanya seumpama saja, lho. Seumpamanya benar demikian, berarti bukan Mbah Markijan yang oleh orang-orang dikatakan sudah tidak sakti lagi itu yang salah. Mbah Markijan dengan teorinya meramalkan bahwa anak sulung Mbak Tarmi akan lahir laki-laki. Padahal, jika Mbak Tarmi sudah hamil sebelum menikah, itu berarti bukan anak sulung, tetapi pra-sulung. Alias sebelum sulung!’’

’’Begitukah? Ya, ya. Mas, sampean kuberitahu, tapi jangan rame-rame pula, ya? Jadikan ini rahasia kita saja. Ya?”

’’Ya. Apa?’’

’’Janji?’’

’’Janji!’’

’’…………’’

’’Apa?’’

’’Barangkali, yang lahir sekarang itu bahkan anak nomor tiga atau empat!’’

’’Haaaaaa……?????’’

’’Sampean sudah janji, lho!’’

Tak tahulah, sampai bisa bicara begitu itu, dari mana Nunik dapat berita. Aku tak berani lagi mempertanyakannya. Mungkin itu hanya keyakinan Nunik saja. Atau, bisa juga, Tarmi pernah berterus-terang kepadanya.

Orang-orang masih ramai memperbincangkan kekalahan atau kemenangan mereka dalam pertaruhan. Entahlah, di antara mereka ada yang punya angan-angan melantur seperti angan-angan saya atukah tidak. Aku sendiri tadinya juga tak punya angan-angan seperti ini. Setelah diusik oleh kata-kata Nunik itulah baru jadi sebegini melantur, sampai-sampai aku jadi takut terhadap pikiran serta angan-anganku sendiri. Coba, sekarang pikiranku sedang berputar-putar begini: Mbah Markijan pernah mengatakan bahwa menurut ’hitungan’-nya, bayi pertama yang akan lahir dari pasangan Tarmi dan Marbi adalah bayi laki-laki. Ternyata yang kemudian lahir adalah bayi perempuan. Siapa yang salah? Mbah Markijan akan tetap dianggap salahkah jika sesungguhnya yang lahir dari rahim Tarmi itu bukanlah bayi pertama mereka? Lalu, seandainya pun itu adalah benar anak sulung, masih disalahkan jugakah Mbah Markijan, jika pada hakekatnya bayi itu lahir dari pasangan Tarmi dengan selain Marbi, misalnya?

Hah! Setelah lelah berbelit-belit dengan pikiran dan angan-angan sendiri, akhirnya kuteriakkan dalam batin, kepada diri sendiri: “Pokoknya semua tidak beres!” Dan aku benar-benar ingin tidur, walaupun sesungguhnya belum benar-benar mengantuk. Tetapi aku sudah jadi sedikit lega. Setidaknya sudah tahu pula apa yang mula-mula akan kulakukan esok, yaitu menemui Mbah Markijan dan mengajukan pertanyaan: “Presiden kita nanti laki-laki ataukah perempuan, Mbah?”*


Surabaya, 1999

Senin, 03 Maret 2008

Menyoal Cara Pandang Birokrat Kesenian

Seorang ketua panitia sebuah pertunjukan kesenian --proyek sebuah institusi kesenian-- merasa bangga, merasa sukses besar, karena pertunjukan gratis itu dibanjiri penonton. Biasanya, memang, digratiskan pun pertunjukan kesenian, kecuali kesenian popular, cenderung sepi penonton. Pada tataran tertentu, Si Ketua Panitia itu memang tidak salah. Persoalan baru timbul tatkala pemakaian jumlah penonton sebagai ukuran keberhasilan sebuah pertunjukan kesenian itu menjadi kecenderungan. Itu yang telah dan sedang terjadi. Ada apa sebenarnya dengan para birokrat kesenian kita di Surabaya/Jawa Timur?

Ini bukan pembicaraan tentang kesenian pop yang tanpa campur tangan pemerintah pun sudah berkembang sesuai dengan hukum pasar. Ini pembicaraan tentang jenis kesenian yang cenderung terpinggirkan, ditinggalkan pasar, karena terlalu tradisional atau bahkan juga terlalu eksperimental. Sebuah event organizer biasanya menyelenggarakan pertunjukan kesenian popular berkat dukungan sponsor, perusahaan makanan atau minuman, dan menilai keberhasilannya dari kemampuannya menyedot orang, penonton. Satu-satunya instansi pemerintah yang ’’boleh’’ memakai ukuran keberhasilan seperti itu adalah Dinas Pariwisata. Tetapi, jika institusi itu bernama Taman Budaya atau Subdin Kebudayaan, selayaknya menentukan sendiri parameter itu berdasarkan misi, visi, dan konsep kesenian/kebudayaan yang diembannya.

Jadi fatal jika sebuah institusi kesenian yang dibentuk dan didanai pemerintah [dengan uang rakyat] merasa sukses menjalankan tugasnya jika dapat menggalang massa dengan menampilkan artis ngetop, selebriti, penyanyi terkenal, bintang sinetron. Jika seperti itu halnya, apa bedanya dengan event organizer biasa?

Kesenian tradisional seharusnya lebih mendapatkan perhatian sama halnya dengan kesenian kontemporer yang bersifat eksperimental, terlebih yang menggali ruhnya dari kesenian tradisional. Dengan mental birokrat kesenian yang selalu kemrungsung untuk menarik sebanyak-banyaknya penonton itu, kita bisa memahami, mengapa di Jawa Timur, terutama di Surabaya, tidak muncul potensi-potensi seperti yang dapat kita lihat pada kelompok Sahita (Tari, Solo), Anane (Musik, Jogjakarta), DMB 2000 (Ketoprak Multimedia, Jogjakarta). Kita lalu juga memahami mengapa seorang Bawong Suatmadji Nitiberi seperti kehabisan nafas untuk meneruskan kreasi besutan-nya (menggarap lakon, teater, dengan menggali ruh teater rakyat, besutan, yang juga merupakan cikal-bakal ludruk.)

Taman Budaya Jawa Timur telah beberapa kali menampilkan seniman potensial, Subiantoro, seorang karyawan Dinas Infokom Jatim, dalang kentrung yang juga potensial di bidang musik. Kini Jawa Timur telah memetik prestise dari penampilan seorang Toro di ’’luar kandang’’, termasuk di luar negeri.

Salah satu tugas terpenting lembaga seperti Taman Budaya adalah ’’menemukan’’ toro-toro berikutnya, menemukan bawong-bawong berikutnya, dan tidak sekedar jadi tukang nanggap seniman luar kota atau luar pulau, atau luar negeri. Bukan berarti nanggap seniman ’’luar’’ itu tidak penting. Bahkan, itu sangat perlu untuk meningkatkan apresiasi, sebagai bahan perbandingan, dan menjalin persahabatan, termasuk membangun jaringan antarseniman, bukannya untuk gagah-gagahan, untuk berbanggaria ketika tempat parkir pun penuh saking banyaknya penonton.

Diakui atau tidak, sekarang ini para seniman Jawa Timur sedang mengalami semacam kegelisahan ekisistensial. Indra Tranggono yang pernah ikut membesarkan Teater Gandrik (Jogjakarta) pun mengakui bahwa pada tahun 70-an para seniman teater Jogjakarta berkiblat ke Surabaya. Sekarang, jika ingin menonton teater yang bagus, oh, maaf, yang karcisnya mahal, orang Surabaya mesti mencari-cari ke Jogjakarta, Bandung, atau Jakarta.

Di bidang seni tradisional, pada Zaman Ki Siswondo HS kita bisa membanggakan Ketoprak Siswo Budoyo. Ketoprak Mataram (Jogjakarta) pun kalah pamor dengan Ketoprak Siswo Budoyo, ketika itu. Sekarang, Siswo Budoyo adalah lagu pilu. Jawa Timur juga memiliki ludruk yang tak ada duanya di dunia ini. Sebagai seni tradisional, di habitatnya, ludruk masih menunjukkan vitalitasnya, seperti yang dapat kita lihat pada Ludruk Karya Budaya (Mojokerto) yang bisa sebulan penuh tak ada hari kosong tanpa pentas itu. Seperti disinggung tadi, seorang Bawong Suatmadji Nitiberi pun sudah mencoba mentransformasikan ruh ludruk ke dalam bentuk teater dengan semangat ’’baru’’, yang, sayangnya tidak bernafas panjang, antara lain karena potensi itu tampaknya gagal ditangkap dengan baik oleh birokrat kesenian.

Cara pandang para birokrat kesenian (yang menilai keberhasilan sebuah pertunjukan seni terutama dari kemampuannya menyedot penonton) itu seyogyanya segera disadari dan kemudian diubah, sebelum menjadi virus yang diam-diam menghancurkan. Boleh disebut virus, karena penyebarannya sudah bisa terlihat pada beberapa seniman yang tampak lebih suka membuat sensasi, menggalang massa, misalnya dengan menjadi ’’seniman’’ dan sekaligus event organizer partai politik. Tetapi, apa boleh buat, jika justru itulah kelebihan Surabaya dan Jawa Timur dibandingkan kota dan provinsi lainnya di Indonesia ini? []

Minggu, 02 Maret 2008

Moch. Nursyahid Purnomo: Sastra Pinangka Usada

(1)

''Dhik Bon, iki Sastra Jawa kesripahan maneh, Pak Nursyahid seda sore mau,'' mangkono Pak Suharmono Kasiyun ngabari aku nganggo SMS (bengi, Selasa, 29 Maret 2005). Disusul SMS-e Pak Trias saka Semarang, ''Dhik Bon layat menyang Sala?'' sing banjur takwangsuli, ''Wadhuh, boten saget, mugi Pak Nursyahid manggiha raharja.''


Aku kaget, nalika sawatara sasi kepungkur Pak Nursyahid nekani acara bedhah bukune Pak Parto, Donyane Wong Culika, ing Surabaya, bareng karo Mas Dhanu Priyo Prabowo sing saka Ngayogya, lan ngonangi wartawan lan sastrawan Jawa asal Tuban iku wis ora ngrokok. Kamangka, biasane nyepur. Batinku, ''Pak Nur iki mesthi wis entuk peringatan keras saka dokter.'' Tegese, jantunge wis aweh tengara ''lampu kuning''. Watuke yen bengi ya nggigil wae (ndilalah bengi kuwi aku uga melu nginep ing daleme Pak Parto).

Ewasemono, krungu kabar ndadak manawa Pak Nursyahid tilar donya, aku ya kaget. Ing pikiranku sadurunge, Pak Esmiet kae tetahunan nandang diabetes komplikasi karo hypertensi, ning kaya-kaya malah entuk suntikan kekuwatan linuwih saben-saben nekani acara Sastra Jawa. Malah nalika Kongres Basa Jawa III ing Yogyakarta, Pak Esmiet sing mlaku wae wis dituntun, ndadak dadi makantar-kantar nalika teka gilirane ''medhar sabda.'' Nganti kawetu guyonan ing antarane kanca-kanca, jare Esmiet ndadak sumringah kuwi ora merga acara Sastra Jawa-ne, nanging merga lunguh jejer karo Sunyahni. Lhadalah!

Sawatara wektu sadurunge sowan pangayunan-E Gusti Kang Akarya Gesang, Esmiet nandhang saka rasa ruamngsane dhewe manawa Sastra Jawa lagi ketaman sepatane Empu Sedah. Mula bebasan kaya dierog, sastrawan Jawa gumrudug 'katimbalan.' Sing asli Blora wae, kaya sing disebut Nursyahid ing guritane sesirah Blora:

wis padha lerem ngaso ing bumimu sawetara
kadangku tinresna
ngalimu ana salim, sukarman sastrodiwiryo,
suripan sadihutomo, poer adhie prawoto,
anjrah lelana brata
sing padha pralaya ing bharatayuda
ing ayome alas jati sing kerep dicolongi
isih krungu tembang rawat-rawat ngunggar ati
he penggurit, aja padha seneng sambat
ora duwe dhuwit
terus nulisa lan nulisa, senajan panguripan saya medhit

Sala, 15 Januari 2003

Esmiet, nalika ketemu aku lan Keliek Sugeng Wiyadi ing Surabaya malah kandha manawa kaya-kaya dheweke kuwi dadi lelantaran sasmitaning gaib bakal tumibaning mangsakala tinimbalan tumrap para pengarang sastra Jawa. ''Aku dhewe sedhih, wis wong (sastrawan Jawa, Bon) pira wae sing banjur tumekaning pati sawise taktekani. Yen kelingan aku sok ya nangis dhewe, kok kaya-kaya aku iki dadi pengawak Yamadhipati. Mas Tamsir, Mas Muryalelana, Mas Suripan, padha tumekaning pati mung sawatara dina sawise takendhangi,'' mengkono ujare Esmiet nalika iku.

Precaya apa ora, ya jenenge wae crita barang wis kelakon (kathik sing crita ya tukang crita, tukang ngarang!), ana humor pahit ing antarane critane Esmiet iku. Karo salah sijine putrane saka salah sijine garwane, Esmiet mlaku-mlaku menyang Ungaran. Jare, dumadakan kangene marang Pak Muryalelana ora bisa diampet. Tenan, kelakon dolan lan ketemu Pak Muryalelana. Baline menyang Banyuwangi mampir Surabaya, mampir daleme Pak Parto (Suparto Brata). Ndilalah sing ana ing dalem mung Bu Parto. Ujare Bu Parto sambi ngladekake unjukan, Pak Parto lagi mbengkelake mobile. Nanging Pak Esmiet kesusu pamitan. ''Aku bali saiki Mbakyu, salamku kanggo Mas Parto. Wis ta, angger padha seger kuwarasan,'' mangkono kandhane Pak Esmiet. Seminggu sawise iku, ana kabar saka Ungaran manawa Pak Muryalelana seda, bareng sewengi karo sedane Bu Parto.

Nursyahid Purnomo iku klebu enthengan banget, waton nampa ulem, dheweke prasasat ora tau duwe alasan kanggo absen ing acara sastra Jawa ing ngendi wae. Yen mung menyang Surabaya wae kaya menyang latar utawa mburi omah wae. Pungkasan, dhek tanggal 5 Maret 2005, dheweke ya isih kober nekani acara diskusi buku Multatuli, Pengarang Besar Pembela Rakyat Kecil kang ditulis dening Drs Moechtar, Pimred Panjebar Semangat, ing toko buku Togamas Surabaya.

Ketemu ing kalodhangan iku, aku diwenehi kenang-kenangan arupa buku kumpulan geguritane Kampung Laut kang dibabar dening STSI Press Surakarta (2004). Baline dakuntapake tekan Terminal Bungurasih, lan ora ngira manawa pepisahanku karo dheweke nalika iku dadi pepisahan kanggo selawase.

(2)

Wiwit taun 1980-an aku kenal jeneng Moch. Nursyahid Purnomo wiwitane saka crita cekak lan geguritan-geguritane sing kapacak ing kalawarti basa Jawa: Panjebar Semangat, Jaya Baya, lan Mekar Sari. Luwih-luwih nalika dheweke dadi rerasanan ing Sanggar Triwida, nalika adu tulisan (polemik) ngenani pornografi ing sastra Jawa lan nuding pengarang saka Sanggar Triwida: Harwimuka lan Tiwiek SA kadidene pengarang lekoh. Nanging, aku lagi kelakon ketemu adu arep karo Nursyahid nalika rapat calon redaksi tabloid Jawa Anyar ing Griya Wartawan Jl Kandangdara 1 Sala, dhek taun 1992. Sawise iku aku tansah ketemu Pak Nur merga padha-padha dadi staf redaksi tabloid Jawa Anyar ing Sala, bebarengan karo Suparto Brata, Tamsir AS, lan Ardhini Pangastuti.

Nalika iku batinku kandha, pranyata Nursyahid luwih tuwa tinimbang sing takbayangake. Nanging, pranyata jiwane luwih enom tinimbang umure. Dheweke isih seneng gojeg, malah tau keladuk, ing tengah-tengahe Pak Tamsir, Pak Parto, lan Ardhini, kathokku diplorotke, pas bengi nglembur sadurunge cetak -dadi aku ya mung kathok kolor-an. Yen guyon jan memel banget, nganti keklek-keklek, nganti praupane mbrengangang, nganti watuk-watuk.

Mbaka sithik aku uga banjur sangsaya ngenal pribadine Nursyahid kadidene pawongan sing prasaja banget. Nanging buwangen sing adoh tembuh 'prasaja' iku yen wis ngrembug semangate makarya, nguber pawarta, ya nulis, kadidene wartawan apadene pengarang/penggurit, uga kadidene pegawai negeri (karyawan STSI Surakarta). Bisa dibayangake, kayangapa repote ngedum wektu kanggo kantore ing STSI Surakarta lan kanggo nguber pawarta, nulis laporan, ngarang crita cekak utawa ngripta geguritan, lan uga mbesut naskah-naskah sing mblasah ing meja kang diadhep kadidene redaktur. Kamangka, kajaba dadi redaktur Darma Nyata, banjur Panakawan, banjur Jawa Anyar, banjur Pos Kita, nalika iku Pak Nursyahid uga isih sregep nulis laporan kanggo kalawarti Panjebar Semangat.

Ing jagade Sastra Jawa (Modern), Moch. Nursyahid Purnomo klebu penulis/pengarang/penggurit sing produktif. Senajan uga nulis nganggo basa Indonesia, Nursyahid katone luwih tentrem ing jagad Sastra Jawa. Esai, crita cekak, lan laporan-laporane tansah mbrudhul kaya ora ana enteke.

Kayadene keh-kehane pengarang sastra Jawa, Moch. Nursyahid uga duwe jeneng singlon: Tatiek Handini, Atiek Probohening, Tat\ntri Linggarjati, Santo Dewangga, Priyanti Purnomosidi, lan Purnomo HS. Biasane, jeneng singlon iku uga kanggo ngawekani produktivitas-e. Ben sing maca ora waleh, utawa uga kanggo milah-milah jinis karyane kaya sing ditindakake dening Suparto Brata, upamane, nalika ngarang crita sing ana sesambungane karo tema-tema agama banjur nggunakake jeneng M. Soleh, lan nganggo jeneng Peni nalika nulis crita ngenani asmara utawa donyane para taruna.

Moch. Nursyahid iku pengarang sing utun banget. Sregep, lan uga enthengan. Aku weruh dhewe nalika ing Jawa Anyar, dheweke gelem wae diereh dening yunior-e sing mentas nekani konferensi pers supaya nulisake beritane. ''Tinimbang tulisanmu ora cetha, kene critaa, taktulise!'' malah mengkono kandhane Nursyahid!

Kanca-kanca pengarang/penggurit racake nganggep manawa Mohc. Nursyahid iku luwih menjila guritan-guritane, senajan crita cekak lan esai-ne ya akeh. Racake, guritane Nuryahid iku romantis, basane prasaja, nanging ya ing kaprasajane iku dumunung kekuwatane, upamane, dheweke kasil ngungalake kaendahan paradoksal ing guritan cekake sing asesirah Mripat, ''mripat/cahyamu landhep kaya panah/nanging endah//.

Urip ing lingkungan cedhak kraton (Mangkunegaran lan Kasunanan Surakarta), nyambutgawe ing lingkungan akademis (STSI Surakarta) ndadekake Moch. Nursyahid sing asline klairan pesisiran (Tuban) sugih pengalaman kadidene wong Jawa. Nulis lan ngripta nggunakake basa Jawa, wis ora ana prakara teknis tumrap Nursyahid. Bab iku beda karo sing dialami nom-noman saiki sing nyoba melu ambyur ing jagading Sastra Jawa.

Senajan ngripta guritan (puisi bebas) nanging Nursyahid ora kepaten obor karo sastra Jawa klasik, Jawa Kuna apadene Tengahan, kenal tembang, apal banget crita wayang, lan serat-serat karyane para pujangga Jawa. Ora mung bisa nembang, kulina maca serat-serat lawas, Nursyahid mbokmenawa uga urip ing antarane kumandhange tembang-tembang iku. Iku ya beda karo para penggurit sabarakanku sing wis ora pati wanuh karo tembang, sengkalan, lan sapiturute, lan ora pati sambung karo Sastra Jawa Klasik.

Aku ora lagi nyenyamah para penggurit sabarakanku, apamaneh sing saka angkatan sangisorku, nanging mung pengin ngandhakake manawa diakoni utawa ora pancen ana jurang sing kudu diambah, kareben Sastra Jawa Modern (ing bab iki guritan) ora kelangan rasa Jawa-ne. Kareben ora diarani mung puisi sing ditulis nganggo basa Jawa, senajan iki bisa uga ora gegayutan karo kualitas. Mbokmanawa prekara pilihan wae.

Wong-wong sok isih seneng bengok-bengok, sambat, jare Sastra Jawa saya sekarat. Mangka, pengarang lan penggurit anyar, isih enom-enom, padha gemrudug melu ambyur ing jagading Sastra Jawa. Ing Jawa Timur, upamane, ana Sumono Sandy Asmoro, W Haryanto, Indra Tjahyadi, Widhi Asyari, Mashuri, Aris Bandeng, lan liya-liyane, nyambung generasine Budi Palopo, Keliek Sugeng Wiyadi, Es Danar Pangeran, Bene Sugiharto, Nyitno Munajad, lan sapiturute. Iki kabar sing nyenengake.

Malah, ing antarane penggurit mudha iku akeh sing sadhar marang pilihane, ngripta guritan ora mung kanggo gagah-gagahan, ora mung ben diarani isih Jawa, nanging niyat nindakake saweneh ayahan (ngripta geguritan) kanggo Sastra Jawa.

Kesadharan iku saiki dadi penting, jalaran ing satengahe wacana multikulturalisme iki, sakehing bab sing gegayutan karo jatidhiri, identitas, bisa dipolitisasi, bisa ditunggangi kepentingan-kepentingan sing tundhone mung gawe rusak.

Ngripta guritan (puisi Jawa) iku dadia saweneh kebutuhan ekspresi, merga tumrap wong Jawa istingarah ana rasa sing sok ora bisa tuntas disuntak nganggo basa saliyane basa Jawa. Lan, mbokmanawa ing tataran sabanjure, kaya sing diwelingake Nursyahid liwat guritane kang sesirah In Memoriam (kang katujokake marang kadange, penggurit Anjrah Lelana Brata kang ndhisiki tilar donya): welingku, tambane laramu perlu disranani/bali sregep ngripta guritan…. (!)

Kanthi tembung seje, Nursyahid precaya manawa ngarang, ngripta karya sastra, mligine guritan, iku bisa dadi srana kanggo terapi, ngusadani dhiri. Lan aja lali, sing jenenge pati kuwi ora bisa ditambani. ''Digedhongana, dikuncenana wong mati mangsa wurunga….'' Sugeng tindak Pak Nur, mugi ndika manggiha raharja.*

Surabaya, 2005

Nate kapacak ing Suara Merdeka

In memoriam Prof Dr Suripan Sadi Hutomo

HB Jassin-nya Sastra Jawa itu pun Kini telah Tiada

Minggu siang, 5 Februari lalu, Suripan Sadi Hutomo nampak lelah. Padahal, hari itu adalah ulang tahunnya.Ultah ke-61. Tidak seperti biasanya, siang itu ‘DoktorKentrung’ ini mengundang pengarang-pengarang sastraberbahasa Jawa (sebagian sastrawan berbahasa Indonesia) berkumpul di rumahnya, Bendul Merisi Selatan Gg. Lebar 51B.


Acaranya, selain membaca puisi juga memperbincangkan sastra Jawa moderen. Apalagi, siang itu hampir mayoritas yang diundang adalah pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Melalui acara itu Suripan berpesan supaya pengarang sastra Jawa, terutama yang muda-muda, supaya lebih rajin menulis dan menerbitkan buku. “Terbitkanlah buku antologi, baik guritan maupun cerkak,” kata Suripan sambil duduk bersandar di kursi rotan.

Agaknya, itulah pertemuan terakhir Prof DR Suripan Sadi Hutomo dengan pengarang sastra Jawa. Sebab, setelah itu, Suripan kembali dengan kesibukannya, khususnya sebagai guru besar. Contohnya Selasa (20/2) lalu, mulai pukul 08.00 s.d 15.00 WIB, Suripan masih mengikuti rapat senat di Universitas Negeri Surabaya. an, Jumat (23/2) lalu, pukul 15.00 WIB, Suripan meninggal dunia di RS dr Ramelan Surabaya.

Pertemuan tersebut, sekali lagi, menunjukkan betapa dekatnya Suripan yang profesor doktor itu dengan pengarang-pengarang muda. Dalam banyak kesempatan, dia paling suka bila dikunjungi anak-anak muda. Diskusi apa pun dia tanggapi. Yang mengesankan, bila kebetulan bukunya diterbitkan, maka setiap ‘tamu istimewanya‘ itu masing-masing disangoni buku.

Pengarang Muda
Perhatian Suripan yang besar ini ditunjukkan ketika Suripan mengasuh rubrik Balada di edisi Minggu H.U.Bhirawa (terbitan Surabaya). Itu terjadi pada tahun 70-an. Banyak penyair Jawa Timur yang puisi-puisinya mendapat ulasan khusus di rubrik tersebut. Bahkan, pamor Zawawi Imron pun mengorbit sebagai penyair melali rubrik tersebut. Demikian juga dengan Emha Ainun Nadjib dan (alm) Linus Suryadi AG rajin mengirim puisi di Balada. Bukan sekali-dua saja Linus atau Emha harus begadang di rumah Suripan di BendulMerisi.

Penulis (Bonari Nabonenar) mempunyai pengalaman mengesankan. Ketika itu tahun 1990 penulis menghadiri Festival Penyair Jawa dan Seminar Nasional Puisi Jawa di Gedung O IKIP Negeri Surabaya. Begitu penulis datang, beberapa teman memberi tahu bahwa saya dicari Suripan.

Benar, ketika melihat penulis, Suripan melambaikan tangannya, memanggil penulis. ‘’Ke sini!’’ hanya ituyang diucapkannya. Setelah penulis dekat dengannya,Suripan segera mengambil sebuah Majalah Horison dan memberikannya kepada penulis. ‘’Ini, bawalah, ada cerpenmu di sini!’’

Memang, waktu itu cerpen penulis, judulnya Bonsai, dimuat di Horison. Begitulah seorang Suripan membanggakan mahasiswanya yang ‘’berhasil’’ menulis. Perhatian Suripan pada pengarang muda juga ditunjukkan lewat kepeloporannya membidani Bengkel Penulisan Kreatif di Sanggar Sastra Jawa Triwida, Tulungagung. Bengkel yang dibentuk awal 80-an itu Suripan langsung menjadi instruktur penulisan cerpen, puisi, esai dan novel.

Setali tiga uang, hal yang sama juga dilakukan Suripan di IKIP Negeri Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya). Kepada mahasiswanya Suripan selalu menekankan pentingnya menulis, menulis, dan menulislah!

Itulah ‘’ajarannya’’, betapa pun Suripan sadar bahwa tak ada ‘’sekolahan’’ yang bisa mengubah seseorang menjadi penulis atau pengarang. Suripan juga sadar bahwa penulis di Indonesia pada umumnya miskin. Tetapi menulis itu, katanya, pekerjaan mulia. Bahkan, katanya pula, seandainya sekarang masih ada sistem kasta, maka penulis akan tergolong ke dalam kasta brahmana, kasta paling tinggi derajatnya. Begitulah. Maka, IKIP Surabaya, ketika itu, mungkin tergolong paling banyak melahirkan penulis/pengarang dibandingkan dengan IKIP yang lain.

Mungkin juga, seandainya Suripan dibebaskan menciptakan mata kuliah sendiri, dia akan memilih mata kuliah mengarang.

Penyair Kampungan
Suripan Sadi Hutomo, selain dikenal sebagai akademisi dan dokumentator sastra Jawa (sehingga dijuluki H.B. Jassin-nya sastra Jawa) juga menulis karya kreatif. Sejauh sudah ratusan puisi yang ditulisnya, juga puluhan cerpen.

Sebagai penyair, Suripan mendapat banyak julukan. Penyair Zawawi Imron menjulukinya Penyair Beras Kencur, sedangkan DR Setya Yuwono Sudikan menganugerahi julukan Penyair Kampungan. Penyair kampungan? Lihat saja puisi-puisi Suripan. Rata-rata menghadirkan tema-tema sosial, sindiran yang tajam tapi lembut, dan metafor atau lambang yang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kampung, seperti kenikir, kecipir, kolangkaling, curut, kremi, tikus, cwiwi, dll.

Simak saja cuplikan puisinya berjudul Curut (1975)berikut ini: Curut dan tikus, kremi dan cwiwi/ Sepiring nasi putih/ Kita telah menulis panjang sekali// atau puisinya Hartati (1975): ... Hartati nama kidungku/ Kidung daun kemangi bunga turi/ Hartati nama kidungku/ Kidung sayur lumbu ikan teri...

Selain menulis sastra berbahasa Indonesia, Suripan juga menulis dalam bahasa Jawa. Banyak yang heran, karena orang sekaliber Suripan masih sempat-sempatnya dan mau-maunya menulis dalam bahasa Jawa. Pertimbangan honor, jelas tak masuk akal. Pertimbangan publikasi yang luas, tentu juga tidak, mengingat pembaca media berbahasa Jawa jumlahnya sangat sedikit. Pertimbangan popularitas, malah makin tidak masuk akal.

Kecintaannya kepada sastra Jawa. Itulah! Maka pada pertemuan di rumahnya, 5 Februari lalu ia menegur Anggarpati, penyair wanita asal Tuban yang dilihatnya tidak lagi produktif menulis dengan bahasa Jawa. “Tapi saya masih menulis tentang sastra Jawa, Pak. Tetapi dengan bahasa Indonesia.” Apa komentar Suripan? “Asalmu kuwi saka Jawa!” (=Kamu itu berasal dari Jawa!)

Suripan Sadi Hutomo menulis dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia, dan Inggris. Tulisannya berupa kritik, esei, sajak, cerita pendek, dan lain-lain, dimuat dalam berbagai majalah/surat kabar dalam dan luar negeri, seperti: Horison, Basis, Kompas, Sinar Harapan, Suara Karya, Dewan Sastra, Panjebar Semangat, Jaya Baya, Indonesia Daily News, dan The Indonesia Times.

Bukunya yang telah terbit, antara lain:
Telaah Kesusasteraan Jawa Modern (1975)
Antologi Puisi 25 Penyair Surabaya (1975)
Surabaya dalam Puisi Indonesia (1976)
Guritan: Antologi Puisi Jawa Modern Tahun 1940-1980 (1985)
dan Hartati (kumpulan puisi, 1988).
Selamat jalan Doktor Kentrung!

(leres budi santoso)

pernah dimuat Jawa Pos

Berjuta-juta Jalan Menuju Kematian

Cerpen Bonari Nabonenar

Tiba-tiba perempuan ini menyeretku ke sebuah sudut remang nan sepi, dan memberondongkan kata-kata yang membuatku pusing tujuh keliling, membuat kepalaku cekot-cekot, membuatku kembali menempuh jalan panjang ke masa lalu hanya untuk memunguti serpih-serpih ingatan dan pengetahuanku tentang kematian. Perempuan ini kadang membuatku tertawa-tawa, kadang membuatku jengkel, marah, sedih, dan bahkan kadang ingin mati saja. Perempuan ini benar-benar membuatku sengsara. Maka, kalau aku harus bersyukur, justru kesengsaraan ini, yang seolah ditimpakannya kepadaku tanpa ampun, telah menegaskan kepada dunia bahwa aku masih hidup! Walau kenyataannya aku telah mati berkali-kali.


Sahdan, jam 3 dini pagi sebutir peluru tepat menembus dada kiri Titin Sumartin, lalu melesat ke batang pohon hingga kulitnya mengelupas. Sayangnya Titin Sumartin belum mati, sehingga atas persetujuan dokter yang mendampinginya sebutir peluru diarahkan ke keningnya. Tapi Titin Sumartin belum juga mati. Lalu dokter bertanya, ''Hai Titin, segala permintaanmu sudah kukabulkan. Tapi kamu tidak kunjung mati. Ketemu suamimu sudah. Ketemu anak-anakmu dan cucu-cucumu juga sudah. Bilang saja, siapa yang kau harapkan?''

Sambil mengelap darah di pipinya Titin Sumartin berkata, ''Hanya satu yang kuinginkan sekarang, yaitu bertemu Ni Go Lang1, ingin kutanyakan, adakah asuransi hari tua di akhirat?''2

Sejak dua hari sebelum kematian Titin Sumartin, Ni Go Lang mengaku pusing tujuh keliling. Niatnya untuk menemui Titin Sumartin di dalam tahanan sebelum peluru menembus dada perempuan itu tak kesampaian. Ni Go Lang sudah menelepon Kepala Lembaga Pemasyarakatan, tetapi tidak diizinkan menemui si terpidana mati itu. Lalu, lewat SMS, Go Lang berkeluh-kesah kepada teman-temannya, termasuk kepada Lewis Budy Santos yang kemudian menjawabnya dengan SMS lucu itu. Selera humor Lewis, menurutku cukup bagus. Itulah kearifan khas Lewis untuk menolong seorang teman yang menderita resah-gelisah, dan bahkan meningkat menjadi imsomnia, gara-gara gagal melunaskan keinginannya untuk bertemu dengan seorang terpidana mati pada saat-saat terakhir sebelum ajal menjemput. Bahwa kemudian karena SMS lucu itu Go Lang bahkan makin gelisah, itu mungkin soal lain. Dan soal lainnya lagi, aku pun ikut-ikutan jadi insomnia karenanya.

Aku melihat opini bertebaran di koran. Tentang hukuman mati. Aku hanya melihat-lihat judul-judulnya saja, tidak tertarik untuk membacanya. Tidak tahulah aku, mengapa tidak tertarik untuk membacanya. Mungkin saja itu adalah mekanisme batinku, bawah sadarku, untuk menghindari kemungkinan menjadi semakin gelisah dan semakin pusing. Celakaku, dalam dua hari Jumat berturut-turut di masjid yang berbeda, ke dalam telingaku memberondong teriakan kalimat-kalimat panjang tentang kematian, lebih tepatnya tentang hukuman mati!

''Kita ini bangsa yang zalim, karena hukum tidak ditegakkan. Seorang pembunuh sudah pasti hukumnya adalah dibunuh, sebab utang beras mesti dibayar beras, utang darah mesti dibayar darah. Utang nyawa dibayar nyawa. Mengapa kita menjadi sedemikian peragu, sehingga seseorang yang sudah terbukti sebagai pembunuh, berdarah dingin, lagi!—mesti menunggu belasan tahun untuk menerima hukumannya. Coba itunglah, berapa banyak harta negara yang harus dikeluarkan untuk biaya hidup puluhan dan bahkan belasan tahun si terpidana mati itu! Mengapa kita menyantuni pembunuh dan membiarkan anak yatim! Masya-Allah, kita memang benar-benar zalim! Begitulah, dan kita harus membayar kezaliman kita dengan kegelisahan hidup berkepanjangan, siang dan malam. Kita tak bisa tenang memarkir kendaraan kita di luar rumah, karena para pencuri bebas berkeliaran, bahkan setelah ditangkap dan hanya untuk beberapa bulan, atau bahkan beberapa hari ''disekolahkan'' di rumah tahanan. Mereka keluar dari tahanan dengan segar bugar, tak sebatang jemarinya pun yang dipotong Mungkin hanya memar-memar karena dihajar, dan itu menjadi semacam pelajaran tambahan. Para pencuri itu keluar dari tahanan dan menjadi semakin kejam, semakin jahat, karena ia telah ditempa dengan model kehidupan yang begitu keras. Maka, lihatlah hukum yang ditegakkan di Negeri Beradab. Para pembunuh itu, setelah melalui proses pengadilan yang cepat, akan segera dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya dengan kelewang di tanah lapang, bisa disaksikan masyarakat umum, bahkan juga anak-anak kecil! Bukan seperti di kita, wartawan pun mesti dikecoh. Jelas-jelas pembunuh, penjahat, masih sebegitu ditutup-tutupinya. Anehnya lagi, tulisan-tulisan di koran-koran justru seperti disengaja untuk memancing-mancing rasa iba dan belas kasihan publik kepada si terpidana mati. Sudah begitu, kita masih bisa bilang merindukan masyarakat yang aman.''

Begitulah. Maaf, aku tidak bisa menirukan persis seperti aslinya. Juga, karena kalimat-kalimat itu, yang diteriakkan dengan amarah yang kental di antara ratusan orang yang hanya bias duduk terdiam itu, sangat memusingkan. Dan karena tidak sedang berada dalam forum diskusi, aku tidak bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk meredakan kegelisahanku. Aku hanya bisa diam. Seperti ratusan orang selain aku juga diam, membiarkan diri dimarahi habis-habisan! ''Kita ini benar-benar bangsa yang bebal. Bangsa yang abai terhadap seruan Tuhan. Kita ini benar-benar zalimun…!’’

Titin Sumartin sudah mati. Mungkin dia sudah benar-benar beristirahat dengan tenang. Sebab dia telah membayar hutangnya. Hutang tiga nyawa, dibayar satu nyawa? Hah? Bagaimana ini? Semakin lama, hutang ini tidak semakin berbunga! Atau, kalau mesti membayar tanpa bunga pun, bagaimana? Bukankah setiap manusia hidup hanya memiliki satu nyawa? Kepalaku tambah cekot-cekot!

Jangkrik! Ketika aku bertemu Ni Go Lang di Kantin Gumerah di tengah kota yang gerah, perempuan sipit –jangkrik-nya, dia cantik!—itu sudah bisa tertawa dengan riang. Seperti tak punya beban batin lagi. Lho, lho, dari siapa dia belajar ilmu memindahkan resah-gelisah dan segenap penderitaan batinnya itu kepadaku? Jangkriiiiiik, jangkrik!

''Mas Lewis itu memang mbencekno pol kok!3 Aku ini kan serius, ingin menemui Titin Sumartin pada saat-saat terakhir hidupnya. Mungkin karena saya juga perempuan, maka saya memiliki kesedihan yang susah saya terangkan, apalagi kepada laki-laki. Seperti Titin Sumartin, saya juga punya anak. Lupakanlah untuk sementara bahwa sekian tahun yang lalu Titin Sumartin telah menjadi pembunuh berdarah dingin. Lihatlah dia, kemarin itu, menjelang ia ditembak mati itu, ia adalah seorang manusia yang sebenarnya sudah mati. Kemerdekaannya pun telah ia cicilkan untuk utangnya yang akan segera dilunaskan. Ia sudah pasrah. Sudah tak berdaya. Apakah salah jika saya merasa kasihan? Hah! Aku benci. Semua yang kuhubungi, lewat telepon, atau sekadar melalui SMS, jawabannya selalu enteng. Mbencekno!''

Koran, tabloid, majalah, boleh mengekspose berita-berita seputar Titin Sumartin dalam beberapa hari kemarin, tetapi di kalangan teman-teman pengarang, penyair, seniman di kota ini, nama Ni Go Lang sebenarnya jauh lebih populer. Ia telah mengorbankan sekian banyak pulsa untuk mengirimkan SMS, menyatakan keprihatinannya atas kematian yang akan ditimpakan oleh tangan-tangan hokum kepada perempuan bernama Titin Sumartin. Ada juga SMS Go Lang yang berisi kronologis kegelisahan dan tindakannya untuk mencoba mengenyahkan penderitaan batinnya, dari meminta referensi mengenai hukuman mati kepada seorang sejarawan, sastrawan, dan bahkan pakarhukum yang paling dikagumi. Tetapi, Go Lang tidak menemukan jawaban yang memuaskannya. Oh, ya, Go Lang juga menegaskan bahwa dia tidak memrotes dilaksanakannya hukuman mati itu. Ia bahkan menyayangkannya, mengapa itu didak dilaksanakan dulu-dulu, sehingga Titin Sumartin tidak harus menanggung penderitaan batin sekian lamanya. Lalu dikisahkanlah cerita film yang pernah ia lihat, tentang seorang anak yang lolos dari pembunuhan. Sekelompok berandal merampok dan menghabisi keluarga itu, kecuali seorang anak balita yang bahkan sempat menyaksikan hampir seluruh aksi para berandal itu dari kolong meja. Maka dendam pun tumbuh di dada si anak, bagaikan bara di dalam sekam, dan seiring pertumbuhan fisik dan dendamnya, ia memupuk ambisinya untuk dapat melampiaskan dendam atas nama keluarganya. Anak itu pun berkembang menjadi dewasa. Untuk keinginannya membalas dendam itu, kalau perlu Tuhan pun tidak akan ia takuti. Maksudnya, ia adalah seorang beragama yang taat, sebelum menyangkut urusan balas dendam itu. Maka, pada suatu hari, datanglah ia ke rumah pentolan berandal yang dahulu membantai orang tua dan saudara-saudaranya. Para centeng penjaga rumah itu dia jatuhkan satu per satu. Dan sampailah pada saatnya ia berhadap-hadapan dengan orang yang paling ia inginkan sejak ia masih kecil itu. Ternyata, pentolan berandal itu sudah teronggok di kursi roda. Ia sudah sangat renta. Jangankan dipukul, ibarat api kecil, sekali tiup pun ia bias mati. Ketidakberdayaan laki-laki tua mantan pentolan berandal itulah ternyata, yang kemudian memadamkan kobaran api dendam di dalam tokoh utama film yang dikisahkan kembali oleh Ni Go Lang.

''Nah, seperti itulah jiwa seorang manusia. Berarti, hukum itu tidak manusiawi, kan?'' protes Go Lang. Lalu lanjutnya, ''Okelah, tapi aku tidak dalam kapasitas memrotes hukuman mati atas Titin Sumartin itu. Saya hanya ingin menemuinya beberapa saat menjelang maut ditimpakan kepadanya. Mungkin juga aku hanya akan menemaninya menangis, kalau ia masih bisa menangis. Atau, bisa jadi juga aku hanya akan memperlihatkan kepadanya bahwa aku tak bisa menahan tangisku, di hadapannya. Aku hanya ingin diterima, seorang diri saja, menghadap Titin Sumartin, berbicara dari hati ke hati dengannya, jika ia masih mau bicara. Tetapi, sayangnya, birokrasi menghalangiku. –Kalau mau bicara ayo, bicara sama aku saja, lewat telepon, atau kalau mau datang ya temui aku saja, silakan datang! Jangan ganggu Bu Titin.— begitu kata Kepala Rumah Tahanan. Oh, apakah dia yang mau mati? Memangnya dia bisa bicara atas nama perasaan dan pikiran si terpidana mati? Dasar laki-laki! Pasti dia berpikiran ngeres begitu mendengar suara perempuanku di telepon! Belum tahu dia, aku bias jadi lebih laki-laki daripada laki-laki itu sendiri!''

Wajah Ni Go Lang yang putih cendawan itu pun tak urung memerah, tersulut oleh api yang kembali berkobar di dalam dada dan di kepalanya. Lima botol teh telah kosong di hadapannya. Padahal aku sendiri baru menghabiskan beberapa teguk kopi dari cangkirku. Sebagai tenaga pemasaran asuransi, Ni Go Lang terbiasa bergerak cepat. Memburu nasabah dengan cepat. Gerakannya lincah. Bicaranya juga cepat, dan dia punya energi yang sangat dahsyat untuk berbicara berjam-jam, bahkan melalui telepon. Makan cepat, minum cepat, jalan cepat. Tenaga besar, nafsu juga besar! Nafsu bicara Go Lang juga begitu besar. Ia selalu meneleponku, dan kemudian aku tahu dari teman-temanku yang juga teman-teman Go Lang, mereka juga sering ditelepon Go Lang. Pagi-pagi, misalnya, Go Lang mengirimkan SMS, ''Ini aku baru datang di kantor. Sebentar lagi mau nguber calon nasabah ke Jalan Sudirman.'' Tetapi, tak sampai setengah jam kemudian ia sudah mengirimkan SMS berikutnya, mengatakan bahwa ia sudah berada di Jalan Diponegoro, bertemu calon nasabah yang lain lagi. Dan tak lama kemudian ia sudah menelepon dari kantornya, menceritakan kesibukannya mengaduk-aduk seluruh isi kota, mengkampanyekan program-program asuransinya. Dan kamudian, pada akhirnya, seperti biasanya, Go Lang bertutur tentang novelnya yang akan segera diterbitkan oleh penerbit terkenal, tentang editornya yang berkali-kali meneleponnya untuk membicarakan program peluncuran novel itu nanti, juga tentang komentar teman-teman lain-lain yang pernah dikirimi naskahnya melalui email. Lalu, katanya, ''Ayolah, sekarang sampeyan segera daftar asuransi. Pengarang jangan sampai nanti mati hanya meninggalkan setumpuk buku, tinggalkanlah pula polis asuransi!'' sambil ngakak dan kemudian menutup telepon.

Iya. Saya tahu Go Lang sedang guyon parikena Bercanda tetapi serius. Maksudnya, ia hanya bercanda, namun seandainya aku menanggapinya serius dan kemudian mendaftar sebagai nasabahnya, tentu ia akan menerima dengan senang hati. Itulah yang kemudian menyadarkan aku, betapa selama ini aku telah menempuh jalan hidup yang sangat tidak manusiawi. Ya.Aku hidup bagaikan binatang, bekerja hari ini untuk makan hari ini, paling banter untuk besok, dan bahkan sudah ambil utang untuk makan hari ini! Aku tidak punya perencanaan untuk masa depan, terutama dalam soal keuangan. Aku sudah melompat-lompat berganti-ganti juragan, dan bahkan sudah puluhan kali berganti-ganti jenis pekerjaan, dan selalu hanya mendapatkan upah pas-pasan. Eh, kadang malah kurang! Jangan menanyaiku soal tabungan. Apalagi asuransi!

Aku malu. Benar-benar malu. Orangtuaku di desa telah menyekolahkanku. Gelar sarjana pun telah kudapat, dan kemudian aku memilih hidup di kota, memilih pekerjaan yang sekilas saja mungkin tampak lebih bergengsi daripada hanya sebagai petani seperti orang tua dan kakek-nenekku di desa. Tetapi sebenarnya aku tidak punya apa-apa yang patut kubanggakan. Terlebih kalau sudah menyangkut harta benda. Orang desaku, biasanya, jika tua sebatang kara, pastilah ada secuil tanah atau simpanan emas atau apa yang biasa disebut sebagai tunggu watang.4 Keluarga jauh, atau anak angkat, atau siapapunlah yang nanti engurusnya kalau si tua itu sudah tidak bisa apa-apa lagi, hingga mati, hingga mengurus pemakamannya, maka dialah yang berhak mewarisi tunggu watang itu, tentu, setelah diambil sebagian untuk biaya perawatan dan pengurusan jenasah. Luar biasa bukan? Orang-orang itu tidak hanya punya rencana untuk kehidupan, tetapi juga untuk kematian mereka. Sedangkan aku?

Tiba-tiba aku merasa benci pada diriku sendiri. Mengapa aku tidak bisa menerima semua perkara secara enteng seperti Arik, yang menjawab SMS Go Lang dengan kalimat ini, seperti dituturkan Go Lang, ''Titin Sumartin mungkin lebih beruntung. Ia akan menerima kematiannya itu sebagai hukuman atas tindakannya membunuh sesama manusia. Itu kejahatan besar, apa pun alasannya. Dan publikasi besar-besaran itu tak urung juga mengelu-elukannya. Memopulerkan namanya, dan menarik sekian banyak simpati kepadanya. Tidak sepertimu, Lang, aku menganggap semua itu sebagai hal yang biasa, seperti orang tersedak maupun bersin itu bukan hal yang luar biasa. Sedang ketika ayahku dipancung hanya untuk sesuatu yang dikira orang diyakininya saja aku tidak berkomentar apa-apa, apalagi meributkannya! Maka biarkanlah Titin Sumartin mati dengan cara apa pun. Bukankah memang ada berjuta-juta jalan menuju kematian?'' Lalu aku teringat Mbah Kung5, ayah nenek saya, yang justru bersedih ketika seolah kematian pun malas menghampirinya. Berbulan-bulan ia terbaring sakit. Dan tampaknya bukan hanya rasa sakit saja yang menderanya, tetapi juga rasa bosan. Bosan kepada semua, kepada hidup di dunia juga. Seluruh keluarga pun merasa kasihan justru karena Mbah Kung tak segera mati. Dan ketika tiba saatnya Mbah Kung mati, semua juga berjalan seperti biasa, kami berkabung dengan cara yang sederhana, mengurus jenasahnya dengan cara yang sederhana, karena ketika tiba saatnya, kematian itu juga menghampiri Mbah Kung dengan cara yang sangat sederhana.

Sedangkan adik Mbah Kung, atau Mbah Kung-ku yang satunya lagi, yang meninggal beberapa tahun kemudian, menyisakan misteri yang sering juga membuatku pusing tujuh keliling. Pada suatu hari, ketika aku pulang ke desa, Mbah Jamus, begitulah biasanya aku menyapanya, menitipkan pesan penting kepadaku, berisi undangan agar seluruh anak dan cucunya berada di desa dalam ''minggu ini''.

''Jangan lupa, ya? Jangan sampai mereka tidak ke desa!'' begitu Mbah Jamus menegaskan pesannya kepadaku.

Aku pikir, akan terjadi pembagian warisan atau apa. Ternyata, di usianya yang sudah sembilan puluh sekian tahun itu, ketika semua anak dan cucunya berkumpul, Mbah Jamus jatuh sakit.Seperti kena flu biasa. Ia sempat dibawa ke puskesmas untuk diopname, walaupun ia sempat bersikukuh menolaknya. Ternyata ia terus berontak. ''Aku akan mati karena jengkel, bukan karena sakit, jika kalian tak juga memenuhi permintaanku. Ayo, kita pulang saja!'' kata Mbah Jamus. Lalu mereka mengalah, mambawa Mbah Jamus pulang. Setiap saat Mbah Jamus menanyakan waktu, ''Ini sudah pukul berapa, ya?'' seolah-olah ia punya janjian dengan seseorang. Mbah Jamus menyebutkan juga satu demi satu saudara jauh yang perlu segera dikabari kalau nanti ia mati. Seolah-olah Mbah Jamus sudah begitu akrap dengan kematiannya, tahu kapan kematian itu akan datang, seperti seorang perjaka mengenali pacarnya. Ketika pada hari itu juga akhirnya Mbah Jamus mati, orang-orang seolah baru tersadar bahwa Mbah Jamus menghadapi kematiannya tidak seperti orang kebanyakan.

Aku pun lalu teringat, lama sebelumnya Mbah Jamus pernah bercerita tentang pengalamannya mengikuti pelajaran, semacam menjalani simulasi kematian. Sampai sekarang aku juga belum paham benar, apa yang dimaksudkannya dengan istilah sinau mati6 itu Apakah benar mati bisa dipelajari? Seandainya memang orang bias tahu persis kapan akan mati, apakah bedanya itu dengan sebuah hukuman? Manakah sebenarnya yang lebih indah, ketika pacar kita datang tiba-tiba ataukah yang sejak lama sudah saling berjanji untuk bertemu? Aha! Keindahan kematian? Adakah kematian yang indah? Indah menurut siapa? Bagaimana pula kriterianya? Apakah kematian Duryudana7 setelah dihajar habis-habisan oleh Wrekudara8 dan dipatahkan pahanya dengan gada itu lebih indah daripada kematian Bhisma9 setelah dadanya ditembus panah Dewi Srikandhi10? Apakah semakin tragis sebuah kematian semakin indah? Ah! Apakah kematian Titin Sumartin adalah juga kematian yang indah?

Aku jadi malu sendiri. Hidup saja nggak becus! Untuk menetralisir perasaan, aku coba menelepon Go Lang.

''Lang, besok kita ngopi yuk?''

''Jangan besok, Mas! Besok aku mati!''

''Ha…???''

''Lusa saja, ya?''

''Setelah terima klaim asuransi?''

''Hahahahaha……!!''

Lalu, Go Lang menyeretku ke sebuah sudut remang yang sepi! []


Surabaya, April 2005

Sumber: Antologi Kumcer Festival Seni Surabaya 2005: Black Forrest