Monday, 28 January 2008

Pra-Kongres Kebudayaan Jawa: Menggelar Pengadilan di Jagat Sastra Jawa

Jakarta, Sinar Harapan
Berbagai peristiwa di dunia kesusasteraan tak harus dibahas dalam diskusi atau perbincangan biasa. Seperti yang terjadi pada jagat sastra Jawa. Setelah bertahun-tahun hadiah sastra Rancage disepakati begitu saja oleh publik, kini pembahasan pada pemenang sastra Jawa selama tujuh tahun belakangan harus dilakukan melalui sebuah forum pengadilan.


Teringat pada peristiwa pengadilan di dunia kesusasteraan Indonesia pada masa lalu, pengadilan ini seakan mengulangi efektifnya sebuah pengadilan para seniman khususnya sastrawan. Ada hakim, jaksa bahkan saksi yang memberatkan dan saksi yang meringankan.
Pada momen itu yang diajukan ke pengadilan sebagai ”terdakwa” itu adalah tujuh orang sastrawan Jawa yang pernah menerima Hadiah Sastra Rancage bagi Pengarang dan Penyair Sastra Jawa Tahun 1994-2001. Bonari Nabobenar, salah seorang hakim dalam pengadilan tersebut, mengatakan enam ”terdakwa” di antaranya berasal dari Jawa Timur. Masing-masing adalah FC Pamudji (novel Sumpahmu Sumpahku, 1994), Satim Kadaryono (novel Timbreng, 1996), Esmiet (novel Nalika Langite Obah, 1998), Suharmono Kasiyun (novel Pupus Kang Pepes, 1999), Widodo Basuki (kumpulan guritan Layang Saka Paran, 2000)) dan Djayus Pete (kumpulan cerita cekak Kreteg Emas Jurang Gupit, 2001). Satu orang lainnya adalah Djaimin K (kumpulan guritan Siter Gadhing, 1997) yang berasal dari Yogyakarta.

Menurutnya, yang terjadi nanti adalah betul-betul pengadilan. Hanya, bidangnya adalah kesenian. Tujuannya sama dengan pengadilan umum, mencari keadilan. Ada ketidakadilan dalam penerimaan Rancage. ”Misalnya, sebagian besar penerimanya berasal dari Jawa Timur sedangkan Jawa Tengah belum pernah ada,” kata Bonari.

Bonari yang juga Humas Panitia Penerimaan Hadiah Rancage 2002 itu menjelaskan, kenyataan tersebut menimbulkan kecurigaan dari berbagai pihak, terutama pengarang dan penyair yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Persoalan lain yang akan mengemuka dalam pengadilan di kompleks Taman Budaya Jatim (TBJ) untuk pembacaan putusan itu adalah penjurian tunggal (berturut-turut Suripan Haditomo dan Muryalelana, keduanya sudah Almarhum) untuk menentukan sastrawan atau tokoh sehingga dicurigai bernuansa KN (kolusi dan nepotisme).

”Sedangkan untuk penjurian hingga lebih dari satu orang memang sangat berat dari segi pembiayaan. Kegiatan ini juga akan memancing perhatian berbagai pihak akan kesusasteraan Jawa. Jadi semacam pasemon (sindiran, red). Satu event pengadilan, beberapa tujuan bisa tercapai,” ujarnya kepada SH.

Menurut Bonari, dari pengadilan tersebut diharapkan juga melahirkan kedewasaan berpikir pengarang dan penyair sastra Jawa, penilaian buku karya sastra secara transparan dan merangsang kreativitas dalam penciptaan karya sastra.

Pengadilan tersebut menghadirkan Hakim Ketua Rama Sudiyatmana dari Semarang, Hakim Anggota Daniel Tito (Sragen), Bonari Nabonenar (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto) dan A Nugroho (Yogyakarta). Jaksa terdiri atas Bagus Putu Parto dari Blitar sebagai Ketua dengan anggota, Suwardi Endraswara (Yogyakarta), Triyanto Triwikromo (Semarang), Yunani Prawiranegara (Gresik) dan Budi Palopo (Gresik).

”Sebagai saksi meringankan adalah Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Herry Lamongan (Lamongan), Es Danar Pangeran (Lamongan) dan Irul Budianto (Solo). Sementara saksi memberatkan adalah Yunani Sri Wahyuni (Surabaya), Sunarko Sodrun Budiman (Tulungagung) dan Sri Widati Pradopo (Yogyakarta),” ujarnya.

Acara tersebut diikuti sekitar 80 pengarang dan penyair sastra Jawa modern dari berbagai penjuru tanah air, khususnya dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain itu juga dihadiri pemerhati sastra Jawa, para ahli sastra Jawa, dan peneliti sastra Jawa.

Terpuruk

Agenda Pengadilan Sastra Jawa ini sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan yang dilaksanakan sebagai persiapan menjelang Kongres 2003 mendatang. Berbagai event diadakan, antara lain mulai tanggal 29 Agustus 2002, dilaksanakan seminar dengan tema ”Membangun Kembali Citra Budaya Jawa” di Graha Pena, Jl. A Yani 88, Surabaya. Pembicaranya adalah Arswendo Atmowiloto (Jakarta), Dr. Damardjati Supadjar (Yogyakarta), Drs. Darmanto Jatman, S.U. (Semarang), dan Dr. Sindhunata (Yogyakarta).

Acara menarik lainnya pada Pekan Budaya Jawa yang akan dihadiri seniman, budayawan, dan cendekiawan Jawa sekitar 300 orang ini, adalah penyerahan Hadiah Rancage untuk Sastra Sunda, Jawa, dan Bali, Peresmian Pusat Dokumentasi Sastra Suripan Sadihutomo, dan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Daerah, di Kantor Pusat Unesa, Kampus Ketintang, Surabaya (Sabtu, 31 Agustus 2002).

”Fenomena kegiatan menjelang Kongres Sastra Jawa 2003 antara lain terpuruknya citra kebudayaan Jawa pada era reformasi karena kegagalan rezim Orde Baru dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Disintegrasi bangsa seakan-akan menjadi ‘bom waktu’ yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Konon kebudayaan Jawa yang adiluhung dituduh sebagai factor penyebab layak untuk dipertanyakan, direkonstruksi dan didekonstruksi.

Sistem kekuasaan Jawa, filsafat Jawa, psikologi Jawa, dan kesenian Jawa menjadi topik yang tak henti-hentinya menarik untuk dikupas habis guna membangun kembali citra kebudayaan Jawa,” demikian dasar pemikiran tercetak pada leaflet yang disebarkan panitia.
Ketika ditanya apakah acara Pengadilan Sastra Jawa nanti itu hanya akan jadi semacam sensasi, Dr. Setya Yuwono Sudikan, Ketua Panitia Pekan Budaya menegaskan bahwa acara itu memang sangat mendesak untuk digelar.

Menurutnya, benang kusut di balik penjurian hadiah sastra ”Rancage” (untuik sastra Jawa) yang ditengarai bernuansa KN (Kolusi dan Nepotisme) patut untuk diurai, sebab ada penerima yang dipandang belum waktunya.

Yuwono juga adalah dosen yang rajin menulis, tapi belakangan ini mengaku jera dalam menulis kritik sastra Jawa. ”Saya merasa sudah cukup banyak memakan korban. Beberapa penggurit (penyair Jawa) patah di tengah jalan hanya gara-gara kritik saya,” ujarnya dalam nada sesal.

Seperti kongres sebelumnya yang tidak terlihat hasil lanjutan, menurut Bonari, momen pra-kongres berupa pengadilan ini, diharapkan juga akan mengundang banyak pihak untuk mau memperhatikan kondisi kesusasteraan Jawa di masa mendatang. Semoga. (srs)

Copyright © Sinar Harapan 2002

Sinar Harapan, Senin, 26 Agustus 2002

Seruling Asmara

Aku masih ingat dan haqul yakin bahwa tidak ada yang salah pada ingatanku, bahwa hari itu adalah hari Senin-Legi malam Selasa-Kliwon. Aku bukan panitia, tetapi menjadi salah seorang pengisi acara pagelaran seni di salah satu jurusan di Universitas 21 April pada waktu itu benar-benar membuatku sibuk sejak pagi. Aku hanya harus menyanyikan dua buah lagu, Jaka Lelur dan Minggat. Aku sibuk terutama bukan di fisik, tetapi di batin. Aku mesti tampil prima karena ini akan menjadi penampilan pertamaku di almamaterku (aku lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas 21 April dua tahun lalu).

Untunglah, akhirnya acara gladhi resik dari pukul tiga hingga empat sore berjalan lancar. Bahkan di luar dugaanku, aku merasa mendapatkan suntikan semangat yang luar biasa dahsyatnya. Kekuatan asmara? Itulah yang kurasakan bekerja di dalam jiwa-ragaku, jika terlalu mewah kalau aku menyebutnya sebagai kekuatan cinta.

Suara seruling itulah! Oh, suara serulingnya ataukah peniupnya? Entahlah. Yang pasti kurasa adalah, saat menyanyi, rasanya semua suara instrumen musik Campursari Tresnalaras hilang ditelan oleh suara seruling itu. Entah bagaimana aku harus menggambarkannya. Aku hanya merasakan bahwa hanya suara seruling itulah yang menuntunku menyanyi. Dengan suara seruling itulah suaraku, vokalku, jalin-menjalin, pilin-memilin, meniti anak tangga di udara, menuju awang-awang, menuju langit, mengangkasa, mendekati Kahyangan Batara Kama dan Dewi Ratih? Oh, betapa indahnya.

Pantaskah aku mengagumi diriku sendiri? Oh, tidak! Aku hanya mengalami –atau jangan-jangan hanya merasa mengalami— sebuah keharmonisan, paling tidak antara suaraku dengan suara seruling itu, yang terbangun sedemikian cepat. Nah, tapi apakah aku hanya jatuh hati pada seruling? Tentu tidak. Aku jatuh hati pada peniupnya. Pada orangnya. Dan tentu lebih dari sekedar kebetulan jika peniup seruling itu ialah laki-laki yang telah kukenal sejak aku menginjakkan kaki pertama kali di Universitas 21 April.

Ia adik kelasku. Namanya Turasmara. Entah, aku tak tahu dan tidak pernah menanyakannya, apa arti namanya itu. Mungkin aku lupa menanyakan makna di balik nama itu karena selalu terpesona oleh ketampanannya. Dulu memang begitu, tetapi sekarang, kehidupan telah cukup mengajariku, dan aku tidak gampang terpesona oleh ketampanan laki-laki. Dulu aku dibuatnya mabuk tak terobati, oleh ketampanannya. Ia tak pernah menerima cintaku, walau juga tidak terang-terangan menolak.

’’Kita bersahabat saja. Aku jadi seperti adikmu, kau jadi kakakku. Itu lebih dari cukup bagiku,’’ katanya.

Yang lebih menyakitkan hatiku, ia selalu bercerita dan bahkan curhat ke aku jika ada sesuatu yang menurutnya istimewa dalam hubungannya dengan kekasih-kekasihnya. Ia berganti pacar sampai empat atau lima kali dalam setahun. Kurang ajar, ya? Tetapi aku lebih kurang ajar lagi. Aku tetap saja menginginkannya, menginginkan cintanya, menginginkan tubuh, keringat, jerit, dan tawanya! Tetapi tak pernah mendapatkannya. Bahkan, ia tegas menolak ketika aku berusaha merenggut keperjakaannya secara kasar (Ah, apa iya ia masih perjaka? Mengakunya sih, begitu). Ia terlalu kukuh. Tetapi waktu itu aku menganggapnya terlalu angkuh.

’’Jangankan yang seperti ini, yang nyata begini,’’ katanya, ’’sedangkan di daalam mimpi pun aku tak pernah membiarkan keperjakaanku terenggut sebelum aku menikah dengan perempuan pilihanku.’’

’’Nah, pilihlah aku. Lalu kita menikah, ddan jika kau tetap tak bersedia menyerahkan keperjakaanmu, maka renggutlah keperawananku,’’ tantangku.
Tetapi ia hanya tertawa. Tetapi tampaknya gemas juga. Diraihnya bahuku, dipeluknya aku, lalu diciumlah keningku. Enak? Samasekali tidak! Nanggung!

Itu sekitar tiga tahun lalu, ketika ia masih aktif di organisasi pecinta alam. Tak pernah sekali pun kulihat ia bermain musik. Yang aku tahu selama itu, keseniannya ya olahraga itu. Paling banter seni beladiri, pencak silat.

Kini, ia tampil dengan wajahnya yang dulu, yang tampan. Yang sungguh mengejutkan adalah, sejak kapan ia belajar bermain seruling dan kemudian bergabung dengan grup campursari Tresnalaras itu?

Ah, jika saja bisa kembali sejenak ke masa lalu, tentu aku dapat mengoreksi kesalahanku.

Begitu lulus, membawa hati yang patah, lalu kubiarkan tubuhku terjatuh ke dalam pangkuan lelaki yang sesungguhnya tidak begitu menarik. Kaya sih kaya, tetapi jiwanya kering. Setiap hari yang ada di hati, otak, dan bahkan di kelopak matanya hanyalah angka-angka. Buktinya, ia selalu menyebut angka. Segala sesuatu diukur dengan angka. Sedangkan aku lebih suka mengukur segala sesuatu dengan nada.

Aku suka menyanyi. Sejak usia belasan tahun aku sudah suka menyanyi. Lagu apa saja, aliran musik apa saja yang sempat kupelajari. Aku tidak pilih-pilih lagu dan jenis musik pada awalnya, sampai akhirnya merasa lebih pas di campursari. Aku sadar terlalu jauh jalan menuju ibukota. Dulu belum ada AFI, belum ada Indonesian Idol. Maka kupikir, selayaknyalah jika kemudian aku memilih setia kepada campursari byang telah membawa, menerbangkanku ke negeri-negeri impian. Maksudku, negeri yang semula hanya bisa kuangankan di dalam lamunan: Singapura, China, Strali, Belanda. Sumpah setia yang nyaris kukhianati sendiri karena kekangan suamiku. Untunglah ada perempuan lain yang secara tidak langsung mempercepat proses pelepasan diriku dari kekangannya.

Aku bercerai dengan Mas Aryok. Baru tiga bulan yang lalu. Kami bertengkar sedemikian hebat, begitu secara tak sengaja kutemukan sisa kondom di saku celananya. Untungnya, kami belum punya anak.

Aku menyesal, mengapa serta-merta memutus hubungan --setidaknya hubungan persahabatan-- dengan Turasmara begitu aku lulus kuliah. Kini aku tahu, seharusnya sesekali aku mengontaknya. Setidaknya untuk menanyakan kabar terakhirnya, hingga aku tidak perlu terkejut ketika tiba-tiba sudah menemukannya sebagai seorang peniup seruling.

’’Kini aku mencintai seruling ini lebih dari apa pun juga,’’ katanya setelah menceritakan kisah cintanya yang ternyata tak kalah konyol dengan kisah cintaku.

’’Apakah itu nggak bisa diubah?’’ tanyaku.

’’Diubah bagaimana?’’

’’Sasarannya….’’

Lalu pembicaraan kami pun melantur tak karuan. Kami sama-sama senang, karena pagelaran seni itu telah sukses.

’’Ra…?’’

’’Apa?’’

’’Aku bosan menjadi manusia.’’

’’Haaa…?’’

’’Aku ingin menjadi sebuah seruling. Maukah kau meniupku?’’
Aabrakadabra! Dan jadilah aku sebuah seruling. Irama tiupan Turasmara benar-benar bagaikan menerbangkanku, membuatku melayang-layang di antara gemerlap bintang. Rembulan pun serasa hanya tinggal sejengkal dari ujung telunjukku.

Aku terus meliuk-liuk di antara serpih awan, menerjang rintik hujan. Inilah kenikmatan yang bertahun-tahun hanya dapat kuangankan. Sekarang menjadi kenyataan. Jemari Turasmara, tiupan lembutnya, sentuhan lidahnya, membuatku makin melambung, melayang-layang di awing-awang.

Lengking suara itu, oh, suaraku sendiri? Dan kini, kami telah menciptakan sebuah lagu baru: Kehidupan Baru.[]



Catatan:
Minggat adalah judul lagu karya Sonny Josz
Jaka Lelur adalah judul lagu karya Ranto Edy Gudel

KONGRES SASTRA JAWA: Bukan Tandingan Kongres Bahasa Jawa

Oleh: Widodo Basuki


Ketua Sanggar Sastra (Jawa) Triwida, Sunarko Budiman, lewat tulisannya yang dimuat majalah Panjebar Semangat menggulirkan gagasan perlunya diadakan Kongres (Tandingan) Bahasa Jawa, untuk menandingi Kongres III Bahasa Jawa yang akan digelar di Yogyakarta, Juli 2001. Tampaknya gagasan Narko itu muncul karena terdorong rasa kesal, karena sebagai pengarang, dan bahkan sebagai Ketua Sanggar Triwida, dia masih harus beli tiket untuk dapat mengikuti KBJ di Yogya itu. Dia harus keluar duit Rp 500.000,00. Lima ratus ribu rupiah. Wah! Itu sama dengan honorarium 10 crita cekak (=cerita pendek berbahasa Jawa). Kekecewaan tambahannya, seperti yang juga dirasakan kebanyakan orang, adalah KBJ yang sudah 2 kali diselenggarakan itu sepertinya tidak menghasilkan apa-apa. Paling banter hanya berhenti sebagai keputusan di atas kertas yang tindak lanjutnya tak karuan juntrungnya.


Kesannya memang emosional. Atau mau mengikuti tren? Sedikit-sedikit bikin tandingan, organisasi tandingan, demo tandingan! Tetapi, sebagai ide, sebagai gagasan, patut juga dihargai. Jika benar nanti terlaksana, tak perlu dipandang terlalu miring. Toh, kekesalan itu tentu dilandasi pula oleh rasa melu handarbeni (=ikut memiliki) bahasa dan sastra Jawa. Jika tidak terlaksana, hanya berhenti sebagai gagasan, sisi positifnya akan muncul jika suara pengarang yang oleh kawan-kawannya dijuluki “Sodrun” itu didengar oleh Panitia Kongres III Bahasa Jawa, sehingga perhelatan yang biayanya sangat besar itu tidak sekedar menjadi Kongres “Omong Kosong” seperti yang sudah-sudah.

Senada, tetapi gagasan Bonari Nabonenar tampaknya lebih netral, walau, ketika dilontarkan pada pertemuan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) ada beberapa orang yang masih memiliki kesan “tandingan” karena masih memakai istilah “kongres”. Yang ada dalam angan-angan Bonari adalah Kongres Satra Jawa. “Teman-teman dari sastra Indonesia sudah berhasil menyelenggarakan Kongres Cerpen (Yogyakarta, …….). Mengapa kita tidak bisa menggelar Kongres Satra Jawa?” Demikian Bonari berapi-api.

“Jika sastra Jawa mati seperti yang pernah diramalkan Esmiet, mungkin saya tidak termasuk orang yang menangisinya. Tetapi sekarang, saya ingin menjerit karena sastra Jawa hidup hanya sekedar hidup, tidak dihormati, bahkan oleh para pengarang dan penyairnya sendiri,:” demikian lanjut Bonari.

Memang, Tjahjono Widijanto dalam acara Orasi Sastra Jawa di Blitar (1993) menuding para pengarang/penyair muda sastra Jawa jauh kalah “gila” oleh para pengarang/penyair muda sastra Indonesia. Para pengarang sastra Jawa rata-rata ya hanya mengarang ala kadarnya. Begitu pula penyairnya. Mereka seperti hanya mengandalkan bakat alam.

Tudingan itu harus diterima, walaupun tidak seluruhnya benar. Juga, termasuk penilaian Halim HD bahwa sastrawan Jawa modern punya stereotip: introvert. Mungkin memang begitu. Karena itulah, kapan lgi kalau bukan sekarang, sastrawan Jawa belajar unjuk gigi, belajar mem-PR(public relation)-i diri sendiri, memabangun komunitas yang sehat, dan menciptakan iklim yang kondusif demi terciptanya karya sastra Jawa modern yang tidak nglelingsemi (=memalukan).

Maka, bagaimanakah komunitas dan jaring komunikasi itu bisa dibangun, bagaimana menciptakan media alternatif untuk mensosialisasikan karya sastra Jawa, bagaimana hadiah sastra Jawa bisa diberikan oleh “orang Jawa” sendiri kepada pengarang/penyair yang berprestasi, bagaimana bisa diupayakan kegiatan-kegiatan bengkel penulisan kreatif, seminar, parade baca cerpen/puisi secara periodik, dan bahkan juga bagaimana cara merayu pemilik dana agar berani mensponsori kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sastra Jawa? Itu bukan pertanyaan-pertanyaan sepele yang bisa terjawab dalam seminar sehari, apalagi setengah hari, dengan pembicaraan setengah hati pula. Karena itulah, perlu adanya Kongres Sastra Jawa. Dan alangkah baiknya bila dapat diselenggarakan sebelum Kongres Bahasa Jawa. Tak perlu mahal. Tetapi harus tepat guna, tepat sasaran, dan tidak ngelantur, sehingga tindak lanjutnya juga tidak jelas.

Ada teman dari Semarang yang sudah menawarkan tempat. Bagus Putu Parto juga menyediakan Kampung Seniman-nya untuk Kongres Sastra Jawa ini. Tinggal duitnya yang belum dapat. “Jika ada lima juta rupiah saja, kami sanggup jadi penyelenggaranya!” Begitu suluk Bagus. Jumlah yang sangat sedikit, tentunya, jika mengingat hasil yang diharapkan. Nah!* (Widodo Basuki, pengurus PPSJS, penggurit pemenang hadiah Rancage Tahun 2000)

* dari Jawa Pos, Minggu, 11 Maret 2001

KEPUTUSAN KONGRES SASTRA JAWA [1]

[1] Pendahuluan

Kongres Sastra Jawa (KSJ) diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, tanggal 6-7 Juli 2001 dengan tema Sastra Jawa: Menyikapi Fenomena Kekinian Menyongsong Masa Depan, atas prakarsa para pengarang muda.


KSJ didukung oleh Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta dan beberapa pihak, di antaranya: Arswendo Atmowiloto, WS Rendra, Bambang Sadono, Murtidjono, dan N. Sakdani Darmopamudjo. KSJ diikuti 80 peserta terdiri dari pengarang, pengamat dan pemerhati sastra, akademisi dan peneliti, dalang, serta birokrat lembaga seni budaya dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur.

Secara umum, KSJ mewadahi tiga komisi, yaitu komisi kreativitas kepengarangan, komisi organisasi, dan komisi pemasyarakatan sastra Jawa. Di samping persidangan-persidangan resmi, juga ada dialog nonformal. Setelah mengikuti jalannya persidangan formal maupun dialog nonformal, Panitia berhasil merumuskan dua keputusan, berupa Pola Operasional dan Tindak Lanjut.

[2] Pola Operasional

Perlu diupayakan sastra Jawa masuk sekolah dan Perguruan Tinggi dengan melibatkan pengarang. Perlu pemanggungan sastra Jawa secara berkala, misalnya festival sastra Jawa, sebagai ajang komunikasi kreativitas antarpengarang. Perlu ruang-ruang performance sebagai sosialisasi sastra Jawa, misalnya festival dan pertunjukan-pertunjukan lain, secara berkala maupun insidental.

Perlu dibentuk networking dengan lembaga seni-budaya dan ranah kebudayaan yang lain, baik antarindividu, antarkomunitas pengarang sastra Jawa maupun dengan komunitas sastra lain.

Untuk mewadahi kreativitas sekaligus memperluas ruang ekspresi estetis, perlu diupayakan penerbitan alternatif berupa majalah sastra Jawa secara berkala dan buku-buku yang memuat karya sastra Jawa. Diperlukan upaya untuk merangsang kreativitas pengarang sastra Jawa, terutama kalangan muda, dengan membangun kantong-kantong sastra Jawa.

Perlu komunikasi dan pertemuan berkala untuk membahas isu-isu sastra sekaligus menyikapi akselerasi perkembangan sastra Jawa.

[3] Tindak Lanjut
Keputusan KBJ akan segera ditindaklanjuti. Adapun KSJ berikutnya dilaksanakan 3 (tiga) tahun mendatang dengan waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian.

Surakarta, 7 Juli 2001
Panitia KSJ

(Ditandatangani Ketua Panitia Daniel Tito dan Sekretaris Panitia Sugeng Wiyadi)

Kongres Bahasa dan Sastra Jawa: Memperjuangkan Eksistensi Budaya yang Nyaris Punah

Semarang: Rupanya, eksistensi budaya Jawa makin mengkhawatirkan keadaannya, sehingga dua buah kongres perlu digelar untuk mengembalikan kejayaannya. Kongres pertama, Kongres Sastra Jawa (KSJ) diadakan di Solo, 6-7 Juli lalu. Meski belum bisa menelorkan hasil-hasil yang lebih kongkret, 80 sastrawan Jawa yang hadir nampak cukup puas.

Kongres kedua, Kongres Bahasa Jawa Ke-3 (KBJ), akan digelar di jantung peradaban Jawa, Yogyakarta, 15-21 Juli. Ada keinginan besar dari KBJ untuk melestarikan bahasa dan kebudayaan Jawa. Ketua Badan Pekerja KBJ, Soetomo SE, kepada wartawan di Semarang, Selasa (10/7), menyatakan keprihatinannya atas banyaknya orang Jawa, terutama remaja, yang tidak lagi menguasai bahasa Jawa dengan baik.

Menurut Soetomo, salah satu penyebab utamanya adalah karena pemerintah tidak lagi memasukkan pendidikan bahasa Jawa ke dalam kurikulum pendidikan sejak 1975. "Sepuluh tahun kemudian, barulah terasa, kenapa para pemuda tidak dapat menguasai bahasa dan tatakrama Jawa. Ini sungguh menyedihkan," kata Soetomo.

Salah satu agenda kongres adalah membahas usulan pembuatan peraturan daerah bagi propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta yang menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar dari TK sampai SD kelas III. Kongres yang diikuti pengamat dan peminat bahada dan kebudayaan Jawa dari dalam dan luar negeri ini bersifat terbuka, sehingga masyarakat boleh menghadirinya.

Pelaksanaan KBJ ini dikritik peserta KSJ, yang disebut sebagai kongres tandingan KBJ. Mereka menilai KBJ tidak memberikan porsi yang proporsional bagi keberadaan sastra Jawa modern. "KSJ merupakan peristiwa penting karena nyaris tidak ada pengarang sastra Jawa yang diundang dalam KBJ," kata Bonari Nabonenar, panitia KSJ.

Suparto Brata dan Esmiet yang memenangkan Hadiah Rancage 2001, anugerah tertinggi bagi pengarang sastra Jawa, tidak diundang panitia KBJ. "Di samping itu, yang lebih memprihatinkan, porsi sastra Jawa modern sangat kecil dalam forum KBJ," lanjut Bonari.

KSJ kemudian menjadi tempat para sastrawan Jawa berkeluh kesah soal sastra Jawa yang terus terpinggirkan. Peserta kongres sepakat mengupayakan sastra Jawa bisa masuk ke sekolah-sekolah. "Bukan hanya memasukkan materi sastranya, tapi sebisa mungkin juga melibatkan para sastrawan dalam proses belajarnya," kata Daniel Tito, Ketua Panitia KSJ.

Kongres melahirkan pula beberapa keputusan, termasuk rencana pertemuan sastrawan Jawa secara berkala, penerbitan media alternatif, dan buku-buku sastra Jawa. Soal media, jumlah media berbahasa Jawa kini tinggal tiga: Jaya Baya dan Panjebar Semangat yang terbit di Surabaya dan Djaka Lodang di Jogjakarta. Ketiganya hidup kembang kempis. Bahkan, Jaya Baya kabarnya perlu ditopang Grup Jawa Pos untuk meneruskan nafasnya. KSJ berniat menambah satu media lagi. "Namanya Sekar, setelah ini akan segera kita rintis," kata Daniel.

Yang juga menjadi kritikan para pengamat sastra adalah belum konsistennya para sastrawan Jawa yang banyak bermunculan. "Bibit-bibit baru memang bermunculan, namun konsistensinya patut dipertanyakan," kata Dr. Setya Yuwana Sudikun, pengajar Universitas Negeri Surabaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa sastra Jawa hanya dijadikan batu loncatan untuk menuju pada profesi lain. Karena itulah, lanjut Setya, banyak sanggar-sanggar sastra Jawa yang tinggal papan nama dan kop suratnya saja.* asrul/sohirin

* Koran Tempo (on-line), 12 Jul 2001 13:5:40 WIB

Kongres Sastra Jawa: Mati Ketawa ala Sastra Jawa

''BANDINGKAN dengan wayang kulit, ketoprak, dan campursari. Sastra Jawa, juga media berbahasa Jawa, menjadi sangat jauh ketinggalan, sengsara, miskin, dan tidak diperhitungkan.''

Tak perlu kaget. Bambang Sadono, pemilik kalimat yang mengejutkan itu, memang mengaku jadi provokator Kongres Sastra Jawa (KSJ) di Taman Budaya Surakarta (TBS), 6-7 Juli. Tak perlu heran pula jika akhirnya dia menyatakan sastra Jawa mirip orang yang menghadapi kematian, namun masih bisa tertawa lepas saat memperbincangkan ajal yang menakutkan itu.

''Bandingkan dengan ketoprak! Mungkin mereka gagal di tobong-tobong dan pentas tradisional, tetapi justru berhasil menundukkan telvisi dengan gilang gemilang,'' ucap mantan pengarang sastra Jawa itu lewat makalah ''Sastra Jawa, Tidak Cerdas dan Tidak Kreatif.''

Karena itulah, tandas dia, sebaiknya sastrawan dan sastra Jawa tak perlu minder. Berpikir jauh dan kreatiflah mencari kesempatan. ''Kuncinya pada manjemen. Yakni kemampuan mengorganisasikan pemikiran dan kegiatan untuk mencapai posisi yang diinginkan. Karena itu cita-citanya harus jelas.''

Apakah pernyataan itu sekadar provokasi? Agaknya tidak. Sebab, paling tidak kata Suwardi Endraswara, sastra Jawa memang belum melakukan sosialisasi memadai. Karena itulah selain mengusulkan sastrawan masuk kampus, dia berharap ada mahasiswa masuk sanggar dan dapur sastrawan, bedah skripsi dan sastra. Bahkan tak tanggung-tanggung, dosen dan sastrawan itu meminta sastrawan dan mahasiswa masuk penjara. ''Kalau perlu masuk juga ke kompleks pelacuran untuk menyosialisasikan sastra,'' ujar Mbah Brintik, perempuan penembang macapatan yang hadir dalam pertemuan itu.

Bukti lain betapa sastra Jawa terseok-seok juga ditunjukkan dengan cukup nyinyir oleh Didiek Kiswandi Teha. Menurut pendapat pengarang yang mengaku belajar menulis secara autodidak itu, sastra Jawa modern ibarat bus tua antarkota.

''Jalannya terseok-seok, hanya mengutamakan keselamatan sampai ke kota tujuan. Parahnya, ia tidak mampu bersaing dengan produk budaya yang berpenampilan lebih modern dan bersifat universal.''

Karena itulah, dia berpendapat ibarat penumpang bus, penikmat sastra Jawa akhirnya berpaling ke bus-bus yang lebih trendy, modern, berteknologi canggih, dan menawarkan kenyamanan dan ketepatan waktu.

Didiek memang tak membandingkan sastra Jawa dan novel Saman atau Supernova. Namun pemikirannya mungkin mengarah ke perlunya sastra Jawa memperhatikan ''kosmologi baru''.

Sebuah kosmologi yang tak melulu digelantungi klenik, katresnan lelembut, dan wuyung ala Kenya saka Gunung Slamet. Sebuah kosmologi yang memperhatikan internet, eksplorasi teknologi, sosilogi, dan psikologi modern.

Maka, tak mengherankan, jika dia mengusulkan kebaruan tema dan gaya. Sebab, jika tak begitu, penikmat tak akan mendapatkan wawasan, kecanggihan gaya, dan kreativitas. ''Sastrawan Jawa tidak boleh takut menawarkan tema, plot, setting, karakter, dan bahasa ungkap yang berbeda dari yang sudah ada,'' ujar dia.

Benarkah jika sudah menjalankan manajemen yang bagus, eksplorasi kreatif yang memadai, sastra Jawa akan terus hidup? Arswendo Atmowiloto, salah satu sastrawan yang pernah mendeklarasikan kematian sastra Jawa, punya jawaban.

''Sastra Jawa saged teras ngrembaka, gegandhengan kaliyan sastra Indonesia utawi sastra donya. Jer ing kabudayan punika mboten wonten 'paten-pinaten'. Alam kabudayan punika kasunyatan: wontenipun 'multikultur', werni-werni kabudayan, kados dene manungsa inggih benten-benten, tuwuhipun inggih benten-benten, sato kewan inggih benten-benten.''

Meski begitu, KSJ dan (mungkin) sastra Jawa agaknya sedang dikondisikan hidup dari sesuatu yang lain. ''Dari dana, dari uang, apalagi kalau bukan itu?'' kata Kepala TBS Murtidjono. Karena itulah, meski tahu uang bukan satu-satunya juru selamat, Arswendo berjanji mendanai penerbitan sastra Jawa (belum disepakati bentuknya) sejumlah tiga sampai empat edisi. ''Setelah itu bergerak dan hidupkan sebaik mungkin. Jangan hanya bergantung pada saya,'' kata dia.* (Triyanto Triwikromo)

* dari Suara Merdeka

Sastrawan Jawa Gelar Kongres Sendiri

MERASA TIDAK DILIBATKAN DALAM KONGRES BAHASA JAWA

SOLO (KR)- Merasa tidak dilibatkan dalam Kongres Bahasa Jawa (KBJ) yang dijadwalkan berlangsung 15 hingga 21 Juli di Yogyakarta, para pengarang sastra Jawa menggelar kongres tersendiri. Dibuka Arswendo Atmowiloto, Kongres Sastra Jawa (KSJ) diagendakan berlangsung dua hari sejak Jumat (6/7) di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo (TBS), menghadirkan tokoh-tokoh sastra Jawa dari berbagai daerah, khususnya Jateng, DIY dan Jatim sebagai pembicara.


“Tapi KSJ ini bukan sebagai kongres tandingan, namun lebih sebagai media bagi sastrawan Jawa untuk saling berdialog membicarakan nasib sastra Jawa, karena kami yakin persoalan sastra Jawa akan memperoleh porsi kecil dalam KBJ di Yogya itu,” ujar Koordinator pelaksana KSJ, Daniel Tito, menjawab KR, di TBS saat upacara pembukaan KSJ, Jumat. Rasanya sulit diterima, tambahnya, sastrawan Jawa yang selama ini menjadi salah satu pilar pendukung kehidupan bahasa dan sastra Jawa, nyaris tidak dilibatkan dalam Kongres Bahasa Jawa, sehingga dirasa perlu sastrawan Jawa ini membuat forum tersendiri.

Pun penyelenggaraan KSJ kali ini, menurut Tito tidak lebih dari niatan spontan, sehingga soal pendanaan yang diperkirakan mencapai Rp 6 juta, mesti ditanggung secara gotong royong. Meski begitu, hal yang terpenting dalam KSJ kali ini adalah membuka wacana baru bagi pelaku sastra Jawa mengantisipasi nasib sastra Jawa yang kian tenggelam, terlebih setelah pendekar-pendekar sastra Jawa, seperti Poer Adi Prawoto, Tamsir AS, Suripan Sadi Hutomo dan sebagainya sudah meninggal dunia

Riil

Secara riil, ujar Dr Setyo Yuwono Sudikan saat menyampaikan presentasi dalam KSJ, kondisi Sastra Jawa modern saat ini sungguh telah terpinggirkan dan memprihatinkan. Hanya saja, dia merasa kurang yakin jika kekuatan kapitalis sebagai salah satu faktor peminggiran sastra Jawa menjadi segala-galanya.

“Kekuatan kaum tertindas apabila disatukan akan menjadi kekuatan luar biasa, sehingga para sastrawan Jawa perlu menyatukan langkah mengangkat sastra Jawa agar sejajar dengan sastra lain di dunia.

Hal itu bisa dicapai manakala dilakukan peningkatan produktivitas karya-karya terjemahan, misalnya karya sastra Jawa diterjemahkan dalam bahasa Ingris, Perancis, Jerman dan sebagainya dengan cara merangkul kaum intelektual yang selama ini duduk manis di perguruan tinggi atau pusat penelitian bahasa.

Selain itu, sastrawan Jawa mesti menghilangkan ketergantungan pada media massa sebagai wahana berekspresi, sebaliknya memperbanyak penerbitan karya dalam bentuk buku, bisa berupa kumpulan geguritan, novel, cerita cekak, dan sebagainya.

Kalaupun dalam hidup dan kehidupan sastra Jawa muncul hambatan bersifat politis, psikhologis, sosial dan ekonomi, mesti dilawan dengan cara halus. Bisa saja perlawanan dilakukan melalui gerakan bersifat politis, seperti halnya penyelenggaraan KSJ kali ini yang mungkin sebagai manivestasi dari ketidakpercayaan terhadap rutinitas dan kemapanan.* (Hut)-f

* Kedaulatan Rakyat, di-upload Sabtu, 07 Juli 2002

Kongres Sastra Jawa Digelar di Solo

Jakarta, Kompas. Menjelang dilangsungkannya Kongres Bahasa Jawa (KBJ) III di Yogyakarta, 15-21 Juli, para pengarang muda mendahuluinya dengan menggelar Kongres Sastra Jawa (KSJ) di Taman Budaya Surakarta, Solo, 6-7 Juli 2001.

"Pengarang dan penulis skenario sinetron Arswendo Atmowiloto akan tampil sebagai salah satu pembicara dalam kongres nanti. Arswendo kami plot sebagai pembicara kunci, dan yang bersangkutan sudah menyatakan kesanggupannya untuk membawakan topik 'Sastra Jawa: Menyikapi Fenomena Kekinian Menyongsong Masa Depan'," kata Ketua KSJ Daniel Tito.

Dalam siaran persnya yang dikirim melalui e-mail, Selasa (3/7), Daniel Tito menambahkan, forum KSJ merupakan wacana menarik dan sangat penting bagi pemerhati atau peneliti sastra Jawa. Sastra Jawa sebagai salah satu subkultur Jawa, demikian Daniel, pada hakikatnya adalah bagian dari kebhinnekaan budaya bangsa Indonesia.

"Sampai sekarang sastra Jawa tetap eksis di tengah perubahan zaman. Dan, KSJ dimaksudkan sebagai forum untuk mengakomodasi kegelisahan kreatif para pengarang sastra Jawa, sekaligus tempat untuk merumuskan pemikiran strategis bagi pengembangan sastra Jawa di masa depan," jelasnya.

Sekretaris Panitia KSJ Sugeng Wiyadi menambahkan, KSJ akan diikuti sekitar 125 peserta. Mereka terdiri dari pengarang sastra Jawa-yang berdomisili di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur-serta akademisi, peneliti, dan unsur birokrat lembaga seni budaya. Selain Arswendo, pembicara lain yang dijadwalkan tampil di antaranya Dr Setya Yuwana Sudikan (Surabaya), Bambang Sadono SY (anggota DPR), Tjahjono Widijanto (sastrawan dari Ngawi, Jawa Timur), Muryolelono (Ungaran, Semarang), dan beberapa pengarang muda sastra Jawa.

"Acara KSJ ini murni inisiatif para pengarang yang tidak rela sastra Jawa ditelantarkan oleh pihak-pihak yang berkompeten," kata Sugeng. (*/ken)

* dari Kompas (on-line), Rabu, 04 Juli 2001, 8:11 WIB

Yang Penting: Apa yang Dilakukan setelah Kongres

Tanggapan Artikel KBJ III: Sebuah Kalkulasi Moral


Tulisan Pranowo, KBJ III: Sebuah Kalkulasi Moral (Bernas, Rabu, 18 Juli 2001) yang dimaksudkan untuk menanggapi tulisan Suwardi Endraswara, Meragukan Keputusan KBJ III (Bernas, 14 Juli 200), mengandung beberapa pernyataan yang tidak proporsional. Pranowo tampaknya mendapatkan informasi mengenai Kongres Sastra Jawa (KSJ) dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hal itu antara lain tecermin pada kalimat ini, "Sayangnya, mengadakan kegiatan (KSJ, pen.) yang maunya baik, tetapi diawali dengan niat tidak baik." Jadi, Pranowo beranggapan bahwa para penggagas dan Panitia KSJ punya niat tidak baik. Jika saja Pranowo sudah membaca sekian banyak rilis KSJ yang tersebar di berbagai media, tudingan macam itu tak seharusnya muncul. Atau dia beranggapan bahwa pernyataan Ketua Panitia KSJ Daniel Tito yang selalu kipa-kipa atau ogah dibilang bahwa KSJ bermaksud menandingi KBJ (Kongres Bahasa Jawa) III itu hanya sekedar basa-basi?


Tulisan ini akan berisi penjelasan mengenai lahirnya gagasan untuk menggelar KSJ, yang, secara kebetulan saya ikuti prosesnya dari awal. Barangkali tetap saja tidak akan memuaskan. Bisa jadi malah semakin menjengkelkan. Tetapi, sesungguhnya memang demikianlah kenyataannya.

Sanggar-sanggar sastra Jawa (Triwida, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, Saggar Pari Kuning, Paguyuban Sastrawan Bojonegoro) belakangan ini makin sepi kegiatan. Mungkin tinggal Sasnggar Sastra Jawa Jogjakarta yang masih tampak geliatnya, karena diayomi Balai Bahasa Jogjakarta dan Bu Sri Widati Pradopo. Sudah sekian tahun tak pernah ada lagi pertemuan pengarang sastra Jawa yang representatif seperti yang dulu digelar oleh Sanggar Triwida ataupun OPSJ (Organisasi Pegarang Sastra Jawa). Padahal, pengarang/penyair muda sastra Jawa masih bermunculan. Sementara itu tudingan bahwa sastrawan Jawa introvert, kurang intens dalam berkarya, bahkan kurang "gila", makin gencar.

Lalu muncullah gagasan untuk mengundang seluruh pengarang sastra Jawa, termasuk para pengguritnya untuk sebuah pertemuan yang tidak cuma berisi ratap tangis dan keluh-kesah memprihatini kehidupan sastra Jawa yang konon bak kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau itu. Roeswardiyatmo bersama Daniel Tito sudah mengangankan pertemuan itu di Wonogiri.

Pada saat yang sama, Narko "Sodrun" Budiman yang Ketua Sanggar (Sastra Jawa) Triwida malah menginginkan Kongres Bahasa Jawa Tandingan. Sebenarnya itu lebih tampak sebagai lontaran wacana (Narko melontarkan ide kurang ajar-nya itu lewat majalah Panjebar Semangat). Pada awalnya, Narko tidak diundang sebagai peserta KBJ III, apalagi ditunjuk sebagai makalah. Tak jelas apakah karena tulisannya di Panjebar Semangat itu atau karena angin apa, ternyata kemudian Narko diminta panitia KBJ III untuk membuat makalah -pada saat para pemakalah lain sudah setor naskah.

Saya sebenarnya tidak ingin memperdebatkan apakah Panitia KBJ III sudah mengakomodasi dengan baik para pekerja Sastra Jawa Modern. Tapi, mengapa pengarang Sastra Jawa Modern sekaliber Suparto Brata dan Esmiet (keduanya adalah pemenang hadiah Rancage 2001, dan mereka sama-sama mendapatkanya untuk yang kedua kalinya) saja tidak diundang? Apa salah mereka? Pada akhirnya, Esmiet maupun Suparto Brata memang diundang. Dalam kondisi yang sebenarnya masih sakit, karena cintanya kepada Sastra Jawa, Esmiet pun datang di Jogjakarta. Sementara itu Suparto Brata -entah karena kadhung gela atau apa-- sampai hari ke-4 pelaksanaan KBJ III ini belum kelihatan juga batang hidungnya. Malahan, akhirnya, beberapa teman, Ketua Panitia KSJ dan beberapa pengarang yang menghadiri KSJ pun akhirnya mendapatkan undangan susulan. Bahkan, saking mendadaknya, Panitia KBJ III pun mengundang mereka dengan telepon.

Pada suatu hari para penggagas KSJ bertemu di Solo. Ada wakil dari Surabaya, dari Triwida, dan juga dari Jogjakarta. Sejak awal mereka sadar dan menghindari untuk berhadap-hadapan dengan pihak Panitia KBJ III. Karena itu mestinya tidak usah dipersoalkan jika ada beberapa peserta dan bahkan pemakalah dalam KSJ yang juga menjadi peserta atau pemakalah di KBJ III, seperti Suwardi Endraswara itu. Tidak harus diunek-unekke sebagai bermuka dua dan semacamnya. Soalnya, memang antara KSJ dengan KBJ III tidak selayaknya dihadap-hadapkan sebagaimana dua partai politik yang saling berseberangan. Kalau bisa saling mengisi, ya saling mengisilah. Kalau masing-masing merasa asyik dengan dirinya sendiri, ya berasyik-asyiklah dengan diri sendiri.

Memang, di arena KSJ banyak suara yang terkesan ingin membentur-benturkan KSJ dengan KBJ III. Tetapi itu semua suara peserta. Barangkali termasuk suara Suwardi Endraswara? Oleh karena itu, mestinya Pranowo bukannya lalu mencoba nambah-nambahi mungsuh dengan menuding KSJ punya niat yang tidak baik.

KSJ benar-benar murni gagasan para pengarang muda, yang secara kebetulan memperoleh dukungan dari kaum tua yang bijaksana, yang bisa ngemong. Kaum tua yang bijaksana itu ialah mereka yang bisa menerima karya-karya crita cekak, guritan, crita sambung, dan lakon-lakon Teater Gapit sebagai karya sastra Jawa (modern). Bukan kaum tua -seperti dikatakan Dr. Setya Yuwana-- yang menganggap hanya nkarya sastra Jawa klasik yang layak disebut sebagai karya sastra.

Jadi, menjawab pertanyaan Pranowo, yang digelar di Solo (6-7 Juli) kemarin adalah Kongres Sastra Jawa yang mencoba menampung aspirasi para pengarang Sastra Jawa Modern. Soal yang dapat ditampilkan cuma 15 makalah, atau bahkan seandainya tanpa makalah sekalipun --karena mereka sudah gembar-gembor cuma modal tekad-- yang penting bagi mereka adalah: apa yang bisa dilakukan setelah Kongres. Maka, kita tunggu saja. Apakah mereka akan tidur nyenyak, atau berbuat sesuatu, atau harus sibuk melayani kaum tua yang tidak bisa ngemong dan gampang marah itu. Atau, orang-orang muda macam Suwardi Endraswara dan Triman Laksana (yang disebut terakhir itulah salah satu pengarang muda yang menginginkan KSJ jadi tandingan KBJ III) berhenti berkarya dulu untuk belajar unggah-ungguh, agar bisa melontarkan kritik secara elegan, njawani, yang, jangan-jangan adalah bahasa halus untuk maksud: tidak mengritik! Begitu?

* dari Bernas, Sabtu, 21 Juli 2001

Saatnya Sastra Jawa Go Internasional

Catatan Kecil dari Kongres Sastra Jawa (Solo, 6-7 Juli 2001)

Bisa dipahami memang, jika pada awalnya banyak pihak meragukan Kongres Sastra Jawa (KSJ). Ketika masih berupa gagasan saja sudah banyak yang mencibiri. Bahkan ada pula yang tega mendakwa sebagai ajang cari perhatian para pengarang (sastra Jawa) muda yang tidak mendapatkan tempat di Kongres Bahasa Jawa III (Jogjakarta, 15-21 Juli 2001).


Sebelum Murtidjono dengan Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta-nya menawarkan bantuan berupa fasilitas: tempat kongres berikut penginapan dan biaya penggandaan makalah --realisasinya malah juga biaya konsumsi untuk 100 orang peserta-- KSJ memang terasa agak ngayawara. Para penggagasnya pun makin pusing ketika harus membuat proposal. Siapa (lembaga) yang akan bertanggung jawab sebagai penyelenggara? Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta hanya bersedia memfasilitasi. Mau memakai Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ), rasanya sudah tak ada yang bisa "dijual" dengan nama OPSJ. Akhirnya kop surat pun dibuat hanya dengan kata-kata: Panitia Kongres Sastra Jawa.

Memang akhirnya dana segar mengucur dari mereka yang sangat menghargai gagasan dan semangat para pengarang (muda) sastra Jawa itu. Bukan karena kesaktian kop surat-nya, melainkan karena nama-nama yang tercantum di dalam kepanitiaan: Daniel Tito, Roeswardiyatmo, Suliyanto.

Alhasil, KSJ yang memilih tema, Sastra Jawa: Menyikapi Fenomena Kekinian, Menyongsong Masa Depan itu berjalan lancar. Para pembicara pun, misalnya, rela membuat makalah walau tidak dibayar. Bahkan, Arswendo Atmowiloto, Bambang Sadono, dan N Sakdani Darmopamudjo masing-masing jadi pemakalah sekaligus donatur untuk KSJ ini. Ketua Panitia Daniel Tito pun rela menunda penerbitan novel berbahasa Jawa-nya, Lintang Panjer Rina, untuk nomboki KSJ sebelum dana dari donatur turun.

WS Rendra pun mempercepat kepulangannya dari Jerman untuk dapat bertemu dan berbicara di hadapan para pengarang sastra Jawa. Sungguh, KSJ tak mungkin terlaksana tanpa semangat gotong royong.

Pada awalnya memang cuma mengandalkan tekad dan semangat. Maka, di tengah-tengah acara KSJ, DR Sudiyatmana yang ahli dan sekaligus penyair sastra Jawa itu pun menepuk-nepuk bahu salah seorang panitia, Sugeng Wiyadi, sambil berucap, "Ya, beginilah seharusnya yang muda-muda ini. Punya inisiatif, dan mau kerja keras!"

KSJ memang hanya digelar selama 2 hari. Pesertanya pun tak begitu banyak. Dari 150-an pengarang sastra Jawa yang diundang, yang hadir sekitar 80 orang. Tetapi banyak yang bisa diharap dari kongres yang digelar secara gotong royong ini.

Tampil sebagai satu-satunya pembicara yang menggunakan pengantar bahasa Jawa ragam krama, Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa sebagai ruh sastra Jawa akan tetap hidup. Ia bisa saja memakai baju sastra Indonesia, atau bahkan sastra dunia, tanpa menghilangkan atau mematikan ruh Jawa-nya.

Penulis skenario sinetron Keluarga Cemara itu bahkan juga mendukung penerbitan media alternatif yang sudah digagas Suliyanto, Daniel Tito, dan Roeswardiyatmo. Lebih tegas lagi, ia bersedia mengucurkan dana untuk 3 sampai 4 edisi awal yang menurut perkiraan Suliyanto akan menghabiskan Rp 7,5 juta per edisi itu. Sungguh, ini angin segar buat sastra Jawa.

Tampil dengan makalah yang judulnya cukup provokatif, Sastra Jawa, Tidak Cerdas dan Tidak Kreatif, Bambang Sadono yang Sekjen PWI, Pimred Suara Karya, dan anggota DPR RI itu pun tak luput dari todongan Daniel Tito untuk ikut pula mendukung rencana penerbitan majalah sastra Jawa. Bambang melihat persoalan sastra Jawa bukanlah persoalan laku atau tidak laku. Memang tidak cerdas dan tidak kreatif! Begitulah menurut Bambang. Maksudnya, perlu ada manajemen yang bagus di dalam sastra Jawa. Basuki dan Timbul pun harus bikin proposal agar Ketoprak Humor-nya bisa ditayangkan televisi. Taufik Ismail yang penyair besar dalam sastra Indonesia juga berkolaborasi dengan Bimbo. Nah --tanya Bambang-- kapan para penggurit (penyair Jawa) berkolaborasi dengan Didi Kempot, misalnya?

Tak kalah menariknya adalah tawaran WS Rendra kepada para sastrawan Jawa untuk tampil mementaskan karya-karya mereka di Bengkel Teater-nya di Depok. Setelah memberikan banyak masukan kepada para pengarang dan penyair sastra Jawa dalam dialog yang sangat akrab itu, Rendra mengaku bahwa baru lebih kurang dua atau bahkan setahun belakangan ini menyadari betapa besar potensi para penyair daerah yang menulis sajak dengan bahasa ibu mereka. Oleh karenanya, menurut Rendra, sangat layak jika puisi-puisi berbahasa daerah itu suatu ketika ditampilkan di luar negeri, agar kekayaan budaya daerah yang dipamerkan di luar negeri bukan tari-tarian melulu. Go internasional, begitulah. Cuma, masih menurut Rendra, penerjemahan karya sastra --apalagi karya sastra Jawa-- ke dalam bahasa asing bukanlah pekerjaan yang gampang.

Walaupun semula diragukan banyak pihak, akhirnya KSJ terlaksana dengan baik dan menghasilkan keputusan-keputusan yang cukup mendasar. Lewat forum yang cukup kontroversial ini --semula sempat juga dianggap menandingi Kongres Bahasa Jawa III di Jogjakarta-- para sastrawan Jawa sadar betapa pentingnya networking. Karena itu, selain bertekad membangun kantong-kantong sastra Jawa --selain makin menggairahkan kantong-kantong (baca: sanggar-sanggar sastra Jawa) yang sudah ada-- disepakati pula keputusan untuk membangun komunikasi antarsanggar maupun dengan komunitas sastra lainnya. Bukan saatnya lagi sastrawan Jawa mengurung diri dalam sangkar emas, apalagi di dalam tempurung, tetapi harus mau tapa ngrame. Demikian menurut istilah Bagus Putu Parto. Jadi, gayung bersambut dengan tawaran Rendra itu.

Nah, kita tunggu saja. Jika KSJ tak ada pengaruhnya samasekali terhadap geliat sastra Jawa, sebaiknya KSJ II yang rencananya digelar 3 tahun mendatang itu dijadikan KSJ terakhir saja. Atau barangkali memang benar guyonan Daniel Tito bahwa para peserta KSJ kali ini adalah generasi terakhir sastrawan Jawa. Wah! []

* dari Jawa Pos, Minggu, 15 Juli 2001

Pengarang Sastra Jawa Pengarang Numpang Lewat

“Sekali belum Berarti, Tak Mau Berkarya Lagi!”


“Sekali berarti, sudah itu mati.” Itu kata Chairil. Tetapi, banyak di antara penyair Jawa modern (penggurit) –begitu pula pengarang prosanya-- yang keburu mandeg berkarya sebelum benar-benar menjadi. Sastrawan Jawa modern pada umumnya adalah sastrawan numpang lewat. Hal itu sempat mengemuka dalam Diskusi Lembaga Kajian Budaya Jawa Pos bulan ini (20/4) –yang sengaja memilih tema Sumbangan Chairil Anwar terhadap Perkembangan Puisi Jawa Modern-- sekalian memperingati hari wafatnya Raja Penyair Angkatan 45 itu. Seperti biasanya, diskusi diselenggarakan di Deteksi Room, Lantai 3 Gedung Graha Pena Jawa Pos (Sabtu, 20 April 2002).


Dipilih sebagai pembicara ialah Drs. Suwardi Endraswara M.Hum, dosen Universitas Negeri Yogyakarta, dan Drs. Sugeng Wiyadi, dosen Universitas Negeri Surabaya. Keduanya, selain akademikus juga sama-sama kreator, sama-sama aktif sebagai penyair sastra Jawa, pengarang crita cekak (cerpen Jawa), penulis kritik sastra Jawa, yang juga menulis dengan bahasa Indonesia. Diskusi yang dimoderatori Bonari Nabonenar ini dihadiri pula oleh beberapa sastrawan Jawa yang juga rajin menulis dengan bahasa Indonesia: Tjahjono Widarmanto, Suharmono Kasiyun, Suparto Brata, Widodo Basuki, dan Budi Palopo.

Bukannya baru sekarang para pengarang sastra Jawa memiliki hubungan yang erat dengan para sastrawan Indonesia, melainkan sudah sejak awalnya, sejak bahasa Indonesia lahir (Sumpah Pemuda). Sebutlah nama Intojo dan St Iesmaniasita yang disebut-sebut sebagai pelopor “sajak bebas” dalam sastra Jawa itu. Lalu ada nama Subagijo Ilham Notodijojo, seorang tokoh pers nasional yang di jagad sastra Jawa modern lebih dikenal dengan sebutan Pak SIN itu. Jika mau dibeber, daftar sastrawan Jawa yang tak dapat hanya disebut memiliki hubungan yang erat dengan sastrawan Indonesia –karena mereka juga berkarya dengan bahasa Indonesia—akan sangat panjang. Sebutlah beberapa saja: Arswendo Atmowiloto, Basuki Rachmat, Efix Mulyadi, Esmiet, Piek Ardijanto Soeprijadi, Poer Adhie Prawoto, Ragil Suwarno Pragolapati, Roeswardijatmo, Suripan Sadi Hutomo, Trim Sutedja, Totilowati Tjitrowarsito. Konon, pada awalnya seorang Sapardi Djoko Damono pun sempat mencoba menulis guritan. Pada generasi mutakhir ada pula nama-nama Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Daniel Tito, Es Danar Pangeran, Gunoto Sapari, Irul Es Budianto, Keliek Eswe, Krishna Mihardja, Suparto Brata, Suwardi Endraswara, Widodo Basuki. Bahkan ada nama Widji Thukul, yang tampaknya justru dilupakan banyak orang bahawa dia pada awalnya juga seorang penggurit, sebelum kemudian terkenal dengan puisi-puisi pemberontakan sosialnya.

Chairil dan Sastra Jawa

Lalu, Sugeng Wiyadi yang di jagad sastra Jawa juga ngetop dengan nama Keliek Eswe itu, seperti diamini Suwardi dan para peserta diskusi, mengatakan bahwa saling pengaruh-mempengaruhi dalam sastra adalah hal yang lumrah. Apalagi antara sastra Jawa dengan sastra Indonesia, yang banyak di antara para kreatornya aktif di kedua “wilayah” itu.

Dengan demikian, memang, hubungan timbal balik, interaksi, pada akhirnya juga terlihat dalam teks, baik teks sastra Jawa (modern) maupun teks sastra Indonesia. Itulah yang disebut hubungan intertekstualitas. Kita bisa melihat sajak-sajak Darmanto Jatman yang njawani, misalnya, atau Pengakuan Pariyem, prosa liris Linus Suryadi yang terkenal itu, cerita-cerita Danarto, Umar Kayam, dan Ahmad Tohari. Nama-nama itu sekedar contoh saja.

Kita juga bisa melihat guritan Widodo Basuki berjudul Critane Laron Sajodho (Kisah Sepasang Laron) ini: Ana laron sajodho/Nyangking lar acundhuk mawar/Kekarone coba-coba dolanan geni/Pyar!/Lar kesenggol panase/Mawar kerayuk cahyane//Laron loro nangis kekitrang/Apa aku bisa mabur tanpa lar?/Ngono kandhane si laron wadon/Si laron lanang rumangsa eram/Ana wewadi sing lagi dakmangerti, ngono jawabe/Aja samar/Lar kang dhek wingi ambyar/Bakal gumanti urip kang makantar-kantar. (Ada sepasang laron/Menenteng sayap bersumping mawar/Keduanya coba-coba bermain api/Pyar!/Sayap tersentuh panasnya/Mawar tergapai cahayanya//Sepasang laron menangis berkelejotan/Bisakah aku terbang tanpa sayap?/Begitu kata laron perempuan/Si laron laki-laki merasa heran/Ada rahasia yang baru kupahami, begitu jawabnya/Jangan khawatir/Sayap yang kemarin berantakan/Akan berganti hidup penuh semangat).

Menurut Suwardi, guritan Widodo Basuki berjudul Critane Laron Sajodho itu memiliki hubungan intertekstualitas dengan puisi Chairil Anwar, Lagu Siul I berikut ini: Laron pada mati/Terbakar di sumbu lampu/Aku juga menemu/Ajal di cerlang caya matamu/Heran! Ini badan yang selama berjaga/Habis hangus di api matamu/Kau kayak tidak tahu saja.

Pada akhir diskusi, pengarang kawakan Suparto Brata menegaskan bahwa para sastrawan tak perlu takut terpengaruh. Bahkan, pengarang maupun penyair Jawa jangan hanya membuka diri untuk menerima pengaruh dari sastra Indonesia, melainkan, seharusnya juga membuka diri terhadap pengaruh sastra asing. Suparto Brata bahkan tanpa tedeng aling-aling mengaku melahirkan kisah-kisah ditektif dalam sastra Jawa dengan secara sengaja menerima pengaruh sastra Barat.

Sastrawan Numpang Lewat

Menurut Sugeng Wiyadi, hampir boleh dikatakan bahwa penggurit atau penyair Jawa modern tak ada yang benar-benar jadi. Kebanyakan penggurit hanya numpang lewat saja. Arswendo Atmowiloto, Bambang Sadono SY, Yusuf Susilo Hartono, Roeswardiyatmo, Titah Rahayu, Anggarpati, dan segudang lagi nama lain, “pensiun dini” dari sastra Jawa. Budi Palopo dengan guritan-guritannya yang khas, suka mempermainkan kata-kata dari kitab-kitab lama yang kini sudah tidak populer, justru –tampaknya— karena sebagai orang pesisiran dia “menolak” bahasa Jawa halus model keraton itu, kini juga mulai mandeg. Bonari Nabonenar juga sudah tidak begitu produktif sebagai penggurit. Tampaknya memang begitulah kecenderungan para pengarang/penyair Jawa, terutama yang juga menulis dengan bahasa Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa hal seperti itu terjadi karena pengaruh honor. Jelasnya, dari segi honor, menulis dengan bahasa Indonesia lebih menjanjikan! Tetapi jangan lupa, Suparto Brata dan Suripan Sadi Hutomo tetap setia menulis dengan bahasa Jawa selain juga produktif menulis dengan bahasa Indonesia. Apapun penyebabnya, bahwa sastrawan Jawa pada umumnya adalah sastrawan numpang lewat merupakan kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Masih menurut Sugeng Wiyadi, ada nama Soekarman Sastradiwirja, penggurit dari Blora yang telah mencapai kematangan dan menemukan bentuknya. Sayangnya, seperti halnya Chairil, ia mati terlalu muda. Poer Adhie Prawoto, yang sering disebut-sebut sebagai penggurit terkemuka –sampai akhir hayatnya-- juga terkesan terus mencari-cari bentuk. Seandainya Poer bisa setia pada guritan balada-nya, dia akan lebih berwibawa lagi sebagai penggurit. Sayang, Poer terlalu suka, dan sering berganti-ganti gaya. Kini bikin guritan balada, esoknya bermain-main dengan tipografi, lusa bermain mantra, dan pada kesempatan berikutnya tiba-tiba muncul dengan guritan-guritan “pariwisata”-nya. Lebih eman-nya lagi, Poer juga menambah barisan penggurit yang mati terlalu muda, menyusul: Soekarman, Ragil Suwarno, Bene Sugiharto.
“Sekali berarti/sudah itu mati!” Begitu kata Chairil. Kata, yang pada akhirnya “memakan” dirinya sendiri. Seperti sudah disebut tadi, banyak juga penyair Jawa mati muda. Tetapi lebih banyak lagi yang “sekali-(pun) belum berarti, sudah tak mau berkarya lagi!


Keberanian

Cerpenis Shoim Anwar sempat pula melontarkan pendapat yang cukup menarik. Menurut cerpenis, guru, dan penghobi perkutut ini, sastra Jawa memiliki akar yang lebih kuat daripada sastra Indonesia. Membandingkan puisi Jawa dengan puisi Indonesia, masih menurut Shoim, harus mengingat bahwa puisi Jawa pada umumnya impresif, lebih berdimensi rohani, sedangkan puisi indonesia ada umumnya impresif, berdimensi kebebasan. Dengan demikian bukan berarti penyair Jawa antikebebasan. Bahkan, terlepas dari sosok Chairil Anwar, sekitar tahun 1942 seorang Intojo sudah melakukan semacam pemberontakan estetika dengan guritan Dayaning Sastra-nya. Hal yang kurang lebih sama dilakukan oleh St Iesmaniasita dengan guritannya Apa Kowe wis Lega yang ditutup dengan sebuah pertanyaan: Apa kowe wis lega/sesindhenan lagu warisan? (Sudah puaskah kau, melagukan tembang warisan?)

Selain keberanian menciptakan bentuk baru (sajak bebas), dalam diskusi sempat pula muncul gugatan bahwa penyair Jawa kurang total mengeksplorasi kata-kata. Misalnya, kurang berani menampilkan kata-kata yang dalam konteks keseharian dianggap tabu. Gugatan itu pun segera ditampik dengan bukti adanya serat Darmagandhul dan Gatoloco. Serat Centhini pun –yang disebut-sebut sebagai bothekan atau brankas-nya orang Jawa itu-- boleh disebut sangat berani, misalnya ketika menjelaskan berbagai macam persoalan seks, sehingga mereka yang sudah membaca Darmagandhul, Gatholoco, ataupun Centhini, tak akan terkejut saat membaca Larung-nya Ayu Utami.

Di sisi lain, sastra Jawa juga syarat pasemon, syarat simbol. Karena itulah, dari sisi semiotik, sistem tanda, simbol-simbol, perlambang, bahasa Jawa yang digunakan masyarakat sehari-hari itu pun boleh dikatakan sangat sastrawi. Kekayaan bahasa Jawa memang sangat memungkinkan hal itu. Dalam hal ini, sebenarnya bisa juga dikatakan bahwa penyair Jawa sangat dimanjakan oleh bahasa Jawa itu sendiri.

Sementara itu Srihono menampik penilaian bahwa para penggurit Jawa tidak memiliki keberanian menampilkan kata-kata yang dinilai tabu oleh masyarakat. Menurut Srihono, bahasa Jawa sangatlah kaya, sehingga memungkinkan para pengarang maupun penyair menghindari pemakaian kata-kata vulgar, atau, lebih-lebih, yang hanya dimaksudkan untuk gagah-gagahan. Bukan persoalan berani atau tidak berani, menurut Suharmono Kasiyun, tetapi persoalan empan papan. Bukankah orang Jawa dapat dikatakan sangat berani dan demikian nakalnya ketika menamai jajan pasar, kue, dengan “turuk bintul” (turuk= organ intim perempuan, bintul=bintik/berbintik)? Juga ada jajan yang dinamai “pelikipu”(peli= organ intim laki-laki, kipu= mandi debu)! Lalu, prinsip empan-papan, dimensi waktu dan tempat akhirnya jadi pertimbangan, termasuk dalam kebijakan pemilihan kata itu.

Kritikus Sastra Jawa

Chairil Anwar besar karena peran HB Jassin. Paus sastra Indonesia yang meninggal tahun 2001 itulah yang menemukan Chairil Anwar. Bahkan setelah itu Jassin-lah yang menjadi juru bicara Chairil Anwar, termasuk yang membela Chairil ketika si “Binatang Jalang” ini digempur sebagai penjiplak puisi asing.

Nah, dalam sastra Jawa modern siapakah kritikus seperti Jassin? Hampir tidak ada. “Sastra Jawa modern tidak punya kritikus seperti Jassin dan A. Teuw yang menemukan Pramudya Ananta Toer,” kata Sugeng Wiyadi.

Kekosongan kritikus itu kian terasa sepeninggal Suripan Sadi Hutomo, dan Poer Adhi Prawoto. Padahal kedua orang ini –mula-mula oleh Suparto Brata— telah dijuluki sebagai HB Jassin dan Jakob Soemardjo-nya sastra Jawa. Lagi-lagi menjadi pertanyaan: Siapa pengganti Suripan? “Itu menjadi persoalan dalam sastra Jawa,” kata Suwardi.

Tipikal orang Jawa, tak suka menerima kritik, apalagi yang disampaikan secara lugas. Jika mau diterima, pakailah pasemon, atau guyon parikena. DR Setya Yuwono bahkan sempat melontarkan pernyataan yang cukup mengagetkan. Disebutnya beberapa nama penyair Jawa yang berhenti berkarya setelah “ditelanjangi” dengan kritik yang terang-terangan. Tak kurang, itu sempat membuat DR Setya Yuwono merasa berdosa, dan pada gilirannya juga ogah-ogahan mengkritik.

Tetapi, Widodo Basuki menyangsikan akurasi pengakuan DR Setya Yuwono itu. “Siapa bilang orang Jawa (sastrawan Jawa, red) tak dapat menerima kritik?” tanya Widodo, yang, kemudian juga sempat melontarkan bahwa kebanyakan kritikus sastra Jawa itu pada umumnya justru tak dapat menulis dengan bahasa secara baik.

Berbeda dengan Widodo yang tidak begitu tinggi penghargaannya terhadap kritikus, Tjahjono Widarmanto mengatakan bahwa kritikus-kritikus dari kalangan akademis patut diberi ruang pula. Mereka wajib mengkritik, sesuai disiplin ilmu yang digelutinya, dan justru berdosa jika tidak melakukan tugasnya itu.

Pendapat Tjahjono itu didukung oleh Shoim Anwar, dengan sedikit catatan, yakni bahwa biarlah para kritikus itu muncul dan berkiprah secara alamiah. Janganlah sastrawan Jawa, misalnya, ditarik-tarik untuk bikin kritik yang tak lain dan tak bukan hanya untuk menjadi public relation-nya sastrawan Jawa. Begitu catatan Shoim.

Pada akhirnya, Suparto Brata menutup perdebatan ini (karena keterbatasan waktu) dengan pernyataan yang mengamini teori resepsi sastra, bahwa kritikus sejati adalah pembaca.* (Budi Santosa, Humas Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya)


* dari Jawa Pos, Minggu, 28 April 2002

Kongres Sastra Jawa: Jangan Terlalu Utopis

Darling Wirastri


Belakangan mencuat isu mengenai Kongres Sastra Jawa (KSJ). Saya sebut (masih) sebagai isu, karena sejauh ini KSJ baru berupa gagasan. Proposalnya pun belum jadi. Tempat pun belum dipilih: Blitar, Wonogiri, Surabaya, Solo, atau Semarang. Yogyakarta, tampaknya tidak dinominasikan sebagai tempat penyelenggaraan pertama KSJ yang masih dalam angan-angan itu. Pasalnya, Dalam waktu dekat, Juli 2001, di Yogyakarta akan digelar Kongres Bahasa Jawa (KBJ). Padahal, menurut rencana, KSJ bakal digelar hanya beberapa pekan sebelum KBJ. Mungkin juga dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan, untuk menepis prasangka bahwa KSJ digelar untuk menandingi KBJ. Wah!


Beberapa hari yang lalu Bonari Nabonenar menelepon saya, mengatakan bahwa pada hari Minggu (24 Maret 2001) dia bersama beberapa anggota Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya dan anggota Sanggar Triwida, di antaranya: Widodo Basuki, Keliek Sugeng Wiyadi, Sunarko Budiman, Bagus Putu Parto, akan bertandang ke Solo, untuk berembug bersama Roeswardijatmo, Daniel Tito, dan lain-lain, sehubungan dengan rencana penyelenggaraan KSJ itu. Ketika saya tanyakan proposalnya, katanya juga masih akan dibicarakan bersama di Solo itu. Tampaknya, dugaan saya bahwa KSJ ini hanya akan ramai sebagai gagasan akan segera terbukti salah. Orang-orang ini tampaknya benar-benmar serius. Semoga!

Jika benar terlaksana, apalagi jika KSJ bisa digelar, selambat-lambatnya sebulan sebelum KBJ, KSJ akan menjadi ajang yang sangat bagus bagi pergelaran ide dan gagasan-gagasan para pengarang sastra Jawa yang selama ini kurang memperoleh saluran yang layak.

Boleh-boleh saja orang menilai KSJ sebagai mengada-ada, sebagai forum cari perhatian orang-orang yang kepingin diikutsertakan KBJ, sebagai forum gagah-gagahan, dan semacamnya. Tetapi siapapun tak berhak melarang dan menghambat-hambat gagasan yang menurut saya sangat cemerlang itu.

Sempat pula sampai ke telinga saya penilaian miring terhadap rencana KSJ ini. Dikatakan bahwa seniman, pengarang, termasuk pengarang sastra Jawa tak perlu diwadahi dalam organisasi, sanggar, atau apapunlah namanya. Tak perlu pula dibikinkan forum semacam sarasehan, seminar, apalagi kongres. Yang menentukan seorang pengarang makin kokoh sebagai pengarang bukanlah sanggar tempat dia bernaung, bukanlah seberapa banyak sarasehan, seminar, ataupun kongres yang diikutinya, melainkan ditentukan oleh seberapa hebat karyanya sebagai pengarang. Seberapa hebat guritan-nya, seberapa hebat crita cekak-nya, seberapa hebat crita landhung-nya, itulah yang menentukan kehebatan seorang pengarang sastra Jawa.

Bahwa yang menentukan kehebatan seorang pengarang adalah karyanya, siapapun tak dapat membantahnya. Tetapi keberadaan sanggar-sanggar yang menurut Suharmono Kasiun merupakan benteng pertahanan sastra Jawa itu, tidaklah adil jika dipandang sepele. Pun, seminar, sarasehan, kongres, betapapun tidak serta-merta membuat pengarang/penggurit sastra Jawa yang mengikutinya jadi pengarang/penggurit hebat, tentulah ada nilai positifnya. Seorang pengarang yang memiliki bakat dan kemampuan yang hebat, tentu akan jadi makin hebat jika dia tidak kuper (kurang gaul). Seperti ilmu beras yang jadi bersih bukan karena ditumbuk, melainkan karena pergesekannya dengan sesama beras. Bonari Nabonenar layak dijadikan contoh dalam hal ini. Mula-mula, seperti diakuinya, dia adalah pengarang kuper. Untuk mengantarkan naskahnya ke kantor redaksi Jaya Baya pun, dulu, dia tidak berani. Tetapi setelah Sita T Sita mengajaknya masuk Sanggar Triwida dan berkenalan dengan sesama pengarang Jawa, dalam waktu relatif singkat dia jadi pengarang yang gaul. Bukan hanya berani menemui redaksi, tetapi dia juga merasa perlu menemui pengarang besar bernama Esmiet di Sanggar Pari Kuning-nya, di Bumi Blambangan sana. “Seandainya saya tidak menjadi anggota Sanggar Triwida, barangkali juga saya tidak akan menjadi kenal sedemikian dekat dengan Tamsir AS yang kemudian mengajak saya untuk menjadi redaktur tabloid Jawa Anyar.” Demikian kata Bonari sambil mengenang jasa Tamsir AS (alm.).

Tentu, belajar dari pengalaman KBJ yang sudah 2 kali dilaksanakan itu, janganlah KSJ –jika jadi digelar— hanya jadi ajang kangen-kangenan, ajang rasan-rasan, dan berkeluh-kesah. Jangan pula KSJ membicarakan hal-hal yang terlalu ndakik-ndakik, terlalu muluk-muluk, dan melahirkan kesepakatan-kesepakatan, keputusan-keputusan, deklarasi, atau apalah namanya, yang terlalu melangit, sehingga susah direalisasikan. KSJ jangan terlalu utopis.

Pengarang sastra Jawa tak perlu merasa terpinggirkan. Sebab, di negeri ini, wilayah sastra memang wilayah pinggiran. Sastra Indonesia pun berada di wilayah pinggiran, sehingga di sekolah-sekolah sastra hanya ditempelkan pada mata pelajaran bahasa. Media berbahasa Jawa yang bersedia menampung karya sastra Jawa juga masih ada: Jaya Baya, Panjebar Semangat, dan Djaka Lodang. Ada pula buletin Pagagan yang diterbitkan Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. Panggung buat pembacaan guritan, crita cekak, dan mendiskusikannya juga disediakan. Dewan Kesenian Surabaya, misalnya, telah mengagendakannya sebagai acara bulanan. Kampung Seniman-nya Bagus Putu Parto di Blitar, Dewan Kesenian Wonogiri, Taman Budaya Surakarta, adalah “panggung-panggung” yang tentunya selalu sedia menerima para penggurit dan pengarang sastra Jawa. Tinggal para pengarang Sastra Jawa sendiri, bersedia tampil atau lebih memilih jadi pengarang kuper. Penerbitan buku, antologi misalnya, adalah wilayah yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam sastra Jawa. Ini mestinya bisa jadi bahan pembicaraan yang cukup gayeng di arena KSJ nanti.

Ketertinggalan sastra Jawa mutakhir oleh sastra Indonesia tentu merupakan bahan diskusi yang menarik pula. Dulu ada Intojo, lalu St Iesmaniasita yang memasukkan semangat sastra (Indonesia) ke dalam sastra Jawa. Maka, getar-getar semangat angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, dan Angkatan 45 dalam sastra Indonesia mewarnai kasanah sastra Jawa pada waktu itu. Kini, ketika Korrie Layun Rampan memproklamasikan Angkatan Sastrawan 2000 –lepas dari persoalan pro dan kontra-nya— ketika Korrie telah pula menerbitkan buku tebal Leksikon Susastra Indonesia, apa yang terjadi dalam sastra Jawa? Apakah sastra Jawa mutakhir puas hanya dengan Kalangwan-nya Zoet Mulder, Antologi Sastra Jawa Mutakhir-nya JJ Raas, dan Guritan: Antologi Puisi Jawa Modern Tahun 1940-1980-nya Suripan Sadi Hutomo? Kini, Suripan Sadi Hutomo dan Poer Adhie Prawoto –dua orang yang selama ini dikenal sebagai kreator, kritikus, dan sekaligus sebagai dokumentator sastra Jawa sudah tidak lagi berada di tengah-tengah kita. Kepada siapa kita berharap? Inilah yang mestinya jadi kegelisahan sastra Jawa sekarang.

Penyusunan Leksikon Susastra Jawa, Antologi Crita Cekak, Antologi Guritan, dan kalau perlu memperkenalkan sastrawan Jawa milenium III, Sastrawan Jawa Generasi 2000, atau apalah namanya, tampaknya bisa jadi proyek besar yang bisa digarap. Karena KSJ merupakan forum pertemuan para pengarang yang sangat representatif, tampaknya proyek-proyek besar itu bisa dimulai dari situ. Dari KSJ itu.

Ah, mengapa mesti mengekor sastra Indonesia? Barangkali Anda bertanya begitu. Tidak mau mengekor, walau hanya sementara? Artinya memungkiri ketertinggalan itu? Atau, kalau perlu kita bikin saja lompatan spektakuler sehingga sastra Jawa bisa dikatakan lebih maju daripada sastra Indonesia. Tapi, bagaimana caranya? Hm. Siapa tahu KSJ bisa menjawabnya?*

* dari Surya, Jumat, 6 Juli 2001

Ketika Jogja Menghakimi Jakarta: SURABAYA ASYIK SENDIRI

(1)

Lembaga Kajian Kebudayaan “Akar Indonesia” menggelar acara bedah buku puisi Suatu Cerita dari Negeri Angin (Agus R. Sarjono, Jendela, 2003) dan Reruntuhan Cahaya (Jamal D. Rahman, Bentang, 2003) di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 28 Mei 2003. Tajuk yang dipilih untuk acara itu sangat menarik dan bahkan provokatif: Ketika Jogja Menghakimi Jakarta. Saut Situmorang dan Amien Wangsitalaja jadi hakim, sedangkan terdakwanya adalah Agus R. Sarjono dan Djamal D. Rahman. Cerpenis Joni Ariadinata dengan gaya kocaknya yang amat khas bertindak sebagai moderator. Dua buku kumpulan puisi itu, tambah satu buku Permohonan Hijau (Antologi Penyair Jawa Tuimur) yang diterbitkan Panitia Festival Seni Surabaya 2003, menarik untuk dibicarakan.

(2)

Dalam beberapa kesempatan diskusi sastra di Surabaya, cerpenis M. Shoim Anwar mengatakan bahwa pasca-Rezim Orde Baru banyak sastrawan Indonesia yang seolah-olah kehabisan bahan bakar. Shoim pun menyebut bahwa pada tahun-tahun terakhir kejayaan Rezim Orde Baru banyak cerpen bermuatan kritik sosial. Cerpen “tentang Soeharto” pun banyak ditulis, menjelang hingga usai Soeharto jatuh. Mula-mula sangat tersamar, tetapi --walaupun tidak ada tokoh-tokoh yang terang-terangan dinamai Soeharto-- penggambaran sosok Soeharto makin jelas setelah orang terkuat di Indonesia itu kehilangan taringnya. Sebagian cerpen “tentang Soeharto” itu dikumpulkan Shoim dalam Soeharto dalam Cerpen Indonesia, Bentang, 2002).

Dalam perpuisian pun, tampaknya Shoim akan mempertanyakan pula, apakah Wiji Thukul masih akan berjaya seandainya dia tidak keburu hilang. Kesimpulan Shoim adalah, kebobrokan Rezim Orde Baru memberikan bahan bakar yang cukup hebat bagi kreativitas pengarang dan penyair Indonesia. Maka, setelah Orde Baru tumbang, para sastrawan Indonesia ibarat petarung yang sudah kehilangan lawan. Apakah para sastrawan Indonesia lupa bahwa musuh paling besar adalah diri mereka sendiri? Apakah sastrawan Indonesia yang mau terlibat (meminjam istilah Emha Ainun Nadjib) hanya melihat kebobrokan rezim Orde Baru, dan tidak melihat kebobrokan manusia? Apakah Zaman Edan sudah berakhir, sehingga tidak perlu lagi ada Kalatidha-Kalatidha baru?

Sehubungan dengan “teori” Shoim itu kemudian para sastrawan seolah justru shock ketika musuh utama mereka (Rezim Orde Baru) tumbang, lalu “berhenti” berkarya. Shoim mengatakan bahwa ia pernah menanyai Agus Noor, mengapa cerpen-cerpen terbarunya tidak bermunculan lagi, dan jawabannya adalah: nyaris kehabisan semangat menulis cerpen lagi setelah Rezim Orde Baru runtuh. Tetapi, jangan-jangan keluhan Agus Noor bahwa ia seolah kehabisan bahan bakar untuk melahirkan cerpen-cerpen mutakhirnya hanya abang-abang lambe atau kilah saja, untuk menyembunyikan alasan sebenarnya: “Menulis skenario untuk sinetron lebih banyak duitnya lho!” Tetapi, kenyataannya memang ada beberapa sastrawan yang “lesu darah” pasca-Rezim Orde Baru.

Kemungkinan berikutnya adalah, para sastrawan itu lalu kembali ke dunia dalam, kembali berkontemplasi, dan kemudian mengekspresikan hal-hal yang sangat personal. Dalam perpuisian, mengekspresikan hal-hal yang sangat personal itu biasanya lempang dengan kelahiran sajak-sajak atau puisi-puisi gelap!

(3)

Dalam “surat dakwaan”-nya, Amien Wangsitalaja “menuduh” puisi-puisi Jamal D Rahman dalam Reruntuhan Cahaya mirip puisi-puisi Goenawan Muhamad. “Jika dalam provokasi panitia, puisi Jamal dikatakan sebagai “kepingan estetika” Abdul Hadi W.M. saya tak hendak terprovokasi. Dalam kesan saya, justru Jamal lebih ng-Goenawan daripada ng-Abdul Hadi,” demikian tulis Amien. Baik ng-Abdul Hadi ataukah ng-Goenawan, puisi-puisi Jamal memang masih bisa disebut sebagai puisi remang-remang (meminjam istilah Sapardi Djoko Damono, istilah yang dipakainya untuk menjuluki puisi-puisi Abdul Hadi maupun Goenawan). Ada puisi Jamal yang sangat personal, misalnya puisi Batu-Batu Kian Abadi: dengan jasad luka, kuoleskan darah pada dinding ini/lalu kubiarkan langit berbicara sendiri. memaki atau tertawa//terasa batu-batu kian abadi. sebab di situ terukir amarah/dan kejenuhanku. menuang seluruh makna cinta/dan kebencian langit. memanggil guntur/dan membangunkan malam. bintang-bintang turun/sebagai gerimis airmata/mengalir tanpa suara//. Masih juga remang-remang, tetapi terasa lebih akrap pada Di Kota yang Menderu: hari demi hari, mereka menggelar spanduk dengan huruf-huruf yang gaduh. seperti papan-papan iklan yang setiap hari berputar/tak ada pijakan bagi hujan atau/gerimis: aspal, beton, atau batako. wajah kita saling/berganti juga….. Kemudian, simak salah satu bait puisi Jamal yang berjudul Doa Indonesia 2000 ini: aceh berdarah dalam sajakku/sambas berdarah dalam nadiku/maluku berdarah dalam nafasku/timor berdarah dalam otakku/mataram berdarah dalam sujudku/indoneia berdarah dalam lukaku//

Sementara itu, puisi-puisi penyair Jawa Timur yang terkumpul dalam Permohonan Hijau cenderung sangat personal untuk tidak menyebutnya sebagai puisi-puisi gelap. Pada diskusi dalam rangkaian FSS 2003 (Gedung merah Putih, Kompleks Balai Pemuda Surabaya, 26 Mei 2003) W Haryanto, seperti mengamini Shoim, mengatakan bahwa para “penyair Jawa Timur” itu tampaknya memang telah muak, jenuh, bosan, melihat realitas kehidupan masa kini, ketika para politisi cuma bisa omong besar, ketika elit politik lebih asyik ber-“dagang sapi”, ketika para demonstran pun cuma dapat pentungan, dan oleh karenanya kemudian lebih memilih menggarap sisi terdalam manusia, dunia batin, yang kecenderungannya memang adalah kelahiran puisi-puisi yang lebih “gelap.” Inilah salah satu bait puisi penyair Jaw timur (asal Trenggalek) Deny Tri Aryanti berjudul Kubangun Menara: Kubangun menara dengan sejuta matahari/membayang di antarakesunyian masa lalu/dan melelehkan lonceng dengan getaran halusnya/melantakkan pasir yang kubangun untuk kastil/negeri peri dan para kurcaci/. Baris-baris yang tampaknya hanya akrap dengan penyairnya sendiri.

Nah, sampailah kita pada Suatu Cerita dari Negeri Angin, Sejumlah Sajak Asli dan Satu Sajak Palsu-nya Agus R. Sarjono. Bagi Agus R. Sarjono, musuh tak pernah mati. Karena itu, bagi penyair yang mau “terlibat”, bahan bakar tak akan habis hanya karena Rezim Orde Baru telah tersungkur. Sebutlah beberapa judul puisi Agus: Di Planet Senen, Hollywoodku Sayang, Surat Paman Veteran pada Setengah Abad Kemerdekaan, Sesaat sebelum Kebakaran Hutan, Menjelang Pemilu, Tamasya di Jakarta, Bersama Para TKW, Demokrasi Dunia Ketiga, dan satu lagi judul yang sangat satiris: Indonesia, Sebuah Sisa. Dengan judul-judul demikian, jangan pernah membayangkan puisi-puisi yang kenes atau bahkan vulgar. Ada semacam pilinan antara kesederhanaan, rasa humor yang tinggi dipadu dengan daya puitik yang sangat kuat. Bahkan sangat terasa pula semangat plesetan, yang boleh jadi membuat kita curiga: tampaknya ada “darah” Jogja mengalir pada tubuh Agus R. Sarjono yang lahir, sekolah, dan berkuliah di Bandung itu. Simaklah satu Sajak Palsu ini: selamat pagi pak/selamat pagi bu, ucap anak sekolah//dengan sapaan palsu. Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah//mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka//yang palsu….

Kemudian, mungkin perlu juga ada pertanyaan begini: Manakah yang lebih bermutu, lebih baik, puisi terang, puisi remang-remang, ataukah puisi gelap? Rasanya juga tidak adil mengukur kualitas sebuah puisi dari tingkat keremang-remangan, kejelasan, ataupun kegelapannya. Tidak adil, dan bahkan mustahil! Pertanyaan berikutnya: “Mana yang lebih baik, puisi-puisi terlibat ataukah puisi yang tidak terlibat? Puisi kontekstual (meminjam istilahnya Ariel) atau puisi universal? Yang paling tepat menjawab pertanyaan ini tampaknya ialah Emha Ainun Nadjib (dalam bukunya Sastra yang Membebaskan). Jawaban Emha ialah: tergantung ditaruh di mana puisi (sastra) itu, di dalam bingkai kesenian ataukah di dalam bingkai kehidupan. Bingkai kehidupan akan menuntut “keterlibatan” kesenian, sastra, puisi.

Nah. Tulisan ini harus diakhiri dengan permintaan maaf karena tidak dibuat dengan teori puisi. Maka, Anda pun boleh tidak menyetujui ini: Ketika Jogja Menghakimi Jakarta, Surabaya Asyik Sendiri! []

Dimuat Jawa Pos

Mencerdaskan Dangdut

ADA yang istimewa pada diskusi Sabtu sore (28 September 2002) itu. Diskusi yang sedianya membahas Festival Kesenian di Surabaya tersebut sempat terseret ke dalam perdebatan seputar dangdut. Pemicunya adalah pernyataan Max Arifin pada pengantar makalahnya yang seolah memandang sebelah mata musik dangdut sebagai kesenian bermutu.

Tentu saja, pernyataan Max (yang mungkin tidak bermaksud menilai rendah dangdut, Red) mengundang tanggapan peserta. Menurut peserta, dangdut bukanlah musik kampungan, karena kini sudah masuk hotel- hotel berbintang, mempunyai rating tinggi di televisi, dan bahkan sudah go international. Dangdut disukai oleh rakyat jelata, cendekiawan, bupati, gubernur, bahkan pejabat tinggi negeri ini. Siapa bilang dangdut kesenian tidak bermutu, ketinggalan zaman?
Tetapi, dengan tangkas Max pun berargumentasi. Bobot atau mutu sebuah kesenian tidak ditentukan oleh jumlah massa pendukungnya. Bahwa dangdut berhasil melanglang buana, kata Max, itu bukan karena mutunya, melainkan karena eksotismenya. Dangdut musik yang sangat sederhana. Hanya persoalan cengkok saja, tegasnya. Dangdut tidak memiliki partitur yang rumit seperti musik klasik (patutkah dibandingkan?).

Dan perdebatan pun makin seru. Akhirnya forum sepakat mendiskusikan dangdut sebagai fenomena budaya secara khusus pada kesempatan mendatang, dengan iming-iming mendatangkan Inul Daratista --penyanyi dangdut asal Pasuruan yang sedang naik daun-- sebagai salah satu narasumber. Nah!

Saya jadi teringat pepatah Belanda yang sering disitir novelis Budi Darma, bahwa soal selera tidak dapat diperdebatkan, tetapi dari selera derajat seseorang dapat diketahui. Dan, perdebatan seputar dangdut itu, tampaknya jadi “memanas” karena faktor selera. Seorang teman saya memahami dangdut sebagai kesenian yang tidak bermutu tapi disukai banyak orang. Dangdut diibaratkan sebagai makanan yang disukai banyak orang, meski kandungan gizinya tidak seberapa, dan bahkan bisa merugikan kesehatan. (Jangan bandingkan kesenian dengan makanan, dong!)

Teman saya Leres Budi Santosa juga bilang, “Saya bisa menikmati goyang pantat Shakira atau Jennifer Lopez sebagai seni, tetapi saya sulit menemukan di mana seni goyang pantat Inul yang sedemikian seser itu, walau saya juga menikmatinya.” Mungkin sebenarnya Leres akan bilang bahwa pantat Shakira maupun pantat Jennifer Lopez “lebih cerdas” dibanding pantat Inul Daratista (memangnya pantat bisa cerdas?). Pantat Inul hanya lebih berotot, sehingga goyangannya bisa lebih seser. Benarkah demikian?

Pada suatu saat sastrawan/penyair kenamaan Sapardi Djoko Damono diundang TVRI untuk menjadi narasumber pada acara Pembinaan Bahasa Indonesia. Pada kesempatan itu tema yang dipilih adalah bahasa Indonesia dalam syair-syair lagu dangdut. Saat itu, dengan “cerdas” Sapardi menelanjangi syair-syair dangdut. (Tapi tidak semua syair lagu dangdut “tidak cerdas”, kan?).

Perdebatan musik dangdut musik bermutu atau tidak tampaknya bisa semakin seru, tentu saja bila kita melepaskan faktor selera masing-masing. Tetapi, seperti yang tercermin dalam diskusi itu, pada dasarnya, jika digarap dengan serius (memangnya selama ini digarap secara tidak serius?) kita masih bisa berharap dangdut akan menjadi musik bermutu, syair maupun musiknya.

Dalam hal syair, misalnya, musisi dangdut bisa berkolaborasi dengan para penyair seperti yang dilakukan musisi lain dengan melibatkan penyair Taufiq Ismail, Yudhistira, atau Rendra? Bukankah sinetron dangdut pun jadi lebih berbobot ketika digarap dengan melibatkan seniman seperti Arswendo atau Putu Wijaya?

Yang jelas dangdut kini menjadi ladang yang sangat subur sehingga banyak artis --di luar dangdut-- yang berbondong-bondong memasuki ranah ini. Nama-nama seperti Ayu Azhari, Denny Malik, Denada, Thomas Jorgie, dan banyak lagi, kini akrab dengan musik ini. Kenyataan demikian tentu tidak boleh membuat lupa diri. Para kreator, musisi, penyanyi dangdut, justru harus semakin berpikir soal kualitas.

Akhirnya, tulisan ini harus ditutup dengan sebuah anekdot: seorang pengrajin “fosil” (pembuat fosil tiruan) di kawasan Sangiran merasa sangat bangga dan merasa telah berhasil membuat fosil yang bagus karena karyanya laris bukan main, bahkan para turis pun menyukainya. []


Jawa Pos, Minggu, 06 Okt 2002

PENGADILAN SASTRA JAWA

(Pengadilan Penerima Hadiah Sastra Rancage
bagi Pengarang dan Penyair Sastra Jawa Tahun 1994 – 2001)
di Taman Budaya Jl. Gentengkali 85 Surabaya


[a] Dasar Pikiran

Komposisi Penerima hadiah sastra Rancage bagi pengarang dan penyair sastra awa tahun 1994 – 2001 tidak sebanding yaitu 8 : 1. Delapan orang berasal dari wilayah administratif Jawa Timur, dan seorang dari Daerah Istimewa Jogjakarta, sedangkan dari wilayah administratif Jawa Tengah belum ada yang beruntung, menimbulkan berbagai kecurigaan di balik penjurian hadiah tersebut. Kedelapan orang tersebut yaitu: FC Pamudji (1994) untuk novelnya Sumpahmu Sumpahku; Satim Kadaryono (1996) untuk novelnya Timbreng; Esmiet (1998) untuk novelnya Nalika Langite Obah; Suharmono Kasiyun (1999) untuk novelnya Pupus kang Pepes; Widodo Basuki (2000) untuk kumpulan guritan-nya Layang saka Paran, dan Djayus Pete (2001) untuk kumpulan crita cekak-nya Kreteg Emas Jurang Gupit. Seorang yang berasal dari Daerah Istimewa Jogjakarta yaitu Djaimin K (1997) untuk kumpulan guritan-nya Siter Gadhing.

Kenyataan tersebut menimbulkan kecurigaan dari berbagai pihak, terutama pengarang dan penyair yang berasal dari Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah. Kerja keras almarhum Suripan Sadihutomo dalam memperjuangkan sastra Jawa, ternyata menimbulkan berbagai tanggapan ‘mulai dari yang positif sampai yang negatif’. Sebagai anak emas Suripan Sadihutomo, Ketua Panitia Penerimaan Hadiah Sastra Rancage 2002, membuka ruang dan waktu untuk buka-bukaan pada era yang serba transparan. Selanjutnya, apakah Dewan Juri sebaiknya lebih dari seorang, agar lebih objektif? Bagaimana tanggapan Bapak Ajip Rosyidi sebagai penyandang dana? Marilah kita mengoreksi diri kita sendiri.

[b] Tujuan

(1) Pendewasaan berpikir pengarang dan penyair sastra Jawa
(2) Transparansi dalam penilaian buku karya sastra terbaik
(3) Menumbuhkembangkan kreatifitas dalam penciptaan karya sastra

[c] Waktu dan Tempat

Pengadilan penerima hadiah sastra Rancage bagi pengarang dan penyair sastra Jawa tahun 1994 – 2001 diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Timur (TBJ), Jl. Gentengkali 85 Surabaya, pada tanggal 30 Agustus 2002.

[d] Jenis Kegiatan

Kegiatan utama yaitu pengadilan penerima hadiah sastra Rancage bagi pegarang dan penyair sastra Jawa tahun 1994 – 2001 (pagi, siang, sore), sedangkan kegiatan tambahan adalah pementasan monolog Sangar Ronggowarsito dari Jogjakarta, pembacaan karya sastra Jawa modern (malam).

[e] Peserta

Peserta yaitu pengarang dan penyair sastra Jawa modern dari berbagai penjuru tanah air, khususnya yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, yang tidak kurang dari 80 orang. Peserta lain yaitu pemerhati sastra Jawa, para ahli sastra Jawa, dan peneliti sastra Jawa.

[f] Terdakwa, Hakim, Jaksa Penuntut, Pembela, dan Saksi-saksi

(1) Terdakwa terdiri atas:
a. F.C. Pamudji
b. Satim Kadaryono
c. Esmiet
d. Djaimin K.
e. Suharmono Kasiyun
f. Widodo Basuki
g. Djayus Pete

(2) Hakim
a. Hakim Ketua (Rama Sudiyatmana, Semarang)
b. Hakim Anggota: Daniel Tito (Sragen), Bonari Nabonenar (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto), A. Nugroho (Jogjakarta).

(3) Jaksa Penuntut
a. Jaksa Ketua: Bagus Putu Parto
b. Anggota: Suwardi Endraswara (Jogjakarta), Triyanto Triwikromo (Semarang), Yunani Prawiranegara (Gresik), Budi Palopo (Gresik).

(4) Saksi-saksi
a. Saksi Meringankan: Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Herry Lamongan (Lamongan), Es Danar Pangeran (Lamongan), Irul Budianto (Solo).
b. Saksi Memberatkan: Yunani Sri Wahyuni (Surabaya), Sunarko Sodrun Budiman (Tulungagung), Sri Widati Pradopo (Jogjakarta), Moch. Nursyahid Purnomo (Solo)

[g] Registrasi dan Akomodasi

Peserta yang diundang disediakan penginapan sederhana di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya. Selain itu disediakan konsumsi secukupnya selama acara berlangsung (makan pagi, siang, dan malam tanggal 30 Agustus 2002). Panitia tidak menyediakan transport lokal maupun antarkota bagi peserta, kecuali bagi hakim, jaksa, pembela, dan saksi. Peserta wajib mengisi formulir yang telah disediakan Panitia paling lambat 27 Agustus 2002. Atau, untuk layanan cepat dapat menghubungi Bonari Nabonenar melalui HP: 081 6542 8973 atau e-mail: nabonenar@yahoo.com Daftar ulang atau check-in dilakukan Jumat pagi tanggal 30 Agustus 2002 pukul 06.00 – 08.00 WIB.


ACARA

Jumat 30 Agustus 2002:
08.30 – 09.00 WIB: Pembukaan
a. Laporan Ketua Panitia
b. Ucapan Selamat Datang dari Kepala TBJ
c. Sambutan Dekan FBS Unesa
09.00 – 09.30 WIB: Pembacaan Tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum
0930 – 10.30 WIB : Pemeriksaan Saksi-saksi
10.30 – 11.00 WIB: Pembacaan Pledoi (Pembelaan) oleh Pembela
11.00 – 12.30 WIB: Ishoma (Sidang ditunda)
12.30 – 13.00 WIB: Monolog oleh Bagus Putu Parto
13.00 – 14.30 WIB: Pembacaan keputusan oleh Haki Ketua
14.30 – 15.00 WIB: Salat Asar
15.00 – 17.00 WIB: Dialog Sastrawan Jawa dipimpin Suharmono Kasiyun
17.00 – 19.00 WIB: Ishoma
19.00 – 23.00 WIB: Pentas Sastra Jawa dan Monolog Sanggar Ronggowarsito Jogjakarta

Sabtu, 31 Agustus 2002:
07.30 : Menuju Auditorium Unesa, bis disediakan Panitia
08.30 – selesai : Mengikuti Upacara Penerimaan Hadiah Sastra Rancage


*) Leaflet yang dibuat Panitia Pekan Budaya Jawa 2002

Kongres III Bahasa Jawa (Yogyakarta, Juli 2001): Menggiring Bahasa Jawa ke Museum?

Jika tidak ada aral melintang, Kongres Bahasa Jawa III akan diselenggarakan di Jogyakarta pada bulan Juli 2001. Tentu saja, seperti kongres-kongres sebelumnya, Kongres III itu nanti diselenggarakan dalam rangka upaya melestarikan dan mengembangkan bahasa Jawa. Tetapi, jika formatnya tidak berbeda dengan kongres-kongres sebelumnya yang hanya menghasilkan keputusan-keputusan yang baik itu, dari kongres III ini pun hampir tak ada yang bisa diharapkan. Wah!

Masih Hidup

Apa yang akan dilakukan pengarang/penyair sastra Jawa (selanjutanya yang dimaksudkan adalah sastra Jawa modern) jika sudah tidak ada lagi orang memakai bahasa Jawa, jika media berbahasa Jawa tidak lagi diterbitkan?

Lupakan dulu pertanyaan itu. Setidak-tidaknya kini masih ada 4 media berbahasa Jawa: Djaka Lodang, Jaya Baya, Mekar Sari, dan Panjebar Semangat, yang masing-masing terbit mingguan, kecuali Mekar Sari yang belakangan ini hanya jadi sisipan koran Kedaulatan Rakyat.

Penutur bahasa Jawa atau masyarakat yang masih memakai bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian, masih sangat besar jumlahnya. Pengarang/penyair Jawa juga lumayan banyak. Bahkan “walaupun agak seret”, pengarang-pengarang muda masih terus bermunculan, walaupun di sisi lain ada juga yang berhenti, mampet, atau berganti media bahasa Indonesia. Jadi, bahasa, dan juga sastara Jawa sekarang ini masih hidup. Tetapi harus diakui bahwa sastra Jawa kini memang terasa kurang greget. Sanggar-sanggar sastra Jawa yang begitu suburnya di tahun 70-an dan makin marak di awal tahun 80-an, kini bertumbangan.

Kongres dan Beberapa Catatan

Sudah 2 kali dilaksanakan kongres bahasa Jawa. Pada bulan Juli tahun 2001 kongres ke-3 bahasa Jawa akan dilaksanakan di Yogyakarta. Seperti yang sudah-sudah, tentu kongres itu akan menyedot dana yang sangat besar. Tetapi, sudah terbukti bahwa kongres-kongres itu boleh dibilang “tak menghasilkan apa-apa” untuk bahasa Jawa sendiri. Jangan-jangan biaya ratusan juta rupiah, bisa jadi bahkan milyaran itu, hanya dihamburkan untuk menggiring bahasa, dan lebih-lebih sastra Jawa, ke dalam museum!

Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, mengapa Kongres Bahasa Jawa yang sudah dilakukan 2 kali itu seperti tidak menghasilkan apa-apa untuk bahasa, dan lebih-lebih untuk sastra Jawa.

Pertama, semangat nostalgia para peserta kongres terasa terlalu kuat. Pembicaraan di dalam kongres terlalu tersedot ke bahasa/sastra Jawa klasik. Akibatnya, yang kemudian muncul adalah keluh-kesah dan ratap-tangis, menyesali bahasa Jawa sekarang yang dianggap sudah rusak, sudah tidak populer, tergusur dari bangku sekolah, dan lain-lain.

Situasinya jadi bertambah buruk karena mereka juga tidak menawarkan solusi yang realistis. Mereka berbicara terlalu idealis, sehingga solusi yang mereka tawarkan juga terlalu idealis, dan bahkan, mungkin, terlalu utopis. Sebutlah contoh, menambah jumlah jam pelajaran bahasa Jawa di sekolah dan menjadikannya pelajaran yang berwibawa alias menentukan kelulusan seorang siswa, pemerintah membiayai sanggar-sanggar sastra Jawa, menggalakkan penerbitan buku bacaan berbahasa Jawa, dan semacamnya. Sangat idealis, bukan?

Kedua, ada kesan bahwa kongres terlalu didominasi oleh pemakalah dari kalangan linguis. Akibatnya, pembicaraan jadi cenderung teoritis, seperti hanya menjadikan kongres sebagai forum untuk membacakan hasil penelitian. Sangat beralasan, memang, jika persoalan-persoalan kebahasaan mendapatkan porsi lebih. Namanya juga Kongres Bahasa Jawa! Tetapi, jangan-jangan, sebagian besar data-data yang terkumpul dari penelitian itu sebaiknya cukup disimpan saja di dalam museum. Toh, kamus besar bahasa Jawa dan Tatabahasa Baku Bahasa Jawa, misalnya, dapat diterbitkan dan sudah bisa beredar di arena Kongres I Bahasa Jawa (Semarang, 1991).

Setelah media berbahasa Jawa, sastra Jawa adalah pilar yang tak boleh dianggap sepele dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa. Bagaimana kita meyakinkan orang Jawa untuk merasa perlu membaca media berbahasa Jawa, dan pada gilirannya juga merasa perlu membaca karya sastra Jawa? Itulah persoalan besar yang mesti dijawab oleh Kongres Bahasa Jawa. Masih ada satu lagi sebenarnya, yang tergolong sangat mewah, yakni meyakinkan para pengarang dan calon pengarang asal Jawa bahwa mereka perlu menulis, atau, juga menulis, dengan bahasa Jawa.

Ketiga, karena Kongres Bahasa Jawa harus menjawab persoalan-persoalan berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa, rasanya pemakalah asing juga tidak terlalu penting, kecuali dari Suriname. Soalnya pakar dari Suriname akan menjadi teman bicara yang sangat pas karena juga berasal dari masyarakat Jawa (Jawa Suriname). Para pemakalah asing lainnya, yang biasanya dari kalangan akademisi, seperti dari Jepang, Belanda, Australia, Malaysia, India, rasanya lebih pas dihadirkan pada forum-forum yang lebih bernuansa ilmiah.

Jika mereka mau hadir juga, dengan biaya sendiri, tentu harus disambut dengan baik. Secara berkelakar barangkali boleh dikatakan bahwa daripada untuk membayar dan membiayai para pemakalah asing itu, lebih baik digunakan untuk mengundang para pengarang sastra Jawa yang tidak terkenal. Para pengarang sastra Jawa yang sudah terkenal seperti Esmiet, Suparto Brata, dan Djayus Pete, sudah tentu diundang, bukan? Tetapi, Es Danar Pangeran, Budi Palopo, Sumono Sandyasmoro, sebenarnya juga berhak “menikmati” Kongres Bahasa Jawa. Sesekali mereka itu perlu ditidurkan di hotel berbintang, agar tidak hanya dapat bercerita tentang sawah dan ladang jagung. Dan akhirnya, agar sastra Jawa tidak dipandang sebagai sastra ndesit, alias sastra kelas kampung.

Keempat, terlalu royal. Sebaiknya Kongres Bahasa Jawa tidak terlalu royal. Lebih-lebih di zaman krisis seperti sekarang ini. Orang Jawa juga harus memiliki sense of krisis, dan karenanya Kongres Bahasa Jawa tidak perlu dilaksanakan di hotel berbintang 5 atau 4. Bahkan, tidak usah di hotel berbintang. Membiayai pemakalah asing seperti disebutkan tadi termasuk juga dalam kategori kemewahaan. Itu tidak perlu. Karenanya, jika sudah ada dana 700 juta rupiah, misalnya, pakailah yang 200 juta saja. Gunakanlah sebagian untuk fakir-miskin, untuk para korban bencana alam, maupun untuk korban bencana politik. Dan jangan lupa, sisakan pula 100, atau, syukur-syukur 200 juta rupiah, untuk menyelenggarakan hadiah tahunan untuk sastra Jawa.

Hadiah Sastra

Kongres Bahasa Jawa hendaknya dilaksanakan secara sederhana. Baik dalam hal biaya maupun tema. Soalnya, persoalan-persoalan bahasa Jawa pada dasarnya juga sangat sederhana. Ibarat manusia, masih harus sibuk dengan persoalan lapar dan dahaga. Sibuk urusan perut! Karenanya, jangan berbicara ndakik-ndakik atau muluk-muluk. Bicaralah yang simpel-simpel saja, yang langsung menyentuh persoalan mendasar bahasa Jawa.

Urusan perut bahasa Jawa itu, antara lain adalah sangat lemahnya tradisi kritik dalam sastra Jawa. Kesusastraan tanpa kritik, tentu tidak sehat. Dan sastra Jawa sekarang ini, memang tidak, atau, sekurang-kurangnya kurang sehat. Karena itu banyak yang kagum ketika beberapa waktu lalu Widodo Basuki dan Djayus Pete --masing-masing penyair dan cerpenis Jawa-- membacakan puisi dan cerpen mereka di TMII. Kekaguman itu timbul karena dalam sastra Jawa yang kurang sehat itu masih bisa lahir puisi-puisi Widodo Basuki dan cerpen-cerpen Djayus Pete yang secara kualitas bisa disejajarkan dengan puisi-puisi dan cerpen-cerpen berkualitas dalam sastra Indonesia.

Pemberian hadiah kepada pengarang berprestasi --yang boleh dianggap sebagai salah satu ujud kritik-- juga berjalan tersendat-sendat. Memang ada hadiah Rancage yang diberikan tiap tahun. Itu saja merupakan “belas kasihan” Sastra Sunda, mungkin, dalam hal ini adalah Ajip Rosyidi sebagai penanggung jawab utamanya. Ya, syukur-syukur masih ada Rancage, yang setiap tahun memberikan kesempatan kepada dua orang dari sastra Jawa untuk menerimanya. Tetapi, idealnya tentu, setiap tahun, ada penyair, cerpenis, novelis, dan kritikus, sastra Jawa yang menerima hadiah. Seharusnya sastra Jawa memiliki tradisi penghargaan atau penganugerahan hadiah-nya sendiri.

Akan lebih baik lagi jika, dan bahkan seharusnya, ada pula tradisi pemberian hadiah untuk karya jurnalistik berbahasa Jawa. Semacam Pulitzer-nya wong Jawa, begitulah! Percayalah, ini bukan sekadar impian, jika orang Jawa punya niat. Buktinya, dana bisa dihimpun untuk Kongres I dan II yang tergolong sangat mewah itu.

Persoalannya kembali kepada orang Jawa sendiri. Mau yang lebih berorientasi kepada asas manfaat ataukah hanya mau bergagah-gagah, menghambur-hamburkan dana miliaran rupiah untuk menggiring bahasa dan sastra Jawa ke dalam museum!*

* dmuat Jawa Pos, Minggu, 26 November 2000

Hadiah Sastra Jawa, Mana?

TAHUN 2002 ini dua sastrawan Jawa, Djayus Pete (Bojonegoro) dan DR Sudi Yatmana yang biasa disapa Romo Sudi (Semarang), memperoleh hadiah Rancage dari Yayasan Rancage yang pada awalnya sebenarnya hanya menganugerahkan hadiah itu kepada sastrawan Sunda. Penyerahan hadiah itu kebetulan akan dilangsungkan di Kampus Pusat Unesa (Ketintang, Surabaya) akhir Agustus 2002 ini. Kita boleh menyambutnya dengan tepuk tangan. Tetapi, alangkah bagusnya jika sastra Jawa juga memiliki tradisi penganugerahan hadiahnya sendiri!

Banyak persoalan yang dihadapi sastra Jawa sekarang ini. Medianya, yang tentu saja adalah bahasa Jawa, membuat sastra Jawa sangat sempit wilayahnya bila dibandingkan dengan sastra Indonesia. Tetapi, mengapa sastra Sunda tumbuh lebih menggembirakan? Atau, setidaknya ada tradisi penganugerahan hadiah Rancage dari sastra Sunda, yang kemudian juga diberikan kepada sastrawan Jawa dan Bali.

Tradisi kritik sangat lemah dalam sastra Jawa. Barangkali, sedikit-banyak hal ini berkaitan dengan stereotip orang Jawa yang suka ewuh-pakewuh, serba sungkan. Kalau dikritik gampang naik darah, dan karena itu-sesuai prinsip tenggang rasa-enggan pula mengkritik.
Kesusastraan tanpa kritik, tentu tidak sehat. Dan sastra Jawa sekarang ini, memang tidak, atau sekurang-kurangnya, kurang sehat. Karena itu, jadi semacam surprise ketika suatu saat Widodo Basuki (penggurit/penyair), Djayus Pete (cerpenis), dan Poer Adhie Prawoto (cerpenis, penyair, kritikus, dan dokumentator) sastra Jawa, membacakan puisi dan cerpen mereka di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Jadi surprise, karena dalam sastra Jawa yang kurang sehat itu masih bisa lahir puisi-puisi Poer Adhie Prawoto, puisi-puisi Widodo Basuki, dan cerpen-cerpen Djayus Pete, yang secara kualitas bisa disejajarkan dengan puisi-puisi dan cerpen-cerpen berkualitas dalam sastra Indonesia.

Bahkan, pada peluncuran buku kumpulan crita cekak (cerpen berbahasa Jawa) Kreteg Emas Jurang Gupit karya Djayus Pete-yang kemudian mendapatkan anugerah Rancage untuk kategori buku sastra Jawa 2002-Dr Dede Oetomo sempat melontarkan pernyataan bahwa cerpen-cerpen berbahasa Jawa Djayus itu bukan cuma pantas disejajarkan dengan cerpen-cerpen berbahasa Indonesia, melainkan juga dengan cerpen-cerpen dunia dewasa ini. Jadi, kita masih boleh memimpikan lahirnya karya-karya yang lebih hebat lagi dalam kazanah sastra Jawa, seandainya kehidupan sastra Jawa dibangun dengan tradisi yang sehat.

Rancage

Pemberian hadiah kepada pengarang berprestasi-yang boleh dianggap sebagai salah satu ujud kritik-juga berjalan tersendat-sendat. Memang ada hadiah Rancage yang diberikan tiap tahun. Jumlah uang yang menyertainya juga tergolong besar (tahun lalu Rp 5 juta untuk tiap-tiap kategori) bagi sastrawan Jawa. Sejauh ini belum ada hadiah diberikan kepada sastrawan Jawa yang nilainya mendekati hadiah Rancage itu! Bahkan, hadiah untuk juara lomba penulisan puisi atau cerpen berbahasa Jawa sering lebih kecil nilainya dibanding honor pemuatan di koran/ majalah untuk puisi atau cerpen berbahasa Indonesia. Setiap tahun, dua orang dari sastra Jawa berhak mendapatkan hadiah Rancage, masing-masing untuk kategori ketokohan dan pengarang buku terbaik.

Persoalannya, penerbitan buku dalam sastra Jawa modern belum menjadi tradisi. Akibatnya, bisa saja terjadi hadiah Rancage tidak jatuh ke tangan sastrawan Jawa yang telah menghasilkan karya terbaik. Jadi, secara tahunan tidak dapat diketahui siapa penggurit (penyair Jawa) terbaik, cerpenis terbaik, novelis terbaik, maupun penulis esai terbaik dalam sastra Jawa.

Idealnya, memang, setiap tahun ada penyair, cerpenis, novelis, serta esais sastra Jawa yang menerima hadiah. Maka, seharusnya sastra Jawa memiliki tradisi penghargaan atau penganugerahan hadiahnya sendiri.

Triwida

Sanggar Sastra (Jawa) Triwida yang bermarkas di Tulungagung pernah pula memberikan hadiah kepada para pengarang dan penyair sastra Jawa. Secara nominal penghargaan yang diberikan memang jauh di bawah Rancage. Tetapi, itu merupakan sebuah usaha yang tak boleh dipandang sepele, mengingat Triwida sendiri boleh dikatakan sanggar pinggiran dalam sastra (Jawa) yang tergolong pinggiran itu. Sebagian besar anggota Sanggar Triwida tersebar di tiga wilayah: Blitar, Trenggalek, dan Tulungagung. Dana untuk hadiah itu pun digali dari para donatur perorangan di wilayah itu, dan dari media berbahasa Jawa.

Dalam hal sistem penilaian, berbeda dengan hadiah Rancage, hadiah Triwida mengambil karya-karya terbaik meliputi: guritan (puisi), crita cekak (cerpen), dan crita sambung (novel) yang pernah dimuat media berbahasa Jawa dalam kurun lima tahun terakhir. Sayang, karena kesulitan dana, tampaknya hadiah Triwida itu kini sedang mengalami kemacetan.

"Panjebar Semangat"

Setiap bulan September, majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat memberikan penghargaan untuk penulis crita cekak atau penggurit, atau penulis esai terbaik. Jadi, setiap tahun hanya seorang penulis yang diberi penghargaan, biasanya plus beberapa orang yang diberi penghargaan "hiburan", dikirimi secara gratis majalah Panjebar Semangat untuk beberapa bulan.

Setidak-tidaknya, hadiah Panjebar Semangat telah menambah semarak dan mengisi semacam kekosongan dalam tradisi pemberian hadiah dalam sastra Jawa. Tetapi, untuk disebut representatif, rasanya juga masih sangat kurang.

Sayembara

Hadiah sayembara, maksudnya adalah hadiah-hadiah yang diberikan dengan mengadakan lomba atau sayembara penulisan geguritan, crita cekak, atau novel, yang biasanya dilaksanakan secara insidental. Balai Bahasa Yogyakarta dengan Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta-nya (SSJY), adalah lembaga yang selama ini boleh dibilang paling aktif mengadakan lomba/sayembara sastra Jawa, baik lomba penulisan crita cekak, lomba penulisan guritan, dan bahkan juga lomba penulisan novel.

Tampaknya, belakangan ini sanggar-sanggar sastra Jawa yang lain semakin kesulitan meneruskan tradisi pemberian hadiah maupun mengadakan lomba, karena kehidupannya sendiri semakin kritis. Ada yang sekarat, bahkan banyak di antaranya yang tinggal "nisan" alias papan namanya saja!

Jurnalistik

Hadiah sastra Jawa bukan impian yang terlalu tinggi jika menilik bahwa hajatan sangat meriah bernama Kongres Bahasa Jawa yang menghabiskan dana ratusan juta, bahkan mungkin milyaran rupiah saja bisa dilaksanakan. Kongres lima tahunan itu bahkan sudah berlangsung tiga kali, Semarang (1991), Malang (1996), dan Yogyakarta (2001).
Akan lebih baik lagi jika, dan bahkan seharusnya, ada pula tradisi pemberian hadiah untuk karya jurnalistik berbahasa Jawa, Semacam Pulitzer-nya wong Jawa, begitulah! Percayalah, ini bukan sekadar impian, jika orang Jawa punya niat dan mau bekerja keras.

Tanggung jawab

Persoalannya kembali kepada orang Jawa sendiri. Mau yang lebih berorientasi kepada asas manfaat ataukah hanya mau bergagah-gagah, menghambur-hamburkan dana milyaran rupiah untuk menggiring bahasa dan sastra Jawa ke dalam museum!

Iklim yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa sangat diperlukan saat ini. Hadiah, sebagai salah satu bentuk kritik, mesti ditradisikan dalam sastra Jawa. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah hadiah yang "bergengsi". Tetapi, jangan lupa bahwa gengsi sebuah hadiah tidak harus dinilai dari besarnya jumlah uang yang menyertainya. Keajegan dan pertanggungjawaban tim penilai, misalnya, adalah faktor-faktor yang ikut menentukan gengsi itu, yang sayangnya selama ini tampak kurang mendapat perhatian dari para pemberi hadiah seperti telah disebut dalam tulisan ini.

* dimuat Kompas (halaman Jawa Timur) 16 April 2002