Jumat, 08 Februari 2008

Kebijakan Basa-basi

SURABAYA, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa (PPSJ) Surabaya Bonari Nabonenar menilai, kebijakan sehari berbahasa Jawa yang digulirkan Dinas Pendidikan hanya sekadar basa-basi. Bonari yakin, program tersebut tidak efektif saat pelaksanaan di lapangan. Bahkan dipastikan akan menemui berbagai kendala. Baik dari siswa maupun guru. Terlebih bagi siswa dan guru non-Jawa.

’’Kalau programnya sih baik. Tapi masalahnya ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan dari pada sekadar basa-basi membuat kebijakan itu (sehari berbahasa Jawa, Red),’’ ujarnya kepada Surya, Jumat (25/1).

Menurut Bonar, selama ini terjadi sesuatu yang sangat rancu dalam pengajaran bahasa Jawa di sekolah. Ketika mengajarkan bahasa daerah ini, guru memakai bahasa Indonesia.
Malah banyak di antara guru pengajarnya sendiri yang tidak paham. ’’Mestinya kalau targetnya agar siswa paham dan bisa bahasa Jawa, dalam mengajar guru harus menggunakan bahasa Jawa. Dan si guru harus benar-benar paham, istilah dan hal-ihwal tentang bahasa Jawa,’’ jelas alumnus Universitas Negeri Surabaya ini.

Ini menurut Bonar, sama halnya dengan pengajaran bahasa Inggris. Agar siswa cepat paham, sejumlah sekolah memilih guru pengajar native speaker atau orang yang benar-benar paham dan setiap hari menggunakan bahasa Inggris.


Selain itu, Bonar meragukan tujuan program sehari berbahasa Jawa untuk mengangkat budaya Jawa dan menumbuhkan sikap etik dan sopan santun siswa. Karena saat ini praktis tidak ada bacaan berbahasa Jawa untuk siswa.

’’Dari mana siswa bisa belajar nilai dan sopan santun dalam menggunakan bahasa Jawa, kalau panduan dan bacaannya saja tak ada,’’ tandasnya.

Bonari menyarankan agar sebelum diterapkan program sehari berbahasa Jawa, Dinas Pendidikan membenahi hal-hal prinsip dalam pengajaran dan pemberian contoh bahasa Jawa. [Uji]


Surya Online
Saturday, 26 January 2008
http://www.surya.co.id/

Sabtu, 02 Februari 2008

Habis Gelap masihlah Remang-remang

April adalah bulan yang biasanya jadi semarak dengan peringatan Hari Kartini [21 April]. Kartini adalah ikon perjuangan kaum perempuan. Ia yang mengisi hari-hari dalam hidupnya dengan, tampaknya, lebih banyak menangis dan menjerit, memrihatini kondisi kaumnya yang selalu diletakkan di bawah bayang-bayang laki-laki, baik oleh bangunan sistem sosial maupun oleh produk perundang-undangan yang cenderung meminggirkan [untuk tidak menyebutnya: menindas] perempuan.

Kini, Ibu Kartini sudah tidak lagi secara fisik berada di tengah-tengah kita. Tetapi, jiwa dan semangat perjuangannya tak akan pernah padam, apalagi jika kita sebagai generasi penerus bangsa menyadari betapa mulia perjuangan itu.

Dahulu, pada zamannya Ibu Kartini, secara terang-terangan gerak perempuan dibatasi, bukan saja oleh stagen dan kain panjang [jarik] secara fisik, bahkan pikiran perempuan pun dikerangkeng. Di masyarakat dikontruksikan cara pandang bahwa perempuan adalah kanca wingking bagi sang suami alias teman yang hanya berada di belakang [bertugas memasak di dapur dan mengasuh anak] yang dengan kata-kata Jawa bisa dirangkum ke dalam 3-M [masak, macak, manak atau memasak, bersolek, dan beranak].

Pendidikan formal juga mendiskriminasi perempuan. Perempuan tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan formal. Di bidang pekerjaan begitu pula. Dan di semua bidang kehidupan yang lain, perempuan selalu dikalahkan.

Lalu, terbitlah zaman baru, ketika perempuan disebut-sebut telah mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki. Perempuan boleh menikmati pendidikan formal sampai jenjang tertinggi. Di dunia kerja, perempuan juga mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Perempuan boleh memutuskan menjadi apa yang diinginkannya. Sejarah pun telah mencatat bahwa kita pernah memiliki perempuan yang meraih kedudukan tertinggi di negri ini, sebagai presiden.

Tetapi, apakah dari ’’penampakan-penampakan’’ seperti itu kita dapat menilai bahwa terkabullah sudah apa yang dahulu dicita-citakan Ibu Kartini? Apakah di dunia kita benar-benar telah keluar dari kegelapan? Apakah kita telah merasa menikmati zaman terang-benderang?

Maka, cobalah mari kita berhitung, berapa banyak keluarga yang kini bisa dipertahankan dengan menempatkan perempuan sebagai tulang punggungnya, sebagai pencari nafkah, dan bahkan juga pengambil keputusan? Kini, di antara kita, ada banyak laki-laki yang mirip-mirip kucing piaraan yang menjadi tambun tetapi semakin tak gesit menghadapi tikus, karena ia tidak terbiasa mengasah cakar dan taringnya. Ia menjadi kucing piaraan yang manja, sementara sang perempuan harus menjadi singa penakluk ganasnya rimba kehidupan.

Lalu, pertanyaan besarnya? Mengapa angka kekerasan di dalam rumahtangga dimana laki-laki adalah pelaku dan perempuan adalah korban masih saja tinggi? Mengapa?

Kita belum berada di zaman terang-benderang, sebab habis gelap masihlah remang-remang![]

Peduli edisi 12

MIMPI dan BADAI


Kemudian saya melangkah lagi. Terus melangkah. Aneh. Sementara hujan dan angin dan petir terus menjadi-jadi, malah rasanya saya semakin kuat. Sepertinya saya telah jadi sakti. Sampai sekarang, saya tidak merasa kedinginan lagi. Lihatlah, sekarang saya tidak menggigil lagi."

"Ketika kamu berda di muka gedung yang kamu ceritakan itu, apakah kamu ingat saya?"

"Barangkali mula-mina tidak. Tapi kemudian sepertinya saya melihat kamu di sana."

"Di mana menurut pandangamnu yang salah itu, saya ada di antara orang-orang yang berlindung di dalam gedung, atau justru berada di antara mereka yang coati konyol itu?"

Ya. Yang terakhir itu. Kamu terkapar di halamannya. Tapi, kamu masih sempat tertawa ketika melihat saya memutuskan untuk terus melangkah dan menolak tawaran mereka."
"Ha... ha.... hahahahahaha ....!"

"Mengapa kamu tertawa?"

"Penglihatanmu sama tidak beresnya dengan penglihatan saya!"

"Saya juga telah melihat kamu sebagai mayat yang hanyut di sungai. Lucunya, sebagai mayat --dalam penglihatan saya-- kamu masih sempat melambaikan tangan untuk saya."
Lagi-lagi, saya dan dia tertawa bersama-sama. Sama kerasnya, sama iramanya, sama sejenisnya.

Hujan dan angin, dan petir, seperti tak kenal lelah. Kabut malah tambah tebal. Saya dan dia terus melangkah. Beriringan. Berangkulan. Lagi-lagi saya tidak mengerti, mengapa ia masih bernafsu merangkul saya, padahal ia telah mengatakan bahwa sekarang sudah tidak merasa kedinginan lagi. Dan, tubuhnya memang sudah tidak menggigil. Bibirnya yang tadinya biru, membiru, telah kembali memerah. Semerahnya merah.

"Suamimu apa juga sudah mati konyol?" Tiba-tiba saya bertanya begitu. Saya jadi menyesali pertanyaan yang kadung mrucut itu. Saya benar-benar menyesal, mengapa saya bertanya begitu. Salah satu sebab penyesalan saya adalah: setelah menjawab pertanyaan saya itu, dia menjadi berhak dan memperoleh jalan yang lempang untuk menanyakan segala sesuatu yang menyangkut diri saya. Saya telah memulai dialog yang sebenarnya sangat tidak saya inginkan.
"Suami saya? Suami saya yang mana?"

Begitulah dia menjawab pertanyaan saya. Menyaksikan ke-sempel-annya, saya jadi tertolong dan terangkat dari kedalaman rasa sesal saya sendiri.

"Kamu masih waras, bukan?"

"Ya. Setidak-tidaknya menurut keyakinan saya sendiri, saya masih waras. Oo, bukan masih waras, tapi: waras. Ini mengandung rasa syukur bahwa saya belum pernah jadi tidak waras, dan pengharapan, mudah-mudahan saya tidak akan jadi tidak waras."

"Dari mana kamu belajar mempermainkan kata-kata seperti itu?"

"Kamu."

"Oh. Hati-hatilah. Kalau kamu berhasil mencapai taraf mahir, niscaya kamu akan berada di satu titik yang amat dekat dengan ketidakwarasan."

"Kalau memang nasib, mau apa lagi? Toh saya tidak belajar sungguh-sungguh. Artinya, saya belajar itu tidak dengan niat dan kesadaran. Atau, ternyata diam-diam saya telah belajar dari kamu."

" Mengapa kamu memastikan dari saya?"

"Selama ini saya hanya bergaul dengan kamu."

"He, kamu masih waras, kan?"

"Bukan masih waras, tetapi w a r a s! Itu menurut keyakinan saya. Tapi, orang gila pun, barangkali, tak akan mengatakan bahwa dirinya gila."

"Sudahlah. Saya terima percaya saja. Percaya bahwa kamu memang waras. Sekarang katakan, di mana suamimu. Apa masih hidup, apa sudah mati. Atau, kamu memang sudah tidak banyak tahu tentang keadaannya sekarang."

"Kamu ini bagaimana sih? Jangan buat saya kalap dengan pertanyaan seamcam itu. Saya sendiri tidak begitu yakin, apa saya ini pernah bersuami apa belum."

"O, jadi yangkemudian disambarpetir dan kamu hanyutkan di sungai itu adalah bayi jadah! Begitu?"

"Maaf Bung, saya tidak serendah yang kamu bayangkan."

"Sekarang bahkan kamu telah membuat saya kalap dengan jawaban yang kamu kemukakan. Wah. Bagaimana kamu ini? Bayi itu benar-benar bayimu, ya?"

“Ya?"

“Artinya, bayi itu keluar dari dalam perutmu sendiri?"

"Nah. Oh, ya. Jadi, kamu belum pernah menikah secara resmi dengan seseorang?"[]

[dipotong dari MIMPI dan BADAI, Logung Pustaka, Jogjakarta 2006]

Hanya yang Bersih Dapat Menyatau dengan Udara

KEMARAU tinggallah nama. Hujan berhari-hari telah menjungkirkannya. Hujan semakin gila. Lebih gila daripada musimnya. Angin ribut. Petir. Banjir. Mereka seperti telah sepakat, menikam kemarau dari belakang. Barangkali memang alam telah sedemikian rusaknya. Hampir tak ada yang dapat dipercaya. Cuaca juga. Pagi-pagi misalnya, matahari muncul dengan segenap keceriaannya. Tetapi belum sampai separoh perjalanan mendung hitam datang menghadang. Terang jadi gelap. Jadi hujan. Jadi banjir. Dan Petir. Dan angin ribut. Membuat tambah kacau. Mereka telah bersekongkol menjarah kemarau.

Rumah saya pun jadi kacau. Antena televisi jadi patah. Disambar petir. Pesawatnya meledak. Berantakan. Yang tak kalah kacaunya, adalah pikiran saya. Kadang-kadang saya jadi begitu khawatir kalau-kalau kiamat akan segera tiba. Makin banyak tabungan dosa saya. Tuhan Maha Kuasa. Tetapi siapakah sebenarnya yang mempercepat proses kehancuran dunia?

Saya terus bertanya. Juga mempertanyakan, mengapa saya tak dapat berhenti bertanya. Sepenggalpun tak saya temukan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan saya berkembang. Jadi semacam protes. Semacam gugatan, tak jelas alamatnya. Dan saya semakin merasakan bahwa pikiran saya semakin kacau.

Maka kemudian saya tinggalkan rumah saya. Tinggalkan keluarga saya, istri dan anak-anak saya. Saya tinggalkan kota dengan segenap isinya. Saya masuk hutan. Naik gunung seperti naik tangga menuju balik langit-langit untuk menemukan genting yang bocor.

Mungkin benar kata orang. Langit telah berlubang. Telah jebol. Maka hujanpun tak kenal musim. Tetapi tak mungkin saya naik ke langit. Yang mungkin adalah masuk hutan. Naik gunung. Mungkin saya memang harus ke hutan. Harus ke gunung bila benar kata salah seorang kawan penyair bahwa sekelompok orang telah bikin makar bergerombol-gerombol. Di hutan-hutan. Memanah matahari. Memanah rembulan. Memanah bintang-bintang. Lihatlah langit telah berlubang.

Mungkin anak-anak sudah terlelap. Mungkin masih terasa hangat bila ibunya masih mencinta mendekap. Mungkin juga mereka sedang asik berdiskusi tentang antena yang patah. Tentang pesawat televisi yang meledak. Tentang suami yang pergidan tak segera kembali pulang. Tentang mimpi-mimpi yang membuat mereka larut dalam irama ketakutan.

Di hutan. Tidaka ada gerombolan. Atau mungkin tidak saya temukan. Sepi. Melintas di jejak badai. Pohon-pohon tumbang. Malang melintang. Ai! Bintang! Telah hilang gemerlapannya. Telah hilang cahayanya. Pudar, kusam, saya pungut dan saya timang-timang. Ai! Seseorang! Atau lebih tepatnya manusia. Saya terkejut, tetapi dia begitu tenang.

’’Sampeyan siapa?’’

Pertanyaan itu mula-mula saya maksudkan untuk menguasai keadaan. Saya tak ingin dia yang lebih dulu menguasainya.Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sayang perhitungan saya terlalu mentah. Saya tahu pada saat sudah terlambat. Justru dengan pertanyaan itu saya telah menampakkan bulat-bulat betapa tipisnya nyali saya. Saya mulai goyah. Saya tak bisa tenang seperti dia. Jangkrik!

’’Untuk apa bertanya begitu? Nama? Saya sendiri sudah lupa siapa nama saya sebenarnya. Kalaupun bisa saya sebut sebuah nama, untuk apa? Toh di sini kita cuma berdua.’’

Diam-diam saya mengaku kalah, ah, betapa cepatnya saya menyerah. Hanya dengan beberapa kalimat yang diucapkannya tanpa emosi, dia telah melemparkan saya ke tempat yang sangat jauh. Jauh dan asing. Saya benar-benar tak berdaya. Dan dalam ketakberdayaan seperti itulah, saya kembali bertanya.

’’Mengapa sampeyan di sini?’’

’’Bertanyalah begitu pada diri sendiri. Atau, mari ikut! Sebab terlalu sulit menjelaskan semua ini dengan kata-kata.’’

Kalah lagi! Lagi-lagi kalah. Saya mengikutinya dengan semangat seorang antropolog yang tiba-tiba menguasai bahasa orang dari suku terasing yang sedang diteliti.

Seperti sebuah petualangan yang sangat menantang. Kadang saya bertanya-tanya, benarkah ia seorang manusia. Matanya yang tajam tatapnya menggetar perasaan. Tubuhnya kekar. Rambutnya panjang. Pakaiannya kumal, sudah tak jelas warna aslinya.

Gerakannya amat cepat. Langkah-langkahnya mantap. Seluruh keberadaannya selalu memancarkan kesan keperkasaan. Medan macam apapun rasanya tak akan pernah mampu menggoyahkan keperkasaannya. Dialah lelaki jantan. Lepas dari persoalan, apakah dia benar seorang manusia atau bukan.

Saya terus mengikutinya. Ternyata dia membawa saya kedalam sebuah gua. Fantastis! Dalam tempo yang sangat singkat saya telah menyimpulkan, dan yakin pada kesimpulan ini, bahwa gua inilah rumahnya. Tempat tinggalnya. Nah! Benarkah ia tak kurang dan tak lebih adalah seorang manusia? Kalau manusia, maka manusia macam apakah dia? Sulit untuk dapat dengan cepat saya pahami. Saya yang terlempar ke dalam zaman prasejarah, ataukah dia yang terpelanting dari peradaban modern.

Setelah menyalakan perapian di serambi gua dia menuntut saya ke dalam. Ai! Dia punya lampu senter! Dan saya semakin yakin, dia bukan manusia prasejarah. Sebelum ini, saya juga sudah yakin bahwa benar dia adalah seorang manusia. Saya yakin dia adalah manusia produk modern seperti saya. Bahasanya sama dengan bahasa saya. Bahkan saya mengaku kalah dalam hal mempermainkan kata-kata. Lebih mengejutkan lagi, ternyata dia tak hanya punya lampu senter. Dia juga punya persediaan lilin. Punya radio transistor.

Tiba-tiba prasangka buruk menyelinap di balik angan-angan saya. Jangan-jangan dia adalah ketua gerombolan! Nah! Ya, kan? Ketika saya iseng, saya mendapati sebuah bilik yang berfungsi sebagai gudang senjata. Sekaligus gudang peluru. Bermacam-macam jenis dan ukuran. Tetapi sepertinya telah menjadi fosil. Tak terawat.

Rusak. Berkarat. Mungkin kalau ada, hanya satu dua yang masih dapat dipergunakan.

’’Saya mau berburu. Kita butuh makan. Ikut nggak?!’’

Pikir saya, ini tawaran yang baik. Menantang dan menyenangkan.

’’Ya! Ikut!’’

“Ambilah senjata di dalam. Pilih yang masih baik. Yang masih dapat digunakan. Jangan lupa mencocokkan dengan jenis pelurunya. Bisa menembak, kan?”

“Ya. Sedikit-sedikit.”

Dia semakin cair. Makin bersikap bersahabat. Rasanya dia sudah tak lagi bernafsu memojokkan saya dengan kata-katanya.

’’Bisa menembak, belajar dari mana?’’

’’Dari perang.’’

’’O, juga pernah terlihat perang….’’

’’Sampeyan?’’

’’Ya’’

’’Perang Kemerdekaan?’’

’’Perang Membela Tanah Air?’’

’’!!!!!!’’

’’Apa?’’

’’Mungkin sampeyan orang yang saya cari-cari selama ini!’’

’’Untuk apa?’’

’’Nah, kalau benar, sesungguhnya bukan hanya saya yang mencari-cari sampean. Siapa sebenarnya nama sampean?!’’

’’Sudah saya katakan. Saya sendiri sudah lupa siapa nama saya. Ah. Sekian lamanya saya tak pernah pusing, dan tak pernah mencoba memusingkan soal nama. Tapi tiba-tiba kau datang seolah hanya untuk menemukan sebuah nama. Hm. Zaman sudah terlalu gila. Lebih orang-orangnya. Nama sudah lebih penting daripada bendanya.’’

’’Ya. Tapi, pada zaman perang dulu sampean jadi pemimpin para pejuang, kan?!’’

’’Juga tak pernah terpikir. Berjuang apakah memberontak.’’

’’Tetapi membela Tanah Air, kan?’’

’’Ya.’’

’’Nah! Itu namanya berjuang!’’

’’Bedanya dengan memberontak?’’

’’Ah, sampeyan jangan berbelit-belit, sampean jadi pemimpin kan?’’

’’Semua orang adalah pemimpin.’’

’’Tetapi bukanlah sampean, yang mengorganisasikan dan menggerakkan mereka untuk maju, mempertaruhkan jiwa dan raga?’’

’’Rasanya bukan. Bukan saya.’’

’’????’’

’’Penderitaan telah menyatukan dan menggerakkan mereka.’’

’’Ya. Ya. Lalu mengapa sampean mengasingkan diri seperti ini? Mengapa tidak kembali ke masyarakat ramai?’’

“Siapa bilang! Walau gua ini telah jadi seperti rumah saya, lebih banyak saya berada di luar. Di Masyarakat, menurut istilahmu.”

’’Nah! Bagaimana orang-orang memanggil sampean, kalau sampean tak punya nama?!’’

’’Lha! Kau kembali ribut soal nama. Saya adalah manusia dari jenis yang tak perlu dipanggil. Tak perlu nama. Justru itulah antara lain yang menyebabkan saya dapat dengan mudah larut di dalamnya. Di dalam masyarakat.’’

’’Tetapi mengapa sampean selalu pura-pura tidak tahu, apa benar mereka mencari saya. Yang lebih tidak saya ketahui, untuk apa saya dicari, kalau memang benar saya yang mereka cari untuk apa?’’

’’Sampeyan adalah pejuang. Mereka yang tidak turut berjuang pun ikut menikmati hasil perjuangan itu. Mengapa sampeyan tidak?’’

’’Mengapa tidak?! Siapa bilang saya tidak menikmati…..!’’

’’Tapi…..’’

’’Saya harus ke tengah-tengah masyarakat sambil meneriakkan sebuah nama? Kemudian ikut duduk di atas kursi sambil menikmati gemuruh suara orang-orang yang mengelu-elukan nama saya sebagai seorang pahlawan? Itulah yang saya takutkan. Jangan. Saya tidak mau terjebak. Seperti mereka. Seperti kebanyakan mereka, yang terjebak pada gelar dan namanya. Biarlah saya menikmati kesendirian dan kesepian ini. Di tengah-tengah masyarakat saya tak perlu terlihat. Jika memang tidak terlihat. Itulah yang saya inginkan. Maka, namapun tak lagi saya perlukan. Sebab hanya yang bersih yang dapat menyatu dengan udara….’’

Saya semakin tidak mengerti. Saya sedang berhadapan dengan seorang manusia ataukah dengan seorang dewa. Hanya yang bersih yang dapat menyatu dengan udara. Apakah yang dimaksudkannya?[]

Sala, Desember 1992
Sastra Pedalaman

Cerpen ini pernah dimuat Harian Karya Darma yang terbit di Surabaya

Menggugat Hari Berbahasa Jawa ala Surabaya


Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya telah menerapkan program Hari Berbahasa Jawa di seluruh sekolah di Surabaya, melalui Surat Edaran (SE) nomor : 421.2/0123/436.5.6/2008, tentang Penggunaan Bahasa Jawa untuk siswa SD, SMP, SMA, SMK negeri dan swasta se-Surabaya. Sebagaimana tertuang dalam SE, program itu didasarkan atas hasil Kongres Bahasa Jawa 2006 di Semarang, instruksi wali kota Surabaya dalam forum pendidikan, serta grand design pendidikan dan kebudayaan Jawa Timur menuju tahun 2025. Sedangkan tujuannya adalah untuk menumbuhkembangkan, melestarikan budaya Jawa, serta menanamkan etika sopan santun bagi siswa (www.surabaya.go.id, 22-01-2008 08:38:23).

Seorang wartawan menanyai saya, "Menurut Sampeyan, bagus nggak, program Hari Berbahasa Jawa di sekolah yang kini sedang anget-anget-nya di Surabaya?" Jawaban saya, "Ya, jelaslah, itu program yang bagus." Untunglah, saya masih diberi kesempatan untuk memberikan semacam penjelasan bahwa kebagusan program itu bisa jadi hanya bisa sampai pada tahap pelestarian. Kalau benar mau mengembangkan bahasa Jawa, apalagi dalam konteks grand design pendidikan dan kebudayaan Jawa Timur menuju 2025 seperti yang dirilis Bapetikom (ini lembaga atau badan apa ya?, Pen.) di www.surabaya.go.id itu, saya jadi makin penasaran, grand design-nya seperti apa ya? Apalagi, jika kita simak salah satu kalimat dalam rilis Bapetikom itu, "Bahasa Jawa yang dipakai tidak harus bahasa khas Suroboyoan, tapi juga bahasa Jawa Tengah."

Beberapa waktu lalu ketika sebuah grup teater tradisional dari Suriname tampil di Surabaya, banyak warga Surabaya, termasuk wartawan, yang menilai bahasa (Jawa) mereka sungguh aneh, sangat asing, seperti bahasa dari planet lain, dan sebagainya. Padahal, bahasa Jawa seperti yang dipakai grup Kabaret Does itulah yang hingga kini bisa kita temukan di dalam percakapan sehari-hari sebagian masyarakat Jawa Timur yang dalam peta budaya biasa dimasukkan ke dalam kelompok Mataraman (Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Ngawi, dan beberapa daerah lain). Artinya, walau sama-sama bahasa Jawa, dialek Surabaya dan Mataraman pada tataran tertentu akan susah nyambung.

Maka, bagaimana praktik percakapan dengan bahasa Jawa di sekolah-sekolah di Surabaya ketika seorang siswa yang berasal dari daerah Mataraman dengan seorang siswa atau guru asli Surabaya? Si siswa asal Mataraman akan bilang, "Mau esuk mbakyuku nangis ngguguk merga digitik bapak (Tadi pagi kakak perempuan saya menangis tersedu-sedu karena dipukul pakai pecut oleh bapak). Tetapi, bisa jadi, penerimaan orang asli Surabaya atas kalimat itu akan meleset alias melenceng sangat jauh dari makna yang dimaksudkan, karena dalam bahasa Jawa dialek Surabaya, kata "digitik" bermakna "disenggamai."

Itu contoh sederhana. Maka, betapa serakahnya "Surabaya"! Ngurusi bahasa Jawa dialek Surabaya saja susah (misalnya, hingga kini belum punya kamus semacam yang dimiliki Banyuwangi untuk bahasa Jawa dialek Osing, apalagi semacam tata bahasanya).

Pertanyaan berikutnya, sudahkah Dispendik Kota Surabaya sadar, bahasa praktis anak-anak/remaja termasuk para siswa sekarang adalah bahasa daerah Betawi? Itu berkat pengaruh siaran televisi dan radio. Radio-radio lokal pun, terutama acara untuk kawula muda, memakai bahasa daerah Betawi. Maka, menyikapi siaran berbahasa Jawa dialek Surabaya seperti yang digunakan JTV, kita tidak cukup hanya menuding bahwa itu bukanlah bahasa Jawa Surabaya yang baik dan benar. Kalau memang dinilai salah, seharusnya justru didekati, diarahkan agar menjadi lebih baik dan benar, dan bukannya hanya diolok-olok. Media, apakah itu media cetak maupun elektronik, punya potensi yang jauh lebih besar untuk memengaruhi perilaku masyarakat, termasuk dalam berbahasa. Kesadaran ini seharusnya dimiliki dan kemudian mewarnai kebijakan-kebijakan yang benar-benar dilandaskan pada apa yang tadi sisebut sebagai grand design pendidikan dan kebudayaan Jawa Timur menuju 2025 itu. Membangun kebudayaan pastilah tidak bisa hanya didasarkan pada wawasan dan kemudian proyek-proyek yang bersifat sektoral.

Mengapa saya lebih suka menyebut program Dispendik Surabaya itu sebagai program Hari Berbahasa (Basi) Jawa di sekolah? Sekali lagi, soal bagusnya sih memang bagus. Bahkan, daerah-daerah di Jawa Tengah sudah melakukannya beberapa tahun lalu, tak hanya di sekolah-sekolah, tapi juga di instansi-instansi pemerintah. Memang, tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik. Namun, jika memang mau, tak hanya melestarikan atau nguri-uri, melainkan juga mengembangkan bahasa Jawa, menggiatkan pemakaian bahasa Jawa (dalam hal ini bahasa Jawa dialek atau subdialek Surabaya) ragam tulis tidak boleh diabaikan. Beberapa anggota Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) telah memulainya tanpa surat edaran wali kota, tanpa subsidi APBD Surabaya. Suparto Brata telah menulis sekian banyak cerita pendek berbahasa Jawa (Suroboyoan), seperti terkumpul dalam Trem. Trinil Sri Setyowati bahkan telah menerbitkan dengan biaya sendiri buku puisi dan novel berbahasa Jawa Suroboyoan (Donga Kembang Waru, dan Sarunge Jagung). Budi Palopo juga menulis cukup banyak guritan dengan bahasa Jawa Surobaoyoan. Begitu pula Leres Budi Santosa (salah satu orang penting di balik siaran Pojok Kampung JTV) menulis beberapa crita cekak (dimuat Jaya Baya) dengan bahasa Jawa Suroboyoan.

Maka, siapa mau melihat rak buku di perpustakaan sekolah-sekolah di Surabaya, adakah di sana buku-buku yang saya sebutkan itu? Buktikanlah dulu. Tetapi, jujur, saya sudah merasa kecut sebelum mengetahui hasilnya. Setidaknya, saya belum pernah mendapatkan kabar baik dari kawan-kawan saya yang membiayai sendiri penerbitan buku berbahasa Jawa Suroboyoan-nya itu. Kalaulah Pak Parto (Suparto Brata) mendapatkan Hadiah Rancage, dan bahkan kemudian SEA Write Awards 2007, pemberinya orang luar Surabaya. Rancage oleh Yayasan Rancage (Sunda), SEA Write Awards oleh Kerajaan Thailand.

September 2006 Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) bersama penerbit Grasindo Jakarta meluncurkan 16 buku cerita rakyat Jawa Timur berbahasa Jawa. Itu pun pasti tidak akan terlaksana kalau tidak saking baik dan murah hatinya Grasindo. Sebab untuk bertaruh dengan membiayai ongkos cetak sekian banyak buku itu pastilah PPSJS (dalam kondisinya sekarang) tidak akan mampu melakukannya.

Menurut saya, menyeru sekolah-sekolah untuk melengkapi koleksi perpustakaan dengan buku-buku bacaan berbahasa Jawa (dalam konteks Jawa Timur adalah bahasa Jawa sesuai dengan yang dipakai dalam pergaulan keseharian masyarakat di sekitarnya) lebih memerlukan surat edaran (SE) bupati/wali kota/gubernur, daripada pemakaian bahasa lisan. Manakah yang menurut penilaian Anda lebih maju peradabannya (masyarakat yang masih berkutat pada budaya lisan ataukah yang sudah mengakrabi tulisan?). (*)

*) Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, http://bonarine.blogspot.com

Jawa Pos, Minggu, Minggu, 03 Feb 2008

FSB 2007 sebagai Bentuk Apresiasi Suara [Sastra] Buruh

Jika tidak ada aral, 30 April – 01 Mei ini di Blitar akan digelar Festival Sastra Buruh 2007. Pilihan waktu itu cukup bagus mengingat April adalah bulan yang biasanya disemarakkan sebagai Bulan Sastra Indonesia [untuk mengenang meningalnya penyair Chairil Anwar], sedangkan 1 Mei adalah Hari Buruh Sedunia.

Panitia sudah memublikasikan dasar pikiran, tujuan, nama acara, tema, kepanitiaan/penyelenggara, dan bahkan jadwal acara secara agak lancang melalui berbagai milis, email pribadi, blog http://fsb2007.blogspot.com, SMS berantai, dan melalui acara Indonesia Fiesta [Delta FM Surabaya] yang dipancar di 20 kota lain di Indonesia.

Beberapa hal yang mendorong munculnya gagasan untuk menggelar FSB [dasar pikirannya] adalah: [1] Buruh adalah profesi yang punya andil besar terhadap kemajuan bangsa. Termasuk yang bekerja di luar negri [yang dikenal dengan sebutan TKI atau Tenaga Kerja Indonesia] telah secara nyata menyumbang devisa yang tak sedikit jumlahnya [...]. [2] Pemerintah telah melakukan banyak upaya, tetapi para buruh [termasuk TKI] belum merasakan hasil yang signifikan dari upaya-upaya itu. [3] Buruh [karena Nomor 2] akhirnya sering berhadap-hadapan dengan pihak Pemerintah seperti yang dapat disaksikan melalui demonstrasi-demonstrasi, termasuk pada Hari Buruh Sedunia [1 Mei] yang biasa diperingati dengan demonstrasi di mana-mana. [4] Perlu media alternatif sebagai sarana komunikasi/dialog antara pihak-pihak terkait [Pemerintah, pengusaha/majikan, LSM, dan para buruh itu sendiri]. [5] Selama ini kita kenal adanya buruh yang juga bekarya sebagai seniman, sebagai sastrawan. Sering mereka [dengan cara kesenian, dalam hal ini sastra] memberikan kepada kita gambaran mengenai pengalaman, aspirasi, dan obsesi mereka. Informasi-informasi sedetail itu, bahkan tidak bisa kita tangkap secara utuh melalui forum-forum diskusi, seminar, demonstrasi. [6] FSB dapat merupakan bagian dari upaya membangun dialog yang sejuk dan indah, sekaligus memberikan ajang bagi para seniman [sastrawan] ’buruh’ yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Perlu diketahui, para personal yang terlibat di dalam kepanitiaan adalah orang-orang yang selama ini lebih banyak bergerak di wilayah kesenian [sastra, teater, seni rupa] ketimbang di wilayah perburuhan. Yang mengharukan, justru teman-teman dari kalangan LSM-lah yang pertama-tama menyatakan dukungannya terhadap acara ini. Bahkan, Ketua Migrant Care Wahyu Susilo [Jakarta] langsung kirim email dengan pertanyaan, ’’Apakah saya bisa terlibat dalam acara ini?’’

Sementara itu, reaksi pertama dari kalangan sastrawan dan akademisi sastra adalah pertanyaan: ’’Kok sastra buruh, sih?’’ Lalu, dilanjutkan dengan, ’’Memangnya benar-benar ada, ya, genre Sastra Buruh itu?’’ Maka, ketika pertanyaan yang sama muncul dengan nada yang berbeda ketika saya menjadi tamu acara Indonesia Fiesta yang dipandu Shanaz Haque [Jakarta] dan Gilang Pambudhi [Bandung] itu, dengan tegas saya menjawab, ’’biarlah soal genre-genre-an itu diurusi oleh para akademisi. Saya hanya tahu bahwa banyak teman-teman saya yang berprofesi sebagai buruh di dalam maupun di luar negri yang memiliki kegemaran menulis dan menunjukkan kehebatan potensi mereka melalui tulisan-tulisan itu. Mereka juga mesti kita beri ruang.’’

Tentu kita tak akan melupakan Widji Thukul [semoga ia berada dalam damai di mana pun tempatnya]. Ada pula Jumari HS di Kudus, ada Saiful Bakri di Mojokerto yang konon puisi-puisinya sempat dibacakan Ikranegara di Washington DC, sedangkan Bakri- nya sendiri, mungkin, diundang untuk menyaksikan acara Penghargaan Seniman Jawa Timur [di Surabaya] pun tak pernah. Ada lagi sekian banyak buruh asal Indonesia di Hong Kong yang menulis. Salah seorang di antaranya, Tarini Sorrita [asal Cirebon] kini mempersiapkan buku kumpulan cerpen dan novel berbahasa Inggris untuk dicetak dan diedarkan di Hong Kong. Tarini bahkan sempat pula di-’sosokkan’ di halaman South China Morning Post, ruang yang konon pernah pula memuat profil Sitok Srengenge dan Ayu Utami. Apakah kita, lebih-lebih Pemerintah Republik Indonesia yang diuntungkan oleh hasil cucuran keringat dan air mata [bahkan darah] para buruh hanya mau melihat mereka semata-mata sebagai buruh, dan bukan sebagai manusia yang utuh?

Mungkin kita sering mengeluh dan bahkan kesal ketika lalulintas macet gara-gara buruh berdemo. Mungkin kita juga memandang mereka sebagai telah melakukan sabotase atau pembangkangan ketika mereka beramai-ramai mogok kerja. Lalu, ketika para buruh yang juga penulis itu telah bersuara melalui tulisan-tulisan mereka, apakah kita tidak juga mau mendengarkannya?

Apapun jawabannya, kita akan melihatnya di FSB 2007 nanti. [Bonari Nabonenar, salah seorang penggagas FSB 2007]

Sumber: Jawa Pos

Penghargaan Bagi Mereka yang Peduli

Majalah Peduli 10 [Februari 2007], seperti edisi sebelumnya, selain menampilkan laporan mengeni pengusaha atau pebisnis yang sukses [dengan ukuran kesuksesan yang relatif] juga menampilkan mereka yang kurang atau bahkan boleh dibilang tidak sukses. Yang sukses, antara lain, peternak lebah dengan produk utama madu, madu propolis, dan bee pollen, yang omzetnya sekitar Rp 30 juta/ bulan, dan pengusaha monte yang bisa meraup pendapatan Rp 3 juta – Rp 5 juta per hari.

Hariyono SE, peternak tawon alias lebah di Lawang, Malang, Jawa Timur, bahkan telah mendapatkan Asean Best Executive Award 2003 – 2004 dan 2005 -2006, serta Asean Best Executive Citra Award 2006. Ia memang layak mendapatkan predikat itu. Ia memang kreatif. Ia telah mendobrak tradisi dengan melakukan inovasi. Pendeknya, Hariyono adalah tokoh yang telah melakukan modernisasi dalam usaha peternakan tawon. Hebatnya lagi, ia memelajari semua itu dari sang ayah, dan terutama dari alam, sebab ijasah sarjananya pun tak ada sangkut-pautnya dengan bidang peternakan, apalagi khusus peternakan tawon. Hariyono ialah seorang sarjana akuntansi.

Inovasi

Secara tradisional, turun-temurun, para petani di kampung-kampung memelihara tawon di sebuah kotak kayu [glodhogan]. Walau mereka tahu khasiatnya, tahu mahal harganya, tetap saja mereka memelihara tawon hanya sebagai sampingan. Karena itu caranya pun sangat sederhana: membuat kotak kayu [glodhogan] dipasang di tempat tertentu [biasanya di ladang] dan membiarkannya sang tawon datang secara sukarla untuk menghuninya. Kemudian, glodhogan itu diusung ke dekat rumah atau tak jarang pula dibiarkan di tempatnya semula, dan sesekali ditengok kalau-kalau sudah bisa diundhuh [dipanen] madu dan larvanya.

Hariyono memang telah mendobrak tradisi demikian itu. Ia mengerahkan segenap konsentrasinya untuk menekuni bisnis peternakan tawon. Dan berbagai inovasi pun dilakukannya, sejak cara-cara pemeliharaan, cara memanen, dan pengolahan hasil produksinya.

Berbagi Ilmu

Ada hal lain yang tak kalah hebatnya yang dilakukan Hariyono, yakni bagaimana ia menularkan ilmu dan ketrampilannya kepada orang-orang yang tepat. Seperti ditulis Peduli, Hariyono memelihara tawonnya dengan sistem penggembalaan. Dengan truk ia membawa kotak-kotak tawonnya ke daerah-daerah yang memiliki persediaan bunga yang cukup. Kadang sampai 3 atau 6 bulan di suatu tempat, sebelum harus berpindah ke tempat lain yang jaraknya bisa beratus-ratus kilometer. Untuk melakukan perawatan dan penjagaan terhadap tawonnya di tempat penggembalaan itu Hariyono memanfaatkan tenaga-tenaga lokal. Dan kepada merekalah Hariyono menularkan ilmu [modern] memelihara tawon.

Maka, jika suatu kali Anda melintasi wilayah Pucanganak [di Jalur Trenggalek – Ponorogo, Jawa Timur] dan mendapati papan bertuliskan, ’’Jual Madu Murni,’’ tak pelak lagi, bisnis itu dikelola oleh orang yang telah belajar dari Hariyono. Tak sedikit orang yang telah mendapatkan ilmu dari Haryono, mereka tersebar di berbagai tempat di Jawa, dan bahkan juga di Bali. Sebab, di mana Hariyono menggembalakan tawonnya, di situ pulalah ia menularkan ilmunya, secara sukarela pula!

Pemberdayaan Masyarakat

Model pemberdayaan masyarakat seperti yang dilakukan oleh Haryono, dilakukan pula oleh beberapa pebisnis di bidang lain, termasuk di bidang kerajinan pembuatan aksesoris berbahan dasar monte, di Surabaya. Sayangnya, Hariyono dan beberapa pengusaha yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya itu kurang mendapat perhatian pemerintah. Perhatian yang bagaimana? Tentu saja bukan perhatian seperti yang kita berikan kepada anak kecil yang sedang rewel, atau bahkan kepada fakir yang sedang kelaparan.

Bahkan, mestinya, Pemerintah mau belajar dari orang-orang kreatif bin inovatif itu, terutama dalam hal upaya pemberdayaan masyarakat. Selama ini, sejak Zaman Orde Baru, kita melihat Pemerintah menggelontor dana bantuan yang tidak sedikit untuk memberdayakan masyarakat. Sebutlah contoh, berapa banyak dana digelontor untuk program bantuan bibit [unggul] ternak kambing, sapi, kelinci, dan lain-lain. Berkali-kali bantuan bibit ternak dikirim, tetapi hampir selalu nihil hasilnya. Bantuan-bantuan itu seperti menguap begitu saja.

Jangan Mendikte

Jangan-jangan lebih banyak pengusaha yang dilahirkan oleh pengusaha-pengusaha peduli seperti Hariyono itu daripada yang dilahirkan oleh Pemerintah? Jika pun demikian, agaknya kita tidak terlalu susah untuk menuding biangnya. Seperti lazimnya program-program alias proyek yang bersifat didiktekan dari atas ke bawah, seolah-olah Pemerintah itu melihat dan mengangankan seluruh orang kampung/desa menjadi peternak kambing, menjadi peternak sapi, menjadi peternak kelinci, dan seterusnya. Padahal, kita tahu setiap orang itu lahir dengan garis tangan, bakat, dan minatnya masing-masing.

Jika mau memetik hasil yang bagus, mestinya proyek-proyek itu dilaksanakan dengan melihat secara jeli potensi-potensi yang ada di masyarakat, dan jangan dipukul rata begitu. Maka, kini saatnya kita bertanya, sudahkah Pemerintah menunjukkan kepeduliannya, misalnya, terhadap para perajin gerabah di Kecamatan Panggul, Trengalek, Jawa Timur [dilaporkan pula di Peduli 10] yang sejak berpuluh tahun bertahan di dalam ’kemiskinan’ mereka [miskin modal, dan lebih-lebih miskin kreasi]? [Bonari Nabonenar, Pimred Peduli]

Pernah dimuat: Berita Indonesia

Trenggalek, Dulu dan Sekarang


Saya tidak pernah merasa malu, walau juga susah mencari alasan untuk membanggakannya, karena lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak saya di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (salah satu desa termiskin di kabupaten termiskin di Jawa Timur).

Begitulah, Trenggalek sering disebut-sebut sebagai (termasuk) kabupaten termiskin di Jawa Timur, dan Desa Cakul termasuk desa termiskin di Kabupaten Trenggalek. Secara geografis Desa Cakul terletak di lintasan jalur Trenggalek – Panggul – Pacitan, lebih kurang 10 km setelah ibukota Kecamatan-nya (Dongko). Lebih kurang 10 km pula sebelum Kecamatan Panggul, lebih kurang 40 km dari ibukota Kabupaten Trenggalek. Seperti sebagian besar wilayah Trenggalek lainnya, wilayah Desa Cakul adalah pegunungan yang tandus, sebagian besar tanahnya jenis lempung, atau berbatu-batu. Jika musim kemarau memanjang, jangankan air bersih, air keruh pun sangat susah didapat. Sudah begitu sejak dulu, sejak saya kecil, barangkali juga sejak kakek saya masih kanak-kanak. Apalagi sekarang, ketika hutan sudah pada gundhul tholo-tholo.

Berdasar kisah yang dituturkan kakek buyut saya, pada tahun 1950-an banyak orang dari wilayah kabupaten lain (sebut saja: Pacitan dan Ponorogo) berdatangan ke desa ini, untuk ngenger, sekadar agar bisa melewati musim paceklik dengan selamat. Menariknya, satu keluarga bisa berangkat bersama untuk ngenger di sebuah keluarga, di Desa Cakul, numpang tidur dan numpang makan dengan imbalan: mereka membantu segala macam pekerjaan tuan rumah yang bisa mereka lakukan.

Entah apalah yang telah terjadi, saya hanya bisa mengingat Trenggalek benar-benar terasa bangkit pada Zaman Bupati Soetran (1970-an), seiring dengan menguarnya keharuman bunga cengkih yang segera jadi tanaman favorit. Bahkan banyak sawah yang dientaskan untuk ditanami cengkih. Banyak petani jadi orang kaya baru (setidaknya untuk standar orang desa). Tetapi, zaman keemasan itu tak berlangsung lama. Sekitar tahun 1990-an lahir BPPC (Badan Penyangga Perdagangan Cengkih) yang kenyataannya justru memorak-porandakan harga cengkih, tak ubahnya tengkulak dengan wajah baru. Ndilalah, pada saat yang sama muncul dan mengganas pula BPKC (Bakteri Penggerek Kayu Cengkih) yang hanya bisa dibasmi bersamaan dengan seluruh pohon (cengkih)-nya, yakni dengan cara dibakar. Sempurnalah penderitaan petani cengkih.

Pak Soetran dengan segenap prestasinya ketika itu, lalu diganjar jabatan yang lebih tinggi, menjadi Gubernur Papua yang sedang bernama Irian Jaya. Bupati silih berganti, tetapi agaknya belum ada sosok yang memiliki gebragan sedahsyat Pak Soetran (almarhum), untuk menggairahkan Trenggalek.

Jika pada tahun 1950-an banyak orang dari Kabupaten Ponorogo dan Pacitan cari ngengeran di Trenggalek, agaknya kini terjadi kebalikannya. Di segala lini, tampaknya Trenggalek kini telah disalip habis-habisan oleh Ponorogo maupun Pacitan. Padahal, betapapun tanahnya tandus, konon Trenggalek menyimpan potensi sumber daya alam yang luar biasa. Sebutlah marmer, konon kualitas marmer Panggul hanya kalah dari Italia. Mengapa kemudian justru Wajak (Tulungagung) yang tampil di depan di bidang per-marmer-an?

Sejak era Orde Baru, banyak dana digelontor ke desa Cakul (Trenggalek), misalnya untuk proyek bantuan bibit ternak, sapi, kambing, proyek tanaman terasering, kredit untuk rakyat kecil, dan lain-lain. Tetapi, semua itu seolah menguap tanpa bekas. Proyek-proyek itu tampak sangat mulia tujuannya, tetapi agaknya ada persoalan pada tataran teknisnya. Sehingga, penggelontoran dana bantuan dengan pola yang sama, jika tidak didasarkan pada kajian terhadap kegagalan-kegagalan proyek-proyek sebelumnya, pastilah akan mengulang-ulang kegagalan saja. Begitu pula halnya dengan pola bantuan yang belakangan populer dengan istilah PAM DKB (Program Antisipasi Mengenai Dampak Kenaikan BBM) yang pada hakikatnya adalah program pengentasan kemiskinan.

Pendekatan kutural berkaitan dengan peng-update-an pila pikir rakyat, dan tidak kalah pentingnya pula pola pikir pejabat, sangatlah perlu. Bupati kreatif seperti yang dimiliki Sragen (Jawa Tengah) yang terkenal dengan revolusi layanan publik yang kini jadi murah, cepat (online), kita harap menginspirasi pemimpin-pemimpin kabupaten/kota lainnya di seluruh Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Jangan lagi ada alasan, ’’Trenggalek itu secara geografis terpencil,’’ sebab di era online ini semua titik di muka bumi bisa menjadi ’pusat’ dunia. []

Dimuat: Jawa Pos [Radar Tulungagung]

MAKAN TIWUL

Makan tiwul adalah salah satu bagian dari kearifan lokal orang Jawa. Terutama di wilayah-wilayah yang tergolong dan bahkan paling tandus pun, ketela pohon biasanya bisa tumbuh dan menghasilkan ubi. Singkong, ketela, pohung, menyok, adalah beberapa nama untuk menyebut bahan dasar tepung tapioka ini. Dari tepung singkong [gaplek] pulalah orang bisa membuat nasi, nasi gaplek atau yang beken dengan sebutan tiwul.

Apakah makan tiwul itu buruk? Mantan Presiden Soeharto yang melewati masa kecilnya di Wonogiri, konon juga sangat akrap dengan tiwul. Pun Presiden SBY yang mengalami masa kecil di Pacitan yang tergolong kawasan tandus di Jawa Timur, bisa jadi demikian pula halnya: pernah akrap dengan tiwul.

Pada umumnya, tiwul ditanak dan dimakan bersama nasi beras. Kecuali, pada keluarga yang benar-benar miskin, yang tidak punya cukup kemampuan untuk membeli beras. Orang-orang desa mengibaratkan tiwul sebagai solar, sedangkan nasi beras adalah bensin. Artinya, keduanya sama-sama bahan bakar. Truk yang begitu besar pun bisa melaju kencang dengan bahan bakar solar. Tiwul bisa menghasilkan tenaga yang besar, walau ibarat solar ia lambat panas [Ah, apa ya memang begitu?].

Artinya, tiwul itu bukan makanan yang jelek. Yakinlah, jika di desa-desa ada kasus gizi buruk, itu bukan karena tiwul. Bahkan, ada yang percaya bahwa tiwul bisa menyegah maag. Malahan, sebagai antikanker. Wathathatha….! Namanya juga kepercayaan.
Bukan hanya yang berasal dari beras yang disebut nasi. Tiwul pun nasi juga, nasi gaplek. Di kawasan timur, orang makan nasi dari sagu. Kualitas gizi tubuh kita ditentukan oleh ketercukupan berbagai macam vitamin, mineral, dan karbohidrat. Lha, nasi itu sumber utama karbohidrat. Maka, walau kita selalu makan nasi beras, jika tak pernah pakai lauk, tak pernah makan buah, ya buruklah gizi kita.

Jadi, bahwa tiwul adalah makanan yang rendah gengsinya, adalah citra yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Untuk memperkuat pernyataan itu, kita bisa kembali ke sosok orang-orang yang sedang dan pernah jadi orang nomor satu di Indonesia, lalu tanyakan, ’’Siapa saja yang pernah makan tiwul, dan siapa yang bebas tiwul.’’ Maka, apakah sampeyan akan tetap bersikukuh bahwa tiwul itu tidak baik bagi kesehatan, membuat pikiran jadi tumpul, dan menyebabkan badan lemah tak bertenaga?

Kepercayaan terhadap citra yang salah itulah antara lain yang membuat bangsa kita tetap dan bahkan semakin miskin, makin menjerit ketika harga beras melambung dan stok nasional menipis, dan pada akhirnya samakin tergantung kepada negara lain. Kita menjadi bangsa yang kerdil hanya karena terlalu yakin bahwa beras adalah satu-satunya bahan pangan yang baik. Lebih lucu lagi –untuk tidak memakai istilah konyol—kita biasa membanggakan diri sebagai negara agraris, tapi lha kok beras pun mesti ngimpor! Wah, wah, wah!

Makan tiwul baik bagi kesehatan, tidak menyebabkan kanker, tidak mengakibatkan serangan jantung [kecuali jika Anda minder banget saat kepergok tetangga pas sedang memakannya], pun tidak menganggu janin di dalam kandungan.

Makan tiwul? So what gitu loh! []

Peduli, Januari 2007

Ketika BMI-HK Menulis Sastra


Belakangan ini muncul istilah yang tampaknya akan semakin sering disebut-sebut: sastra buruh migran (Indonesia). Semula, saya sudah dikagetkan oleh sebuah nama: Rini Widyawati yang setelah dua tahun bekerja sebagai domestic helper di Hongkong pulang membawa semacam catatan harian yang kemudian diterbitkan JP-BOOKS (Mei 2005) dengan judul Catatan Harian Seorang Pramuwisma.

Rini memang boleh disebut istimewa. Pertama, karena pendidikan formalnya hanya mentok di setingkat SMP. Pelajaran menulis, tampaknya lebih didapatkan dari praktik atau ’kuliah’ lapangan dengan menjadi juruketik seorang pengarang kenamaan: Ratna Indraswari Ibrahim. Saya benar-benar terperanjat ketika menerima naskah Rini (saat itu saya menjadi editor di JP-BOOKS) yang menurut saya benar-benar luar biasa. Maka, tidaklah berlebihan jika untuk pengantar buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma itu Ratna Indraswari Ibrahim menuliskan, ’’Saya merasa gembira sekali, ada orang yang bisa menuliskan tentang TKI (Tenaga Kerja Indonesia, Bon). Ini adalah sejarah kita, sejarah kehidupan anak manusia, yang perlu dicatat dan dibaca oleh generasi sekarang dan berikutnya.’’

Dari pengalaman menyunting buku Rini Widyawati itulah saya lalu berkenalan (atas bantuan Lan Fang) dengan seorang wartawati Berita Indonesia (salah satu koran berbahasa Indonesia yang beredar di Hongkong) bernama Ida Permatasari yang lebih senang memakai nama Arsusi Ahmad Sama’in dalam tulisan-tulisan (kebanyakan berupa cerpen)-nya. Perempuan asal Blitar, Jawa Timur, itulah ternyata yang sangat bersemangat memprovokatori kawan-kawan perempuan buruh migran asal Indonesia di Hongkong untuk: menulis, menulis, dan menulis!

Ida pun membangun sebuah komunitas BMI (buruh migran asal Indonesia) di Hongkong untuk saling asah dan saling asuh demi meningkatkan kualitas tulisan-tulisan mereka. Dan kekaguman saya pun makin menjadi-jadi tatkala memasuki milis-group mereka. Banyak mutiara terpendam di sana. Jika saja kita tekun dan sedikit sabar memolesnya, pastilah mutiara-mutiara itu bakal berkilauan, menyemarakkan Taman Sastra Indonesia.

Bagi kawan-kawan BMI, menulis ibarat jadi pedang bermata banyak. Dengan memanfaatkan waktu luang dan waktu libur untuk menulis, mereka akan terhindar dari godaan untuk mencebur ke dalam hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang bersifat negatif, misalnya seks bebas.

Dengan menulis, para BMI juga bisa melakukan semacam terapi diri, menyalurkan ’’hawa buruk’’ berupa rasa rendah diri, frustrasi karena majikan terlalu cerewet, bahkan mungkin juga kasar, jahat, dan lain-lain ke dalam tulisan.
Dengan menulis, kawan-kawan BMI juga bisa menyuarakan aspirasi, menentang secara cerdas tindakan-tindakan pihak lain: birokrasi, majikan, bahkan pemerintah, yang tidak adil terhadap mereka. Dalam kata lain, dengan menulis para BMI menolak untuk hanya dicatat sebagai-angka-angka, sebab dengan menulis mereka menjadi subjek yang berkuasa penuh atas apa yang hendak mereka goreskan.

Dengan menulis, para BMI yang oleh pandangan masyarakat awam diperosokkan ke dalam golongan ’hina’, babu, budak, menarik diri dan melompat ke dalam ’kasta’ paling tinggi yang bisa dicapai seorang manusia.
Kita patut bangga karena sekarang ini di Hongkong, setidaknya telah ada tiga komunitas BMI yang aktif di bidang penulisan. Mereka pun telah membuktikan keandalan dengan bersaing secara bebas dengan penulis-penulis lain dari berbagai kalangan. Karya-karya mereka mulai bermunculan di media-media cetak (di dalam maupun di luar negeri). Tiga komunitas itu masing-masing menamakan diri: Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong, Kopernus (Komunitas Perantau Nusantara), dan Café de Kosta yang dikomandani Ida Permatasari.

Pada tanggal 10 Juli 2005 ini, Café de Kosta bahkan mengadakan Workshop Penulisan bagi BMI-Hongkong, yang akan diikuti sekitar 200 orang BMI. Dua orang penulis asal Jawa Timur pun mereka undang sebagai narasumber.

Selain Ida Permatasari, beberapa nama sudah saatnya diperhitungkan namanya di dalam dunia persilatan Sastra Indonesia: Lik Kismawati (asal Surabaya), Wina Karnie, Etik Juwita (Blitar), Tania Roos, Mega Vristian (Malang), hartanti (Ponorogo), Dian Litasari (Banyuwangi), Tarini Sorrita (Cirebon), Suci Hanggraini (Madiun), Atik Sugihati (Kediri).

Pemerintah dan instansi terkait sudah selayaknya merasa tersanjung dan bangga dengan kiprah anak-anak muda itu, kecuali memilih memandang mereka dengan curiga, karena melalui tulisan-tulisan mereka, cepat atau lambat, akan terdedahlah ketidakadilan yang selama ini secara sengaja atau tidak ditimpakan kepada mereka.

Apakah Anda tidak merasakan kejutan indah oleh berita ini: Seorang pramuwisma asal Cirebon yang kini bekerja di Hongkong telah menerbitkan buku kumpulan tulisan reflektifnya berjudul Big Question, Don’t Look Dawn at Domestic Helper. Tarini Sorrita, begitulah nama pena pramuwisma ini, langsung menulis dengan bahasa Ingris, dan atas bantuan temannya yang berkebangsaan Swis, buku itu berhasil diterbitkan. Sayangnya tidak di Indonesia.

(Bonari Nabonenar, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, bersama Kuswinarto akan menjadi narasumber pada Workshop Penulisan bagi BMI-H (Hongkong University, Kowloon, 10 Juli 2005).

Jawa Pos, Minggu, 10 Juli 2005

Jumat, 01 Februari 2008

INUL DAN PENDIDIKAN KITA


[ Oleh : Bonari Nabonenar | 4 Maret 2003 | 2287 pembaca]

SEDEMIKIAN hebatnya Inul-barangkali tidak semata-mata menunjuk Inul sebagai individu, tetapi sebagai fenomena: Inulitas-sehingga Bengkel Muda Surabaya pun mengangkatnya ke dalam forum Pentas Musik dan Diskusi Fenomena Inul (Balai Pemuda Surabaya, Rabu, 5 Februari 2003).


Para pembicara yang diundang pun tergolong sangat wah dari segi jumlah maupun kualitas, seperti Prof Ir H Priyo Suprobo, Msc PhD (Guru Besar di ITS), Dr Ayu Sutarto (pakar humaniora dari Universitas Jember), Dr H Sam Abede Pareno (Unitomo), Akhudiat (budayawan), Rusdi Zaki (penyair/wartawan), dan Tribroto (koreografer).

Pertama kali dengar bahwa salah seorang pembicara berasal dari ITS, spontan terbetik pertanyaan iseng dalam benak saya: apakah pembicara yang satu ini akan berbicara, misalnya, tentang konstruksi pantat Inul yang jauh lebih hebat dan lebih tahan gempa daripada konstruksi (fondasi) sarang lebah atau cakar ayam karena konstruksi pantat Inul adalah konstruksi "gempa" itu sendiri(?).

Ternyata, tak jauh meleset dari pertanyaan iseng saya tampaknya, seperti yang dikutip panitia dan dipasang pada surat undangan, beginilah komentar Prof Priyo Suprobo itu, "Setelah melihat goyangnya, ternyata pantas kalau dijuluki bom panggung. Ini bisa memberi inspirasi karena goyang Inul persis putaran molen (pencampur bahan beton)." Sayang, pembicara ini berhalangan hadir.

Seperti yang dikeluhkan beberapa peserta diskusi, malam itu seluruh pembicara cenderung menyanjung-nyanjung Inul. Mungkin akan jadi lebih seru kalau diundang pula Beni Setia yang selama ini tergolong kritis lewat tulisannya, baik yang dimuat Jawa Pos maupun Kompas.

MEMANG pada akhirnya para pembicara tampak sepakat bahwa kesenian yang ditawarkan Inul adalah kesenian massa, kesenian populer.

Oleh karena itu, parameter yang paling tepat adalah pasar, yaitu bagaimana Inul mengelola tubuhnya, memperbanyak jurusnya (sehingga tak hanya punya dua atau tiga jurus: jurus ngebor, jurus molen, maupun jurus menggergaji), dan meningkatkan penguasaan panggungnya, mungkin itu lebih baik jadi urusan Inul sendiri yang pada akhirnya juga akan lebih tunduk pada hukum pasar.

Walaupun pada tahap berikutnya penghambaan terhadap hukum pasar-sejak dulu hingga sekarang-selalu menimbulkan ketegangan, bahkan bisa berkembang jadi konflik di dalam masyarakat.

Maka, dalam hubungannya dengan fenomena Inul, kini kita melihat reaksi beberapa pemuka agama dan beberapa komunitas dalam bentuk imbauan, seruan, fatwa, atau apalah namanya, yang dengan istilah agak kasar boleh dirumuskan sebagai mengharamkan Inul. Wow! Inilah yang menarik.

Jika benar kesenian Inul adalah kesenian yang tidak bermutu, ibarat fastfood yang konon lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, tindakan orang-orang yang menyeru mengharamkannya itu tidak ada bedanya dengan kepanikan orang saat banjir bah datang.

Mereka adhem-adhem saja saat melihat hutan digunduli, saat got-got dipenuhi sampah. Maka, jika kita telah sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat kita berselera rendah, lagi-lagi ini merupakan kegagalan pendidikan formal kita.

KITA layak menuding pendidikan formal, sekolah, dan bukannya pendidikan masyarakat dan pendidikan di dalam keluarga. Karena, pendidikan formal itulah yang dibangun dengan seperangkat sistem yang jelas, terencana, dengan kurikulum dan anggaran yang pasti, dari uang rakyat!

Pendidikan formal kita memang payah, dan akan selamanya demikian, percayalah, jika masih saja kita dengar kasus penyogokan dalam penerimaan guru, jika istilah-istilah semacam "pengajaran berbasis kompetensi" atau "pendidikan berbasis sekolah" masih saja berhenti sebagai kata-kata manis, seperti iklan permen.

Keadaannya akan makin runyam lagi ketika, tampaknya, instansi-instansi atau lembaga-lembaga yang mengemban tugas pelaksanaan pendidikan (sekolah) tidak juga memiliki wawasan yang bagus. Ambil contoh, misalnya, Dinas Pendidikan yang tampaknya lebih suka menyelenggarakan festival dalang (tua) daripada festival dalang (bocah), lebih tertarik mengurusi pesinden, penyanyi dangdut, daripada mengurusi para siswa(?).

Namun, jika kita sepakat kesenian Inul adalah kesenian yang bermutu tinggi, tidak sekadar seperti fastfood, inilah usul yang menarik: Bisakah kita masukkan Tarian Inul ke dalam kurikulum, setidaknya untuk muatan lokal (Jawa Timur) pendidikan kita?

BONARI NABONENAR Cerpenis, alumnus IKIP Surabaya

http://www.smu-net.com

MANTAN TKW HONGKONG BAGI ILMU MENULIS CERPEN

oleh : Masuki M. Astro

Ponorogo, 17/1 (ANTARA) -Dua mantan TKW atau buruh migran Indonesia (BMI) asal Jawa Timur yang pernah bekerja di Hongkong, Tania Roos dan Mei Suwartini berbagi ilmu cara menulis cerpen dengan ratusan guru, siswa SMA dan mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, Rabu (16/1) malam.


Diskusi yang dipandu Ketua Jurusan Bahasa Indonesia STKIP Ponorogo, Drs Sutejo, MHum itu juga menghadirkan Eni Yuniar, seorang TKW Hongkong asal Ponorogo yang juga aktivis pembelaan buruh dan pernah tampil di forum PBB di New York penggerak sastra BMI, Bonari Nabonenar.

Mei yang sudah menghasilkan sekitar lima kumpulan cerpen dan kini membuka usaha warnet di Ponorogo bercerita, sejak menempuh pendidikan di STM Negeri Ponorogo sekitar tahun 1992, ia sudah hobi menulis cerpen.

"Cerpen saya tahun 1992 pernah dimuat di Kompas, termasuk juga cerpen yang dimuat untuk majalah remaja, Anita Cemerlang," kata perempuan berperawakan kecil yang mengaku tidak pandai berbicara di depan umum itu.

Ia mengemukakan, hobi menulisnya sempat putus karena ia menikah, namun kemudian terasah lagi ketika menjadi TKW di Hongkong. Saat itu ia terpacu dengan berbagai lomba menulis cerpen di negeri orang.

"Apalagi organisasi kepenulisan di Hongkong juga berkembang dan saya aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong. Saya juga mengikuti training-training kepenulisan sejak STM," katanya.

Tania yang berasal dari Kepanjen, Malang mengemukakan, dirinya menulis karena merasa "kesepian" saat bekerja sebagai TKW. Meskipun demikian, ia mengaku beruntung karena sering mendapatkan majikan yang baik.

"Pekerjaan saya itu hanya sekitar 2,5 jam sehari sudah selesai. Selebihnya, jujur saya kesepian. Mau apa, bingung? Akhirnya saya tumpahkan lewat tulisan-tulisan," kata ibu dua anak yang meninggalkan Hongkong akhir 2007 lalu.

Dari hasil tulisan yang menggunakan komputer majikannya itu, ia kemudian mengikutkan karyanya untuk lomba dan pernah dinyatakan sebagai pemenang pertama di KJRI Hongkong. Sejak itu, ia semakin terpacu untuk berkarya.

"Dengan menulis saya menjadi banyak teman. Meskipun saya hanya pembantu rumah tangga dengan senjata ulek-ulek dan pisau, saya akhirnya bisa pegang laptop dan bisa bergaul dengan banyak kalangan, termasuk wartawan dan sastrawan karena menulis," katanya.

Menurut dia, kalau pembantu rumah tangga yang berpendidikan hanya setingkat SLTA saja bisa menulis karya sastra, seharusnya mahasiswa dan guru, apalagi para dosen bisa menghasilkan karya yang tentunya dengan kualitas lebih baik.

"Kalau kami bisa, mengapa teman-teman tidak bisa," katanya.

Sementara itu sejumlah mahasiswa, guru dan siswa tampak antusias mendapatkan penjelasan dari para TKW itu. Hal itu wajar karena selama ini mereka mengenal lebel TKI/TKW itu hanya identik dengan pembantu.

"Ini memang ironi kehidupan. Kok bisa teman-teman BMI menghasilkan banyak karya? Kami yang bergelut dalam dunia akademis bahkan sama sekali tidak bisa menulis," kata Dwi Wahyu, mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia.

Sutejo yang juga kandidat doktor sastra di Unesa mengemukakan, dengan penampilan BMI di hadapan mahasiswa dan guru itu diharapkan dapat memacu mereka untuk juga bisa menghasilkan karya sastra.

"Dengan kegiatan semacam ini, mata dan hati mereka agar terbuka bahwa seharusnya mereka bisa menghasilkan karya yang lebih baik," kata penulis cerpen, puisi dan karya ilmiah itu. []


http://www.antarajatim.com
17 Jan 2008 15:01:57

Kesenian Tradisional, Seru Tapi Bikin Bingung

Jurnalnet.com (Surabaya): Seandainya saja sineas Indonesia dan para muda Surabaya mau lebih peduli pada kesendian tradisonal, pasti film Superman Returns tak akan terbit sendirian, tapi juga dibarengi terbitnya film-film lakon lokal seperti Gatot Kaca Returns dan Pandawa Lima Returns.

Namun sayang, walau 82,9 persen responden mengaku pernah menonton kesendian lokal, tapi 50,9 persen diantaranya mengaku tak menaruh hati pada hal yang berbau tradisional. Kalau begini terus, Gatot Kaca pasti sedih dan enggan melenggang ke udara lagi.

Seperti yang diungkapkan Lilis Meishara. Meski cewek yang kuldiah di jurusan Akuntasi STTS ini pernah nonton ludruk, namun dia enggan untuk melakoninya secara rutin. "Sebenarnya seru dan menghibur, tapi aku nggak punya banyak waktu buat nonton ludruk. Lagian, aku nggak mengerti sama guyonannya. Makanya aku nggak suka," ucapnya.

Makanya, tidak semua jenis ludruk dipantengin sama Lilis. "Paling suka yang komedi, jadi bisa ketawa. Lumayan, buat refreshing," ujarnya. Untuk kesenian tradisonal lain, Lilis malah enggan melihatnya. "Selain ludruk, aku nggak mau. Soalnya membosankan, mending nonton tv," tambahnya.

Pendapat serupa juga datang dari Daniel Kusuma. Meski pun lekong SMA Petra 5 ini pernah nonton wayang, dia juga mengaku tak terlalu menaruh minat. "Aku nggak mengerti dengan bahasa perwayangan. Meski ada terjemahannya, aku juga pusing dengan alur cerita dan tokoh-tokohnya "jelas Daniel.

Cowok ini juga menambahkan, dirinya lebih suka nonton acara modern seperti breakdance atau DJ battle. "Kalau nonton breakdance, aku bisa belajar tarian yang aku suka. Kalau wayang, cuma bisa nambah pengetahuan budaya aja" paparnya.

Pengalaman berbeda malah dialami oleh Mei Puji Astuti, karena nonton pertunjukan tari tradisional, dia bisa untuk menjajal tari Remo." Waktu aku ditawari belajar, aku langsung mengiyakan. Soalnya aku memang penasaran sama tari Remo," ungkap dara asal SMA Dapena ini.

Anggapan lain terlontar dari Ani Yunita asal Ubhara. Dia membuktikan bahwa kesenian dari negeri sendiri nggak kalah hebat dari budaya luar. Hal itu ditunjukkannya dengan sering menghadiri pertunjukkan di taman kota. "Setiap kali ada show, aku nggak bakal melewatkannya. Apalagi kalau menampilkan tarian daerah." ucapnya.

"Aku suka banget sama tarian daerah. Setiap kali nonton aku nggak cuma ngelihat tariannya aja, tapi juga mempelajari maknanya. Setiap gerakan itu mempunyai arti tersendiri. Tahu nggak, aku udah pernah lihat semua jenis tarian daerah lho, maklum sejak kecil sudah dicekoki kesenian tradisional sama ortuku," tegasnya

Berbeda dengan Ani, Iwan Faroga dari Unmuh punya pengalaman sendiri ketika nonton tari Cambuk. "Yang menarik dari tari Cambuk adalah gerakan penarinya yang cepat sambil mengayunkan cambuk, sehingga pertunjukkan jadi mendebarkan. Kebetulan, aku doyan banget sama hal yang menegangkan," tutur Iwan.

Cowok penyuka pecel ini menambahkan, bahwa dengan hanya menonton pertunjukkan tradisonal, berarti sudah menghargai budaya sendiri. "Tarian itu tradisi turun-temurun, jadi perlu dilestarikan. Kalau bukan kita, siapa coba yang bakal melakukannya," jelasnya.

Seni Tari Paling Disuka

Indonesia nggak hanya punya banyak suku. Tapi juga beragam kesenian tradisional. Untuk itu, para responden pun telah melakukan seleksi. Hasilnya, tarian dianggap tontonan paling menarik (36,2 persen). Disusul drama (28,5) dan musik tradisional (19,8).

Pemilih pertama ada Yuliza Maharevi. Penghuni Ubaya ini memilih tarian sebagai tontonan paling menarik. "Aku melihat tarian tradisional itu bukan sembarang tarian. Beda dengan modern dance sekarang. Ada makna dalam tiap gerakannya," ujarnya.

"Maksudku, mereka nggak asal gerak. Setiap gerakannya melambangkan dan menceritakan sesuatu hal. Biasanya menceritakan cerita rakyat dari daerah itu. Aku tahu soalnya waktu SD aku ikut ekstrakurikuler tari tradisional," tambah mahasiswi jurusan Ekonomi Manajemen ini.

Penggemar film horor ini sangat suka menonton tarian Jawa. "Khususnya Jawa Tengah. Soalnya tariannya kalem banget, luwes, pokoknya cewek banget deh," ucapnya.

Hal senada dilontarkan juga oleh Afriza Muhammad dari Univ 17 Agustus 1945. "Tarian merupakan harmonisasi antara gerak dan lagu, orang pun akhirnya tertarik untuk melihatnya. Salah satu yang paling menarik adalah tari Barong di Bali," tuturnya.

Lain lagi bagi Yulius Christianto. Anak SMAN 4 ini memilih drama sebagai pilihannya. "Drama itu lebih bisa menjelaskan tentang kebuadayaan dari daerah. Perpaduannya lengkap banget antara lagu, gerak, vocal, sampai mimik tubuh," jelas siswa kelas 2 IPA ini.

Selain itu, drama punya sisi positif lain. "Ada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Karena drama menyuguhkan cerita rakyat ke bentuk visualisasi. Misalnya Malin Kundang yang menyuruh agar nggak boleh kurang ajar sama ortu," cuapnya bijak.

Terakhir ada Hananda Meinara dari SMAN 15. Kesukaannya jatuh pada musik tradisional. "Jenis alat musiknya banyak. Unik-unik lagi. Mulai dari angklung, gamelan, sampai seruling," jelasnya.

Hal ini menurutnya dibuktikan dengan banyaknya turis asing yang mengagumi musik tradisional kita. "Beda dengan alat musik modern deh. Bahannya pun menggunakan bahan-bahan tradisional. Seharusnya kita bangga loh," sahutnya dengan nada bangga.

Kelebihan lain dari musik tradisional adalah iramanya yang enak didengar. "Lembut banget, mendayu-dayu. Bandingkan dengan musik sekarang yang cenderung ke jenis rock atau heavy metal," tutupnya.

Lebih Baik Jika Terlibat

Bonari Nabonenar selaku Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya mengatakan sebuah hal yang patut disyukuri bahwa remaja masih menonton kesenian tradisional. Meski hanya lewat media elektronik, namun perlu dilestarikan.

"Jangan hanya menimba ilmu pada dunia pendidikan sekolah, namun juga perlu memperhatikan kecerdasan emosional. Contohnya lewat pengalaman non verbal yang bisa diperoleh dari menonton kesenian tradisional. Remaja akan mengenal keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia," katanya.

Dari situ, bisa belajar menghargai perbedaaan dan saling memahami satu sama lain. Akan jadi lebih menarik, bila remaja mau menonton dan terlibat langsung dalam pertunjukkan kesenian.

Nuansa alami dan aura sosiologisnya akan lebih terasa dan mengena. "Mulailah mengenali akar budaya di negara kalian, jangan sampai kekayaan kita ini hilang digilas globalisasi," sarannya. ***(idps)

http://www.jurnalnet.com
(18/05/2006 - 12:18 WIB)

Kontroveri Program Sehari Berbahasa Jawa, Bahasa Jawa Sebagai Lokal Genius

Seyogianya, generasi muda memahami benar budayanya (bahasa Jawa) sebagai warisan adiluhung. Seharusnya kita iri dengan Bali. Semua orang tahu, Bali adalah Eropanya Indonesia. Setiap hari mereka berinteraksi dengan orang asing lain budaya. Di tengah pergaulan itu, masyarakat Bali mampu mempertahankan budaya dan bahasanya. Ketahanan budayanya sangat kuat. Mereka hidup berdampingan dengan para wisatawan mancanegara tanpa tercerabut dari akar budayanya. Tidak ditemukan kesenjangan budaya di sana.

Pada bagian lain, program sehari berbahasa Jawa yang dituangkan dalam Surat bernomor 421.2/0123/436.5.6/2008 tertanggal 14 Januari 2008 justru malah memantik kontroversi. Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang pro, menganggap program ini merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Bahasa Jawa yang sudah mulai tergerus oleh budaya asing harus dilestarikan. Ingat, menurut catatan UNESCO, setiap tahun tidak kurang sepuluh bahasa daerah punah. Sementara yang kontra, menganggap program ini bertentangan dengan semangat zaman.

Di tengah derasnya arus globalisasi mutlak diperlukan “lokal genius”. Ini dipahami sebagai sebuah kekuatan seseorang (bangsa) dalam menyaring budaya asing yang masuk. Yang sesuai diadaptasi, dan yang tidak sesuai dilikuidasi. Dengan lokal genius akan mempersempit kesenjangan budaya (cultural lag)

Bahasa Jawa dapat difungsikan sebagai salah satu lokal genius. Pasalnya, etika, moral, filsafat, sejarah mitos, kosmologi, dan legenda terkandung di sana. Seyogianya, generasi muda memahami benar budayanya (bahasa Jawa) sebagai warisan adiluhung. Pemahaman yang baik dan benar atas budaya akan memberikan penyadaran manusia tentang konsep diri, penghargaan nilai-nilai local, dan semangat kebangsaan..

Semua komponen masyarakat suku Jawa dan atau di luar suku Jawa tetapi interest dengan bahasa Jawa diharapkan mendukung program ini. Pasalnya, menurut Suko Widodo, saat ini dibutuhkan alat komunikasi yang cepat, yanki bahasa yang egaliter. Mana mungkin bahasa Jawa menjadi bahasa yang egaliter kalau jarang dipakai. Bahasa Indonesia mampu menembus strata itu karena sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Program ini bukan berarti tanpa kendala. Bahkan banyak pihak menyangsikan efektivitas program ini. Masalahnya, seperti dikatakan Bonari Nabonenar (Surya, 26/1) buku bacaan bahasa Jawa di sekolah jumlahnya sangat terbatas. Bahkan, guru-gurunya pun banyak yang kurang paham.

Kolega saya di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mbisiki, “Satu kabupaten guru bahasa Jawa yang berasal dari disiplin ilmu Bahasa Jawa cuma dua.“ Artinya, Bahasa Jawa di-wulang guru dari disiplin ilmu lain.

Oleh karena itu, peran orang tua dalam program ini mutlak diperlukan. Di rumah sepatutnya orang tua menyibukkan diri mengajari anak membiasakan berbahasa Jawa. Ini agar kendala yang ada di lapangan dapat dieliminasi. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Apakah menunggu bahasa Jawa punah? Kasihan generasi mendatang. Iya, kan? Nah, selamat berbahasa Jawa. Mangga kula dherekaken.

Oleh Priyandono
Guru Bahasa Jawa SMPN 2 Balongpanggang, Gresik
priyandono_ku@yahoo.com

SURYA, SATURDAY, 02 FEBRUARY 2008

Jejak Soeharto dalam Sastra Indonesia


Karya sastra Indonesia modern, bila dikaitkan dengan dunia politik dan kekuasaan, cenderung mengarah pada perlawanan. Resistensi pada kekuasaan menjadi wacana dari waktu ke waktu. Sementara fungsi media massa sebagai kontrol sosial dan politik jadi melemah karena ditempel secara ketat oleh penguasa. Pada kondisi inilah sastra yang bernaung di bawah konvensi fiksi menemukan dunianya dalam membangun perlawanan terselubung.

Sebagai presiden, Soeharto adalah figur penting di era Orde Baru. Pribadi Soeharto, gaya kepemimpinan, serta karakter birokrasi negara yang dipimpinnya menjadi fenomena yang khas. Soeharto akhirnya menjadi sumber inspirasi penciptaan sastra yang tak habis-habisnya dieksplorasi dan dieksploitasi. Sastra yang mengangkat tema kritik sosial politik, baik secara langsung maupun tak langsung, begitu banyak yang mengarah ke Soeharto, baik secara pribadi maupun birokrasi. Interpretasi sosiologis menemukan rujukan signifikan antara simbolisasi sastra dan kenyataan.

Dalam dunia cerita pendek Indonesia, khususnya antara tahun 1990-2000, sangat banyak karya yang mengarah pada simbolisasi Soeharto. Sebagian besar pengarang pada tahun-tahun itu, dari YB Mangunwijaya hingga Joni Ariadinata, pernah menjadikan Soeharto sebagai sumber inspirasi. Aspek ke-Soeharto-an dalam cerita pendek dapat dilacak secara timbal balik dari unsur penokohan seperti penggunaan nama, penampilan fisik, sifat moral dan psikologis beserta citranya, penggunaan istilah serta plesetan; sistem pengendalian kekuasaan, keterlibatan dalam korupsi, kolusi, nepotisme, hingga peristiwa tuntutan dan mundurnya Soeharto.

Pada tahun-tahun tersebut dominasi tema kritik sosial politik menjadi sangat kuat. Hukum aksi-reaksi dapat menerangkan hal ini. Ketika aksi politik dan kekuasaan semakin menekan, reaksi sastra pun semakin menampakkan perlawanan. Hukum kekekalan energi dalam fisika dapat pula menganalogikan hal ini. Energi tak dapat dimusnahkan, tetapi dia hanya akan berubah bentuknya. Energi perlawanan terhadap cengkeraman politik dan kekuasaan tak akan musnah, tetapi dia akan menjelma menjadi karya sastra.

Ketika Soeharto masih berkuasa, simbolisasi terhadapnya masih menjadi pertimbangan penting bagi pengarang. Artinya, keberadaan Soeharto berusaha disamarkan sedemikian rupa dalam wadah politik sastra. Meski sasaran tembaknya jelas, perhitungan estetiknya dipertimbangkan benar oleh pengarang. Cerpen Menembak Banteng (F. Rahardi, 1993), Bapak Presiden Yang Terhormat (Agus Noor, 1993), Paman Gober (Seno Gumira Ajidarma, 1996), Tembok Pak Rambo (Taufik Ikram Jamil, 1996) adalah contoh cerita pendek yang ditulis ketika Soeharto masih sangat kuat. Sedangkan karya-karya yang ditulis menjelang dan sesudah Soeharto jatuh, simbolisasinya semakin jelas dan berani.

Jejak Soeharto dalam cerita pendek Indonesia memang nyata. Dari rentang waktu sepuluh tahun sebelum dan sesudah kejatuhannya, dia menjadi sasaran kritik yang memesona. Sekian banyak pengarang mengaku pernah menjadikan Soeharto sebagai sumber inspirasi mereka. Mereka menyebut Soeharto dengan berbagai cara.

Dalam cerpen Saran ’Groot Majoor’ Prakosa (karya YB Mangunwijaya) yang mengisahkan gerakan massa saat reformasi, nama Soeharto disebut secara langsung. Pada cerpen-cerpen Agus Noor: Senotaphium, Bapak Presiden Yang Terhormat, Dilarang Bermimpi Jadi Presiden, dan Celeng, nama Soeharto disebut sebagai "Papa Hartanaga", "Bapak Presiden", "Presiden", dan "makhluk jadi-jadian yang bermukim di Jalan Cendana". Aprinus Salam dalam cerpen Pemilihan Kades menyebut "Ir. Suhartono" untuk Soeharto. Sedangkan cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden (Joni Ariadinata) dan Situs (Gus Tf Sakai), Soeharto disebut sebagai "Tuan Presiden" dan "Presiden". Ada sebutan "Bapak Kepala Desa" dalam cerpen Bukan Titisan Semar karya Bonari Nabonenar.

Di samping menyebut nama yang mirip dan jabatannya, ada pula nama yang benar-benar berbeda dengan Soeharto. Tetapi, deskripsi cerpen tersebut sangat jelas mengarah kepadanya. Tokoh "Paman Gober" dalam cerpen yang berjudul sama karya Seno Gumira Ajidarma, dideskripsikan sebagai "Milyarder No.1", "umurnya sudah cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri ia sudah membeli sebuah bukit dan membangun mausoleum", "sering muncul di televisi", "kamera tak berani putus", "Apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan?", "Apakah pemimpin itu memang bisa diganti", "punya buku autobiografi", dan masih banyak lagi deskripsi yang mengarah ke Soeharto.

Soeharto juga dinamai sebagai tokoh "Jenderal Purnawirawan Basudewo" dalam cerpen Menembak Banteng (F. Rahardi), "Kaki Druhun" dalam Kaki Druhun (Bonari), "Pak Rambo" dalam Tembok Pak Rambo (Taufik Ikram Jamil), "Paman Saddam di kampung kami" dalam Paman Saddam, (Yudhistira ANM Massardi), "Pak Mulawarman" dalam Orang Besar (Jujur Prananto), "Abilawa" dalam Masuklah ke Telingaku, Ayah (Triyanto Triwikromo), "Maharaja Rahwana" dalam Gadis Kecil dan Mahkota Raja (Sunaryono Basuki Ks), serta "Jawad" dalam Monolog Kesunyian (Indra Tranggono).

Simbolisasi penokohan Soeharto dalam cerpen Indonesia, selain dari nama dan jabatan, dapat pula dilihat dari penampilan fisik. Yang paling kasat mata terlihat pada ilustrasi cerpen yang berfungsi sebagai pendamping teks saat dimuat media. Sosok Soeharto sebagai ilustrasi cerpen terdapat pada Senotaphium (Jawa Pos), Saran ’Groot Majoor’ Prakosa (Kompas), dan Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden (Sastra).

Sementara ciri fisik Soeharto dengan senyumnya yang khas serta kondisi fisiknya yang tua juga dideskripsikan dalam cerpen Bapak Presiden Yang Terhormat, Tembok Pak Rambo, Senotaphium, Gadis Kecil dan Mahkota Raja, Situs, Paman Gober, Bukan Titisan Semar, serta Masuklah ke Telingaku, Ayah. Beberapa di antara cerpen di atas juga mendeskripsikan makam keluarga Soeharto di Astana Giri Bangun, rumahnya di Jalan Cendana, dan desa kelahirannya Argo Mulyo.

Simbolisasi Soeharto dari sifat moral dan psikologis mengarah pada dua motivasi, yaitu motivasi kekuasaan dan motivasi ekonomi. Motivasi kekuasaan diperlihatkan dengan berbagai dorongan pada diri tokoh untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, termasuk akibat-akibat yang dimunculkan dari hilangnya kekuasaan. Motivasi tersebut mendorong tokoh-tokoh yang ada berwatak keras, kejam, dan culas.

"Menolak permintaan Pak Rambo pula sama artinya membenturkan muka ke tembok sampai hancur. Bagaimana tidak, Pak Rambo bukan orang kecil," begitulah cuplikan dari Tembok Pak Rambo.

Cerpen-cerpen yang telah disebut di atas juga menujukkan motivasi ini, termasuk tiga cerpen karya Seno Gumira: Keroncong Pembunuhan, Bunyi Hujan di Atas Genting, Grhhh, serta Menari di Atas Mayat karya Indra Tranggono.

Motivasi ekonomis adalah dorongan untuk mengumpulkan kekayaan dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya. Tokoh yang menduduki jabatan penting ini mempergunakan jabatannya untuk mengeruk keuntungan ekonomis dengan cara melaksanakan korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam jajaran birokrasi. Motivasi ekonomis juga membuat para tokohnya berwatak keras seperti diperlihatkan dalam cerpen Paman Gober, Situs, Tembok Pak Rambo, atau Senotaphium. Tak heran jika para tokoh ini dilukiskan sebagai pribadi yang kaya raya seperti digambarkan dalam Situs: "Tak heran bila penguasa tertinggi-presiden yang sehari-harinya lebih berlaku serupa raja adalah pengusaha yang sangat sukses bersama keluarga, sanak, dan segenap familinya."

Tokoh-tokoh yang mengambil sumber inspirasi keberadaan Soeharto umumnya berwatak statis atau hitam putih, yakni keras, kejam, dan culas.. Model karakter demikian dipakai oleh pengarang untuk mempertajam kritik dan pesan cerita. Cerpen-cerpen yang telah disebut di atas memperlihatkan watak yang demikian, baik yang bermotif kekuasaan maupun ekonomis. Para tokoh ini sangat stereotipe, baik secara pribadi maupun kolektif. Cerpen Diam karya Moes Loindong dan Negeri Angin karya M. Fudoli Zaini adalah contoh yang menunjuk ke tokoh kolektif dan stereotipe.

Tokoh utama sebagai protagonis memegang peran terpenting dalam cerita. Tokoh yang mengambil inspirasi dari Soeharto umumnya menampilkan tokoh protagonis secara tunggal yang sebagian namanya juga dijadikan judul cerpen. Tokoh ini digerakkan oleh pengarang dari berbagai segi sesuai dengan persoalan yang mengarah pada keberadaan Soeharto. Seorang tokoh utama dikepung oleh massa dan pengarang memberi karakter tokoh ini lewat reaksi tokoh-tokoh lain dan deskripsi dari pengarang. Meski berkedudukan sebagai protagonis, tokoh-tokoh yang menyimbolkan Soeharto umumnya berwatak buruk. Konvensi hero yang berlaku untuk tokoh protagonis dalam cerita-cerita tradisional ternyata tidak berlaku di sini. Protoganis yang menyimbolkan Soeharto dapat diibaratkan seperti binatang buas yang dilempari, dikejar-kejar, dan diteriaki kata-kata kotor oleh massa.

Sementara itu tokoh-tokoh pecundang atau antagonis yang mengarah ke Soeharto juga ditampilkan berwatak dan berperilaku buruk seperti tokoh Pak Rambo, Pak Mulawarman, dan Celeng. Tokoh antagonis yang lain ada yang ditampilkan sebagai aktor di balik layar atau dalang yang menyebabkan tokoh lain bergerak seperti halnya dalam Penembakan Misterius-nya Seno Gumira.

Peristiwa-peristiwa dalam cerpen memiliki kaitan dengan kehidupan nyata. Meski dalam teori hermeneutik ditekankan adanya otonomi teks dan keinginan untuk melepsakan diri dari konteks sosial tertentu, model seperti ini hampir tidak mungkin diterapkan sepenuhnya karena baik teks maupun interpretator merupakan produk sosial. Simbol-simbol yang terdapat dalam cerpen akan dicari referensinya dalam peristiwa, pengalaman, dan kehidupan nyata. Cerpen yang mengambil sumber inspirasi dari keberadaan Soeharto, seperti teori Umar Junus, dapat bersifat melaporkan peristiwa, menghubungkan peristiwa, memfiktifkan peristiwa, mereaksi peristiwa, serta menyublimasi peristiwa. Sebuah cerita pendek ada kemungkinan bagian-bagiannya dapat mewakili hal-hal tersebut.

Aspek-aspek sosiologis yang menunjukkan adanya hubungan antara isi cerita pendek dengan keadaan nyata di Indonersia umumnya berkaitan dengan masalah sosial politik yang bermuara ke sepak terjang Soeharto. Aspek-aspek sosiologis yang menonjol berkaitan dengan strategi Soeharto dalam mengendalikan kekuasaan, keterlibatan Soeharto dalam masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme, tuntutan agar Soeharto mundur dari jabatan serta pengunduran diri Soeharto sangat mudah kita temui di sekitar masa reformasi. Gejolak emosi pengarang saat itu memang memuncak sehingga terjadi ledakan ekspresi. Karya-karya dengan tema protes sosial politik jadi membanjir, bahkan harian Republika menyediakan kolom khusus untuk sajak-sajak reformasi.

Apa pun yang terjadi, sastra adalah saksi zaman. Soeharto adalah bagian dari perjalanan zaman. Rekaman peristiwa dalam sastra, seperti halnya sejarah, agar kita sebagai pembaca dapat berbuat lebih arif. Sastra memang bukan sekadar refleksi, tapi lebih dari itu sastra diharapkan dapat memberikan katarsis atau pencucian bagi jiwa. Soeharto adalah model simbolik, pembaca yang lain mungkin punya penafsiran berbeda. Tetapi, sebagai rekaman jejak manusia, sastra akan tetap relevan dengan kehidupan. Soeharto telah menjadi sumber inspirasi yang subur bagi perjalanan sastra Indonesia. Untuk itu, secara pribadi, saya telah memaafkan Soeharto. []

M. Shoim Anwar, editor buku Soeharto dalam Cerpen Indonesia

Jawa Pos Minggu, 27 Jan 2008

Sesama Orang Kecil saja Arogan!


Mungkin, kita lumayan sering menyindir, mengolok, memrotes, nyemprot, oknum pejabat yang bersikap arogan, sewenang-wenang, sapa sira sapa ingsung, adigang-adigung adiguna, di hadapan rakyat, orang kecil. Maka, cobalah simak kisah berikut ini.

BANJIR sudah berlalu, namun masih menyisakan duka yang menggodam dan mengiris jiwaraga sebagian warga yang telah kehilangan orang-orang tercinta, harta, benda, sehingga untuk sekadar berteduh pun mesti menumpang di rumah tetangga atau tenda-tenda darurat. Dan sore itu, langit meredup. Lalu gerimis, mengundang kekhawatiran: jangan-jangan segera melebat dan memanjang, dan kembali mengundang banjir bandang. Saya bersama dua orang teman berangkat dari Kediri menuju Ponorogo, untuk menunaikan niat mendiskusikan (memromosikan) calon buku kumpulan cerpen BMI-HK --yang gagal dilaksanakan bersama pameran foto bertajuk Hong Kong dan TKI Kita.

Pameran foto itu gagal karena secara mendadak, ketika kami sudah bersiap berangkat, dan bahkan ada yang sudah beli tiket transportasi, ada pesan singkat dari Ponorogo yang intinya, hari itu tempatnya belum siap! Saya pikir, pameran foto boleh di waaktu lain, tetapi diskusi-nya jangan ditunda-tunda. Atau dengan kata lain, harus tetap ada ’’ Cerita dari Ponorogo.’’ Ternyata, bahkan masih di dalam perjalanan, kami sudah dapat banyak pengalaman yang layak diceritakan.

Kami menumpang bus umum dari Kediri menuju Nganjuk. Di Terminal Nganjuk barulah oper ke bus yang langsung menuju Ponorogo. Karena berlomba dengan waktu, kami tak sempat memilih bus yang, paling tidak berpenampilan bagus. Kami langsung saja menghambur ke bus yang antre paling depan. Bus itu, sayangnya, penampilan fisiknya pun jauh dari menarik. Apalagi setelah berjalan, suara mesinnya pun mengabarkan bahwa ia sudah kelelahan dimakan usia. Padahal, nama bus itu mengisyaratkan keharuman, yang, sayang seribu sayang, jauh dari kenyataan yang disandangnya.

Tidak ada masalah antara Kediri – Nganjuk. Tetapi, sesaat menjelang meninggalkan Kota Madiun, bus melambat, menepi, dan berhenti, padahal tidak untuk menurun/menaikkan penumpang. Ternyata ada masalah teknis, masalah mesin. Beberapa kali coba dihidupkan dengan mendorongnya, tetapi bus tetap mogok. Mesin gagal dihidupkan. Dan diputuskanlah mengoperkan penumpang ke bus lain. Di sinilah persoalan mulai timbul. Persoalan, yang, sayangnya bagi sebagian besar penumpang, bukanlah persoalan yang serius. Kondektur mendadak memberi aba-aba agar para penumpangnya turun dengan cepat dan berpindah ke bus lain yang sudah menunggu. ’’Oper! Turun! Ayo, cepat turun!’’ Kalau cuma dibaca tulisannya, kalimat itu tak begitu istimewa, memang. Tetapi, asal tahu saja, nada, lagu, dan volumenya sungguh-sungguh tidak bersahabat. Terasa benar sebagai bentakan, dan sedikit pun tak tebersit nada meminta.

Saya tak ingin memancing emosi, tetapi tak juga bisa menahan untuk tidak mereaksi arogansi yang notabene dilakukan oleh orang kecil terhadap orang-orang kecil (setidaknya dalam semacam ’’negara kecil’’ yang bernama Bus Bunga Bangkai –untuk menyebut dengan semacam antonim atau lawan kata dari nama yang sesungguhnya) lainnya itu. Maka nyeletuklah saya, ’’Lho, gimana ta ini, kok mbentak-mbentak seenak udele dhewek, padhakke nggetaki anake wae?’’ [Bagaimanakah ini, kok membentak seenaknya, seolah membentak anak sendiri saja?]. Waladalah, penumpang lain yang dengar malah tertawa, dikiranya saya sedang bernafsu membanyol. Sunguh aneh.

O, lalau saya coba memahaminya. Barangkali benar, Bus Bunga Bangkai mereka kira sebagai semacam ’’negara kecil’’ dimana sopir adalah presiden, kondektur adalah perdana menteri, dan kenek adalah aparat. Sedangkan penumpang, siapa pun dia, apakah kere, pengemis, pengamen, pengasong, lurah, hansip --dipastikan tidak ada pejabat berkelas di Indonesia yang mau naik angkutan umum, apalagi yang kaliber full AC (Angine saka Cendhela) seperti itu—adalah ’rakyat’-nya. Dengan berpikir seperti itu, maklumlah kita, mengapa kemudian Si Kondektur berlagak arogan.

Lalu, pikir saya lagi, makanya ta makanya, tidak heran tidak gumun kalau kemudian bertemu oknum pejabat yang berlagak arogan, bertingkah adigang adigung adiguna, lha wong yang hanya menyerupai pejabat saja sudah macam gitu kok lagak dan lagunya!

Maka, kalau kita tidak arogan, tidak jumawa, tidak kemaki, tidak kementhus, jangan-jangan hanya karena kita tak disinggahi kesempatan!? [BN]

Intermezo, Januari 2008

Menulis untuk Apa?


Eni Yuniar, yang saat masih aktif sebagai Sekjen IMWU sempat berbicara di sebuah forum PBB (New York, 2006) ketika didaulat jadi salah satu narasumber diskusi bertajuk Bagaimana BMI HK Nulis (Kampus STKIP PGRI Ponorogo, 17 Januari 2008) sempat mengutip pepatah,’’Tulisan itu bisa lebih tajam daripada pedang.’’

Lalu, berceritalah Eni, bagaimana mula-mula ia tak begitu tertarik dengan dunia tulis-menulis, dan pada suatu saat ia harus membuat newsletter untuk kepentingan penyadaran hukum bagi teman-temannya sesama BMI di HK kala itu. Sempat pula dituturkan bagaimana ia mendapatkan dan membaca sebuah novel Perempuan di Titik Nol (Nawa el Sadawi) yang menyadarkannya, betapa sebuah tulisan bisa menjadi ’pedang’ untuk sebuah perjuangan.
Maka, kemudian, semakin yakinlah Eni akan pesan yang disebar melalui pepatah ’’Tulisan bisa lebih tajam daripada pedang,’’ itu, dan itu pulalah antara lain yang kemudian ditularkannya kepada para peserta diskusi yang sebagian besar adalah para mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo itu.

Memang banyak motivasi, mengapa kemudian seseorang menulis. Motivasi itu pulalah antara lain yang kelak menjadikan seseorang terus menekuninya, atau jadi penulis dhat-nyeng (kadang lama tak menulis tapi sesekali muncul tulisannya) atau malah balik kucing atau tak mau lagi menulis.

Apa saja sih, jelasnya, motivasi menulis itu? Tentu ada dua macam, yakni motivasi dari luar, bisa berupa tugas matapelajaran/matakuliah, tugas kantor, dan lain-lain. Lalu motivasi dari dalam (diri si penulis) antara lain: uang, popularitas, keinginan menularkan pengetahuan, mengekspresikan gejolak rasa seni, mengungkapkan penemuan, memaparkan hasil penelitian swakarsa, atau menyebarkan nilai-nilai tertentu. Maka dari itu, menulis bisa dipandang sebagai tindakan ekonomis, didaktis, dan bahkan ibadah, tergantung motivasinya.

Dalam sebuah tulisannya (Solilokui, 82?) Budi Darma sempat menyindir para pembaca sastra yang kemudian diam-diam meningalkan dunia sastra (tak suka membaca lagi) setelah gagal menjadi penulis/sastrawan. Budi Darma mengistilahkannya sebagai para penonton yang bernafsu besar untuk menjadi pemain. Mereka menyukai sepakbola karena bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Begitu pada waktu tertentu menyadari bahwa tidak mungkin lagi berharap jadi pemain, maka mereka tak lagi mau nongol di pertandingan-pertandingan yang paling berkualitas sekalipun! Sindiran semacam itu tampaknya mengena pula di antara penulis kita (dari kalangan BMI-HK). Sebab, sekarang pun kita bisa mulai melihat, siapa yang putus asa, yang sekali dua kali cerpennya nongol di koran, misalnya, lalu blas tak nongol lagi setelah sekian lama. Mungkin seorang dua orang di antara mereka akan kembali menulis di suatu saat nanti, bahkan dengan karya yang menghebohkan. Tetapi, yakinlah, golongan terbesar tampaknya adalah mereka yang tak akan nongol lagi. Kalau mereka hanya mundur dari daftar penulis, tetapi masih suka membaca, itu masih jempol. Tetapi, kalau kemudian membaca pun jadi tak mau lagi, ketahuanlah, motivasi mana yang dulu pernah membuatnya jadi penulis. Tak pelak lagi, pastilah nafsu untuk menjadi ’pesepakbola’ ngetop.

Apakah mengejar nama alias popularitas dengan menulis adalah sesuatu yang tercela? Oh, tidak! Persoalannya adalah, bagaimana cara meraih tujuan itu. Jika dengan menghalalkan segala cara, termasuk membajak karya orang lain, pastilah alam akan cenderung menyingkirkannya. Memang ada sastrawan besar yang pernah dituduh membajak karya orang lain dan seolah tak pernah mengurangi kebesaran namanya, kehebatan karya otentiknya. Tetapi, hanya sosok yang benar-benar pilih tanding, yang benar-benar luar biasa, yang dapat seperti itu. Mungkin, mereka, beberapa nama itu, adalah anak-anak nakal (walau kelewatan) tetapi pada dasarnya memiliki kualitas jauh di atas rata-rata. Maka, jika hanya bermodal sedikit kepitaran di atas rata-rata, ibarat pemain sepakbola, janganlah coba-coba bermain curang. Dua kartu kuning sudah cukup mengusir Anda dari tengah lapangan.

Pun menulis untuk uang. Kalau seorang bertanya kepada Anda, ’’Untuk sebuah tulisan di koran Penuh Cinta anda dibayar berapa ya?’’ segera tahulah kita bahwa si penanya itu adalah (jika benar penulis) cenderung menulis demi uang. Apakah yang begini tidak baik? Oh, siapa bilang? Bukankah ia cenderung realistis? Tipe penulis seperti ini, walau kadang diolok, sesungguhnya telah melakukan tindakan bagus tak hanya demi dirinya sendiri, tetapi juga bagi penulis-penulis lain. Sering juga olok-olok ditimpakan kepada ghost-writer (orang yang berprofesi membuat tulisan atas nama orang lain yang membayarnya), kadang dengan istilah yang yang sangat mengiris, ’’melacurkan diri.’’ Mengapa kita tidak coba berpikir, ’’Inilah penulis yang sudah menang melawan dirinya sendiri, yang tahu bahwa kehebatan tulisannya tidak berkurang hanya karena diatasnamakan orang yang tidak ngetop dan bahkan dimuat pula di media yang tidak bertaraf nasional. Inilah penulis yang sudah sangat memahami makna pepatah, ’’Terimalah pesan-pesan untuk menuju kebaikan, kebijakan, walau ia muncul melalui orang-orang yang belum dilabeli ’’baik.’’ Atau, ’’Sebutir permata, akan tetap jadi permata walau ia terhanyut di selokan yang letheg-nya minta ampun!’’

Maka, untuk apa sebenarnya kita menulis? Kalaupun kita tidak memberitahukannya, kelak, yakinlah, orang lain pun akan tahu. [BN]

Intermezo, Januari 2008

Senin, 28 Januari 2008

Pra-Kongres Kebudayaan Jawa: Menggelar Pengadilan di Jagat Sastra Jawa

Jakarta, Sinar Harapan
Berbagai peristiwa di dunia kesusasteraan tak harus dibahas dalam diskusi atau perbincangan biasa. Seperti yang terjadi pada jagat sastra Jawa. Setelah bertahun-tahun hadiah sastra Rancage disepakati begitu saja oleh publik, kini pembahasan pada pemenang sastra Jawa selama tujuh tahun belakangan harus dilakukan melalui sebuah forum pengadilan.


Teringat pada peristiwa pengadilan di dunia kesusasteraan Indonesia pada masa lalu, pengadilan ini seakan mengulangi efektifnya sebuah pengadilan para seniman khususnya sastrawan. Ada hakim, jaksa bahkan saksi yang memberatkan dan saksi yang meringankan.
Pada momen itu yang diajukan ke pengadilan sebagai ”terdakwa” itu adalah tujuh orang sastrawan Jawa yang pernah menerima Hadiah Sastra Rancage bagi Pengarang dan Penyair Sastra Jawa Tahun 1994-2001. Bonari Nabobenar, salah seorang hakim dalam pengadilan tersebut, mengatakan enam ”terdakwa” di antaranya berasal dari Jawa Timur. Masing-masing adalah FC Pamudji (novel Sumpahmu Sumpahku, 1994), Satim Kadaryono (novel Timbreng, 1996), Esmiet (novel Nalika Langite Obah, 1998), Suharmono Kasiyun (novel Pupus Kang Pepes, 1999), Widodo Basuki (kumpulan guritan Layang Saka Paran, 2000)) dan Djayus Pete (kumpulan cerita cekak Kreteg Emas Jurang Gupit, 2001). Satu orang lainnya adalah Djaimin K (kumpulan guritan Siter Gadhing, 1997) yang berasal dari Yogyakarta.

Menurutnya, yang terjadi nanti adalah betul-betul pengadilan. Hanya, bidangnya adalah kesenian. Tujuannya sama dengan pengadilan umum, mencari keadilan. Ada ketidakadilan dalam penerimaan Rancage. ”Misalnya, sebagian besar penerimanya berasal dari Jawa Timur sedangkan Jawa Tengah belum pernah ada,” kata Bonari.

Bonari yang juga Humas Panitia Penerimaan Hadiah Rancage 2002 itu menjelaskan, kenyataan tersebut menimbulkan kecurigaan dari berbagai pihak, terutama pengarang dan penyair yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Persoalan lain yang akan mengemuka dalam pengadilan di kompleks Taman Budaya Jatim (TBJ) untuk pembacaan putusan itu adalah penjurian tunggal (berturut-turut Suripan Haditomo dan Muryalelana, keduanya sudah Almarhum) untuk menentukan sastrawan atau tokoh sehingga dicurigai bernuansa KN (kolusi dan nepotisme).

”Sedangkan untuk penjurian hingga lebih dari satu orang memang sangat berat dari segi pembiayaan. Kegiatan ini juga akan memancing perhatian berbagai pihak akan kesusasteraan Jawa. Jadi semacam pasemon (sindiran, red). Satu event pengadilan, beberapa tujuan bisa tercapai,” ujarnya kepada SH.

Menurut Bonari, dari pengadilan tersebut diharapkan juga melahirkan kedewasaan berpikir pengarang dan penyair sastra Jawa, penilaian buku karya sastra secara transparan dan merangsang kreativitas dalam penciptaan karya sastra.

Pengadilan tersebut menghadirkan Hakim Ketua Rama Sudiyatmana dari Semarang, Hakim Anggota Daniel Tito (Sragen), Bonari Nabonenar (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto) dan A Nugroho (Yogyakarta). Jaksa terdiri atas Bagus Putu Parto dari Blitar sebagai Ketua dengan anggota, Suwardi Endraswara (Yogyakarta), Triyanto Triwikromo (Semarang), Yunani Prawiranegara (Gresik) dan Budi Palopo (Gresik).

”Sebagai saksi meringankan adalah Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Herry Lamongan (Lamongan), Es Danar Pangeran (Lamongan) dan Irul Budianto (Solo). Sementara saksi memberatkan adalah Yunani Sri Wahyuni (Surabaya), Sunarko Sodrun Budiman (Tulungagung) dan Sri Widati Pradopo (Yogyakarta),” ujarnya.

Acara tersebut diikuti sekitar 80 pengarang dan penyair sastra Jawa modern dari berbagai penjuru tanah air, khususnya dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain itu juga dihadiri pemerhati sastra Jawa, para ahli sastra Jawa, dan peneliti sastra Jawa.

Terpuruk

Agenda Pengadilan Sastra Jawa ini sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan yang dilaksanakan sebagai persiapan menjelang Kongres 2003 mendatang. Berbagai event diadakan, antara lain mulai tanggal 29 Agustus 2002, dilaksanakan seminar dengan tema ”Membangun Kembali Citra Budaya Jawa” di Graha Pena, Jl. A Yani 88, Surabaya. Pembicaranya adalah Arswendo Atmowiloto (Jakarta), Dr. Damardjati Supadjar (Yogyakarta), Drs. Darmanto Jatman, S.U. (Semarang), dan Dr. Sindhunata (Yogyakarta).

Acara menarik lainnya pada Pekan Budaya Jawa yang akan dihadiri seniman, budayawan, dan cendekiawan Jawa sekitar 300 orang ini, adalah penyerahan Hadiah Rancage untuk Sastra Sunda, Jawa, dan Bali, Peresmian Pusat Dokumentasi Sastra Suripan Sadihutomo, dan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Daerah, di Kantor Pusat Unesa, Kampus Ketintang, Surabaya (Sabtu, 31 Agustus 2002).

”Fenomena kegiatan menjelang Kongres Sastra Jawa 2003 antara lain terpuruknya citra kebudayaan Jawa pada era reformasi karena kegagalan rezim Orde Baru dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Disintegrasi bangsa seakan-akan menjadi ‘bom waktu’ yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Konon kebudayaan Jawa yang adiluhung dituduh sebagai factor penyebab layak untuk dipertanyakan, direkonstruksi dan didekonstruksi.

Sistem kekuasaan Jawa, filsafat Jawa, psikologi Jawa, dan kesenian Jawa menjadi topik yang tak henti-hentinya menarik untuk dikupas habis guna membangun kembali citra kebudayaan Jawa,” demikian dasar pemikiran tercetak pada leaflet yang disebarkan panitia.
Ketika ditanya apakah acara Pengadilan Sastra Jawa nanti itu hanya akan jadi semacam sensasi, Dr. Setya Yuwono Sudikan, Ketua Panitia Pekan Budaya menegaskan bahwa acara itu memang sangat mendesak untuk digelar.

Menurutnya, benang kusut di balik penjurian hadiah sastra ”Rancage” (untuik sastra Jawa) yang ditengarai bernuansa KN (Kolusi dan Nepotisme) patut untuk diurai, sebab ada penerima yang dipandang belum waktunya.

Yuwono juga adalah dosen yang rajin menulis, tapi belakangan ini mengaku jera dalam menulis kritik sastra Jawa. ”Saya merasa sudah cukup banyak memakan korban. Beberapa penggurit (penyair Jawa) patah di tengah jalan hanya gara-gara kritik saya,” ujarnya dalam nada sesal.

Seperti kongres sebelumnya yang tidak terlihat hasil lanjutan, menurut Bonari, momen pra-kongres berupa pengadilan ini, diharapkan juga akan mengundang banyak pihak untuk mau memperhatikan kondisi kesusasteraan Jawa di masa mendatang. Semoga. (srs)

Copyright © Sinar Harapan 2002

Sinar Harapan, Senin, 26 Agustus 2002